Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(38) Kematian Mu


__ADS_3

Sebuah rasa penyesalan telah menghantui hati seorang pria. Fiqer Michael, duduk di teras kamarnya sambil menatap hujan yang saat ini tengah turun.


Meski bisa menatap pandangan Fiqer tetap buram karena dia sudah memberikan penglihatannya untuk orang yang dia cintai.


Namun, semua hal yang dia lakukan belum menenangkan hatinya. Dia masih tersiksa dengab apa yang terjadi kepada Vie.


Hamil, memutuskan mandiri dan berakhir buta. Tidak bisa Fiqer membayangkan bagaimana mental Vie.


Sekarang, Dia senang karena akhirnya Vie bisa melihat lagi. Tidak masalah tentang dia yang buta, justru ini adalah hal terbaik yang bisa Fiqer berikan.


"Tuan, minum obat dulu. Ini sudah waktunya tuan." ucap Pelayan menaruh segelas air dan dua butir obat yang di sediakan oleh dokter.


Fiqer mengangguk mendengar perkataan Pelayan. Pelayan itu segera pergi untuk mengerjakan tugas yang lain.


Kepergian pelayan itu memberi senyum manis Fiqer yang tidak terlihat. Dia bangun perlahan dan menyusuri pintu untuk masuk ke kamar. Mengunci pintu teras dan berjalan lagi menuju ke pintu kamar tidurnya.


Setelah tiba, Fiqer mengunci pintu itu dan melangkah ke samping. Ada sebuah lemari kecil yang khusus menyimpan hal-hal penting termasuk obat.


Perlahan Fiqer mengeluarkan obat-obatan itu dan mengeluarkan beberapa butir obat serta tablet. Fiqer membawa semuanya ke kasur dan duduk dengan tenang.


"Vie... seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin memperbaiki semuanya. Menahanmu agar tidak pergi dan melawan semua orang."


Fiqer perlahan memasukan dua hingga tiga obat yang dia ambil dari lemari. Dia mengunyah obat itu hingga ditelan olehnya.


Air mata mengalir di pipi Fiqer saat obat itu tertelan dengan mantap olehnya. Lalu Dia kembali meneguk obat ke dalam mulutnya.


"Viviano Fezi, itu kan namanya. Putraku pasti luar biasa. Aku sudah melihat wajahnya, dia sangat mirip denganku dan senyumnya mirip dengan ibunya. Putraku, maafkan ayahmu."


Fiqer memejamkan matanya air mata terus mengalir menghiasi pipinya. Sungguh luar biasa untuk hidupnya, sudah mencintai wanita yang cantik tapi dia tinggalkan. Lalu, mendapatkan seorang putra yang tampan tapi hanya bertemu sekali saja.


Perjalanan hidup yang sangat luar biasa untuk Fiqer. Tubuhnya membeku karena reaksi obat yang mulai menjalar di tubuhnya. Napasnya menjadi berat dan dia merasa kesulitan mencari udara di sekitar.


Di tepi kasur, Fiqer berbaring dengan menikmati sesak napasnya karena ini lah niat yang ingin dia lakukan. Sambil memejamkan mata, Fiqer merasakan gejala yang ada di sekitar perutnya.


...●●●...


Mobil Vie berhenti tepat di halaman kediaman Michael. Dia melihat ke segala arah dan mendapati seorang tukang kebun yang menyiram tanaman.


"Pak, katakan kepadaku di mana Fiqer?" tanya Vie setelah menghentikan Tukang kebun.


Tukang kebun itu tertegun dengan kedatangannya. Bapak yang sudah berumur 40 tahun itu segera menuntun Vie. "Ayo masuk dulu Non, saya akan menanyakan kepada pelayan di mana Tuan Muda."


Vie mengikuti langkah Tukang Kebun menuju ke dalam Mansion kediaman Michael.


Saat di dalam, beberapa pelayan berlarian dengan panik yang membuat Vie mengerutkan alisnya. Dengan begitu cepat Vie menghentikan seorang pelayan.


"Ada apa? Kami sedang panik!" pekik Pelayan itu dengan wajah ketakutannya. Vie menyadari ketakutan Pelayan itu tapi dia tidak bisa melepaskannya begitu saja.


"Apa yang terjadi dan di mana Fiqer?" tanya Vie.


Mata pelayan itu sedikit bersinar mendengar pertanyaan Vie. "Nona ikut kami, kami membutuhkan bantuanmu."


Vie mengerutkan alis tetapi mengangguk secara bersamaan. Dia pun melangkah mengikut pelayan yang menaiki tangga dengan setengah berlari. Melewati beberapa lorong, Vie berhenti di sebuah kamar yang penuh akan pelayan.


"Apa yang terjadi?" tanya Vie mengerutkan alisnya.


"Nona, Kami meninggalkan Tuan tiga puluh menit yang lalu. Saat kami ingin memberinya makan siang, Ruangan Tuan terkunci dan kami mendengar suara teriakkan dari dalam." jelas Pelayan sedikit kepanikkan.

__ADS_1


Untuk sesaat Vie memahami apa yang terjadi hingga dia mengerti kalau sesuatu telah terjadi. "Kalian sudah menghubungi Kakek dan Paman?"


Para pelayan mengangguk mendengar pertanyaannya. Vie mulai merasakan perasaan tidak enak dan dia segera mendekati pintu.


"FIQER! INI AKU, VIE!" teriak Vie sambil mengedor-gedor pintu.


Tidak ada jawaban di sana, hal itu berhasil membuat Vie semakin tidak tenang. Dia segera menatap para pelayan. "Berapa jendela yang ada di kamar Fiqer?"


"Ada empat Nona, dua menghadap ke kolam dan dua lagi menghadap ke halaman belakang." sahut mereka.


Vie mengangguk dan segera berlari menuju ke luar. Dia melihat ke kolam dan mendapati jendela itu tertutup rapat. Di tambah jendela itu memiliki ketebalan yang lumayan.


Langkah kaki Vie membawanya ke gudang dan mengambil sebuah palu yang sedikit besar. Lalu Vie memikirkan posisinya menaiki jendela itu.


Di kolam tidak ada tempat untuk tiba di jendela. Vie memutuskan berlari ke halaman belakang dan melihat sebuah pohon dengan teras di sana.


Senyum Vie terukir dan sebuah ide muncul di otaknya. Dia segera memanjat pohon tanpa berpikir dua kali dan meraih pagar teras lalu menaikinya.


Beberapa pelayan yang menemaninya tercenga. Mereka semua ingat di mana tangga yang mungkin bisa membantu Vie. Namun di situasi ini ingatan itu serasa hilang di pikiran mereka.


Tiba di teras, Vie segera melihat di balik pintu kaca. Seorang pria memejamkan mata sambil memegang perutnya dan wajah pria itu kesakitan.


"FIQER!" teriak Vie dari luar.


Di dalam kamar mendengar teriakkannya tapi menganggap kalau itu halusinasinya.


Rasa sesak dan kesal muncul di benak Vie. Dia segera memecahkan pintu dari kaca itu dengab palu yang dia bawa. Vie terus memalunya hingga kaca itu pecah berkeping-keping.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" pekik Vie sambil masuk dan menyentuh wajah Fiqer yang kesulitan bernapas.


"Aghhh!"


Air mata mulai mengalir di wajah Vie ketika melihat bagaimana keadaan Fiqer. Hatinya sakit dengan semua ini. Perlahan Vie mengusap lembut wajah pria yang dia cintai.


"Fiqer! Katakan kepadaku apa yang kau lakukan! Fiqer!" Vie memekik ketika hatinya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit.


Fiqer yang ada di pangkuan Vie tersenyum sambil terbatuk. "Vie, itu kamu?" tanyanya.


Vie mengangguk cepat dan meletakkan keningnya di keningmu. "Um, ini aku Fiqer. Vie, Vie Maherqi.. tidak, Vie Michael."


Fiqer terkekeh mendengar perkataan itu. Tangannya bergemetar terangkat dan mencari wajah Vie.


Melihat situasi Fiqer membuat Vie semakin menangis hingga air matanya mengenai wajah Fiqer. Tangan Fiqer di tuntun olehnya untuk berada di pipinya.


"Vie Michael hm? Vie, kita belum menikah." ucap Fiqer sambil mengusap pipi Vie dengan jempolnya.


Vie mengangguk dan mengusap wajah orang yang dia cintai. "Kenapa, kau tidak menerimaku hm? Apa yang kau makan Fiqer?" tanya Vie.


Fiqer terkekeh lagi, dia mengarahkan tangannya ke leher dan mengeluarkan sebuah kalung yang terdapat cincin berlian di sana.


Cincin peninggalan ibunya dan dia berniat memberikan itu kepada Vie di hari pernikahan mereka. Namun saat ini, bukan di altar pernikahan yang bisa Fiqer berikan. Melainkan di dalam kamarnya dan di ambang kematiannya.


Vie tertegun melihat Fiqer berusaha melepaskan cincin itu dari kalungnya. Perlahan, Vie membantu Fiqer mengeluarkan cincin itu dengan melepaskan kalungnya. Setelah itu, Vie menyerahkan cincin berlian yang dia lihat ke tangan Fiqer.


"Kemarikan tanganmu sayang," ucap Fiqer.


Vie tahu apa yang ingin Fiqer lakukan, tangannya segera terulur dan Fiqer dengan perlahan memasukkan cincin berlian itu di jari manis Vie.

__ADS_1


"Kau istriku sekarang Vie," ucap Fiqer.


Vie semakin menangis dengan semua ini, dia benar-benar senang menerima cincin itu. Namun, rasa sedih masih menghiasi hatinya.


"Vie, pergilah hm... jaga anak kita dan maafkan aku yang tidak menjagamu, tidak bertanggung jawab kepadamu. Aku minta maaf kepadamu."


Vie menggeleng dan segera menyentuhkan kepalanya di kepala Fiqer. "Tidak, akulah yang harusnya meminta maaf kepadamu Fiqer. Maafkan aku, hiks!"


"Vie...."


Vie segera mengangguk dan mengenggam tangan Fiqer. "Tolong jaga anak kita, jaga dia karena aku sangat menyayanginya. Maafkan aku yang tidak merawatnya, tidak memberinya uang dan tidak juga menjenguknya. Aku sungguh ayah yang buruk dan pria yang sangat b*jing*n." ucap Fiqer.


Vie menggeleng dengan cepat, "tidak... kau adalah yang terbaik. Tolong Fiqer, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?"


"Aku," Fiqer tertawa sesaat. "Aku berniat untuk memb*n*h d*r* ku sendiri. Aku merasa tidak pantas berada di dunia ini. Jadi, aku menelan beberapa obat untuk membantuku."


Vie tertegun mendengar keperkataan Fiqer. Dia segera mencengkeam bahunya. "Bangun! Kita ke rumah sakit. Kau bodoh! Kenapa kau meninggalkanku, kenapa!"


Fiqer tersenyum, "tidak Vie. Aku tidak meninggalkanmu, hanya memilih untuk berhenti di sini."


Tangis Vie semakin menjadi, dia mengangkat bahu Fiqer dan memeluknya. "Huaaa, Fiqer bodoh... kenapa kau berkata seperti itu. Tolong, tolong jangan tinggalkan aku Fiqer!"


Fiqer tersenyum dan air mata mengakir du pipinya. Dia tersenyum kecil sebelum memutuskan untuk membelai rambut Vie. "Aku mencintaimu Vie."


Suara tangis Vie pecah seketika. Pikirannya seketika tidak terkendali. Dia membaringkan Fiqer dan memutuskan untuk bangun mencari obat yang Fiqer minum.


Sadar akan sesutu yang salah, Fiqer melambaikan tangan. "Vie, jangan melakukan hal yang tidak-tidak!" pekiknya.


Vie tidak mendengar ucapan Fiqer. Dia segera membuka seluruh lemari hingga menemukan berbagai obat di laci. Dengan cepat Vie membuka obat itu dan menelannya dengan cepat.


"VIE!" pekik Fiqer.


Sudah banyak obat yang Vie telan. Dia segera melangkah kembali ke arah Fiqer dan membuka tangannya untuk berbaring di lengannya.


Fiqer mencengkram bahu Vie. "Apa yang kau lakukan bodoh!"


"B*n*h d*r*," sahut Vie.


Kerutan muncul di alis Fiqer. Dia memeluk Vie di dadanya. "Kenapa Vie? Bagaimana dengan anak kita. Kau harus merawatnya."


"Ibuku akan merawatnya. Diamlah, biarkan aku mendengarjantungku. Tolong, katakan yang lain. Tidak perlu khawatir, Putra Kita, Viviano Fezi akan mengerti semuanya." Vie memeluk tubuh Fiqer dan mendengarkan detak jantung suaminya.


Fiqer terdiam sesaat lalu memejamkan matanya. "Vie ... kenapa kau ingin ... bersamaku?"


"Karena aku mencintaimu."


Senyum muncul di wajah Fiqer sebelum busa keluar dari mulutnya. Dia memeluk erat Vie di dalam pelukannya.


"Dengar sayang, jangan mengikutiku. Aku berharap orang tua kita datang dan menolongmu. Jika itu terjadi...."


Fiqer memejamkan mata dan merasakan napasnya mulai menghilang. "... tolong, jaga putra kita. Dan jika...."


Vie menangis dengan mengigit bibirnya. Tubuhnya juga mengalami rasa sakit karena obat yang dia makan. Vie tidak akan pernah meninggalkan Fiqer.


"... kau ikut denganku, tetaplah... memelukku."


Setelah berkata seperti itu, Vie menyadari bahwa Fiqer telah menghembuskan napas terakhirnya. Mata Vie berkaca-kaca dan mencari detak jantung Fiqer. Namun, tidak ada yang berdetak sama sekali.

__ADS_1


"Hiks! Fi... Fi... FIQERRR!" jerit Vie dengan memeluk erat tubuh Fiqer.


"KU MOHON, KU MOHON. KU MOHON JANGAN TINGGALKAN AKU DULU. TUNGGU AKU... TUNGGU AKU FIQER... HUAAA!"


__ADS_2