Cheerleader

Cheerleader
21


__ADS_3

Sekeras apa pun manusia menyembunyikan sebuah fakta, semesta mempunyai caranya sendiri untuk membongkar semua itu.


***


Estelle memasuki rumahnya sambil bersenandung riang. Gadis itu melupakan satu hal bahwa orang tuanya sudah pulang lagi tadi malam.


“Abis kemana kamu pagi-pagi udah gak ada di rumah? Axelle panik nyariin kamu dari tadi.” Suara tegas Daddy-nya membuat langkah kaki Estelle berhenti. Tak lama setelah itu, Estelle bisa mendengar kehebohan di lantai atas.


“Estelle? Ya ampun! Kamu dari mana aja sih? Kakak nyariin kamu dari tadi!” omel Axelle dari lantai atas.


Estelle tidak menjawab sama sekali, gadis itu hanya tersenyum lebar seraya menunjukkan dua jarinya yang membentuk simbol peace. Axelle turun ke bawah menghampiri Estelle “Kakak mau keluar, kamu ikut Kakak, ya?”


Axelle merapikan beberapa helaian rambut yang menempel di dahi Estelle karena keringat gadis itu.


Estelle menggeleng pelan seraya mengembungkan kedua pipinya. “Gak mau, aku belom mandi soalnya. Apalagi aku abis jogging … pasti bau.”


“Kita drive thru deh, nanti kalau mau pesen float juga gapapa,” bujuk Axelle lagi. Ia kira adiknya itu akan langsung mengiyakan ajakannya itu, namun ternyata dugaannya salah. Perasaannya sudah tidak enak saat Estelle tersenyum kecil saat mempertimbangkan ajakannya.


“Enggak deh, Estelle mau rebahan aja di kamar.” Estelle menjawabnya dengan senyuman lebar. Ia tidak merasa bersalah sama sekali meskipun ia sebenarnya tahu kalau Axelle sangat berharap ia mengiyakan ajakan laki-laki itu.


Saat berbalik hendak menuju kamarnya, Estelle menggulum senyum puas. Kapan lagi ia bisa membalaskan dendamnya? Selama ini ia selalu merengek meminta ditemani oleh kakaknya itu. Tetapi, kakaknya itu malah asik dengan teman-temannya dan melarangnya untuk bergabung dengan mereka kalau mereka pergi hangout.


Merasa kesal, Axelle tanpa babibu langsung menggotong tubuh Estelle di bahunya. Tidak memperdulikan teriakan


adiknya itu, Axelle berlari seraya membopong tubuh Estelle ke luar rumah.


Axelle menyeringai tipis saat melihat mobil Jacob yang sedang memasuki perkarangan rumah. Begitu Jacob selesai turun dari mobil, Axelle langsung menghampiri sang abang. “Pas banget, gua pinjem mobil lo ya, Bang?”


“Kalian tuh ngapain sih?” tanya Jacob dengan dahi berkerut. Padahal ia sudah tidak tidur semalaman dan pagi-pagi ia sudah disuguhkan dengan melihat kelakuan kedua adiknya yang absurd seperti ini.


“Abaaaang!” rengek Estelle yang dengan sekuat tenaga mengangkat kepalanya agar bisa melihat abangnya dengan tatapan anjing memelas andalannya.


“Axelle, turunin!” perintah Jacob tegas.


Axelle memutar bola matanya malas, tetapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan abangnya itu. Estelle langsung berjalan ke arah Jacob dengan sempoyongan. Jacob dengan sigap menangkap tubuh Estelle yang hampir saja terjatuh.


Jacob membenarkan rambut Estelle yang berantakan, ia juga membelai pipi sang adik dengan lembut saat mendengarkan perkataan gadis itu. Dahinya sedikit berkerut saat melihat mata Estelle yang terlihat agak sembab.


“Kak Axelle maksa aku ikut, padahal aku udah bilang engga karena belom mandi abis jogging.”


“Kik ixill miksi iki ikit, pidihil iki idih biling inggi kirini bilim mindi ibis jigging.” Axelle meniru cara bicara Estelle dengan gaya yang berlebihan guna meledek Estelle yang sedang mengadu pada Jacob. Ia langsung diam saat tatapan tajam Jacob hampir membolongi dahinya.

__ADS_1


“Kalau gitu mandi dulu sana,” suruh Jacob seraya mengusap kepala Estelle lembut.


“Ay Ay, Kapten!” Estelle langsung memasang pose hormat mendengar perintah sang abang tertua. Estelle menoleh ke arah Axelle lalu memeletkan lidahnya sebentar sebelum masuk ke dalam rumah.


“Mereka ada di sini?” tanya Jacob pada Axelle yang sama-sama melihat tangan kanan sang ayah keluar dari dalam rumah. Axelle tidak membuka mulutnya, ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jacob padanya.


“Kerjaan gimana? Kayanya lancar banget sampe gak langsung pulang semalem. Lain kali jangan sampe lupa ngabarin Estelle kalau lo gak jadi pulang. Dia sampe ketiduran di ruang tamu karna nunggu lo semaleman,” terang Axelle dengan nada kesal.


Jacob menghembuskan napas kasar begitu mendengar laporan Axelle mengenai Estelle. “Gua lupa. Lo juga kenapa gak pindahin dia ke kamarnya?”


“Gak mau bocahnya,” balas Axelle yang bertambah kesal karena Jacob jadi terkesan menyalahkannya di sini.


“Trus lu mau kemana?” tanya Jacob seraya menggulung kedua lengan kemejanya, ia menyandarkan tubuhnya pada


kap mobil.


Axelle mengangkat kedua bahunya. “Gak tau sih sebenernya, gua cuma mau ngajak Estelle pergi dari rumah. Firasat gua gak bagus hari ini, apalagi ada bonyok di rumah.” Axelle tidak bisa memberi tahu pada Jacob langsung perihal perjodohan Estelle yang sudah dimulai semenjak pria itu tidak ada di rumah karena bisa-bisa pria itu akan langsung mengamuk sekarang.


“Selama gua gak di rumah, gak ada kejadian apa-apa?” tanya Jacob yang mendapat gelengan kepala ragu dari Axelle. Tidak ingin memaksa, Jacob pun hanya menganggukkan kepalanya pelan.


“Ya udah, kalian nanti hati-hati ya. Jangain Estelle. Kalau ada apa-apa bilang aja. Gua masuk dulu.” Jacob menepuk bahu Axelle pelan sebelum masuk ke dalam rumah.


Sorry, Bang. Axelle hanya bisa meminta maaf dalam hati sambil terus memperhatikan punggung lebar Jacob yang semakin menjauh.


“Axelle, Sayang.”


Axelle memutar bola matanya malas. Ia tidak berbalik dan kakinya terus melangkah naik ke lantai atas menuju kamar sang adik, mengabaikan panggilan sang mommy.


Tok tok tok


“Stelle!”


“Estelle!” panggilnya untuk yang kedua kali namun masih tak mendapatkan respons.


Tok! tok! tok!


Axelle kembali mengetuk pintu kamar Estelle lebih kencang. “Stelle, cepetan!” teriaknya tak sabar.


Brugh!


Kedua mata Axelle langsung membola saat mendengar suara benda jatuh yang cukup kencang. Ia mengetuk pintu kamar Estelle sejadi-jadinya. Bahkan sudah mulai mencoba untuk mendobrak paksa pintu tersebut.

__ADS_1


Begitu pintu terbuka, ia langsung menghampiri Estelle yang tertunduk dalam sampai seluruh bagian wajah gadis itu tertutup oleh rambut. “Are you okay?” tanya Axelle seraya membenahi rambut Estelle lalu dilanjutkan dengan memeriksa seluruh tubuh adiknya itu.


Agatha yang tadinya ingin menghampiri keduanya langsung terdiam melihat bagaimana perhatiannya sang putra pada anak sambungnya itu.


“Aku jatoh! Pantat aku sakit banget sekarang! Kak Axelle sih gak sabaran!” Dengan bibir mencebik kesal. Mata gadis itu berkaca-kaca karena menahan sakit di bokongnya akibat terjatuh saat terburu-buru membukakan pintu.


“Maaf maaf. Ya udah kalau gitu kamu pake baju sana. Kakak tunggu di sini,” ujar Axelle seraya mengusap kepala Estelle penuh kasih sayang. Dan walaupun dengan gerutuan panjang, Estelle tetap menuruti perkataan Axelle.


Axelle memilih untuk menunggu Estelle di samping pintu kamar gadis itu seraya bersandar di tembok. Begitu laki-laki itu mengangkat kepalanya dan melihat lurus ke depan, tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Agatha yang rupanya masih berada di sana memperhatikan keduanya.


Mau apa wanita itu di sana? pikir Axelle skeptis pada mommy-nya sendiri.


Agatha pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun pada putranya. Namun saat wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu berbalik, air mata kesedihan mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan.


“Ayo, Kak. Jadi pergi, ‘kan?” tanya Estelle yang langsung menyadarkan Axelle dari lamunannya. Axelle mengangguk dan berusaha untuk mengalihkan seluruh perhatiannya kepada sang adik.


“Kenapa?” Estelle kembali bertanya karena Axelle terlihat memikirkan sesuatu.


Axelle menggeleng sambil tersenyum untuk menenangkan pikiran Estelle. Ia tidak tingin membuat adiknya itu khawatir. “Ayo jalan,” ujarnya seraya menggenggam lembut tangan Estelle.


“Kita mau kemana?” tanya Estelle.


Axelle kembali menoleh, sedikit menunduk agar bisa bertatapan mata dengan sang adik. “Kamu maunya kemana?”


Bingung, Estelle mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. “Ikut aja aku mah,” terang gadis itu saat Axelle mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan maksudnya mengangkat bahu tadi.


“Kalau gitu kita drive thru aja ya?” tawar Axelle yang mendapat anggukan setuju dari Estelle.


“Aku mau es krim, boleh?”


“Boleh.”


“Aku mau burger, boleh?”


“Boleh.”


“Kalau french fries?”


“Boleh.”


“Aku juga mau pizza, boleh?”

__ADS_1


Axelle menoleh dan menatap sangsi perut Estelle. “Kamu sanggup makan semua itu emangnya?” tanyanya tak yakin.


Estelle mengangguk semangat dengan kedua matanya berbinar. Sepertinya gadis itu benar-benar lapar saat ini. “Boleh ya ya?” bujuknya. Axelle pun hanya bisa mengangguk setuju seraya menghembuskan napas panjang. Ia harus meminta uang tambahan pada Jacob setelah ini.


__ADS_2