
"Total semuanya, delapan puluh ribu." ucap Vie kepada pelanggan yang datang. Ini adalah pelanggan terakhir untuknya.
Helaan napas Vie lakukan saat pelanggan itu telah pergi. Dia segera menarik kursi dan duduk dengan nyaman.
"Lelahnya, Bolmis jangan takut ya. Ibu akan segera menyelesaikan pekerjaan ini dan kita akan pulang." benak Vie.
Di dalam toko ini, dia tetap menahan diri agar tidak mengusap perutnya. Lalu, dia juga sebisa mungkin menghindari hal-hal yang berat.
Untungnya, tidak ada satu pun yang curiga dengan apa yang Vie buat. Lagi pula, Dia memberi alasan kenapa tidak bisa melakukan hal itu.
"Aku lelah, kaki kesemutan karena terlalu lama berdiri. Sepertinya, aku benar-benar rapuh." katanya saat memberikan alasan.
Semua hanya menggeleng dan menganggap itu candaan sebagai bentuk dia malas. Nyatanya, Vie memang merasa keram dan kesemutan. Kadang, dia harus membeli alas kaki yang berisikan kerikil untuk menghilangkan kaki bengkaknya.
"Kaki bengkak ini sedikit berbahaya. Jadi, usahakan untuk tidak terlalu banyak bergerak. Kalau bisa, jalan pagi tanpa alas kaki untuk menghilangkan bengkaknya." saran Dokter saat itu.
Vie segera membangunkan diri saat ada karyawan yang berganti tugas dengannya. Dia segera melangkah menuju rak-rak yang ada untuk melihat, barang apa yang kosong.
Setelah puas melihat sekeliling, Vie mengingat apa-apa saja yang perlu di tata.
"Minuman soda, wafer dan tepung." gumam Vie. Dia melangkah menuju ke gudang untuk mengambil semua itu.
Setibanya di sana, Vie melihat stock barang yang masih banyak. Di tambah, letak barang yang dia cari berada jauh dari jangkauannya.
"Di mana kursi ya?" Vie melirik ke arah lain untuk mencari kursi. Namun, tidak ada satu pun kursi di sana. Dia hanya menemukan tangga yang memang di sediakan untuk gudang.
"Aku harus naik tangga?" benak Vie. Tangga itu segera di ambil olehnya. Dengan bersusah payah dan kehati-hatian. Vie akhirnya bisa mengambil minuman soda dari stocknya.
"Oke, sisa Wafer dan tepung."
Langkah kaki Vie menuju ke arah makanan ringan. Dia melihat segala wafer yang ada di bagiannya. "Wafer yang ditata, sepertinya telah habis. Aku akan mencatatnya dulu."
Vie menuju ke arah pintu gudang. Di sana terdapat sebuah kertas yang memang khusus untuk mengisi barang-barang kosong. Dan bagian yang ada di gudang akan segera memesan barang tersebut.
Setelah mencatat semuanya, Vie melangkah kembali menuju ke bagian tepung. Dia melihat bahwa ada tepung yang akan dia tata.
"Aku harus mengambilnya."
Vie membungkukkan tubuhnya agar bisa menjangkau kardus berisi tepung. Dia mengangkat tepung dengan berat yang benar-benar membuatnya tersentak. Dia merasa rasa nyeri di perutnya.
Sebisa mungkin Vie menahan rasa sakit dengan menguatkan dirinya. "Bolmis, ayo sayang bantu ibu. Ringkankan tubuh ibu ya," benak Vie.
Di saat dia berbenak sembari berharap. Kardus berisi tepung itu terangkat dengan baik. Namun, bayangan gelap dan terang muncul di depan matanya.
Tubuh Vie menjadi tidak seimbang hingga dia tersandung kebelakang. Untungnya, ada karyawan yang langsung menahan dia.
"Kakak tidak apa-apa?" tanyanya.
Vie segera membenarkan diri dan menatap wanita yang menyelamatkannya. "Hm, aku baik-baik saja." ucap Vie.
Wanita yang bertugas mendata barang di gudang hanya bisa menatap ke arahnya. Vie tersenyum dan memilih untuk melangkah pergi meninggalkan gudang.
"Hm, bisa nanti beri tahu pada karyawan pria untuk mengantar kardus itu." ucap Vie. Dia mendapati anggukkan dari wanita itu.
Tidak ingin berlama-lama, Vie memutuskan untuk kembali menuju rak-rak toko sembari membawa minuman soda.
Dia merasa perutnya sangat sakit bersama dengan kakinya terasa nyeri. Sebisa mungkin Vie menenangkan dirinya dan melangkah menuju ke rak bagian minuman.
Tiba di sana, Vie melihat Ibu Pusta yang menatap padanya. "Vie, wajahmu pucat. Apa kau sakit?"
Tangan pemilik toko itu segera memeriksa suhu tubuhnya. Vie dengan tersenyum menangkap tangan itu. "Vie baik-baik saja. Cuma, terlalu berlebihan dalam bergerak."
Pusta menggeleng, dia segera menepuk pundak Vie. "Lebih baik kau beristirahat. Aku akan memberimu izin untuk itu. Tidak akan ada alpa dalam pekerjaanmu ini."
Vie ikut menggeleng. "Vie baru menjalani empat bulan di sini. Kalau izin, Vie malah merasa tidak enak."
Tepukkan di bahu sekali lagi diberikan oleh Pusta. Vie di tuntun untuk menuju ke ruang istirahat. Di sana sudah ada Aci yang menikmati waktu luangnya.
"Ibu!" kaget Aci.
Pusta, pemilik Toko Toserba ini selalu di panggil Ibu. Karena dirinya seorang Janda yang di tinggal suami. Status cerai mati dia dapatkan, suaminya meninggal saat usia pernikahan mereka memasuki ke enam bulan. Sekarang, Pusta sudah menjanda selama 2 tahun.
"Aci, bisa kau hubungi orang terdekatnya. Vie tampak tidak sehat hari ini. Aku takut dia pulang kenapa-napa." ucap Pusta.
Vie segera menahan tangan wanita yang ingin menuntunnya duduk. Dia mengangkat kepala dan tersenyum.
"Vie sangat berterima kasih dengan Ibu Pusta yang sudah memberikan izin. Vie akan izin hari ini ya, dan Vie bisa pulang sendiri. Kost Vie tidak jauh dari sini kok." ucap Vie berusaha untuk meyakinkan semuanya.
Tampak kalau dirinya akan di tolak karena bagaimanapun, Semua melihat wajah pucat Vie. Namun, mereka kembali berpikir positif hingga menyetujui apa yang Vie katakan.
__ADS_1
"Baiklah, istirahatlah dengan tenang. Jangan lupa minum obat dan sering minum air putih." pesan Pusta.
Vie mengangguk dan segera mengambil barangnya. Dia akan pulang untuk beristirahat dan memeriksa kandungannya.
Rasa sakit di perut Vie belum menghilang. Dia takut Bolmis nya kenapa-napa. "Sayang, tolong bertahan ya ... demi ibumu ini." benak Vie.
"Hm, Terima kasib Ibu Pusta dan Aci. Vie izin pamit ya," ucapnya yang kemudian melangkah pergi.
Vie menuju ke ruang belakang dan meninggalkan Toko Toserba.
Langkah kaki Vie benar-benar lambat. Dia merasa begitu berat untuk melangkah karena semua yang ada di penglihatannya begitu buram. Vie bahkan menabrak orang yang lewat, karena tidak bisa memfokuskan pandangannya.
"Hei, lihat jalan dong!"
Begitukah teriak orang saat Vie tidak sengaja menabrak mereka. Setiba di gang yang bisa Vie lewati. Pandangannya semakin mengelap hingga dia merasa seperti berada di jembatan. Jika salah melangkah dia akan tenggelam.
Saat langkah kaki yang kokoh dia ambil, Vie tiba-tiba limbuh ke depan dengan pandangan hitam. Dia merasa tubuhnya di tolong seseorang dengan suara yang menanyakan keberadaannya.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Pertanyaan itu, menghadirkan aroma yang membuat Vie membencinya. Dia mencium baru rokok yang menyengat. Namun, tidak ada yang bisa Vie tolak. Pandangannya mengelap dan tubuhnya pun tidak lagi bisa di gerakkan.
Vie hanya bisa membiarkan orang lain menolongnya. "Bolmis, ibu harap kau tidak kenapa-napa." benak Vie.
...●●●...
Asap rokok terapung-apung di depan wajah seorang pria. Dia memiliki alis tebal dengan sorotan mata yang tajam.
Lirikkan matanya menarik perhatian wanita yang lewat, sayang tidak ada yang bisa memikat hatinya.
Rokok yang telah habis di hisap, kini di buang dan di injak dengan santai. Mata pria itu melirik ke arah gang tempat ke arah pulangnya.
Dia melihat seorang wanita yang tampak kelelahan sembari memegang perut. Dia mendengus karena rasa ingin menolong muncul di benaknya.
Xexin, pria yang melihat seorang wanita masuk gang segera menyusul untuk membantu. Dia melangkahkan kaki panjangnya dengan santai.
Saat tiba di gang, dia melihat wanita yang memegang perutnya itu, hampir jatuh ke depan jika dia tidak menolong dengan cepat.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah panik.
Tidak ada jawaban, membuat kepanikkannya semakin menjadi. Namun, pikirannya segera memberi solusi. Dia mengendong wanita yang dia sendiri tidak mengetahui siapa. Langkah kakinya dengan cepat mencari bantuan untuk bisa ke puskesmas terdekat.
Setelah tiba di pukesmas, Xexin segera menurunkan wanita yang dia gendong di barsal untuk di periksa.
Sembari menunggu di luar, Xexin telah memghubungi Caca dan Jefli. Kedua orang itu harus tahu keadaan wanita yang dia selamatkan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, wanita ini selalui ku temui di rumah sakit dekat kota T. Apa yang dia lakukan sebenarnya?" gumam Xexin.
Sibuk berpikir sendiri, Xexin dikejutkan dengan kedatangan Jefli dan Caca.
"Apa yang terjadi, katakan kepada kami?"
"Kak Vie, huaaaa ... apa yang ter- hik! Terjadi padanya?"
Xexin terdiam melihat kepanikkan dua orang yang ada di depannya ini. Dia ingin menjelaskan semua tapi Bidan yang memeriksa Vie, keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan Vie?" tanya Jefli dengan cepat.
Ibu Bidan melepaskan alat pemeriksaannya. Dia menghela napas dan menatap seluruh wajah orang yang ada di depannya.
"Siapa diantara kalian yang merupakan Suaminya?" tanya sang Ibu Bidan.
Wajah bingung seketika tampak ketiga orang yang saling memandang. Mereka tidak memberi jawaban hingga Ibu Bidan kembali berucap.
"Baiklah, jika tidak ada suaminya, kalian sebagai keluarganya pun tidak apa-apa. Mari, keruangan ku." ajaknya.
Ketiganya mengikuti apa yang di ucapkan oleh Bidan. Mereka sebenarnya tidak bisa mengerti dengan semua yang terjadi.
Setibanya di ruangan Bidan. Ketiganya duduk berdampingan, menghadap ke arah Bidan yang menatap serius pada mereka.
"Aku tidak tahu apa yang dia alami saat kecil. Namun, pengaruh pada pertumbuhannya sangat besar hingga hal kecil sekalipun rentan untuk bayinya."
"Bayi?" gumam ketiganya.
Ibu Bidan mengangguk. "Benar, Wanita yang ada di ruang istirahat itu telah mengandung seorang anak. Kandungannya saat ini menjalani usia empat bulan."
Semua bungkam mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Bidan. Perasaan tidak percaya muncul seketika di benak mereka.
"Meski pola makannya teratur, dia tidak bisa melahirkan anak itu." ucap Ibu Bidan kembali.
__ADS_1
Jefli yang ada di samping Xexin segera membuka suara. "Mohon maaf, sebenarnya Ibu Bidan yang Anda maksud ini siapa ya?" tanyanya.
Mendengar itu, Ibu Bidan dengan santai menjawab. "Aku membicarakan wanita yang pria ini bawa. Bukankah, kau orang yang membawanya kemari."
Merasa dia menjadi sorotan utama. Xexin hanya mengangguk. Dia memang tidak salah melihat, kalau wanita yang dia tolong adalah Vie.
"Jadi Dokter, apa yang bisa Anda sarankan kepada kami?" tanya Jefli.
Ibu Bidan segera menarik napasnya, di hembuskan dengan pelan sembari menatap sedu ke arah mereka bertiga.
"Pertama, aku ingin mengucalkan minta maaf karena perkataanku ini sedikit kasar. Kedua, ada dua hal yang harus kalian pikirkan. Semua, demi kebaikkan Nona Vie ini."
Semua meneguk Saliva mereka bersama-sama. Jantung ketiganya pun berdegup kencang, seakan menunggu jawaban dari sebuah hasil ujian.
"Jadi, hal pertama yang ingin ku katakan adalah, Nona Vie harus mengugurkan kandungannya. Jika dia tidak melakukan itu, maka dia akan buta."
"Kedua, jika tetap mempertahankan kehamilannya. Resiko besar yang dia ambil adalah kematian."
"Sebenarnya, tubuhnya kuat untuk menjaga bayi ini. Namun, entah kenapa, tubuhnya seperti lemah di dalam hingga Bayi di kandungannya bisa menguasai sang Ibu." jelas Ibu Bidan.
Semua benar-benar diam mendengar hal tersebut. Mereka saling memikirkan, bagaimana Vie bisa menyembunyikan semua ini dari mereka.
"Oh ya, jangan membuat sang ibu stress. Dia lebih baik rileks dalam keadaan apa pun." ucapnya.
"Baiklah, itu saja yang bisa ku katakan. Tolong, beri kesepakatan yang baik sebelum mengambil keputusan. Tampaknya, bayi itu adalah anak pertama yang dia nantikan."
"Kita tidak tahu takdir, kadang ada yang baik dan ada yang buruk."imbuh Ibu Bidan.
Setelah pembicaraan itu, ketiganya keluar dengan jalan pikir masing-masing. Xexin pun tidak bisa mwnpercayai semua ini.
"Hamil, dia hamil saat tiba di kost itu? Apa dia sedang kabur?" gumamnya dengan jalan pikir yang benar-benar buntu.
Satu-satunya jawaban yang jelas adalah jawaban yang Vie berikan. Karena hanya Vie yang bisa menjelaskan semuanya.
...●●●...
Rasa tenang berada di sekitar, membuat Vie membuka mata. Pandangannya buram sesaat, dia bahkan berkedip-kedip untuk beradaptasi dengan semua ini. Hingga, matanya kembali jernih.
"Aku pingsan? Siapa yang menyelamatkanku?" gumam Vie.
Setelah berucap seperti itu, suara pintu ruangan di buka dengan pelan oleh seseorang. Vie memiringkan kepalanya menyadari kalau yang datang adalah Caca.
"Hallo Caca!" sapanya.
Gadis itu segera tersenyum dan memeluk Vie dengan cepat. "Akhirnya Kakak bangun juga. Caca khawatir dengan keadaan kakak."
Senyum terukir di bibir Vie. Dia dengan cepat mengusap kepala anak gadis ini. "Aku baik-baik saja. Oh ya, apa kau tahu siapa yang menolongku?" tanya Vie.
Caca segera menjawab. "Kak Xexin yang menyelamatkan Kakak."
Vie mengangguk, dia memikirkan cara agar bisa berterma kasih kepada pria yang telah menolongnya.
"Sudah merasa mendingan?"
Vie menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dia terteguh mendapati Jefli dan Xexin datang ke ruangannya.
"Hm, terima kasih ... kalian telah menolongku hingga ke sini." ucap Vie.
Jefli, pria itu segera tersenyum sembari menggeleng. "Tidak perlu berterima kasih, kami memang sudah seharusnya saling menolong. Lagi pula, menolong orang lain merupakan hal yang baik loh."
Anggukkan Vie berikan. Dia melihat tiga orang du depannya ini tampak sudah mengetahui semua yang terjadi. Dengan tersenyum kecut, Vie menghela napas panjang.
"Oke, kalian pasti sudah mengetahui semua tentangku. Silahkan bertanya, di saat aku ingin menjawabnya. Sebelum, Aku berbohong lagi kepada kalian." ucap Vie.
Caca, gadis muda yang ada di antara dua pria itu segera mendekat dan menatap dirinya. "Kakak, apa kakak benar-benar hamil? Ah maksudku, apa kakak kabur karena kakak hamil?" tanya Caca.
Vie tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menuntun tangan Caca berada di perutnya. Gadis itu terteguh dan berusaha tenang saat memegang Bolmis. "Aku tidak kabur, hanya sedang melarikan diri." sahut Vie.
"Apa keluargamu tahu kalau kau sedang hamil? Jika memang ada masalah keluarga, bisa di bicarakan dengan baik bersama mereka." ucap Jefli dengan nada tenang.
Senyum masih terukir di bibir Vie. "Tidak ada masalah keluarga. Aku hamil karena hubungan bebasku dan aku ingin membesarkan anak ini tanpa sepengetahuan keluargaku." jelas Vie.
"Kau wanita gila? Jika bertindak seperti ini, kau akan menghabisi dirimu sendiri. Setidaknya, keluargamu tahu keberadaanmu." gerutuk Xexin dengan tatapan tajamnya.
Vie mengangguk-angguk kepala mendengar penuturan kata Xexin. "Aku, sebenarnya tidak memperdulikan apa yang terjadi kepadaku. Apa aku hidup dengan baik atau tidak."
"Keluargaku akan menjagaku, tapi ... ada yang akan berbeda dengan perhatian mereka. Sebelum itu terjadi, aku akan mendidik anakku untuk kuat mental melebihi mentalku."
"Lalu, kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan merepotkan orang lain. Seperti sebelumnya, aku akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Oh ya, anak ini bukan yang ku benci. Aku mencintainya dan menyayanginya melebihi hidupku. Bahkan jika nyawaku taruhan untuk bisa melahirkan anak ini. Aku akan melakukannya." jelas Vie.
Semua bungkam tidak ada yang bisa lagi mereka katakan. Vie mengusap-usap perutnya dan menatap ke arah tiga orang ini. "Katakan saja, Ibu Bidan pasti mengatakan sesuatu tentang kandungan ini kan?" tanya Vie.