
Di ruang tamu, lagi-lagi perkumpulan para wanita terjadi. Namun kali ini, semua berkumpul bukan karena perkelahian. Tapi, karena sebuah usulan seseorang.
"Maaf membuat kalian berkumpul di sini." ucap Fifi Yenlow dengan wajah penuh keramahan.
Vie menatap wanita itu dengan pandangan lelah. Sejujurnya, dia masih ingin tidur dengan nyenyak. Apa lagi, semalaman dia di dekap oleh Fiqer.
"Badanku sakit karena tidur tanpa merubah posisi. Huh, seharusnya aku bertanya bagaimana dia bisa masuk ke kamarku tadi malam." benak Vie.
"Sejujurnya, lebih baik kita menghilangkan kebiasaan yang saling menindas ini. Apa lagi, tidakkah kalian harus berterima kasih kepada Vie. Dia telah membagi poinnya untuk kalian di sini."
Vie mengerutkan alisnya. "Tunggu dulu, bagaimana kau tahu kalau aku yang membagi poinku. Sejujurnya, kenapa kalian selalu menjadikan ku sebagai panutan kalian?" tanya Vie.
Wanita bernama Fifi itu pun menjelaskan, "Karena hanya Anda lah yang mampu mengubah semua di sini. Saat pertama kali kita tiba, Anda sudah mengajak seluruh Penerus Michael bermain bersama. Bahkan, tampaknya Tuan Fiqer sering menemui Anda belakangan ini."
"Kau membuntutiku, Fifi?" Vie menatap bingung dengan Wanita yang berdiri seperti ketua kelas. Dia merasa aneh mendengar perkataan Fifi.
"Lebih tepatnya kebetulan. Saat Kau mengunjungi Faga, aku tidak sengaja melewati kantornya. Jadi, aku bisa mendengar kau memohon untuk poinmu agar bisa di bagikan. Berita ini tidak boleh di rahasiakan," jawab Fifi.
"Lalu, untuk Tuan Fiqer. Kau selalu dekat dengannya." sambung Fifi.
Vie mengangguk kepala mendengar jawaban itu. "Sepertinya, Kau orang yang tidak boleh di pandang remeh." benaknya.
"Oke, sekarang akan ku katakan apa tujuan aku mengumpulkan kalian di sini,"
Fifi mengeluarkan lima lembar kertas dan sebuah gelas di atas meja.
"Karena tersisa 15 orang saja dan lagi untuk menghindari penindasan. Aku menyarankan untuk membuat jadwal. Di mana semua orang bisa merasakan kebersamaan dengan para Penerus."
"Jadwalnya simpel. Ada 15 orang di sini, kita bagi Lima kelompok. Lima kelompok ini akan di isi oleh tiga orang."
Fifi memberikan contoh dengan begitu teliti hingga para wanita lainnya cepat memahami.
"Jadi, tidak akan ada yang berpencar untuk mencari kesempatan bersama penerus lainnya. Kalian bisa mengatur semua itu dengan kelompok ini,"
"Lebih jelas lagi, dalam satu hari, Setiap kelompok akan mendapatkan giliran dengan siapa mereka. Misal, di hari senin kelompok kedua bersama Tuan Fiqer. Maka, kelompok yang lain akan bersama Tuan-tuan lainnya."
"Selama satu hari itu saja, Kalian tidak akan merasa dikucilkan atau tidak dihiraukan, Bagaimana?"
Para wanita segera mengangguk-angguk kepala. Mereka seperti setuju tanpa memberi tanggapan. Namun, Seorang wanita segera mengangkat tangannya.
"Namaku, Arabi Beyla. Pertanyaanku, Jika berbagi kelompok, apa kita harus memilihnya sendiri?"
Arabi Beyla, memiliki lirikkan mata yang cantik dengan bulu mata yang lentik. Meski begitu, tubuhnya tidak beda jauh dengan tinggi badan Nala Bi.
"Hm, Vie bagaimana menurutmu?" tanya Fifi.
Vie tercenga mendengar apa yang Fifi tanyakan. Dia, baru saja dijadikan sebagai pemimpin di sini. "Baiklah, jika dia ingin aku ikut dalam permainannya. Maka aku akan bermain denganmu dan segera mengakhirinya." benak Vie.
"Hm, karena kau bertanya padaku. Aku lebih memilih untuk pilihan acak. Bagaimana pun, menjadi teman dalam satu kelompok akan tersembunyi motif lain yang bisa saja merugikan semua orang." jawab Vie.
Fifi tersenyum. "Aku setuju! bagaimana dengan yang lain?"
Lagi-lagi anggukkan diberikan oleh para wanita yang tidak mau angkat bicara. Vie bosan melihat hal seperti ini. Dia tiba-tiba teringat dengan masa sekolahnya, di mana Dia menjadi salah satu dari mereka.
"Lebih baik kalian berkomentar. karena, tidak akan ada penyesalan jika kalian telah memberi pendapat. Sewaktu-waktu, saat ada kesalahan, Kalian tidak menyalahkan yang lain." ucap Vie.
"Setuju! Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vie. Kalian berilah pendapat, meski ketua kita saat ini adalah Vie. Kalian sebagai anggotanya tetap diberi kesempatan untuk berkomentar." imbuh Fifi.
Seorang wanita kembali mengangkat tangannya. "Namaku, Kayla Asya. Aku ingin bertanya, setelah keputusan itu kita akan berada di setiap kelompok dan akan bertemu dengan Penerus Michael. Pertanyaanku, Apakah 24 jam kita akan bersama mereka?"
"Pertanyaan yang luar biasa, Vie apa bisa Anda menjelaskannya." ucap Fifi dengan senyum yang masih sama.
Vie segera mengarahkan tangannya di depan Fifi. "Bukankah yang memiliki ide ini adalah Anda.
Aku, sebagai ketuanya hanya mendengarkan dan menyetujui. Jika kau benar-benar ingin aku menjawabnya, takutnya nanti jawabanku akan berbanding jauh dari rencanamu."
Fifi segera terdiam dengan wajah yang tampak berpikir. Vie seakan mampu membaca apa yang dikatakan dari reaksi Fifi.
"Fifi, lebih baik jawab pertanyaan itu." ucap Vie. Dia segera bangun dari tempat duduknya, "Aku harap keputusan yang di ambil tidak sepihak. Lalu, saranku jangan sampai keputusan ini berpusat padaku."
"Tunggu dulu! Kau menganggap dirimu ketua?" ucap seorang wanita yang sama telah memerintah Vie.
Dia melangkah mendekati Vie dengan cepat dan segera menunjuk dada Vie. "Kau hanya diperingkat rendahan, kenapa bisa menjadi ketua?"
Vie tersenyum, dia menjauhkan tangan Wanita itu darinya. "Kau benar, kenapa harus aku yang menjadi ketua. Maka, pilihlah ketua kalian dan jangan jadikan aku sebagai panutan. Permisi!"
Fifi segera menghalangi Vie. "Vie, akan lebih baik jika kau menghadiri hal seperti ini. Jika kau pergi, kau akan melewatkan hal pentingnya."
Vie segera duduk tanpa menjawab perkataan Fifi. Menurutnya lebih baik membiarkan seseorang menjadi pendominasi ruangan ini. Karena dengan begitu, dia tidak akan menjadi sorotan.
"Oke, aku akan menjawab pertanyaan dari Kayla ... benar, 24 jam akan menjadi milik kelompok itu untuk bersama Penerus yang mereka dapatkan. Jadi, gunakan kesempatan itu untuk memberikan nilai kalian."
Semua mengangguk puas mendengar hal itu. Mereka saling memberi ucapan setuju dengan kelompok ini.
"Baiklah, karena semua sudah menyetujuinya. Kita akan membagi kelompok dengan gelas ini. Oh ya, bagaimana kalau kita saling memberikan nomor telepon untuk mempermudah dalam berkomunikasi?" usul Fifi.
"Setuju, dengan begitu kalau ada sebuah rencana. Kita bisa membicarakannya dengan membuat grup di ponsel." Seorang wanita berucap seperti itu dengan begitu semangat.
"Baiklah, persetujuan ini juga menjadi keputusan untukku. Oke, silahkan tulis nama kalian di kertas yang sudah ku potong. Jangan lupa nomornya. Nanti, akan ku buat kelompok berdasarkan kertas yang keluar dari gelas ini.
Berkumpullah 15 gulungan yang berisi nama dan nomor ponsel. Semua di masukkan ke dalam gelas dengan Fifi yang memegangnya.
__ADS_1
"Oh ya, terima kasih kepada Tiasa yang sudah menuliskan nama Nala dan nomor ponselnya. Nala pasti sangat sibuk di sekolah pagi ini." ucap Fifi.
"Baiklah, gelas ini sudah terdapat 15 gulungan nama. Yang keluar tiga lebih dulu akan menjadi kelompok pertama. Kita mulai," Fifi berucap sembari melirik para wanita yang ada di ruang tengah.
"Hm, akan lebih adil jika seseorang mau membantuku. Otavi, apa kau ingin membantuku di sini. Sebagai bukti juga, kalau aku tidak bermain curang." sambung Fifi.
Otavi segera berdiri di samping Fifi dan memegang gelas tersebut.
"Baiklah, mari kita mulai!"
Gulungan demi gulungan telah keluar dengan hasil nama yang tertulis di sana. Hasil pun terlihat dengan lima kertas yang di pegang oleh Fifi dan Otavi.
...-*-...
...Kelompok 1:...
...- Kayla Asya ...
...- Aure Lie ...
...- Belvi Nana ...
...Kelompok 2:...
...- Bey Hatd ...
...- Charla Khar...
...- Otavi Inoel...
...Kelompok 3:...
...- Nala Bi...
...- Lily Laila...
...- Felis Berza...
...Kelompok 4:...
...- Fifi Yenlow...
...- Arabi Beyla...
...- Vie Maherqi...
...Kelompok 5:...
...- Divya Pusta ...
...- Eria Nisza...
...-*-...
"Semua kelompok sudah di tentukan. Jadi, bagi kelompok pertama, kalian akan melakukan pendekatan dengan Tuan Fiqer. Untuk penerus ini, kita urutkan saja dari Penerus pertama hingga penerus terakhir. Ada pendapat?" tanya Fifi.
"Tidak ada, Aku setuju dengan hal ini."
"Aku juga setuju!"
"Aku juga!"
Semua wanita mengangkat tangan kecuali Vie yang telah terlelap dengan semua ini. Pandangan semua orang tertuju padanya.
"Em, aku akan membangunkannya." ucap Fifi yang perlahan mendekat.
Namun, seorang pria segera menghalangi Fifi.
"Biarkan dia tidur," ucap Fiqer yang segera mengendong Vie.
"Permisi," pamitnya.
Semua mata hanya bisa membelak tanpa berkata apa pun, melihat kedekatan tanpa ada sebuah perantara.
Fifi tersenyum, "Inilah alasanku menjadikannya panutan. Dia, tidak perlu turun tangan untuk menarik pria. Yang ada, Prialah yang mendekatinya."
Mata seseorang sedikit tidak suka mendengar perkataan Fifi. Dia menatap tajam arah perginya Vie.
...●●●...
Di dalam kamar, Vie memeluk sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan bantal atau gulingan biasa yang dia pakai. Matanya perlahan terbuka dan memperlihatkan seorang pria yang tersenyum padanya.
Untuk sesaat, Vie menikmati senyuman itu. Dia tidak menduga kalau ada orang yang tersenyum dengan sangat manis. Perlahan tangan Vie terulur untuk menyentuh bibir merah ranum itu.
Namun, mata Vie membelak saat sesuatu bergerak diantara kedua pahanya. Ada sebuah gesekkan kecil yang dilakukan seseorang.
Vie segera menurunkan pandangannya dan melihat kalau dia tengah berguling tangan seseorang.
"Fi-Fiqer," gumam Vie. Dia perlahan meneguk salivanya karena melihat wajah Fiqer yang tampak menahan sesuatu.
"Vie, aku belum makan siang. Menurutmu, menu makan siang yang bagus itu apa ya?" tanya Fiqer.
__ADS_1
Vie menjauhkan dirinya dengan menahan tangan Fiqer agar tidak memegang atau menangkapnya. Perlahan Vie menjauh hingga jarak kasur itu memisahkan mereka.
"Maaf atas apa yang terjadi. Lalu, terima kasih sudah mengendongku saat aku bosan mendengarkan rapat pagi buta itu. Dan, permisi!"
Vie mengambil langkah lebar untuk mendekati pintu. Namun, dia tetap berakhir dengan dikurung oleh Fiqer di dalan kedua tangannya.
Saat ini, Vie membelakangi Fiqer dan menempel di dinding. Sedangkan Fiqer mengurungnya dalam genggaman tangan.
Vie merasa hembusan napas seseorang menyentuh tengkuknya. Tidak lama, Vie merasa sentuhan lembut nan kenyal berada di sana.
"Vie, kau tahu kalau aku laki-laki. Jika sesuatu membangunkan milikku, apa kau akan bertanggung jawab?" bisik Fiqer.
Vie menelan salivanya sembari menunjukkan reaksi tenang. "Aku akan meninju wajahmu dan kalau bisa, milikmu itu ku patahkan!"
Suara tertawa kecil terdengar ditelinga. Vie merasa sesuatu menganjal dipinggangnya.
"Kau tahu, dengan benda ini aku bisa menghamilimu, Vie. Tapi,"
Vie merasa lega saat Fiqer menjauh darinya. Akan tetapi, perasaan itu menghilang saat Vie dipaksa berbalik badan.
"Ada apa?" tanya Vie sembari mengangkat tangannya.
"Tapi, aku tidak akan melakukan itu karena kau pernah memiliki seorang kekasih." sambung Fiqer.
Vie mengangguk, dia menatap wajah Fiqer dengan menenangkan dirinya. "Kau benar, aku pernah memiliki kisah cinta yang luar biasa. Jadi, jangan berpikir kalau aku tidak laku."
Fiqer mengangguk dengan wajah yang tampak setengah percaya. "Namun, Aku tidak akan melepaskan yang ini."
"HMPH!"
Vie membelakkan mata ketika Fiqer menciumnya. Permainan yang Fiqer berikan membuatnya lemas seketika. Hingga Fiqer membantu Vie untuk tetap bersandar di pintu.
Rasa sesak karena kehabisan napas membuat Vie mendorong Fiqer dengan keras bahkan memukul dadanya.
Fiqer segera menjauh dengan menyentuh dada yang dipukul Vie. "Vie, kenapa pukulanmu sesakti ini?"
"Karena aku saat marah selalu melampiaskan tinjuanku di dinding. Tidak heran, semua itu berguna dengan memukulmu," sahut Vie.
"Lagian, kenapa kau selalu mempermainkanku. Apa kau ini gila? Atau kepribadianmu menjadi ganda? Tidak, kau itu tidak waras!" ucap Vie kembali dengan cepat.
Fiqer memutar bola matanya dengan malas. Dia segera memeluk Vie dan mengendongnya dengan santai.
"Aku tidak mempermainkanmu. Tapi, aku merasa ketertarikkan kepadamu ... hm, Aku rasa melepaskanmu akan menjadi kesulitan untukku." ucap Fiqer.
Vie menatap lekat ke arah pria yang kini mengendongnya. Dia memperhatikan pandangan Fiqer yang tidak terselip kebohongan.
"Kau, apa kau menyukaiku, Fiqer?"
...●●●...
Malam hari telah tiba, suasana yang tampak begitu indah untuk duduk di teras atas Vila.
"Kenapa kau menyetujui masalah jadwal ini, Kak Vie?" tanya Nala.
Keponakkan Vie itu baru saja mengetahui semuanya. Dan untungnya, Nala bersama Lily. Dia tidak akan ketakutan saat bersama pria.
"Lagi pula, lebih baik di jadwalkan dari pada tidak beraturan. Oh ya, semua penerus juga menyetujuinya, apa itu benar Otavi?" tanya Vie.
Otavi mengangguk, "Hm, semua membahasnya di sore hari. Malam ini, grup akan di buat oleh ketua kelompok."
"Hiks, kalian jahat! Huaaa ... bagaimana denganku, aku seorang diri." Tiasa menangis dengan tisu yang menempel di bawah matanya. Dia tidak ingin krim malamnya luntur karena air mata.
"Aku juga sendiri, Vie pun sendiri. Tiasa, Kau itu sudah dewasa. Bersikap lebih tua itu lebih baik." celetuk Otavi.
Tiasa hanya memayunkan bibirnya sembari memutar bola matanya dengan jengah.
"Oh ya, Vie ... kenapa kau tampak jadi diam seperti ini?" tanya Tiasa melihat perubahan Vie.
Vie diam tanpa menjawab. Dia penasaran dengan pertanyaannya kepada Fiqer. Pria itu, tidak memberikan respon yang baik.
"Hei! Apakah kalian sering melihat Fiqer di dalam Vila?" tanya Vie.
Tiasa dan Otavi menggeleng. "Tidak, kami tidak sering melihatnya." sahut keduanya.
Vie mengangguk. "Baiklah, kalau begi-,"
"Aku melihatnya!" imbuh Nala.
Vie segera menatap Nala yang duduknya sedikit berjauhan.
"Apa yang kau lihat?" tanya Vie.
"Saat pagi akan ke sekolah, Tuan Pertama itu akan menuju perpustakaan di ruangan samping Vila. Kalian tahu bukan, kalau ada tempat khusus untuk sekolah."
"Lalu, ruangan yang ku kunjungi ternyata banyak anak sekolah di sana. Lihat," Nala menunjuk sebuah gedung dengan dua lantai.
"Ternyata, itu juga sekolah umum. Tapi, khusus untuk anak yang menginjak SMA. Untungnya aku ada di kelas tiga."
"Nala, ceritakan tentang Fiqer, bukan tentangmu." potong Vie.
Nala segera mengangguk, "hm ... Tuan Pertama itu akan ke perpustakaan. Lalu, siang harinya dia akan di jemput oleh seorang supir. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya melihatnya melakukan itu di setiap hari."
__ADS_1
Vie terdiam mendengar penjelasan Nala. "Jadi, tidak heran, kalau aku tidak pernah menemuinya di Vila ini. Kecuali, dia yang menemuiku. Fiqer, ada apa dengannya?" benak Vie.