Cheerleader

Cheerleader
19


__ADS_3

Bisa memilikimu atau tidak nantinya, kamu akan tetap menjadi orang yang paling kusukai di hidupku.


***


”Estelle mana?” tanya Axelle setibanya di ruang kelas sang adik. Januar menunjuk ke arah kolong meja dengan gerakan kepala.


Axelle mendekati meja yang dimaksud, bisa ia lihat adiknya yang sedang meringkuk di bawah sana dengan posisi ponsel di telinganya. Begitu tatapan mata keduanya bertemu, Estelle langsung menaruh telunjuk kirinya di bibir, mengisyaratkan Axelle untuk tidak bersuara.


Estelle berbicara dengan lawan teleponnya dengan berbisik, ini semakin mengundang kecurigaan Axelle padanya. Laki-laki itu sampai menggeser meja agar bisa ikut berjongkok di samping sang adik.


Namun belum sempat Axelle berhasil mendengar percakapan Estelle dengan orang yang diteleponnya, Estelle sudah lebih dulu mengakhiri percakapannya dengan disertai kecupan mesra di akhir.


Axelle langsung bangkit dan menatap tajam Estelle yang masih meringkuk di tempat yang sama. Sadar dengan kekesalan sang kakak, Estelle cepat-cepat mendongakkan kepalanya lalu memberikan senyum termanis yang ia punya untuk sang kakak.


Melihat tubuh Axelle yang menjulang tinggi di hadapannya, ditambah dengan tatapan tajam dan wajah datar milik laki-laki itu, sukses membuat Estelle merasa ketar-ketir meski ia merasa tidak memiliki salah apa pun.


Karena senyumnya tidak berefek sama sekali, Estelle memutuskan untuk diam. Namun saat ia akan bangun, kakinya kram dan sangat sulit digerakkan. Ekspresi gadis itu sendu seketika. “Kak, kaki aku keraamm,” rengeknya dengan bibir mencebik sedih.


Axelle menghembuskan napas panjang, dengan mudahnya ia mengangkat tubuh Estelle ke atas kursi, tak hanya itu … ia juga memijat lembut kaki sang adik dalam diam.


Estelle membungkukkan tubuhnya agar bisa memeluk Axelle. “Aku sayang Ka Axelle. Kakak kenapa?” lirihnya membuat tatapan Axelle lurus menerawang, mengingat perkataan daddy tadi pagi.


“Kak,” panggil Estelle karena Axelle malah tenggelam dalam lamunannya.


Axelle berdehem pelan dan membalas pelukan Estelle. “Mau ke kantin?” Estelle melepas pelukannya dan mengangguk antusias.


“Oh iya, Adam bilang kamu jatoh? Kok bisa?” tanya Axelle yang baru teringat dengan laporan Adam tadi ketika menyadari luka di dagu Estelle.


Estelle sempat melirik ke arah Januar yang sedang sibuk memainkan ponselnya di kursi belakang sebelum menjawab pertanyaan Axelle. “Biasa, kesandung kaki hehe.” Tawa canggung Estelle tersebut membuat Axelle jadi merasa curiga pada Januar yang masih terlihat santai di sana.


Axelle tersenyum, ia akan membiarkannya kali ini dan memilih untuk mengusak rambut Estelle gemas. “Ayo mau piggyback, bridal, or koala-”


“Piggy!” seru Estelle yang dengan semangat membalik tubuh Axelle.


“Anu gak ikut?” tanya Estelle begitu ia sudah berada di gendongan Axelle.


Januar menggeleng seraya tersenyum tipis. “Aku tunggu sini aja. Mau tidur,” bohongnya. Estelle hanya menganggukkan kepalanya kaku. Ketika kedua kakak-beradik itu sudah keluar, Joyceline yang sebelumnya pamit ke toilet pun masuk. Gadis itu celingukan karena tidak menemukan Estelle di mana pun.

__ADS_1


“Estelle mana?” tanya Joyceline pada Januar.


“Kantin,” jawab laki-laki itu singkat.


Joyceline mengangkat sebelah alisnya saat menyadari gelagat aneh Januar. Bahkan pagi tadi, Januar masih bercanda ria dengan Estelle sampai temannya yang satu itu terjatuh dengan sangat tidak elit karena mereka terlalu


asik dengan dunia mereka. Lalu sekarang?


“Jangan bilang lo cemburu karena tadi pagi kak Adam sempet ngebopong si Estelle?” tembak Joyceline langsung tanpa basa-basi. Kedua mata Januar sampai membelalak saking terkejutnya.


*


*


*


“Jaga adek gua ya!” perintah Axelle tegas pada Januar.


Januar hanya mengangguk patuh, ia menatap nanar kedua kakak-adik yang tengah berpelukan saat ini.


Cup! Cup! Cup! Cup! Cup!


“Ayo, berangkat!” Estelle berseru senang dengan kedua tangan merentang siap melompat ke arah Januar.


Untungnya Januar dengan sigap menangkap Estelle ketika gadis itu benar-benar melompat ke arahnya. Awalnya Januar ingin memarahi Estelle, namun saat gadis itu tergelak kesenangan sampai kedua matanya menyipit membuat Januar refleks ikut tersenyum senang.


Saking senangnya, Estelle sampai menggesekkan kedua ujung hidung mereka lalu kembali tertawa riang. Januar hanya bisa menyimpan rasa herannya dalam hati melihat betapa bahagianya sang sahabat karena hal sepele seperti ini.


“Kita pergi?”


Estelle mengangguk semangat. “Kajja!!!” serunya dengan sebelah tangan memeluk leher Januar dan merentangkan sebelah tangannya ke atas. Senyum senang tak pernah luntur dari wajah gadis itu.


Januar mulai melangkah, ia sedikit kesusahan saat membawa Estelle dalam posisi gendong koala seperti ini. Selain karena ia sudah lama tidak mengangkat tubuh Estelle, ia juga merasa berat badan sang sahabat sedikit naik akhir-akhir ini.


Meski sempat teroleng beberapa kali, Estelle tidak takut sedikit pun, ia justru malah semakin tertawa kesenangan seperti sedang naik wahana. Untungnya suasana sekolah yang sudah mulai sepi membuat keduanya tidak jadi pusat perhatian karena kedekatan keduanya yang terlihat begitu intim.


“Anu, kali ini ayah bawa apa?” tanya Estelle begitu Januar menurunkannya di kursi penumpang mobil laki-laki itu.

__ADS_1


Januar berpikir sebentar untuk mengingat-ingat perkataan sang ayah di telepon tadi. “Pudding dan chessecake kesukaan kamu sih kayaknya,” jawabnya tidak yakin. Estelle merengut kecewa mendengar nada ragu dalam perkataan sang sahabat, meski begitu gadis itu tidak protes sama sekali. Gemas, Januar mencubit kedua pipi sang sahabat hingga si empunya pipi memekik kesal.


“YAKK! SHIBAL TURAI SEKKIA!”


Januar hanya tertawa seraya menutup pintu mobilnya. Saat laki-laki itu sedang memutari mobilnya, Estelle menggerutu di dalam sana. Bahkan saat Januar sudah mulai menyalakan mesin mobilnya, Estelle masih memaki


Januar lewat gerutuannya dalam bahasa Korea.


Januar memang tidak tahu seluruh arti kata-kata gerutuan Estelle, namun ia tahu sebagian besar adalah kata makian dalam bahasa korea. Sebenarnya ia juga tidak peduli karena semua itu terdengar seperti bacaan mantra di telinganya. Akan tetapi, ia gemas dan ingin mengusik Estelle saat ini.


“Lanjutin aja, aku akan melapor pada ayah,” ujar Januar meniru ancaman kekanakan yang biasa Estelle lontarkan padanya. Hal ini semakin membuat Estelle merengut kesal di kursinya.


Januar tersenyum tipis karena tak lagi mendengar gerutuan mantra dari orang di sebelahnya. Sesekali ia melirik pada Estelle yang kini asik melihat pemandangan yang mereka lewati dalam diam.


Begitu sampai, Estelle membuka dan berjalan sendiri meninggalkan Januar yang masih terdiam karena baru menyadari bahwa sang sahabat marah sungguhan padanya saat gadis itu membanting pintu mobilnya dengan sangat kencang.


“Ayaaaahhhh!” Estelle berlarian dan langsung memeluk Ryan begitu turun dari mobil.


“Aigo, aigo … uri aegi.”


Estelle melepaskan pelukannya dengan kedua mata yang membola karena tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar. “Omo! Omo omo omo! Daebak! Wanjeon daebak!” Ia menutup mulut dengan kedua tangannya saking terkejutnya.


“B aja kali, Mbaknya!”


“Sirik aja sih, Masnya! Bilang aja kamu iri ‘kan sama ayah karena gak dapet pelukan dari aku?” ujar Estelle yang terdengar narsis dan langsung mendapat cubitan gemas dari Januar.


“Sakit, Anu! Kamu ngelarang aku buat gak jatohin, pukul, nyakar, jambak, atau gigit diri aku sendiri, tapi kamu malah nyubitin pipi aku mulu,” protes Estelle dengan wajah merengut.


“Udah-udah, kita masuk aja sekarang ya? Ayah bawa oleh-oleh spesial loh buat kamu.” Estelle tersenyum hangat mendengar perkataan Ryan.


“Gomawo, Appa!” Estelle kembali memeluk Ryan sebagai tanda terima kasihnya.


Begitu melihat oleh-oleh yang dibawakan Ryan untuknya Estelle langsung tertarik pada kotak cheesecake kesukaannya. Ia menyengir lebar ketika membuka kotak itu. Bukannya langsung mencicipi, gadis itu justru malah menoel-noel cake-nya dan tertawa sendiri setelahnya.


Januar dan Ryan yang dari tadi memerhatikan pun menggelengkan kepalanya karena gadis itu tidak berubah sama sekali.


“Liat deh, Nu. Kuenya lucu ‘kan giyul-giyul gitu? Apalagi pudding-nya, liat deh sini Nu!” Januar hanya menggeleng seraya menghembuskan napas panjang, tidak tahu harus berkata apa untuk membalas perkataan konyol sahabatnya itu. Meski begitu ia berniat menghampiri sang sahabat, namun tidak langsung karena harus menaruh kunci mobilnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Menganggap gelengan kepala Januar sebagai penolakan. Estelle langsung memasang ekspresi wajah memelas pada Ryan. “Ayaaah Anu gak-”


“Sabar neng! OH MY FUCKING GOD!!”


__ADS_2