
Pagi itu Novi masih tertidur pulas dan terdengar keributan di luar pagar, satpam tidak berani mengusir karena itu nyonya besar mereka juga tanpa perintah Daniel.
Satpam Dedy menelepon bi Ijah untuk memberitahu kesulitan yang mereka sedang hadapi kini dan menjelaskan situasi yang lagi berlangsung.
"Bi Ijah tolong sampaikan kepada tuan muda, Nyonya besar datang lagi mengamuk kami sudah tidak mampu menahannya tetapi juga tidak berani mengusir tanpa perintah tuan muda" katanya.
"Baiklah aku akan sampaikan kepada tuan Daniel dulu, kalian tahan dulu wanita itu" kata Bi Ijah.
Nyonya itu memaksa masuk karena merasa ini rumahnya, terpaksa mereka mengetuk pintu kamar tuan dan nyonya mereka yang lagi tidur nyenyak.
"Tok... tok.. tuan.. nyonya" panggil bi Ijah.
Novi menggeliat dan membangunkan Daniel.
"Sayang.. bangun kayaknya ada keributan di luar" panggil Novi menepuk lengan Daniel.
Daniel membuka pintu dan heran melihat bi Ijah karena mereka kalau tidak ada hal yang penting tidak akan berani mengganggu tidurnya.
__ADS_1
"Ada apa bi? " tanyanya.
"Di luar ada nyonya Merry tuan dia memaksa masuk satpam tidak bisa menahannya lagi , tetapi juga tidak berani mengusirnya karena takut tuan marah" kata bi Ijah.
"Beraninya wanita itu datang lagi mengacau suruh dedy mengusirnya, kalau masih memaksa bilang saja akan memanggil polisi kalau perlu laporkan sekalian dia bukan siapa-siapa bagiku" kata Daniel.
"Baik tuan laksanakan..! jawab bi Ijah.
Dia juga tidak menyukai nyonya besar yang angkuh dan jahat itu, bahkan gara-gara dia tuan besar yang dia sangat hormati meninggal lebih cepat karena menderita.
Tuan muda juga kehilangan sosok ayahnya dan kasih sayang, yang tidak di dapatkan membuat tuan muda menjadi keras dan dingin dan cuek kepada lingkungan sekitar.
Kebencian Daniel bila teringat perlakuan wanita itu membuat mukanya langsung tidak mengantuk lagi, dia menutup pintu dan kembali ke ranjang di mana Novi menunggu dirinya.
"Siapa yang datang? " tanya Novi.
"Wanita jahat itu" kata Daniel.
__ADS_1
Mendengar kata Daniel dan wajahnya yang nampak marah dan kesal , Novi mengerti siapa yang di maksud suaminya itu dia pun tidak bertanya lagi.
Novi tidak ingin mempengaruhi mood paginya dan mengganggu bayinya bila marah, sehingga dia memeluk daniel dan menciumnya dengan lembut sambil tangannya mengelus dada bidang suaminya.
"Sudahlah lupakan saja wanita itu mengganggu mood saja, dia tidak penting tidak perlu kesal apalagi marah buang tenaga bagaimana kalau kita lakukan yang enak saja" kata Novi.
Dia mulai menggoda suaminya dan tangannya turun kebawah mengusap kejantanan suaminya, yang nampak menonjol di atas celananya dan sudah mengeras.
Daniel sudah hilang kesalnya karena godaan istrinya itu dan mereka pun "olahraga " pagi dan bercinta sampai puas dan kelelahan baru mulai membersihkan diri lalu baru keluar sarapan.
Kebetulan sarapan menggugah selera sehingga Novi makan dengan banyak, tanpa mual mungkin karena anaknya sudah bertemu ayahnya sehingga tidak rewel.
Daniel mengusap perut Novi yang masih rata dan mengecup ubun-ubun istrinya, dia selalu mendoakan anak istrinya selalu sehat sentosa dan lancar kelahirannya.
Novi menatapnya sambil tersenyum dan menyuapi suaminya, Daniel membuka mulutnya dan makan sepiring berdua dengan istrinya.
Ina yang melihat kemesraan mereka merasa iri karena Dika tidak perhatian seperti tuannya.
__ADS_1
"So sweet mereka" katanya kepada Dika.