
Apa yang di janjikan tiba. Vie duduk di ruang tunggu dengan perasaan berdegup-degup. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang.
"Apa kau siap Vie?" tanya Jefli dengan duduk di sampingnya.
Vie merasakan kehadiran itu dan segera mengarahkan pandangannya kepada Jefli. "Aku gugup mas. Seperti aku merasa ada yang tidak beres di sini. Apa mas yakin kalau tidak ada apa-apa? Aku merasa Xexin menyembunyikan sesuatu dariku."
Jefli menghela napas dengan perlahan. "Tenang saja, Xexin selalu jujur kepadamu. Aku yakin, semua ini bukan sebuah kebohongan atau apa pun yang kau pikirkan."
Vie mengangguk mendengar apa yang Jefli ucapkan. "Baiklah, aku yakin kepada kalian. Oh ya, bagaimana keadaan Viviano?"
"Putramu baik-baik saja. Caca selalu bersamanya. Jika terjadi sesuatu, Caca akan segera menelponku."
Sekali lagi Vie mengangguk mendengar ucapan itu. Keraguan di hati segera menghilang. Dia bisa kembali tenang dan menunggu dengan nyaman.
"Vie, aku tinggal sebentar dulu. Tidak apa-apa kan?" tanya Jefli.
"Tentu mas, aku akan ada di sini." sahut Vie.
Terasa oleh Vie langkah kaki seseorang yang telah pergi. Perlahan, Vie menyandarkan punggungnya di kursi dan memikirkan semua yang terjadi.
Baru saja Xexin menanyakan tentang operasi mata gratis. Lalu, entah kenapa ada perasaan kalau ini semua bukan kebetulan. Seperti terencankan dengan baik.
Vie menghela napas untuk menenangkan diri. "Aku yakin, semua ini akan baik-baik saja." benak Vie.
Berbeda dengan keadaan wanita itu. Jefli saat ini tengah menatap Xexin dengan pandangan serius.
"Pria ini? Kau bilang dialah ayah Viviano?" telunjuk Jefli mengarah tepat di depan seorang pria yang lebih tinggi darinya. Tatapan pria itu begitu tajam dengan aura dingin di sekitarnya.
Jika membandingkan Xexin dengan pria itu. Jefli akan mengatakan kalau Pria itu yang lebih dingin dan menakutkan.
"Benar, Namanya Fiqer. Pak Jefli, Fiqer inilah yang akan mendonorkan matanya untuk Vie." sahut Xexin.
Jefli menghela napas dengan kasar dab mengusap wajahnya. "Fiqer bukan?" Pria itu mengangguk.
"Kau yakin dengan keputusanmu? Aku tidak ingin kau menjadikan ini sebagai bahan tundingan untuk membuat Vie menderita."
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan segera pergi setelah operasi mata berhasil." sahut Fiqer.
Jefli merasa kewalahan mendengar semua ini. Dia bisa melihat ketulusan hati hati seorang pria yang begitu luar biasa.
__ADS_1
"Kapan operasinya di mulai?" tanya Jefli menganti topik pembicaraan. Dia tidak sanggup melihat keseriusan Fiqer.
"Jam 10 pagi ini!" sahut Fiqer.
Setelah pembicaraan itu. Semua berpisah ketempat mereka. Jefli dan Xexin menemani Vie sedangkan Fiqer menuju ke ruang operasi.
...●●●...
Di ruang operasi. Fiqer telah berbaring di sana dan menunggu operasinya dimulai.
Ada hati yang sedih dan tidak tenang. Sedih karena tidak akan bisa lagi melihat semua kehidupan ini dan sedih karena merasa telah bodoh dengan takdirnya.
Fiqer mengusap air matanya secara perlahan. lalu tersenyum. "Vie, aku berharap setelah ini kau nisa melihat lagi. Bisa melihat apa saja yangvingin kau lihat. Selalu tersenyumlah dan berbahagialah vie. Aku mencintaimu...."
Setelah berkata seperti itu, seorang dokter yang bertanggung jawab padanya datang.
"Tuan muda, apa Anda ingin melakukan ini? Aku rasa kita harus berpikir lagi." ucap Dokter.
Fiqer menggeleng. "Keputusanku telah tuntas dokter. Tidak perlu berpikir lagi."
Helaan napas yang bisa diberikan oleh Dokter sebelum akhirnya memulai operasi tersebut.
Di tempat lain, setelah menunggu 3 jam. Seorang perawat datang dengan begitu ramah. "Atas nama Nona Vie. Mari ikut dengan saya, kita akan segera memasuki ruang operasi dan memulainya."
Setibanya di ruangan operasi. Vie berbarinh dengan perlahan. Dia diam memikirkan apa yang di alaminya saat ini.
"Aku tidak mendengar suara keributan saat mengantri. Apakah ada banyak orang yang datang untuk operasi mata gratis ini? Atau mereka sudah selesai mendapatkannya?" benak Vie.
Rasa curiga muncul kembali di benaknya. Vie mendengar suara peralatan yang ditata. "Perawat?"
"Iya?"
"Boleh aku bertanya kepadamu. Sebenarnya, operasi mata ini, apakah gratis?"
Tidak ada jawaban dari perawat setelah pertanyaannya. Vie menjadi yakin kalau ada sesuatu yang tidak benar.
"Benar Nona, operasi mata ini di lakukan gratis. Karena Anda yang terakhir, jadi agak sepi. Para pasien yang lainnya telah di pindahkan ke ruang rawat."
Meski ucapan perawat itu sangat meyakinkan. Tetap saja, rasa curiga Vie tidak menghilang.
__ADS_1
Setelah berbaring hampir tiga puluh menit. Vie mendengar pintu terbuka dan suarap erawat yang berbicara dengan dokter. Mengatakan bahwa operasi akan segera di mulai.
"Nona Vie?"
Vie mendengar suara dokter yang ternyata tidak jauh darinya. "Benar."
"Dengar Nona, operasi ini hanya enam puluh persen untuk keberhasilannya. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan hasil terbaik untuk Anda."
"Dokter! Aku merasa suaramu tercekat. Apa kau menahan sesuatu? Seperti menahan tangisanmu?" Vie tidak berbohong dengan apa yang dia tanyakan.
Sudah lama dia buta seperti ini. Hanya indra pendengar dan perasa yang digunakan. Tentu saja, Vie menajamkan indra pendengarannya agar tahu apa yang orang lain alami.
Saat dia bertemu Fiqer untuk kedua kalinya.Vie mengenali suasana hati Fiqer yang berantakkan. Jadi, tidak mungkin perasaan orang lain tidak dia ketahui.
Tidak ada jawaban yang diberikan okeh dokter. Vie menganggap ucapannya barusan benar terjadi. Dokter ini sedang mengalami sesuatu yang membuat dia tidak tenang.
"Nona Vie akan menemukan jawabannya nanti. Mari kita mulai operasinya."
Vie terteguh mendengar apa yang Dokter itu katakan. Nanti? Jawaban seperti apa yang akan dia dapat setelah operasi ini? Vie tidak bisa menenangkan.
"Baik, kita mulai!"
Waktu berjalan, setiap detakkan jarum jam yang berbunyi itu, semua fokus dengan operasi kali ini.
Keringat tidak henti-hentinya mengalir dan air mata yang mengalir pun berusaha di usap dengan baik oleh Dokter.
Pergerakkan tangan dengan begitu kehati-hatian, berusaha untuk melakukan hak yang benar. Dan para perawat ikut merasa ketegangan yang terjadi.
Hingga, semua terselesaikan dengan napas lega dari Dokter.
"Dokter! Detak jantung Tuan Fiqer melemah!"
Saat suasana yang tenang hadir. Tiba-tiba saja, sebuah kejutan muncul ditengah suasana itu. membuat wajah Dokter semakin tidak tenang.
"Aku akan memeriksanya. Kalian panggil dokter lain!" kepanikkan jelas telah memenuhinya.
Perawat mengangguk dan segera melakukan apa yang di tugaskan. Namun, belum langkah kaki Dokter keluar dari ruang operasi. Seorang perawat berteriak panik.
"DOKTER! DETAK JANTUNGNYA MELEMAH!" teriaknya.
__ADS_1
Seperti sebuah takdir. Dokter tidak bisa memikirkan hal lain. Dia tahu siapa wanita ini dan kenapa Tuan Muda Pertama keluarga Michael sangat begitu ingin mendonorkan matanya.
"Jika takdir memberi sebuah keberuntungan. Keduanya pasti akan baik-baik saja." ucapnya.