
Kesunyian terjadi, Vie sudah menduga kalau ada sesuatu yang Dokter rahasiakan darinya.
"Aku katakan sekali lagi, bicaralah tidak ada yang perlu di sembunyikan." ucap Vie.
Tiga orang di depannya menjadi bingung untuk menyahut. Hingga akhirnya, Jefli yang tiba-tiba memegang tangan Vie.
"Jika kau ingin, aku akan bertanggung jawab dengan semua ini Vie." ucap Jefli.
Vie segera menarik tangannya dari genggaman Jefli. Dia tidak ingin orang lain mengenggam tangannya. "Tidak perlu bertanggung jawab. Dia bukan anakmu dan aku tidak mencintaimu." ucap Vie.
Penjelasannya membuat Jefli terdiam. Pria itu sedang merasakan rasa sakit di hatinya.
Vie pun tidak bisa lagi membiarkan mereka berharap. Dia tidak jatuh cinta, yang dia cintai hanya satu orang. Dan pria itu mungkin telah hidup bahagia tanpa dirinya.
"Kakak, Bidan bilang kalau kakak-,"
"Hentikan Caca!" potong Jefli menatap wajah sang adik.
Vie yang melihat hal tersebut segera menarik tangan Caca. Untung Caca duduk di samping, jadi dia tidak perlu repot-repot bangun.
Setelah Caca tiba di samping kirinya dengan menjauhi dua pria yang lain. Vie segera menatap ke arah gadis tersebut. "Oke, katakan kepadaku apa yang Bidan bilang ke kalian."
Caca dengan wajah sedih sembari menunduk berucap. "Kakak, kakak tidak bisa mempertahankan bayi ini. Jika kakak mempertahankannya, kakak akan buta sebelum kelahiran. Lalu, melahirkan pun beresiko kematian. Kakak, hiks!" air mata Caca seketika mengalir di pipi.
Vie mengusap pipi tersebut, dia akhirnya mengerti. Dokter tidak ingin menganggu perasaannya yang bisa saja membuat sang Bayi tidak tenang. Inilah alasan kenapa Dokter juga mencari Ayahnya, karena tahu kalau Vie sedang mengandung anak pertamanya.
"Terima kasih Caca, kau sudah mengatakan semuanya." ucap Vie dengan tersenyum.
"Vie, jika boleh ... aku menyarankan kepadamu untuk mengugurkannya selagi bisa." celetuk Jefli dengan wajah khawatir.
Vie mengusap perutnya dengan begitu lembut. "Aku tidak akan mengugurkannya. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja. Lagi pula, anak ini hasil dari cinta ku dan orang yang ku cintai. Aku tidak akan mengugurkannya."
"Kau memang sudah gila! Pria yang kau cintai saja tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padamu. Sedangkan di sini, kau berlagak seakan kalian saling mencintai?" pekik Xexin yang sedari tadi diam.
Pria itu tampak kesal dengan apa yang Vie katakan. Di tambah, tangannya mengepal erat karena menahan amarah.
Vie tersenyum mendengar ucapannya. Meski di hati membenarkan semua ucapan itu, Vie tetap menyangkalnya.
"Kau benar, aku berlagak seakan kami saling mencintai. Tapi memang itu kenyataannya. Kami saling mencintai, hanya ada kendala yang memisahkan kami." sahut Vie.
"Tidak ada orang yang rela melepaskan wanita yang dia cintai. Jika hanya karena sebuah Marga, bukankah lebih baik dari awal tidak saling cinta."
"Kau tampaknya terlalu bodoh Nona Vie. Lelaki yang kau cintai lebih memilih martabatnya dari pada hubungan kalian. Apa yang orang tuanya katakan, itu yang dia turuti."
"Seperti dirimu hanya di jadikan sebagai hibura n dalam kebosanan mereka. Aku tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan." jelas Xexin.
Air mata Vie mengalir tiba-tiba setelah mendengar semua itu. Ucapan Xexin benar-benar nyata, dia di tinggalkan kedua kekasihnya hanya karena sebuah Marga dan keputusan orang tua.
Melihat dirinya yang menangis, Jefli dan Xexin segera mendengar dan mereka saling memberikan tepukkan semangat untuknya.
"Berhentilah menangis, kau bilang ingin mempertahankan Bayinya, kau harus selalu bahagia." ucap Jefli.
Isakkan Vie terhenti, tapi tidak dengan Caca yang semakin menjadi, membuat Jefli segera menenangkan adiknya.
Vie menghela napas dan menyambut sebuah tisu pemberian dari Xexin. "Terima kasih."
"Sama-sama," sahut Xexin.
Setelah mereka membahas hal penting bagi Vie. Semua memutuskan untuk kembali pulang. Untungnya juga, Vie di izinkan kembali.
Mereka kembali dengan sebuah mobil yang di sewa oleh Jefli. Yang menjadi supir untuk mobil ini adalah Xexin. Vie dan Caca duduk bersampingan.
"Tidurlah Vie, perjalanan kita sedikit memakan waktu." ucap Jefli.
Vie menggeleng, dia tidak menjawab apa pun. Saat ini, dia hanya memperhatikan indahnya desa dengan pemandangan hijau.
Hati Vie sedang memikirkan nasibnya. Bagaimana dia harus mengatur diri kembali. Kehamilannya telah diketahui, cepat atau lambat warga desa juga ikut tahu.
"Aku harus melatih mentalku lagi? Huh, melelahkannya." benak Vie.
Dia yakin, pasti ada gunjingan untuknya dan mungkin saja, orang-orang akan mengusirnya.
Mobil berhenti saat tiba di depan kediaman Caca. Vie membuka pintu mobil dan terkejut melihat uluran tangan seseorang.
__ADS_1
Mata Vie melihat Xexin yang mengulurkan tangan dengan begitu baik. Dia menepis pikiran buruknya dari Xexin. Dia pikir, Xexin pria jahat yang mungkin akan menyakitinya.
Uluran tangan itu di sambut baik, Vie juga merasa kalau Xexin tidak mengenggam tangannya. Rasa jijik yang Vie rasakan perlahan hilang dengan pria ini.
Namun, Saat Jefli yang mengenggam tangan Vie untuk menuntunnya. Vie segera menarik tangan tersebut. "Maaf, aku bukan bermaksud untuk-,"
"Tidak apa-apa." ucap Jefli dengan tersenyum.
Vie tahu kalau lelaki ini sudah mengalami rasa sakit di hati. Apa lagi, penolakkannya di pukesmas.
"Paman, Apa Kakak Vie harus menaiki tangga?" tanya Caca yang membawa tas Vie.
Hari yang telah gelap ini, membuat pandangan sedikit buram. Vie berjalan dengan menatap sekelilingnya.
Saat akan menghadap ke depan, Vie di kejutkan dengan Raki dan Zaksa yang muncul di depannya. "Astaga!"
"Hai Kak Vie!" sapa Keduanya.
Bau alkohol tercium di hidung Vie. Dengan cepat dia menoleh hingga melihat Xexin yang segera mendekapnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk melakukan ini. Namum, tolong izinkan aku melakukannya." ucap Xexin yang segera menuntun Vie ke arah lain.
Bahu Vie di genggam oleh Xexin, dia bingung dengan situasi sekarang. Kenapa dia menatap ke arah halaman.
Tidak lama, Vie mendengar suara seseorang di tarik. Dia bahkan mendengar penolakkan mereka.
"Hei Xexin, apa yang kau lakukan!"
"Why Bro, apa ada masalah hm?"
Vie ingin berbalik badan, dia melihat punggung Jefli menghalanginya. "Mas?"
"Sebentar Vie, aku sedang memikirkan kamar mana yang cocok untukmu." sahut Jefli.
Vie ingin menolehkan kepalanya, dia penasaran apa yang dua pria ini lakukan untuknya.
Saat ingin memiringkan kepala, Vie mendapati tepukkan di pundaknya. Dia segera berbalik badan untuk melihat siapa yang menepuknya.
"Kak Vie, karena kakak belum makan malam. Ayo kita makan di dapur!" ajak Caca tanpa mendengar persetujuannya.
Tiba di dapur, Vie menatap hidangan yang Caca sudah siapkan. Dia melihat ayam bakar dengan sambal yang membuatnya tergoda.
"Ayo makan kak, Caca sudah menyiapkan semua ini untuk kakak." ucap Caca.
Vie mengangguk dan segera mengambil hidangan yang dia sukai. Apa lagi, ada semur jengkol di sana. "Terima kasih, Caca."
...●●●...
Berkembangnya janin di perut Vie, maka semakin banyak hal yang terjadi padanya.
Setelah kejadiaan saat itu, Vie mendapatkan kamar di kantai bawah. Dia bahkan dilindungi oleh Xexin dan Caca. Sedangkan Jefli selalu sibuk karena urusan yang akan mengembangkan proyek indekos mereka.
Vie juga dilarang berkerja oleh Jefli, sehingga dia hanya berkerja sebagai pencuci pakaian di kediaman Caca.
"Kakak seharusnya tidak berkerja." ucap Caca sembari membantu memindahkan pakaian.
Vie menggeleng mendengar hal itu, "tidak bisa ... aku harus bekerja, berapapun gajinya aku harus mendapatkan uang. Semua itu demi kebaikkanku juga Caca."
"Tapi, usia kandungan kakak sudah memasuki enam bulan, kakak harus banyak beristirahat." khawatir Caca.
Vie tersenyum mendengar hal itu. Benar, usai kandungannya sudah memasuki 6 bulan. Lalu, Bolmisnya tampak sehat setiap pemeriksaan.
"Terima kasih Caca, kau, Pamanmu dan Xenxin. Kalian melindungiku hingga tidak ada yang tahu tentang diriku ini. Terima kasih banyak," ucap Vie.
Caca yang sibuk memindahkan pakaian segera berhenti. Dia menatap Vie dengan pandangan bingung.
"Kakak ini kenapa sih? Setiap saat kakak selalu mengucapkan kata terima kasih, Caca senang mendengarnya tapi sedikit muak juga kalau di ucapkan setiap hari."
"Seakan, kakak hanya tamu di sini. Asal kakak tahu, Kakak sudah di anggap sebagai Adik oleh Paman Caca, dan Caca juga menganggap Kakak sebagai, kakak kandung Caca." ucapnya sembari memeluk Vie.
Vie mengusap lembut kepala Caca, dia merasa sedang memanjakan Nala. Mengingat itu, membuat Vie teringat keluarga, dia membayangkan bagaimana Otavi, Tiasa dan Nala. Apa mereka sudah menikah?
Selain itu, Vie sesekali mengirim telepon kepada orang tuanya. Dan yang Vie lakukan tetap sama, berbohong dan menghilangkan jejak. Dia sengaja melakukan itu agar orang lain tidak melacak keberadaannya.
__ADS_1
Sang ibu juga sangat khawatir karena Vie sudah hampir 7 bulan tidak menampakkan diri. Alasan Vie hanya mengatakan kalau dia sedang menikmati liburan dengan banyak temannya. Suatu hari, dia akan kembali pulang.
Meski begitu, tidak ada satupun yang terwujud dari ucapannya. Vie harus melahirkan Bolmisnya, dan membesarkan anaknya. Meski dia harus buta sekalipun.
"Sudah, ayo kita menjemur pakaian ini." ucap Vie.
Dia mengangkat keranjang kecil berisi pakaian. Setelah itu, dia memutuskan untuk melangkah ke halaman belakang.
Laundri yang dia buat sangat menguntungkan. Vie tidak menduga, warga desa mau melaundri pakaian padanya. Meski, dia harus sedikit menahan gunjingan semua orang yang melihat dia.
Perut Vie sudah terlihat, apa lagi dia mengenakan pakaian santai yang sering di sebut baju daster. Vie menjemur pakaian hingga perut usia 6 bulan itu terlihat meski di tutupi dengan baju.
"Udah besar ya perutnya, hei Neng! Jangan bilang bapaknya adalah penghuni indekos ini." celetuk Ibu-ibu yang memperhatikan dirinya.
Vie tersenyum dengan manis, lalu berucap dengan suara yang lembut. "Ibu tenang saja, Ayah anakku ini tidak di sini. Dan yang terpenting itu, urus-urusan ibu sendiri. Mencari bahan rumpi tidak baik untuk usia kalian."
Para Ibu-ibu yang mendengar hal itu seketika bungkam. Mereka segera melengang pergi meninggalkan Vie.
Helaan napas yang penuh lelah Vie lakukan. Dia sebenarnya takut kalau ibu-ibu itu malah tidak ingin melaundri lagi padanya.
"Sudahlah, ada banyak takdir baik yang akan datang kepadaku." gumam Vie.
...●●●...
Seorang pria tengah duduk dengan tangan terkepal. Dia memejamkan matanya untuk mendengar penjelasan keluarga Maherqi.
"Kau baru ingin mencari Cucuku? Apa kau ini lelaki pengecut?" ucap Kakek Guvan.
"Kau kemari saat Cucuku telah pergi. Apa kau tahu, aku sungguh ingin memarahi kakekmu itu. Dia membuat program seperti apa. Saat aku tahu kalau cucuku telah dikeluarkan karena kehadiran orang lain. Aku sangat ingin memarahi kakekmu itu!" sambungnya dengan wajah penuh amarah.
Fiqer hanya terdiam mendengar semua itu. Dia mengakui, semua karena kesalahannya. Kenapa dia begitu mudah mengambil keputusan hingga Vie pergi meninggalkan dirinya.
"Sudahlah, yang berlalu biar berlalu. Sekarang, kau ingin menanyakan tentang keberadaan Vie. Mohon maaf Fiqer, Vie benar-benar menghilangkan jejaknya." ucap Ayah Musi.
Ibu Rusmi pun mengangguk menyetujui apa yang Suaminya katakan. "Benar, Vie tidak memberitahu jejaknya. Dia hanya memberi kabar lewat pesan atau menelpon dengan ponsel orang lain."
"Apa tidak ada yang melacak keberadaannya?" tanya Fiqer.
Semua mengangguk karena mereka sebenarnya mencari keberadaan Vie. Jika hanya di kota T, sudah pasti keluarga Maherqi dengan mudah menemukannya.
Namun, Vie benar-benar menutupi jejaknya hingga semua keluarga tidak bisa menemukan dia.
"Kami sudah melacaknya, tidak ada yang Vie berikan saat dia menelpon. Nomor yang dia gunakan pun selalu berakhir dengan di kota T. Dan saat pencarian, orang suruhan kami selalu mendapatkan hasil yang sia-sia."
"Fiqer, kau mengenal keluarga kami. Kakekmu dan Ayahku merupakan teman dekat. Tidak mungkin kami bisa salah melacak seseorang. Keluargaku dan keluargamu, kita sama-sama mampu melacak orang lain." ucap Ayah Musi.
Fiqer mengangguk. Mencari keberadaan Vie tampaknya benar-benar sulit. "Vie, apa kau kecewa denganku saat itu?" benaknya.
Setelah mencari keberadaan kekasihnya, Fiqer memutuskan untuk mencari dengan bantuan keluarganya.
Entah kenapa, selama kepergian Vie. Fiqer mengalami mimpi buruk, mimpi itu selalu muncul dengan perasaan rindu mendalam.
Fiqer menatap punggung seorang wanita yang ditutupi dengan selimut. Dia hanya mendapati wanita yang membelakanginya.
"Fiqer, apa kau mencintaiku?" tanya wanita itu.
Fiqer mendengar suaranya, dia tidak akan melupakan pemilik suara ini. "Tentu saja Vie, aku sangat mencintaimu."
Fiqer melangkah mendekat dan kemudian memelum tubuh kekasihnya dari belakang. Namun, ada sesuatu yang menghalanginya. Dia menatap kedepan, di mana perut Vie membuncit.
"Vie, apa kau hamil?" tanyanya.
Wanita itu segera melepaskan pelukkan Fiqer, lalu melangkah keluar jendela dengan selimut yang terlepas dari tubuhnya.
Mata Fiqer membelak ketika melihat Vie yang melompat dari pagar balkon. "VIE!"
setelah itu, dia bangun dari tempat tidur saat mengalami mimpi tersebut. Mengingat apa yang dia mimpikan, Fiqer menghela napas di dalam mobil.
"Aku tidak tahu apa maksud dari mimpi itu. Tapi, kenapa kau selalu datang dalam keadaan hamil?" gumam Fiqer.
Mobil hitam miliknya segera melesat keluar dari kediaman Maherqi. Dia menatap kearah jalanan dengan perasaan yang sulit di artikan.
Sejujurnya, Fiqer merasa kalau mimpinya itu sedang mengatakan sesuatu padanya. Namun, Fiqer belum menemukan apa arti mimpi tersebut.
__ADS_1
"Huh, Vie ... kau ada di mana?" gumam Fiqer. Hatinya begitu merindukan wanita yang dia cintai.