Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(22) Awal


__ADS_3

"Kau, siapa?"


Vie yang asik memeriksa sekelilingnya, segera menoleh dan melihat seorang Pria yang berdiri di depan pintu.


"Hm, hallo perkenalkan namaku Vie. Aku ingin-,"


"Dia akan menyewa kamar ini kak!" ucap Caca yang membawa alat pembersih dengan sprei di tangannya.


L


Vie ikut membantu mengambil sprei tersebut. Dia tidak tega melihat Caca kesulitan membawa semua itu.


"Biar aku saja kak, tidak perlu membantuku, ini sudah menjadi tugas Caca." ucapnya yang dengan santai melempar alat pembersih dan mengatur kasur.


"Oh, orang yang akan mengewa kamar ini. Aku pikir, ada orang yang ... maaf ya mbak, bukan bermaksud buruk." ucap Pria yang berusia 24 tahun.


Vie hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak bisa mengatakan apa pun karena bingung.


"Oh ya, tadi memperkenalkan diri ya. Aku malah lupa, perkenalkan namaku Jefli Guvta, paman Caca." ucapnya.


Mendengar perkenalan yang begitu ramah membuat Vie tersenyum. Dia mengangguk, "salam kenal Pak Jefli."


"Jangan panggil Pak, masih muda. Panggil Mas aja." imbuhnya.


Vie pun mengangguk kembali, sembari membenarkan panggilannya. "Salam kenal Mas."


Jefli tersenyum dan mengangguk kepala. "Karena menyewa kamar ini. Kami harap, Anda bisa betah di sini."


"Hm, terima kasih." ucap Vie.


Setelah Caca membersihkan kamar tersebut. Vie akhirnya bisa menenangkan diri di dalam kamar dengan Caca dan Jefli pergi meninggalkannya.


Duduk di tepi kasur, Vie membuka kopernya. Dia menyempatkan diri mengambil sebuah foto keluarga yang ada di kediaman Maherqi. Foto itu hanya terdapat gambar orang tuanya.


"Ayah, ibu ... maafkan Vie ya, Vie berbohong kepada kalian." gumamnya.


Setelah semua itu, Vie memutuskan untuk menata semua barang dan memikirkan apa yang dia perlukan.


Meski menyewa kamar sudah dilengkapi dengan kasur dan lemari pakaian. Vie masih memperlukan sesuatu. Dia, terbiasa mengunakan meja kecil.


"Aku akan membeli meja, ah ... lebih baik menanyakan apakah bisa membawa meja ke kamar ini." benak Vie.


Semua telah di tata oleh Vie. Satu lemari yang tersedia juga sudah di isi oleh pakaiannya. Sisa yang ada di tangan, sebuah kantong hitam berisi uang 10 juta.


"Aku akan mengeluarkan lima juta dulu, sisanya aku simpan." gumam Vie.


Suara ketukkan pintu muncul seketika. Vie segera membukanya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Maaf menganggu, ini tetangga baru ya?"


Ucap seorang pria yang mengendong tas ransel di salah satu bahunya.


Vie melihat pria itu segera mengerutkan alis. "Hm, iya benar, salam kenal."


Pria itu mengangguk dan menyodorkan tangannya. Tampak seperti seseorang yang ingin bersalaman.


Tangan Vie menyambut uluran tersebut dan menatap pria yang memiliki alis tebal dengan bibir tipis.


"Kalau boleh tahu, namanya siapa ya?" tanyanya.


"Namaku? Bagaimana kalau mengenalkan dirimu terlebih dahulu." ucap Vie.


Pria yang berusia muda itu segera mengangguk. "Namaku Zaksara. Panggil saja Zaksa."


"Namaku Vie, hanya Vie." balas Vie.


Zaksa, pria kuliahan itu mengangguk. "Vie ya, ini panggil mbak aja atau apa ya?"


Vie tersenyum mendengar ucapan yang tampak mengombal padanya. "Panggil Kak aja sih, bukankah lebih baik seperti itu."


Anak muda itu segera tersenyum. "Baiklah Kak Vie, Kakak juga bisa memanggilku Dek Zaksa."


Gombalan yang menjijikkan itu membuat Vie muak. Dia tersenyum sembari berucaap.


"Maaf, jika ada keperluan silahkan bicara. Jika tidak, maafkan aku, aku ingin membersihkan kamar dulu." ucap Vie berusaha untuk mengusir pria muda yang menganggunya ini.


Mood Vie entah kenapa bisa berubah. Dia merasa kesal dan ingin mengusir pria di depannya. "Mungkin, Babynya tidak menyukai pria ini." benak Vie.


Zaksa, pria kuliahan itu tersenyum. "Benar juga, maaf menganggu silahkan bersih-bersih."


Setelah berucap seperti itu, dia segera melangkah pergi meninggalkan kamar Vie. Melihat kepergiannya, Vie segera menutup pintu dengan rapat.


"Menjijikkan, anak muda jaman sekarang mulai meresahkan." gumam Vie.


Perutnya diusap-usap dengan lembut sembari menenangkan perasaannya. "Beginilah ibu hamil? Mereka merasakan perasaan yang bukan dari mereka sendiri. Hei, baby! Ingat pesan ibu ya, jangan membuat ibumu ini kesulitan."


Vie tersenyum senang dengan menikmati keadaannya. Dia tahu kalau dirinya tidak sebahagia ini. Dirinya akan memulai hidup baru dari awal. Melahirkan seorang anak dan membesarkannya. Setelah itu, dia yakin pasti ada permasalahan lain.

__ADS_1


"Semoga, kita tidak akan mengalami semua itu." benak Vie.


...●●●...


Langkah kaki Vie menuruni tangga begitu pelan karena dia harus menjaga dirinya agar tidak kenapa-napa.


Karena hari yang sudah sore, Vie memutuskan untuk mandi. Di depan indekos mereka, ada sebuah kamar mandi yang bersampingan dengan dapur.


Vie segera ke sana untuk membersihkan dirinya. Saat ingin mengambil pegangan pintu, Vie terkejut ketika seorang pria membuka pintu secara tiba-tiba.


Tubuh kekar yang begitu mempesona terlihat di mata Vie. Namun, entah kenapa Vie malah teringat tubuh kekar Fiqer yang selalu di peluk olehnya.


"Oh, maaf. Kamar Mandi wanita bukan di sini." ucapnya.


Vie segera menundukkan kepala dan menatap ke arah lain. "Maafkan aku."


Pria itu mengangkat tangannya sembari menunjukkan arah. "Kamar mandi wanita, ada di sebelah dapur, bagian kanan."


Vie tanpa menoleh ke arah pria itu, segera mengangguk dan pergi. "Terima kasih."


Sungguh memalukan baginya, Vie benar-benar tidak berani mengangkat pandangannya hingga dia menubruk seseorang.


Pinggangnya segera di peluk dengan tangan kekar. Vie segera menjauhkan diri karena dia merasa tidak ingin di dekati pria lain.


Seperti sebelumnya, dia tidak ada minat dengan lelaki lain selain Fiqer. Itulah yang membuat Vie penasaran dengan perubahannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Pria itu.


Vie segera mengangkat pandangannya dan melihat kalau Paman Caca lah yang menolongnya.


"Ah, aku tidak kenapa-napa. Terima kasih Mas." ucap Vie.


Jefli yang mendengar itu tersenyum, dia segera memberikan ruang untuk dirinya pergi. "Lewatlah, kau ingin ke kamar mandikan?"


Anggukkan Vie berikan, Dia segera melangkah pergi menuju ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Vie sebisa mungkin menyimpan pakaian basahnya dengan baik.


Membawa di dalam ember kecil dan menyimpannya di dalam kamar. Dia tidak ingin ada masalah yang akan muncul untuknya.


Apa lagi, hanya dia perempuan yang mau menyewa kamar ini. Memikirkan semua itu hanya akan membuatnya tidak tenang. Jadi, Vie memutuskan untuk tidak memikirkan apa pun.


Langkah kakinya saat ini baru saja menyampai lantai dua. Dia melihat tiga pria yang tengah berdiri dengan bersandar di tepi pagar.


"Sore kak!" sapa pria yang dia kenali.


"Sore juga," sapa Vie.


Dia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya sembari mengeluarkan kunci kamar.


"Ngomong-ngomong, kalian di sini ada perlu sesuatu?"


Pria yang bernama Zaksa segera menjawab, "Sebenarnya tidak ada, hanya ingin menyapa."


Senyum terukir dibibir Vie. "Kalau begitu, maafkan aku yang harus meninggalkan kalian. Aku harus membersihkan beberapa hal karena aku baru menginap di sini."


"Tentu Kak Vie. Sebelum itu, perkenalkan namaku Muraki. Panggil saja Raki," sapa pria baru yang Vie lihat.


"Oh, Raki ya ... apa kalian satu teman dari kampung?" tanya Vie yang memilih untuk meladeni para pemuda ini.


Mendengar pertanyaannya, semua segera tersenyum bahagia. Tidak dengan pria yang hanya menghirup rokoknya tanpa memperdulikan yang lain.


Vie tidak menyukai asap rokok, dia segera menutup hidungnya saat menghirup aroma tersebut. Rasa mual muncul seketika, Vie sebisa mungkin menahan diri agar orang lain tidak tahu kalau dirinya tengah hamil.


"Oh astaga, Xexin matikanlah rokokmu itu. Kasihan tetangga kita ini," ucap Raki yang membuat Pria bernama Xexin itu mematikan rokoknya.


"Wanita suci," gerutu pria itu yang memilih pergi.


Vie terteguh mendengar apa yang anak muda itu katakan. Dirinya di bilang suci? Dia hanya seorang gadis kotor yang merusak namanya sendiri.


"Apa yang suci?" gumam Vie.


"Kakak masih perawan kan?" tanya Raki sembari mendekat.


Vie yang melihat hal itu mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya dengan diriku yang perawan atau tidak?"


"Soalnya, biar lebih mudah saja. Kami mungkin bisa menjadikan Kakak sebagai istri kami." sahut Raki.


"Maaf, terima kasih. Aku belum ada niat untuk menikah." ucap Vie segera memotong.


Raki yang mendengar hal itu tersenyum. Langkah kakinya terus maju hingga Vie bersandar di pintunya.


Suara dinding di pukul terdengar hingga semua pandangan menoleh ke arah sumber suara.


Vie melihat Caca memegang sebuah kayu sembari menunjuk dua pria yang ada. "Kalian berdua, tolong bersikap dewasalah. Jangan menganggu wanita dan perhatikan, karena lantai dua ini di isi wanita. Tidak ada izin dari ku, untuk kalian berada di sini. Kecuali, keperluan penting!"


Dua lelaki itu mendengus tanpa bisa melawan. Mereka segera menuruni tangga sembari menunjukkan wajah masam mereka.

__ADS_1


"Sudah kak, sekarang kakak aman. Maaf, baru bisa mengurusi mereka. Caca sibuk di dapur untuk memasak." ucap Caca dengan begitu lucu.


Vie mengangguk sembari menepuk pundak gadis muda di depannya. "Aku suka dengan apa yang kau lakukan. Tidak ada wanita yang berani melakukan itu, hanya dirimu yang pertama kali ku lihat."


"Terima kasih," sahut Caca.


Wajah gembira gadis yang telah mendapat pujian begitu lucu. Vie pun mengusap-usap kepalanya.


"Caca memang baik, tolong ya bantu aku." dengan cepat kepala Vie mendekat untuk berbisik. "Aku tidak suka mereka yang mendekat seperti lintah." bisiknya.


Caca segera mengambil postur tubuh tegap, dengan tangan memberi hormat. "Siap!" ucapnya.


"Hm, terima kasih ... Caca, aku ingin bertanya apa di sini ada yang menjual sembako?" tanya Vie.


Karena sudah menata semua barang bawaannya. Vie juga ingin membeli sembako untuk membuat makanan. Hari ini, dia ingin memenuhi keinginan sang bayi.


"Sembako? Hm, tidak jauh dari sini ada Toko Toserba. Nanti Caca temani kakak untuk berbelanja." ucap Caca.


Setelah itu, mereka berdua kembali pada kegiatan masing-masing. Hingga malam harinya tiba. Ketukkan di kamar Vie terdengar hingga dia segera membukakan pintu.


"Malam Kak Vie." sapa Caca dengan pakaian yang sudah rapi. Dia mengenakan baju biasa sembari membawa tas selempangnya.


"Sudah siap ya, ayo!" ajak Vie dengan begitu bersemangat. Dia merasa senang ada teman yang mau di ajak jalan.


Caca, gadis muda itu ikut senang hingga mereka bergandeng tangan menuju ke Toko Toserba.


Di dalam perjalanan, keduanya saling berbincang untuk menemani perjalanan mereka.


"Hm, Pamanku tadi sore bertanya banyak tentang Kakak. Dia bertanya, kenapa bisa bertemu denganmu? Lalu kenapa memilih untuk berada di desa kecil, bukan di kota. Di tambah, hm .... "


Vie melihat ke arah Caca yang tampak ragu untuk berucap. "Katakan saja Caca."


Gadis itu segera melanjutkan perkataannya. "Kakak tampak bukan orang sederhana. Di lihat dari gaya kehidupan kakak, kakak adalah orang berada."


"Begitu ya, sebenarnya ... kakak hanya orang biasa yang ingin mencari ketenangan di sini. " ucap Vie sembari menatap indahnya langit.


Saat ini, Vie mengenakan jaket tebal untuk menghindari rasa dingin. Dia juga menyempatkan diri mengunakan kaos kaki.


"Ketenangan?" Caca menatap bingung mendengar hal itu.


"Hm, ketenangan. Di mana kau ingin menghindari hal-hal yang membuatmu tersakiti. Aku ke sini untuk menikmati liburanku sembari memulai awal hidup yang baru. Seperti, aku ingin mencari pekerjaan di Toko Toserba ini."


Vie menatap Toko yang ada di depannya. Dia segera masuk meninggalkan Caca yang masih kebingungan.


Di dalam toko, Vie mencari apa yang dia perlukan. Sesekali, dia mengambil makanan ringan dan memperhatikan apakah semua itu cocok untuk ibu hamil.


Setelah berbelanja, Vie pun menuju kasir. Ada seorang gadis muda yang begitu ramah padanya.


"Sudah belanjanya?" tanya wanita itu.


Vie mengangguk dan membiarkan penjaga kasir memeriksa barang belanjaannya.


"Baik, Totalnya ada tiga ratus ribu." ucapnya sembari memasukkan barang di dalam kantong belanjaan.


"Maaf, bolehkan aku bertanya." ucap Vie setelah memastikan tidak ada yang menganggu wanita di depannya.


"Tentu, ada apa ya?"


"Begini, apakah Toko ini mencari karyawan tambahan? Aku sedang mencari pekerjaan. Hanya saja, aku tidak memiliki beberapa data yang memungkinkan untuk kalian."


Gadis di depannya terdiam seketika. Dia segera menatap ke ruang khusus pekerja. "Hm, sebentar ya kak, aku akan menanyakan pemiliknya."


Setelah berkata seperti itu, Gadis tersebut pergi meninggalkan dia dengan masuk ke dalam ruang khusus itu.


Sembari menunggu, Vie merasa tepukkan di pundaknya. "Caca?" kaget Vie.


"Kak, apa kakak sudah selesai berbelanja?" tanya Caca.


Vie mengambil minuman dingin yang sudah di data oleh penjaga kasir. "Minum ini, maaf ya membuatmu lama menunggu."


"Tidak perlu kak, Caca kan di sini memang ingin menemani kakak." Caca berucap sembari mendorong minuman yang Vie berikan.


Vie cemberut, dia menaruh minuman itu di tangan Caca secara langsung. "Sudah, minumlah ... kau kan haus."


Karena paksaannya, Caca akhirnya menerima minuman itu. Dan di saat yang bersamaan, Vie melihat penjaga kasir keluar bersama dengan orang lain.


Seorang wanita dengan senyum manisnya terlihat di mata Vie. "Hallo salam kenal, namaku Pusta. Aku adalah pemilik Toserba ini. Hm, Aci, siapa yang ingin bekerja tadi?" tanya Pusta.


Aci, wanita penjaga kasih itu segera menunjuk Vie. "Dia yang ingin bekerja di sini."


"Oh, begitu ya ... begini, kami memang kekurangan pekerja. Jika kakak ingin bekerja, datanglah besok, lalu bekerja bersama kami." ucap Pusta.


Vie terkejut mendengar hal itu, "Tapi ... aku tidak memiliki data lengkap."


"Tidak apa-apa, kami tidak memaksa orang lain untuk memenuhi semua syarat. Yang terpenting, dia jujur, niat berkerja dengan baik dan disiplin."


Vie tersenyum mendengar semua itu. Dia akhirnya tidak lagi takut dengan uang bulanannya. "Baik, terima kasih." ucap Vie.

__ADS_1


__ADS_2