
.
"Hai, Nona!!," dengan sengaja Leo menepuk lengan Auliee...sedikit membuat Auliee kaget.
"Aaaaaaaaa, ya ampun, Leo.. maaf, aku ngak tau kamu udah datang," kaget Auliee dan Leo senyum lalu menunjukkan arah jari tunjuknya.
" Hihihi," Leo menyeringai.
"Oh my," terus Auliee bangun dan bersiap menyambut pak Bosnya.
" Pa... pagi menjelang siang Pa... Pak Xerlan, Pa...pak Ben, " Gugup Auliee hanya sekilas pandang.
"Ya, terima kasih, duduk saja An--- Auliee, " singkat Pak Xerlan tersenyum ramah hampir keceplosan.
Ben melihat sekilas Auliee, dan saat itu dia tidak sengaja mengerling ke arah kalung di leher Auliee.
Ben merasakan dia sepertinya pernah melihatnya. Tiba-tiba kepalanya nyeri. Mereka semua masuk keruangan.
Ben menahan sakitnya hingga dia duduk disofa. Dia tidak memperlihatkan sakitnya kepada papa dan Leo.
Ben memejamkan mata dan mencoba meneutralkan situasi dengan mencoba mengingat apakah dia pernah melihat kalung itu.
Apakah ini ada hubunganya dengan masa lalunya yang dia lupakan.
"Auliya Anggun Derica," batin Ben berkata.
"Aaaaaaaaa, sakitnya," Ben menjerit di dalam hatinya. Tidak mau papanya khawatir.
" Leo, suruh Auliee masuk, saya ingin tahu jadwal untuk hari ini," tegas Pak Xerlan
"Baik Pak," Leo berkata formal dan segera memanggil Auliee.
Auliee masuk setelah diberitahu oleh Leo, dia memandang sekilas Ben di sofa lalu menatap Papa Xerlan dan membaca jadwal untuk hari ini.
__ADS_1
"Pak, pada hari ini ada rapat saat makan siang di restoran XX, setelah itu jam 3 ada pertemuan dengan Pak Ciko wakil Ken Corp, "Jelas AUliee mengerling sesaat pada Ben.
Ben mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Auliee. Dia hanya memejam mata dan bersandar tanpa melihat Auliee.
"Kak aku rindu padamu," gumam Auliee dalam hati sambil menunduk menahan air mata dari menitis.
"Terima KAsih nak Auliya Anggun, kamu boleh kembali ke tempatmu," ucap Papa Xerlan dengan senyuman mesra.
Sengaja menyebut nama Auliee.
" Sama sama Pa..pak, saya pamit," balas Auliee dengan senyuman indah.
Tanpa sengaja, Ben membuka mata langsung melihat senyuman manis Auliee. Senyuman yang sangat ia rindui.
DEG
Ben kaget .
"Pak Ben, kamu oke?"
"Leo, ambilkan aku air minuman, aku mau istirahat sebentar, papa saja pergi rapat ya, aku rest di kamar, "jelas Ben datar menahan sesuatu yang amat menyakitkan.
"Kamu ngak pa pa kan Ben, papa hanya sebentar, kamu manggil Auliee saja nanti ya, oh ya, untuk makan siang nanti papa bilang sama OB untuk belikan,"
"Makasih pa,"
"Leo pesan pada Auliee kamu saja yang ikut rapat, biar dia disini memantau kondisi Ardy," pesan papa Xerlan.
"Baik,"
Mereka segera ke resto xx karena ada rapat bisnes dan mereka harus sampai tepat waktu.
Sementara itu Ben istirahat di kamar. Ben langsung menyandarkan dirinya ke kepala kasur, memijit keningnya yang mulai sakit.
__ADS_1
Dia mengingat sesuatu, kalung itu, nama Anggun, senyumannya. Persis seseorang yang dia rindukan.
"Ya Allah, bantu aku ya Allah, pulihkan aku ya Allah,"
Makin dalam Ben coba mengingat, makin dia sakit, Ben memaksa dirinya. Sakit. Ya itu lah yang dirasai Ben saat ini.
Ben bangkit mencari obatnya. Ben keluar dari ruangan kamar pribadi ya.
Dia coba melangkah menuju ke arah sofa untuk menemukan obat yang dibutuhkan. Tetapi dia jatuh di lantai dan tanpa sengaja tangannya mengapai gelas di atas meja hingga membuat bising didalam ruang kantor.
"Aaaaaaaa," Ben berteriak dan coba ambil obatnya di atas meja.
Auliee kaget mendengar sesuatu jatuh dan teriakkan di ruang kantor Bosnya. Auliee terus masuk lalu terkejut melihat tangan Ben coba untuk ambil obatnya.
"Ya Allah Kak Ardy......hiksss hiks hikss," Auliee meletakkan kepala Ben di pangkuaannya ketika ini Ben sudah separuh sadar.
Auliee mengambil obat itu lalu memasukannya kedalam mulut Ben. Langsung Ben menelan setelah itu.
Ben membuka mata sedikit, melihat seseorang di hadapannya. Cantik.
Mengangkat tangannya langsung mengelus pipi Auliee yang lembut dan menatap wajah yang dia rindui.
"Anggun, "
DEG
.
.
.
bersambung...💕💕
__ADS_1