
.
Pagi yang cerah dari pancaran cahya mentari yang menerangi seluruh alam flora dan fauna.
Semua para perawat dan dokter bertukar waktu bertugas terlihat sibuk keluar dan masuk rumah sakit dua lantai itu.
Hanya dokter Kay sahaja yang tinggal karena hanya dia yang di bayar khas 24 jam merawat keadaan Ben yang memerlukan pengobatan spesialis.
Setelah beberapa hari kondisi Ben tidak baik-baik saja. Dia mengalami syok berat setelah pingsan saat di kantor.
Setiap malamnya sering dia bemimpi bayangan samar- samar seorang gadis yang sepertinya sangat berharga buatnya pada masa lalu. Selalu bermain di saat tidurnya.
Ketika malam hari, Ben tidak sadar saat dia sering bangun dan meracau. Mamanya yang setiap malam menjaganya. Menatap iba terhadap anaknya.
"Ardy, maaafkan mama ya, mama udah coba mencari dimana-mana Anggunmu, tapi mama ngak ketemu, setiap malam kamu menyebut namanya,"
"Mama akan coba mencari nya lagi, moga jodoh kalian kuat," doa mama Arlin kepada anaknya yang tertidur pulas.
Sudah beberapa hari Ben di rumah sakit dan kerap kali meracau.
Pagi itu juga dia mulai sadar. Membuka kedua kelopak mata perlahan dan terkejut saat melihat sekitarnya. Putih.
Saat ini mama Arlin ke kantin untuk membeli makanan. meninggalkan seketika Ben di kamar rawat.
"Ak.. Aku di mana ini," gumamnya sendiri.
CEKLEK
Pintu kamar ruangan rumah sakit di mana Ben berada di buka seorang wanita paruh baya dan masuk perlahan.
"Maaa, " mama Arlin kaget.
"Ar---Ardy sayang, kamu udah sadar nak, gimana keadaan kamu , masih ada yang sakit?," tanya mama Arlin berlebihan.
"Maaa, apa sih berisik banget, kok banyak tanya, sih," kesal Ben namun masih dalam keadaan aneh.
"Maaf, mama khawatir dong, ada saja kamu tuh, bikin khawatir mama sama papamu," bilang mama Arlin mulai mengomel.
"Aku udah baikkan nih, lihat," Ben bangkit tapi di bantu mama Arlin.
"Bentar ya mama panggil dokter," mama Arlin membantu Ben untuk duduk bersandar sementara menunggu dokter Kay masuk.
Lalu Ben membuka suara bertanya lagi kepada mamanya.
"Ma aku kenapa di sini, apa penyakitku kambuh lagi ma.....setau aku, aku di kantor dan berada di lift.....bersama----," Ben berusaha memikirkan sesuatu namun masih samar.
__ADS_1
Mamanya memberitahu kepada Ben apa yang terjadi kemarin saat di kantor bersama sekreterisnya. Ben hanya tenang memikirkan.
"Ooooo, hmmm,"
Lama Ben terdiam dan masih memikir apa yang terjadi. Hanya seorang gadis cantik terlintas.
"Auliya Aunggun," gumam Ben mulai memicingkan matanya.Tetapi membuat kepalanya kembali terasa nyeri dan sakit kepalanya seperti di himpit batu.
"Aarrrrrrrhhhhhh maaaaa.....sakit, tolonggggg maaaaa," Ben berteriak. Mama Arlin panik beserta dokter mendekati Ben.
"Ben???!!!!!,"
"Maaaaaa,!!!!!" teriak Ben.
"Ben...Ben...Jangan dipaksa Ben hikkk hikkssss, dokterrrrrr tolong anakku dok hikks hikkks,"
"Iya Nyonya sabar..... tenang, tolong keluar sebentar ya," kata suster supaya mama Arlin segera di minta keluar dari ruangan Ben. Mama Arlin membiarkan dokter yang menanganinya.
Di saat kekhawatirannya ada panggilan masuk..
📞"Hello paaa, paaaa cepetan kemari, Ardy paaaa, dia sudah sadar tapiiiiii,"
📞"Paaaa,"
TUT
TUT
Mama Arlin sangat khawatir lalu mundar mandir, gelisah karena masih lagi mendengar Ben berteriak menahan sakit di kepala.
Dokter Kay langsung menyuntik obat penenang dan Ben mulai tenang dan tidak sadar. Dokter membenarkan keadaan tidur Ben dan melangkah keluar menemui mama Arlin.
"Nyona kondisi Pak Ben sudah terkawal, jadi biar dia istirahat ya," ucap dokter Kay.
Mama Arlin sedikit tenang melihat Ben melalui dinding kaca dan membiarkan Ben beristirahat.
" Terima kasih dokter," langsung dokter Kay ke ruangnya dan meninggalkan mama Arlin yang masih berdiri di balik dinding kaca itu.
Hampir 15 menit Papa Xerlan yang tiba menemui istrinya yang sudah pun duduk di sebelah kasur anaknya tidur.
" Maaaa,"
"Gimana keadaan nya,"
"Sudah tenang,"
__ADS_1
"Ma..papa mau ketemu sama dokter bentar ya, mama tunggu disini ya," kata papa Xerlan amat khawatir akan kondisi anaknya.
" Iya mama di sini aja," sambil mengelus kepala Ben dengan kasihnya.
Papa Xerlan mengarahkan Leo menemaninya untuk bertemu dokter.
Dokter memberitahu papa Xerlan tentang kondisi Ben di mana Ben tidak harus memaksa untuk terus mengingat dan kemungkinan besar keadaan akan semakin buruk.
"Kondisi Pak Ben sebenarnya sudah dalam keadaan terkawal, jadi dia bisa pulang besok dan perlu beristirahat total di rumah dalam beberapa hari selanjutnya,"
"Baik terima kasih dokter,"
"Hubungiku jika ada apa-apa ya Tuan Xerlan, dan pesanan saya juga"
" Iya dok terima kasih lagi," papa Xerlan mengangguk dan segera keluar di ikuti Leo.
Dokter juga memberi daftar obat untuk diklim kepada asisten Leo Dan kembali ke ruang Ben bersama papa Xerlan.
.
.
.
Pagi itu setelah menyelesaikan urusan Ben dan melihat kondisi Ben, papa Xerlan berhasrat ingin ke kantor karena sudah beberapa hari Ben ke kantor.
Jadi, Leo dan papa Xerlan meminta mama Arlin menemani anak tunggalnya manakala dia akan ke perusahaan menggantikan Ben serta rapat yang banyak tertunda.
"Kita harus ke kantor ya Leo, beritahu semua pemegang saham dan juga sekreteris baru Ben, aku akan ambil alih perusahaan untuk beberapa hari kedepan dan pastikan schedule di susun semula," pungkas papa Xerlan.
"Baik om, sedia terima arahan," mula membuka suara karena sejak dari kedatangannya di rumah sakit dia hanya diam membisu.
"
.
.
.
Bersambung....
Udah dulu ya...
Terima kasih 💋 udah mampir sampai saat ini...
__ADS_1