
Axelle mengerutkan dahinya saat Estelle malah langsung menghampiri Adam dan bukan dirinya. Adiknya itu dengan sigap langsung mengelapi keringat yang mengucur kulit temannya. Biasanya Estelle melakukan itu semua untuk dirinya dan ia merasa sangat kesal karena sekarang malah Adam yang mendapatkan itu semua. Estelle itu kan masih belum tentu menjadi tunangan temannya tapi jika menjadi adiknya, itu sudah pasti. Bukankah Estelle seharusnya lebih mengutamakannya?
"Stelle, minum gua mana?" pinta Axelle begitu bertemu tatap dengan sang adik.
Estelle tersenyum lebar seperti tidak merasa berdosa. Tangan gadis itu terulur memberikan salah satu air dingin yang sengaja ia siapkan untuk Adam dan Axelle. Setelahnya ia kembali fokus dengan Adam lagi. Gadis itu tidak sadar dengan tatapan tajam yang Axelle layangkan untuknya saat ini dan masih fokus dengan Adam.
"Setelah ini kalian mau langsung pulang?" tanya Suho.
"Iya. Udah ga ada kegiatan lagi 'kan kita?" timpal Gio yang sudah sangat siap untuk pulang.
"Eommonim lagi di rumah ya, oppa?" tebak Estelle tiba-tiba.
Betapa terkejutnya Gio, Axelle, dan Adam saat Suho mengiyakan dugaan Estelle yang terdengar asal tadi dengan anggukan kepala pelan. Bagi mereka, keberadaan ibu Suho di rumah saja sudah mengejutkan. Bagaimana bisa Estelle mengetahuinya?
"Eomma memintaku membawa Estelle ke rumah. Boleh, 'kan?" tanya Suho pada Axelle.
"Estelle doang nih?"
"Sebenarnya sih, kalian juga. Tapi aku takut kalian capek. Lagipula Gio kelihatannya buru-buru," terang laki-laki blasteran Korea itu, takut menyinggung temannya yang lain.
Gio yang disebut namanya pun merasa tidak enak. "Gua mau ikut. Gak buru-buru kok gua," bantahnya.
"Ya udah kalau gitu langsung aja nih ya ke rumah Suho?" tanya Axelle yang diangguki setuju teman-temannya yang lain. "Estelle, lo sama gua. Gamau tau," lanjutnya kini memaksa sang adik untuk semobil dengannya. Estelle sampai menjual wajah memelas andalannya pada Adam.
Gio langsung merangkul Suho dan menggiringnya untuk segera pergi. Terlalu lama jika harus menunggu drama keluarga sahabatnya yang satu itu. Dan ia sedang malas menyaksikannya, lebih tepatnya ia ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan kasurnya.
"Ayo, Stelle." Axelle menarik tangan Estelle untuk segera mengikuti langkahnya.
Adam mengikuti keduanya di belakang. Estelle terus menoleh ke belakang dan memasang wajah sedihnya, jalannya pun terseret-seret karena enggan bersama sang kakak. 'Udah turutin,' ujar Adam pada Estelle tanpa suara. Setelah itu barulah Estelle menoleh ke depan dan mulai mengikuti langkah kaki Axelle meski dengan langkah gontai.
__ADS_1
"Apa eommonim sudah bisa dihubungi?" tanya Estelle khawatir. Pasalnya ibu dari Suho itu ternyata sedang tidak berada di rumah dan juga tidak bisa dihubungi hingga saat ini. Suho menoleh dan menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Estelle padanya.
From, Queen1: Appa mu sangat menyebalkan. Dia menyeret eomma dalam pertemuan bisnisnya. Sekarang eomma sudah di jalan.
"Wae, Oppa?" tanya Estelle karena Suho terdiam di tempatnya.
Suho mengangkat kepalanya untuk menatap kedua bola mata Estelle lalu tersenyum lembut pada gadis itu. "Aniya. Ayo masuk," ujarnya seraya menggiring Estelle masuk ke dalam rumahnya dalam rangkulan.
Begitu keduanya masuk, mereka disuguhkan pemandangan debat antara Axelle dan Adam. Entah apa yang mereke perdebatkan, tapi sepertinya cukup serius.
"Gua gak suka!"
"Lo ga-"
__ADS_1
"Hai, Estelle!" Gio sengaja menyapa Estelle dengan suara yang sangat keras agar kedua temannya ini bisa berhenti adu argumen di depannya. Terlihat sekali laki-laki itu tertekan karena terus berada di tengah-tengah antara perkelahian keduanya.
Estelle pun ternyata cukup peka dengan keadaan yang sedang terjadi, ia hanya bisa membalas sapaan Gio tadi dengan senyum canggung yang sedetik kemudian berubah menjadi datar ketika bertemu tatap dengan sepasang bola mata tajam milik Axelle.
Memecah keheningan, Suho berdehem pelan. "Aku ke atas dulu mau ganti baju, kalau kalian lapar ... minta saja camilan pada pelayan." Setelah mengatakan hal itu, laki-laki berdarah Korea Selatan itu segera pergi menuju kamarnya, meninggalkan keempat orang itu di sana.
"Kalian berkelahi lagi?" tanya Estelle pada Adam dan Axelle, lalu berjalan mendekati Adam. Meski begitu kedua mata gadis itu menyalang tajam ke arah sang kakak; seakan menyatakan semua ini terjadi karena laki-laki itu.
"Gak-"
Tidak membiarkan Axelle berdalih, Estelle dengan cepat memotong perkataan sang kakak, "kak Axelle udah janji loh sama aku." Dan tentu saja itu menimbulkan kekesalan yang amat sangat dalam hati Axelle.
Dari sudut pandang Axelle sekarang, Estelle adiknya yang menggemaskan tengah dipengaruhi dan hendak dikuasai oleh monster Adam. Padahal kenyataannya tidak. Gadis itu justru sedang memeriksa wajah tampan Adam, khawatir jika kakaknya kembali membuat goresan pada mahakarya buatan Tuhan yang dia kagumi akhir-akhir ini.
"I'm ok," ujar Adam mengerti kekhawatiran Estelle padanya.
Axelle berdecih melihatnya dan memilih untuk mengabaikan keduanya. Tangannya bergerak cepat menyalakan perangkat playstatin* untuk dimainkannya. Semua orang yang melihat kecepatan tangan Axelle pun bisa tahu seberapa sering laki-laki itu menyalakan perangkat mainan milik temannya itu, begitu pula Estelle.
"Pasti ka Axelle udah sering mainin itu ya kalau ke sini?" tanya Estelle pada Adam sebenarnya, namun malah Axelle yang lebih cepat menjawab pertanyaan gadis itu, "kaya kamu gak begitu aja di rumah Anu."
Estelle menatap sang kakak dengan dahi yang berkerut. "Aku kan cuma tanya!" ujarnya kesal. Axelle melirik adiknya sekilas dan memutar bola matanya. Laki-laki itu memilih fokus dengan mainannya daripada menanggapi perkataan sang adik.
Adam menenangkan Estelle dengan mengusap lembut punggung sempit milik gadis itu. "Kamu lapar? Mau aku ambilin camilan?" tawarnya yang diangguki pelan oleh Estelle. Benar saja, saat laki-laki itu pergi menjauhinya, perut Estelle berbunyi cukup keras.
"Kalau laper tuh bilang. Punya mulut, 'kan?" Meski nada bicara Axelle tidak tinggi, tetap saja Estelle merasa seperti sedang dimarahi. Bibir gadis itu spontan maju beberapa senti karenanya. Axelle yang sempat melirik sekilas pun berusaha sekeras mungkin untuk tidak berlari dan menghidangkan seisi kulkas Suho untuk pada adiknya.
Ia sedang marah dengan gadis itu bukan?
Adam kembali dengan beberapa camilan di kedua tangannya. Di belakang laki-laki itu ada pelayan yang membawakan minuman untuk mereka semua. Estelle tersenyum sumringah saat Adam mengulurkan camilan kesukaannya. "Ka Adam emang paling the best! Gak kaya seseorang ... gak peka." Adam hanya bisa tersenyum kaku mendengar perkataan gadisnya.
__ADS_1
Axelle mendengar itu semua, ia pun sempat melihat bagaimana senyum lebar sang adik kala diberikan camilan oleh temannya. Tombol yang ada di stick playstatin* pun tak luput dari kekesalan Axelle yang tidak bisa diutarakan. Dalam hati Axelle terus berdoa agar eomma-nya Suho cepat pulang dan ia bisa membawa adiknya pergi dari sisi temannya; Adam.