
Di pagi buta, Vie bersama Fifi dan Arabi. Mereka menyiapkan sarapan untuk Penerus kelima, Michael Burka.
Jadwal kali ini tidak seperti kemarin. Vie melaluinya dengan santai meski dia tahu, kalau dua orang yang satu kelompok dengannya tengah canggung.
"Aku sudah mengiris bawangnya, ini." ucap Vie menaruh bawang merah dan putih di dalam mangkuk.
"Terima kasih, Vie." Fifi segera menyambut mangkuk tersebut dan menaruhnya tepat di samping kompor.
"Vie, bisakah kau membantuku sebentar." seru Arabi. Vie segera mendekat dan memperhatikan apa yang membuat wanita ini menyerunya.
"Ini, bisa kah kau menyajikan empat piring. Hidangan akan siap sebentar lagi," pinta Arabi.
Vie mengangguk sebagai jawaban. Dia segera mengambil piring dan menatanya.
Di meja makan yang kemarin membuatnya emosi. Vie tidak lagi memikirkan semua itu. Dia lebih mendalami perannya sebagai anggota kelompok.
"Selamat pagi," sapa seseorang.
Semua mata tertuju kepada Pria yang mengenakan jaket dengan celana kulot bersepatu putih.
"Selamat pagi juga, Tuan Burka." balas ketiganya.
Semua seketika duduk di kursi sembari melakukan tugas masing-masing. Kali ini, Vie bertugas menghidang makanan. Besok, dia yang akan menyajikan sarapan.
Hari ini, Vie mendapatkan tiga tugas. Pagi hari, membantu menyajikan makanan. Siang hari, Vie juga mendapatkan hal yang sama. Lalu, malam harinya barulah Vie bertugas memasak.
Sebenarnya, Vie tidak ada niat melakukan itu. Tapi, kemarin dia juga membuat makan siang untuk Resga. Meski, dia tidak ikut menikmati makan siang itu.
"Terima kasih kalian telah repot-repot membuat sarapan ini." ucap Burka dengan tersenyum bahagia.
Melihat senyuman itu, Vie merasa seperti disinari oleh cahaya matahari hingga dia menjadi semangat menjalani hari.
"Mari makan!" ucap Fifi yang berada di samping Vie.
Semua mengangguk setuju dan segera menyantap makanan mereka. Sarapan kali ini begitu unik, Fifi membuat tumis kacang panjang dengan ikan goreng bersama sambelnya.
Semua sarapan itu tidak membuat penerus kelima mengeluh. Malah sebaliknya, sarapan itu di lahap dengan cepat.
Vie senang melihat hal ini. Sebenarnya, tidak ada di antara mereka yang menargetkan Burka. Lebih tepatnya, Burka bukan orang yang diincar. Tapi, mengingat kalau harus saling melakukan pendekatan. Maka, semua berakhir sesuai jadwal.
"Aku tahu, kalian tidak memiliki ketertarikkan kepadaku. Ku rasa, para Kakakku lah yang kalian incar. Tapi, terima kasih sudah melakukan pendekatan ini." ucap Burka.
"Kenapa Burka? Kami tetap harus melakukannya karena kau adalah penerus Michael. Selain itu, Kau juga tidak akan menolak untuk berkenalan kan?" celetuk Vie.
Burka tersenyum, "Kak Vie memang menarik." ucapnya.
Vie terteguh mendengar ucapan Burka. "Sejak kapan aku menjadi kakakmu?" tanyanya. Dia merasa ada yang aneh di sini.
Burka hanya terdiam sembari melirik ke arah lain. Vie yang melihat itu, ikut menyusuri kemanakah tatapan Burka.
Senyum Vie segera terukir. Dia mendekatkan kursi yang kebetulan tempat duduk Burka berada di sampingnya.
Fifi dan Arabi tidak perduli dengan kedekatan yang Vie lakukan. Karena, kedua orang itu tidak menargetkan Burka sebagai incaran mereka.
"Eh? Kak Vie?" Burka panik melihat wajah wanita mendekat padanya.
Vie tersenyum, dia segera mengarahkan bibirnya di telinga Burka. "Apa kau menyukai Adik Sepupuku, Nala?" bisiknya.
Burka segera menjauhkan kepalanya dan menutup telinga kanan yang di bisikkan oleh Vie.
"Kak, aku merasa seseorang menatap tajam kepadaku. Seperti tertusuk-tusuk hingga menembus jantungku!" pekik Burka.
Vie mengerutkan alisnya. Dia juga merasa ada yang salah dengan tingkahnya. Entah kenapa, ada perasaan kalau dia di amati orang lain.
Mata Vie melirik meja makan yang tengah ramai. Semua sarapan bersama dengan kelompok masing-masing.
Vie menatap pandangan seorang pria yang menompang dagu dengan tatapan tajam.
Tanpa terasa, Vie menelan salivanya. Dia masih ingat jelas perkataan Fiqer yang saat ini menatapnya.
'Aku tidak ingin kau berada di dekatnya, bahkan sedetikpun.'
"Pria ini, aku tahu dia menyukaiku. Tapi, bukan kah kami tidak memiliki hubungan. Jadi, tidak ada masalah untuk aku dekat dengan yang lain kan?" benak Vie.
"Ah, maaf ... kita akan bertemu di siang hari nanti. Aku harus kuliah pagi ini," ucap Burka segera berdiri.
"Seperti itu ya, sayang sekali. Baiklah, semangat kuliahnya." ucap Arabi.
Burka mengangguk mendengar hal itu. "Terima kasih."
Vie bangun dari tempat duduknya, dia menghindari tatapan Fiqer yang mematikan itu.
Saat Vie ingin melangkah pergi, tiba-tiba dia merasa seseorang memeluknya.
"Terima kasih kak Vie, telah membuat sarapan pagi ini," ucap Burka. "Ah, benar Kak Vie. Aku mencintai Nala. Tolong, dukung aku." lanjut Burka dengan bisikkan.
Setelah hal itu, Burka juga memeluk Fifi dan Arabi. Meski tidak selama dia memeluk Vie.
__ADS_1
Rasa menusuk yang seperti mengulitinya terasa. Vie benar-benar tidak ingin menatap ke belakang. Dia tahu, Fiqer seperti hewan buas yang menatap tajam pada buruannya.
"Sial, pria ini mengerikan!" benak Vie.
"Baiklah, aku akan pergi!" ucap Burka.
Vie menatap kepergian pria muda itu. Dia melihat Burka berjalan dengan Nala di sampingnya. Menghilangkan rasa takut, Vie tersenyum mendapati semua ini.
"Aku mendukung kalian kok. Selama, Nala tidak tersakiti." benak Vie.
"Vie, ayo!" seru Fifi.
Vie segera mengikuti jadwalnya hari ini. Meski Burka kuliah, mereka harus tetap menjalankan tugas masing-masing.
Saat meninggalkan ruang makan. Perasaan yang mengerikan itu menghilang seketika. Vie melangkah lega dengan hal ini.
"Vie, aku merasa ada yang aneh di meja makan tadi." celetuk Fifi.
Vie menoleh seketika, dia menatap Fifi yang terteguh.
"Ada apa denganmu, kau jadi pucat." ucap Fifi.
Vie segera menenangkan dirinya. "Tidak ada, aku hanya terkejut mendengar perkataanmu."
"Aku melihat Burka juga tidak tenang. Apa maksud dari perkataannya itu. Dia bilang tengah di tusuk-tusuk seseorang. Apa ada yang mengunakan metode santet di sini?" imbuh Arabi.
Vie semakin bingung dengan situasi saat ini. Ternyata, Fiqer bukan hanya menatap tajam padanya. Tapi, semua orang merasakan tatapan itu.
"Yeah, dia memang membuktikan apa yang dia katakan." benak Vie.
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Lebih baik kita menyelesaikan ini dan menyiapkan makan siang untuk Burka." Vie mengalihkan pembicaraan mereka.
Menurutnya, tidak perlu lagi membahas semua itu. Dia akan terus mengingat pernyataan cinta Fiqer kepadanya.
"Aku malah seperti seseorang yang berharap, kalau ungkapan cinta itu menghadirkan hubungan di antara kami." benak Vie.
Gelengan kepala Vie lakukan, dia tidak harus berpikir seperti itu. Kedatangan di sini karena ingin melupakan mantannya.
"Benar juga, selama aku di sini, aku tidak pernah memikirkan Surza Norka. Hehe, aku bisa melupakan cinta pertamaku itu?" gumam Vie sembari tersenyum.
"Vie, apa yang kau gumamkan?" tanya Fifi.
Vie segera mengangkat bahunya, "tidak ada. Sudah, ayo kita membersihkan ini."
Kerutan muncul di antara alis Fifi. Meski begitu, tidak ada lagi pembahasan yang membuat orang lain penasaran.
...●●●...
"Sampai jumpa besok hari," ucap Fifi yang melangkah pergi.
Arabi menepuk pundak Vie sembari tersenyum. "Tampaknya, Besok aku akan bersaing denganmu." ucapnya.
Vie mengerutkan alis mendengar perkataan itu. Dia menatap kepergian Arabi yang meninggalkannya.
"Ada apa dengan wanita itu?" gumam Vie.
Tidak ingin berpikir yang bukan-bukan. Vie melangkah menuju ke lantai dua untuk beristirahat. Besok, dia akan menghadapi Fiqer yang sebenarnya ingin dihindari.
"Kami pasti akan saling bertemu." gumam Vie kembali.
Setibanya di dalam kamar, Vie membersihkan wajah sambil menyikat giginya. Dia akan beristirahat dan bersiap bangun pagi karena besok tugasnya membuat sarapan.
"Enaknya sarapan apa ya?"
Berbicara sendiri, Vie menatap tampilannya di depan cermin. "Tidak seperti kemarin. Hari ini, aku tidak mendapatkan masalah. Biasanya, salah satu dari calon-calon istri ini akan menjebakku."
"Sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan semua itu. Lebih baik aku memikirkan cara untuk menjauhi Fiqer. Semenjak pernyataan cinta itu, dia terlihat mengerikan."
"Aku menjadi merinding ketika mengingat tatapan tajamnya. Seperti pria posesif yang tidak ingin miliknya terbagi." Vie menghela napas setelah melampiaskan pikirannya.
Melihat dirinya telah membersihkan diri. Vie keluar dari kamar mandi menuju ke kamar untuk tidur. Seperti apa yang tertulis di denah, masing-masing kamar memiliki kamar mandi sendiri. Jadi, tidak perlu repot mengantri.
"Hoaam, aku in-,"
Mata Vie membelak seketika, dia melihat seorang pria yang menatapnya dengan pandangan datar.
"Fi-Fiqer?" ucap Vie bersama perasaan terkejut yang mendalam. Dia segera mendekati pria itu untuk mencari tahu apa motif dari kedatangannya.
"Jangan bilang dia akan mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya," benak Vie. Dia memikirkan alasan Fiqer yang selalu mengatakan kalau dia tidak akan bisa tidur tanpa memeluknya.
(⚠️ Bagian ini mengandung unsur dewasa, mohon bijak dalam membaca. Terima kasih⚘⚠️)
Vie terkejut ketika Fiqer menarik lengannya hingga dipeluk secara tiba-tiba.
"Kenapa, kenapa kau mau di peluk olehnya, Vie?" tanya Fiqer.
Vie mengarahkan pandangan Fiqer untuk menatapnya. Dia tahu suara yang Pria ini keluarkan, bukan suara biasanya. Ada nada serak yang dalam hingga Vie merasa ucapan Fiqer kali ini terkesan dingin.
__ADS_1
"Jawab aku, Vie!" ucap Fiqer yang perlahan mengangkat tubuhnya dan mengendus ceruk leher Vie.
"Kau! Kau mabuk Fiqer!" pekik Vie. Dia segera menjauhkan laki-laki yang tampak tidak waras.
Akan tetap, Fiqer tidak menjauh dari Vie. Dia malah mendekap Vie hingga wanita itu kesulitan bergerak.
"Fiqer, jernihkan pikiranmu. Kau tidak seharusnya seperti ini!" ucap Vie berusaha untuk menenangkan Fiqer.
Pria itu tidak mendengarkan perkataannya. Tubuh Vie perlahan di baringkan pada kasur yang empuk. Lalu, pakaian kaos tipis yang Vie kenakan diangkat sebagian oleh Fiqer.
Vie segera menurunkan baju yang sudah menampakkan bagian perutnya.
Namun, Fiqer dengan cepat menghentikan tangan Vie. Dia mencium pusar Vie dan memberikan isapan kecil untuk memberi tanda.
"Aku sudah katakan kepadamu. Aku tidak suka, jika ada orang yang dekat denganmu." racau Fiqer.
Vie menarik rambut Fiqer agar tidak bertindak lebih. "Dia adikmu, aku tidak melakukan hal yang merugikan dirimu. Fiqer, sadarlah!"
Merasa rambutnya ditarik, Fiqer segera melesatkan kepalanya dan menatap mata Vie.
Tatapan mereka saling bertemu hingga sebuah ciuman terjadi pada mereka. Perlahan, Vie merasa dia hanyut dalam permainan Fiqer.
Dirinya yang ingin menyadarkan Fiqer, kini perlahan ikut dalam ketidakwarasan. Tangan Vie merangkul pada leher Fiqer.
Ciuman panas itu beralih tempat, turun perlahan menuju ceruk lehernya. Isapan kecil juga di dapat bahkan ada rasa sakit karena digigit oleh Fiqer.
"Ssttt, pelan-pelan." racau Vie.
Fiqer tersenyum, dia turun kembali dengan menyentuh benda kenyal yang masih diselimuti pakaian.
"Vie, boleh aku menciumnya?" tanya Fiqer dengan perlahan membuka baju Vie.
Kesadaran yang telah hilang itu tidak lagi bisa menjernihkan pikiran Vie. Dia membiarkan Fiqer melepas bajunya dan bermain dengan benda kembar di dada.
"Vie,"
"Vie,"
"Vie, aku mencintaimu!"
Fiqer berhasil membuat Vie melayang di tempat yang tidak terarahkan. Dia bahkan tidak menyadari kalau seluruh tubuhnya kini membuat gairah Fiqer memuncak.
Jari kekarnya memasuki sebuah tempat yang lembab. Vie membelakkan mata merasa sesuatu yang masuk tanpa izin.
Tangan Vie segera menahan Fiqer. Kesadaran yang hilang itu kembali seketika. "Fiqer, apa kau ingin mengambil keperawananku?" tanya Vie.
Pria di depannya tersenyum sembari memberikan kecupan di bibirnya. "Kenapa? Kau tidak menginginkannya, Vie?"
Vie segera mengeluarkan jemari itu dari miliknya. "Tidak, jangan melakukan ini." ucap Vie dengan napas yang terhenga-henga.
Namun, Fiqer menahan tangan Vie dan tangan yang lain kembali pada tempat sebelumnya. "Vie, maukah kau mengijinkanku melakukan hal ini?"
Dada yang terangkat dan turun dengan cepat. Vie benar-benar terbawa nafsu yang memuncak ini. Pertama bagi Vie melakukan hubungan terlarang.
Seumur hidup, Vie mengaku kalah dengan pesona Fiqer. Kepalanya mengangguk untuk menjawab apa yang Fiqer tanyakan.
"Benarkah? Kau ingin melakukan ini denganku?" tanya Fiqer dengan nada bahagianya.
"Aku merelakan keperawananku karena telah jatuh cinta kepadamu. Dengar Fiqer, ku harap sampai di sini kedekatkan kita." ucap Vie.
Fiqer tersenyum tanpa menjawab apa pun. Dia segera mencium Vie sembari melesatkan permainan jarinya.
Suara yang seperti alunan musik mengema di telinga. Kamar yang diatur kedap suara benar-benar berguna.
"Aku akan pelan-pelan," ucap Fiqer.
Sesuatu terasa oleh Vie. Benda itu menerobos masuk meski dilakukan dengan perlahan. Namun tetap saja, rasa sakit membuat Vie mengeram hingga mencakar punggung Fiqer.
"Shtt, Vie di dalam terasa sempit. Terima kasih atas keperawananmu!" ucap Fiqer yang tidak bergerak.
Vie tahu kalau pria itu sedang memberinya luang untuk membiasakan diri. Apa lagi, sesuatu mengalir di sana.
"Darahnya keluar. Vie, kau benar-benar perawan?"
Di mata Fiqer, tampak begitu terkejut. Vie seketika tersenyum dan menarik Fiqer untuk mendekatkan wajahnya.
"Kenapa kau terkejut? Apa kau melakukan hubungan seperti ini tapi tidak pernah merasakan keperawanan seseorang?" tanya Vie.
Senyum terukir di bibir Fiqer, "cup! Aku melakukan hubungan seperti ini hanya kepada satu orang. Dialah,dirimu Vie! Ini pengalaman pertamaku melakukannya denganmu. Jadi maaf, jika sedikit kasar."
Vie terteguh mendengar hal itu. Sesuatu yang terdiam di tempat yang lembab, kini menerobos masuk kembali untuk mencapai titik kenikmatan.
Vie segera mengerang ketika Fiqer memasukkan benda itu lebih dalam.
"Fiqer!"
Fiqer mencium kening Vie dan memberikan cairan mulutnya untuk membasahi tengorokkan Vie. Dia tahu kalau nanti, Vie akan berteriak namanya berulang kali.
__ADS_1
"Vie, Aku mencintaimu!"
Mata Vie tertutup dengan air mata mengalir. Selain rasa sakit, dia merasa sedih karena telah melakukan hal seperti ini. "Ku harap, tidak ada hari yang seperti ini," benaknya.