
Perkataan kosong yang tidak disertai bukti konkret hanya akan terdengar seperti gonggongan anjing.
***
“Saya ingin melanjutkan perjodohan ini, Om. Saya sudah membicarakan ini semua dengan orang tua saya … dan saya siap bertunangan dengan Estelle setelah saya lulus.”
Jacob melempar kertas dokumen yang ada di tangannya asal ketika mengingat perkataan konyol Adam sore tadi. “Siap bertunangan katanya,” desisnya kesal. Rahang pria itu mengeras lagi untuk sekian kalinya hari ini.
“Aku tidak akan membiarkannya, dasar pencuri.” Tidak ingin melanjutkan pekerjaannya, Jacob memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Siang ini ia sudah berselisih dengan Ello dan Agatha perkara keputusan yang mereka buat tanpa sepengetahuannya, lalu kedatangan Adam yang tidak disangka olehnya di sore hari pun sangat-sangat menguras tenaga serta emosi yang ada pada dirinya.
Untungnya Axelle membawa Estelle pergi keluar dan bisa menahan gadis itu untuk tetap berada di luar rumah seharian ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu saat melihatnya menggila seharian ini.
*
*
*
Pagi-pagi buta Jacob dibangunkan dengan nada dering ponselnya yang sangat memekakkan telinga. Tanpa melihat nama kontak yang muncul di layar ponselnya, Jacob menjawab panggilan itu.
“Abaangggg!!! Kapan aku boleh pulaaangg?!!”
Refleks Jacob menutup telinganya dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Kedua matanya sudah terbuka lebar karena teriakan penuh rengekan Estelle di seberang sana. Ah baiklah, ini semua salahnya karena lupa memberi perintah pada keduanya untuk kembali. Pikir Jacob yang mengakui kesalahannya.
“Aaaabaaangg!!!”
Teriakan nyaring milik Estelle itu kembali terdengar karena Jacob tak kunjung menjawab pertanyaan adik bungsunya itu.
“Iya, Sayang. Maaf Abang baru bangun ini soalnya,” ujar Jacob selirih mungkin. Suara serak khas bangun tidurnya itu menambah kesan menyedihkan di telinga Estelle.
Jacob menghubungkan ponselnya dengan airpod agar ia lebih leluasa bergerak saat berbicara dengan Estelle lewat telepon. “Kamu udah sarapan?” tanya Jacob yang hanya mendapat deheman singkat dari sang adik.
“Ka Axelle lagi ambilin makanan buat Estelle.”
*“Ab*ang?”
Jacob tersenyum mendengarnya. “Iya, ini baru mau ke bawah.”
“Are they … there?”
Pas sekali saat Estelle menanyakan keberadaan orang tuanya, Jacob melihat keduanya tengah sarapan bersama di meja makan. Dan Jacob berdehem pelan untuk menjawab pertanyaan Estelle. Tanpa kata, Jacob bergabung dengan keduanya untuk sarapan.
Keheningan menyelimuti ketiganya, Estelle yang berada di seberang sana pun tak bersuara lagi.
“Di mana kedua adikmu?” tanya Ello yang sudah menyelesaikan sarapan paginya.
__ADS_1
Jacob yang sibuk mengunyah makanannya pun mengangkat kedua bahunya pura-pura tak tahu. Hal ini tentu saja mengundang kecurigaan Ello, pria paruh baya yang sialnya masih tampan itu sangat tahu jika putra sulungnya ini sangat mencintai putri bungsunya, rasanya mustahil melihat putranya begitu tenang saat putri bungsunya itu tidak pulang semalaman.
“Mereka pergi bersama, bukan? Apa mereka menginap di rumah Suho?” tanya Ello lagi tidak menyerah.
Jacob memperlambat gerakan mulutnya dan lagi-lagi hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Hal ini membuat Ello berdecak kesal. “Agatha, bantu aku menghubungi Suho. Tolong tanyakan padanya apa mereka ada di sana,” perintah Ello yang langsung dilaksanakan oleh Agatha.
Tatapan mata Jacob mendatar melihatnya. Pria itu memutuskan untuk mempercepat makannya dan segera pergi dari sini secepatnya.
“Kamu akan tetap menentang perjodohan ini?” Pertanyaan Ello yang sudah jelas jawabannya itu membuat Jacob melayangkan tatapan super tajam pada sang daddy.
Dengan kesal ia menyudahi kegiatan makannya karena sudah tidak berselera. Apa penolakan tegasnya kemarin belum cukup menjelaskan semuanya? Pikirnya kesal. “Menurut anda?” Jacob memberi jeda pada ucapannya saat melihat Agatha datang dengan ponsel di tangannya.
Tatapan kedua pria itu langsung tertuju pada Agatha. “Mereka ada di sana?” tanya Ello yang langsung mendapat gelengan kepala pelan.
“Mereka memang ke sana kemarin, tapi mereka tidak menginap di sana. Kata Suho mereka pergi sore hari,” terang Agatha.
Kini tatapan Ello tertuju pada Jacob. Jelas sekali ini adalah ulah putra sulungnya, pikirnya. Jacob yang ditatap penuh intimidasi itu pun hanya mengangkat sebelah alisnya, tidak terpengaruh.
“Di mana mereka?”
Jacob menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap Ello dengan berani. “Saya tidak tahu. Anda terus menanyakan hal yang sama sedari tadi. Anda pikir saya menyembunyikan mereka?”
“Kamu tidak menyetujui semua ini,” ujar Ello.
“Ya, lalu?”
“A a. Bukan saya yang mempersulit semua ini, tapi anda, Tuan Harrison.”
Jacob melihat jam dinding sekilas sebelum mengatakan, “kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi.” Pria itu pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Ello yang belum selesai bertanya padanya.
Begitu sampai di kamarnya, Jacob melihat layar ponselnya, rupanya panggilan tadi belum terputus dan sepertinya Estelle me-mute panggilannya sedari tadi. “Estelle, apa kamu masih di sana?” tanyanya memastikan.
“Ya.”
Cukup lama keduanya terdiam satu sama lain karena Jacob sendiri juga sedang merapihkan berkas yang semalam ia periksa.
“Apa mom and dad mencari kami?”
Jacob menghembuskan napas kasar. “Kamu mungkin sudah mendengarnya sendiri tadi. Ya, mereka mencari kalian. Meski begitu jangan kembali sebelum Abang menyuruh kalian.”
“Kalau begitu kapan kami boleh pulang?”
“Di mana Axelle?” Jacob malah bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Estelle.
“Abang…,” lirih Estelle di seberang sana.
__ADS_1
“Estelle, please. Nanti akan Abang jelaskan. Sekarang kamu ikutin apa kata Abang dulu.” Jacob berusaha untuk tidak memuntahkan rasa kesalnya pada Estelle.
Di seberang sana, Estelle sudah memberikan sebelah airpod-nya pada Axelle.
“Jacob?” tanya Axelle. Estelle hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Axelle.
Sebelah alis Axelle terangkat saat melihat ekspresi wajah masam sang adik. “Kenapa?” tanyanya.
Enggan menjawab, Estelle malah memalingkan wajahnya.
Axelle memakai airpod milik Estelle. “Jadi gimana?” Dia membuka pembicaraan pada Jacob di seberang sana. Suara hembusan napas panjang dan gesekan kertas menyapa gendang telinganya.
“Estelle di samping lo?”
Spontan Axelle langsung menoleh pada Estelle yang sepertinya juga mendengar pertanyaan Jacob dari airpod sebelahnya.
“Menjauhlah kalau dia ada di sebelahmu.”
Estelle yang mendengar itu semua pun berdecak kesal. Dengan wajah merengut ia memberikan sebelah airpod yang ada padanya ke tangan Axelle. “Aku mau ke kamar duluan!” ujar gadis itu yang langsung berlalu begitu saja.
“Kenapa?”
“Adek lo ngambek,” terang Axelle singkat.
“Gua cuma mau bilang, kalian jangan pulang sampai mereka berangkat ke Paris lusa nanti.”
Axelle mengernyitkan dahinya tidak terima. “Bang, yang bener aja dong. Masa kita di hotel sampe lusa nanti?! Sekolah gimana?”
“Nginep di tempat temennya Estelle aja, siapa tuh namanya? Anu?”
“Januar,” ralat Axelle sambil memutar bola matanya malas.
“Ya terserah. Intinya jangan sampe adek lo ketemu sama mereka. Gua buru-buru, nanti gua kabarin lagi.”
Setelah itu panggilannya langsung terputus. Axelle membereskan barang-barangnya terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar hotel menyusul Estelle yang mungkin sedang berguling-guling malas di atas kasur.
Dan benar saja, setibanya di sana, Axelle disambut dengan pemandangan Estelle yang sedang berguling-guling sambil menggerutu kesal.
“Gabut gabut gabut gabut gabut. Mereka nyebelin!” pekik gadis itu tidak menyadari kehadiran Axelle sama sekali.
“Kita gak boleh pulang sampai lusa,” ujar Axelle menyampaikan perkataan Jacob padanya tadi.
Estelle langsung beranjak dari kasur untuk menghampiri Axelle. “Kaaa yang bener aja dong! Kalau gak pulang sampai lusa sekolah aku gimana?” rengeknya. Gadis itu merengut karena Axelle justru memutar bola matanya malas.
“Jujur aja deh, kamu bukannya seneng kalau disuruh bolos sekolah?” sindir Axelle yang langsung mendapat pukulan cukup keras di perutnya.
__ADS_1
“Enak aja! Kakak jangan asal nuduh gitu dong!”
Alih-alih mengaduh kesakitan, Axelle justru tertawa puas melihat ekspresi kesal Estelle saat ini. Dahi yang berkerut hingga kedua alis tipis milik gadis itu hampir menyatu, kedua pipi yang dikembungkan, bibir tebal yang mengerucut ke depan, lalu hidung gadis itu yang kembang-kempis menahan emosi sangat terlihat lucu di matanya.