
Di sebuah cafe, Vie duduk menatap dua orang yang dia kenali. Ada Surza Norka, mantan kekasihnya. Lalu, ada Putri Reila, orang yang sangat tidak menyukainya.
"Tidak menyangka, kita akan bertemu." ucap Vie sembari menikmati jus pesanannya.
Pria yang merupakan mantannya itu mengangguk dengan tersenyum. Dia masih sama seperti dulu, terlalu ramah dengan orang lain. Untung Vie sudah mengenal dirinya, jadi dia tidak akan jatuh ke dalam pesona pria di depannya ini.
"Jadi, kau kalah?" tanya Putri Reila dengan nada cueknya.
Surza yang mendengar hal itu segera menegur. "Bertanyalah dengan nada yang baik."
Putri Reila mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya kau dengan dia, Surza? Aku tunanganmu, kau tahu itu kan!" gerutuknya.
Surza Norka terdiam mendengar hal itu. Melihat tingkah dua orang di depannya membuat Vie menghela napas.
"Jadi kalian bertunangan ya? Siapa yang menduga, kalau sainganku bertunangan dengan mantanku." ucap Vie dengan senyum senang.
Tampak di depan mata, Vie melihat wajah Putri Reila terkejut. "Kau, mantannya?" tanya Putri Reila memastikan.
Vie mengangguk, "yapp, tapi beruntung dirimu Putri Reila. Setelah keluar dari undangan itu, kau langsung mendapatkan pengantinya. Bagus-bagus." pujinya.
Putri Reila bangun dari tempat duduk. Dia melangkah pergi tanpa sepatah katapun.
"Sepertinya aku telah salah berbicara. maaf Surza, aku tidak seharusnya mengungkit hubungan kita." ucap Vie dengan rasa bersalahnya.
Sejujurnya, di hati Vie sendiri, tidak ada rasa bersalah sama sekali. Dia malah tidak merasakan apa pun. Bukan melampiaskan amarahnya atau kekesalannya. Hari ini, mulut Vie benar-benar lepas kendali.
"Tidak apa," ucap Surza dengan nada tenang.
Vie mengangguk dan memutuskan untuk bangun dari tepat duduknya. "Tidak baik kita berdua di meja yang sama. Orang lain akan menduga kalau aku adalah pelakor yang langsung bermain di garis depan." ucap Vie.
Surza, pria itu bangun dari tempat duduknya. Wajahnya kaget melihat Vie yang ingin pergi.
"Oh ya, biarkan aku yang teraktir makanan kali ini." ucap Vie yang ingin melangkah pergi.
"Tunggu!"
Vie berbalik badan dan menatap tangan yang di genggam oleh Surza. "Ada apa Surza?" tanya Vie.
"Bo-bolehkan aku berbicara dengan mu sebentar?" tanyanya.
Vie mengerutkan alis mendengar pertanyaan itu. Dia tidak ada niat untuk bertemu lagi dengan mantan kekasihnya ini.
"Baiklah, selesaikan dulu urusanmu dengan tunanganmu itu. Aku tidak mau terkena masalah nanti." ucap Vie yang kemudian menepis tangan Surza.
Dia melangkah keluar, meninggalkan pria yang tengah menghubungi tunangannya.
Helaan napas berhembus dengan tenang. Vie melihat padatnya pengunjung pusat perbelanjaan. Dia memutuskan untuk melangkah ke balkon khusus yang menunjukkan keindahan kota S.
Suara langkah kaki terdengar di telinga. Vie berbalik badan dan melihat mantannya berdiri di sana.
"Apa yang ingin kau bicarakan, jika penting katakan sekarang. Jika tidak, aku akan segera pulang." ucap Vie.
Niat dirinya datang ke pusat perbelanjaan untuk menikmati waktunya. Namun, takdir baik apa yang dia terima. Hari ini, selain bertemu teman sekolah, dia harus bertemu dengan Mantan kekasih dan Mantan saingannya.
"Aku minta maaf atas pilihanku saat itu. Sejujurnya, kami sekeluarga tidak tahu margamu, ternyata Margamu Maherqi, Vie." ucap Surza.
Vie memutar bola matanya dengan jengah. Dia sengaja menyembunyikan marganya. Menurutnya, menjadi wanita sederhana tanpa marga akan bisa memberinya kebahagiaan.
Apa lagi, saat Surza menembaknya untuk menjadi seorang kekasih. Vie berpikir, pria ini tidak memandang status sosial. Tapi, dia salah, meski anaknya bersikap baik. Ada orang tua yang menuntunnya untuk menjadi yang terbaik dan mencarikan yang lebih baik.
Marga Maherqi tidak terkenal tetapi bisnisnya telah tersebar di Kota S dan T. Salah satu bisnis terbaik keluarga Maherqi adalah Sarang Walet.
"Aku dulu berpikir, marga tidaklah penting Surza. Saat kau menyatakan cintamu, yang ku lihat bukan margamu. Tapi ketulusan hatimu kepadaku." ucap Vie dengan menatap ke arah jalan raya.
"Namun, keluargamu memandang ku dari marga. Bukan ketulusan hatiku yang berniat menikahimu. Haha, sudah sewajarnya orang tua memberikan yang terbaik untuk anaknya."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal itu. Jadi, yang ingin kau katakan cuma itu?" tanya Vie sembari menatap pria yang kini menatapnya.
"Vie, boleh aku memelukmu?" tanya Surza.
Vie tersenyum, "maaf Surza ... aku tidak sepolos dan seperawan dulu. Jadi, yang kau peluk di tubuh ini, sudah di jamah oleh orang lain."
Surza Norka mencengkram bahu Vie dengan wajah terkejutnya. "Apa yang kau katakan? Siapa yang menyentuhmu Vie? Aku selalu menjagamu, kenapa pria yang menjadi kekasihmu berani melakukan itu!" Marahnya.
Cengkraman itu segera di singgirkan oleh Vie. Dia tersenyum dan menatap pria yang bukan miliknya. "Apa yang kau khawatirkan. Aku bukan milikmu Surza. Dan lagi, kau sudah bertunangan, berhenti mengkhawatirkan orang lain." celetuk Vie.
Setelah berucap seperti itu, Vie melihaylt raut wajah Surza yang benar-benar tertampar. Dia tidak salah berucap. Meski saat berpacaran dengan Surza, Vie aman dan baik-baik saja.
Namun, tidak semua pria itu sama. Hanya, Vie sudah menganggap dua mantan kekasihnya itu, memiliki sikap yang sama. Sama-sama memilih apa yang di putuskan oleh orang tua dari pada membela dirinya.
__ADS_1
"Cih, siapa aku? Aku hanya orang asing yang terlalu berharap." benak Vie. Dia jadi teringat semua mimpi buruknya.
"Sudahlah, aku harus pergi. Sampaikan kepada Ibumu, kalau aku sudah memaafkannya." ucap Vie yang kemudian berlalu.
Namun, beberapa langkah dia ambil, tubuhnya tiba-tiba di dekap oleh Surza. Napas pria itu menyentuh kulit lehernya.
"Vie, aku masih mencintaimu. Jika kau mau, aku akan menikahimu." ucap pria itu.
Vie tersenyum dan menepuk-nepuk tangan yang mendekapnya. "Berhenti membuat harapan. Jauhilah aku dan lupakan diriku. Surza, aku berharap kalau kita tidak pernah bertemu lagi."
Dekapan itu segera terlepas. Surza menundukkan kepalanya. "Apa tidak ada kesempatan untukku?"
"Kesempatan?" kaget Vie. Dia tertawa mendengar penuturan kata Pria di depannya. "Statusmu sebagai tunangan seseorang, berharap mendapat kesempatan kedua pada wanita lain. Jangan mengambil pikiran pendekmu. Aku, bukan jodohmu!"
Vie segera melangkah pergi. Dia tidak tahan berada di dekat pria yang seperti itu. Terlalu bodoh dia meladeni pria yang bukan miliknya.
Saat Vie melangkah menuju ke lift. Seseorang menahannya. Vie berharap, bukan Surza yang menghentikan dia.
"Vie, apa kau mencintai Surza?" tanya Putri Reila.
"Tidak, aku tidak mencintainya." sahut Vie dengan cepat. Dia senang karena yang menariknya adalah Putri Reila.
"Baguslah. Menjauhlah dari hidup kami. Aku tidak ingin, suamiku di ambil olehmu." ujar Putri sembari menatap ke arah Vie.
Vie mengangguk kepala. "Tenang saja, aku akan segera menjauh jika melihat kalian. Jadilah, keluarga yang bahagia."
Setelah itu, Vie benar-benar pergi. Dia melihat di dalam lift. Sebelum pintu tertutup, Surza mengejarnya dengan wajah yang takut kehilangan.
Mata Vie tertutup seketika. "Kenapa kau jatuh cinta kepadaku saat hubungan kita telah berakhir. Maaf Surza, aku tidak memiliki tempat untuk mencintaimu. Karena hatiku,"
"Di penuhi dengan cinta, Fiqer." benak Vie.
●●●
Setelah pertemuan itu, Vie memutuskan untuk satu hari tidak keluar rumah. Ini sudah memasuki hari ketiga setelah kepergiannya dari Vila Michael.
Vie memutuskan untuk segera bersiap. kemarin dia seharian berada di rumah untuk bersama keluarganya. Hari ini, Vie memutuskan untuk pergi ke wahana bermain.
Dia melangkah menuju ke kamar mandi dan menyikat giginya. Saat sikat gigi itu memasuki mulut, Vie mencium aroma yang membuatnya mual.
"Huek!"
"Ada apa deng-,Huek!" Vie kembali muntah meski tidak ada lagi yang dia keluarkan. Tubuhnya menjadi lemas seketika.
Setelah mandi, Vie memutuskan untuk menuju ke dapur agar bisa mengisi perutnya. Vie berpikir, Dia muntah tadi karena asam lambungnya naik. Jadi, di meja makan ini, Vie akan mengenyangkan perutnya.
Aroma masakkan tercium di hidung Vie. Dia segera menarik kursi dan menatap kerang yang di masak Ibunya.
Dengan cepat tangan Vie mengambil nasi dan mengambil lauk itu. Di makan olehnya dengan lahap tanpa memperdulikan pelayan yang melihatnya.
"Vie?!" kaget Ibu Vie, Rusmi Maherqi.
"Kenapa bu?" tanya Vie sembari melanjutkan makannya. Dia benar-benar menikmati kerang ini.
"Hei, kau bukannya membenci kerang sayang? Tumben kau ingin memakannya. Sudahlah, itu bagus jadi Ibu tidak perlu memasakkanmu kepiting." celetuk sang Ibu.
Vie berhenti mengunyah, dia menahan sang Ibu yang ingin pergi. "Ibu, aku juga ingin kepiting!" ucap Vie dengan mata berbinar.
Sang Ibu tersenyum dan mengusap kepala putrinya. "Baiklah, Ibu akan membuatkan kepiting yang enak untukmu."
Setelahnya, sang Ibu segera pergi meninggalkan meja makan. Vie yang di tinggalkan terdiam di tempat.
Di dalam pikirannya mulai merasakan kejangalan. Bagaimana mungkin dia mau memakan kerang ini, padahal Vie ingat saat sudah meranjak remaja. Kerang sangat anti untuknya.
Sekarang, kerang ini menjadi kesukaannya kembali. Dengan cepat kepala Vie menggeleng. "Mungkin karena dari kecil aku menyukai kerang. Pasti, rasa suka itu kembali lagi sekarang." gumam Vie.
Makan yang tertunda itu di lanjutkan kembali. Sambil menunggu kepitingnya tiba, Vie menghabiskan kerang yang di hidangkan pada meja. Dia juga bertanya kepada pelayan, apakah kerang itu masih ada di dapur. Dan pelayan menjawab kalau di dapur masih ada banyak.
Vie puas memakan semangkuk besar Kerang seorang diri. Tanpa berbagi dengan siapa pun.
"Wow, sepertinya kau kembali seperti dulu Vie. Kau sangat menyukai kerang sebelum usiamu 17 tahun." ucap sang Ibu yang datang membawa kepiting di nampan.
Vie benar-benar senang melihat kepiting itu. Dia segera menyantapnya ketika sang Ibu menghidangkan di atas meja.
"Pelan-pelan, kepiting ini khusus untukmu kok. Makan yang banyak." ucap Ibu Rusmi.
Delapan kepiting itu benar-benar habis di makan oleh Vie. Hanya sisa tulang-belulangnya saja lagi. Semua keluarga yang melihat Vie, tersenyum bahagia.
"Nah begitu dong cucuku. Setelah ini, kamu pasti akan tambah gemuk." ucap Sang Kakek dengan mengusap kepala Vie.
__ADS_1
Vie tersenyum dan mengangguk puas. Dia tidak menyangka akan makan sebanyak ini.
"Sekarang, kau mau ke mana?" tanya sang Ayah.
Langkah kaki Vie berhenti saat dia ingin keluar dari meja makan. "Hm, Vie ingin ke wahana bermain Ayah. Di pelabuhan, ada wahana pagi hari. Vie ingin ke sana dan menikmati wahana itu." jawabnya.
Sang Ayah mengangguk mendengar apa yang Vie katakan. "Kalau begitu, hati-hati di jalan."
Langkah kaki terhenti itu segera berlanjut. Vie meninggalkan ruang makan menuju ke parkiran motor. Hari ini, dia akan membawa motornya keluar.
Tidak perlu motor mewah, cukup motor matic yang dia kenakan.
"Helm, aman. Dompet, aman. Ponsel huh, nanti beli ponsel baru ah." gumam Vie sembari memanasi mesin motornya.
Sudah lama dia tidak membawa motor. Dari pada mobil yang mudah tersangkut macet. Lebih baik, Vie membawa motor agar tiba dengan cepat.
"Oke, saatnya jalan-jalan." ucap Vie dengan menjalankan motornya.
Selama perjalanan, Vie menikmati suasana yang benar-benar memukau. Dia melihat pagi hari anak-anak sekolah begitu semangat untuk menyambut pelajaran. Meski Vie tahu, ada beberapa anak berandal yang siap menerima hukuman di sekolah.
Melihat tepat tujuan keduanya di depan mata. Vie memutuskan untuk parkir di sana dan membuka helmnya.
Toko ponsel yang menampilkan berbagai jenis ponsel di sana. Vie melangkah masuk ke dalam dengan di sambut oleh karyawannya.
"Selamat datang kak, silahkan." ucap Karyawan tersebut.
Vie mengangguk dan segera melihat-lihat ponsel apa yang cocok untuknya. "Aku ingin mencari ponsel yang anti banting."ucap Vie.
Karyawan yang ada di sana segera menunjukkan ponsel yang menurut mereka tahan banting. Alasan Vie mencari ponsel tersebut, hanya untuk menarik perhatian karyawan. Dia bisa menentukan barang mana yang pas untuknya.
Setelah membeli ponsel bersama nomor baru. Vie memutuskan untuk menuju ke tempat awalnya. Pergi ke wahana bermain.
Tidak lama membawa motor, Vie berhenti di tempat parkir. Dia melihat banyak pengunjung di sana.
"Wahana yang benar-benar di minati." benak Vie.
Langkah kakinya menuju ke sebuah permainan yang benar-benar menarik. Vie segera mendekat dan menarik kursi di sana.
"Em, neng mau melukis ya?" tanya penjaga, stan melukis.
Vie tersenyum dan mengangguk. Moodnya hari ini sangat baik, hingga hal kekanakkan dilakukan olehnya.
Pak penjaga segera menyerahkan pewarna untuk mewarnai. Lalu, pergi meninggalkan Vie yang tampak serius mengambar.
"Aku tidak tahu, kalau Nona Maherqi suka hal seperti ini." celetuk seseorang.
Vie segera mengangkat pandangannya. Dia melihat seorang wanita yang dulu meminta bantuan untuk naik ke atas tanpa perlu berusaha. Dia adalah Fifi Yenlow.
"Dunia itu luas, itu lah yang ada di pelajaranku. Tapi, keluasannya hanya di gambar. Nyatanya, aku malah bertemu seorang yang begitu membanggakan dirinya. Benarkan, Nona Fifi?" cibir Vie.
Wanita bernama Fifi itu melipat tangan di dada. Dia menatap ke arah lain untuk menghilangkan wajah malunya.
"Jangan memperhatikanku setiap saat. Sepertinya aku belum pernah bilang kepadamu. Mengenal orang lain jangan hanya tahu sikap luarnya. Cari juga sikap dalamnya. Kadang, yang baik bisa jahat dan yang jahat bisa baik."
Vie berucap sembari melanjutkan lukisannya. Fifi yang mendengar hal itu segera menarik kursi dan duduk di samping Vie.
"Mau melukis juga?" tanya Pak Penjaga.
Fifi mengangguk dan mengambil pewarna miliknya. Keduanya melukis dengan keseriusan masing-masing.
"Apa kau tidak berhasil juga di kesempatan kedua?" tanya Fifi.
Vie melukis warna merah di sisi kanvas. "Takdirku buruk. Seorang pelakor langsung mengeserku di pagi harinya. Jadi, apa yang perlu ku pikirkan." sahutnya.
"Kalau begitu, kau sekarang bukan lagi kekasih Tuan Fiqer?"
"Bukan, hubunganku berakhir setelah dia berbohong kepadaku." jawab Vie.
Pembahasan mereka terhenti seketika. Tidak ada topik lebih lanjut yang akhirnya membuat Vie bertanya. "Apa kau tahu, kenapa seseorang tiba-tiba berubah?"
"Berubah?"
Vie mengangguk, "hm ... seperti, makanan yang tidak kau sukai lagi, kini kau menyukainya. Lalu, kau mual mencium aroma pasta gigi. Aneh kan?"
"Apa kau bertanya tentang masalah orang lain? Jika dia sudah menikah, maka kemungkinan besar dia hamil. Orang hamil bisa menyukai hal yang tidak di sukainya. Lalu, memuntahkan apa yang menurutnya tidak enak." jawab Fifi tanpa menoleh ke arah Vie.
Tegang dan panik yang saat ini tampil di wajah Vie. Dia mengedipkan mata setelah mendengar apa yang Fifi katakan kepadanya.
"Apa aku, hamil?" benak Vie.
__ADS_1