Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(29) Tanpamu aku bisa bahagia


__ADS_3

Tiba di kota T, Fiqer tidak langsung mencari tempat tinggal, tapi dia mengunjungi rumah sakit yang sering dikunjungi Vie. “Di sini tempatnya bukan?” benak Fiqer menatap rumah sakit yang ada di sampingnya.


Dengan cepat Fiqer melangkah keluar dari mobil dan menuju ke arah rumah sakit. Di sana, dia langsung menemui salah satu dokter pria.


“Tuan Muda Fiqer, apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Dokter Rafa.


Fiqer segera melirik kesegala arah untuk memperhatikan semua yang datang ke rumah sakit. “Aku ingin tahu, apa Anda pernah melakukan pemeriksaan kepada ibu hamil? Dia memiliki tinggi badan 160 dengan rambut panjang miliknya. tidak hanya itu, dia memiliki nama Vie.”


Dokter Dafa memikirkan apa yang baru saja Fiqer tanyanyakan. “Nama Vie ya, kalau tidak salah sudah satu bulan tidak ada nama Vie untuk melakukan pemeriksaa. Tapi, aku bisa memberitahu bahwa wanita itu telah melahirkan seorang putra yang tampan. Salah satu dokter kandungan yang membantunya.”


“Melahirkan?” tanya Fiqer dengan wajah terkejut. Dia semakin yakin kalau Vie yang di maksud itu adalah kekasihnya.


Anggukkan kepala di berikan oleh Dokter Dafa. “Aku bisa menunjukkan data tentang pasien ini, Tuan Muda.”


“Hm, tunjukkan kepadaku data tentangnya.” Fiqer segera melangkah mengikuti dokter yang menuju ke ruangan.


Setiba di sana, sebuah berkas tentang Vie ada di depan mata Fiqer. Dengan cepat dia membaca isi berkast tersebut. Tertulis di sana, setiap kunjungan Vie hanya untuk kandungannya.


“Apa tidak ada yang tahu di mana dia tinggal?” tanya Fiqer setelah membaca sekilas isi data tersebut.


Dokter Dafa menggeleng, “Dia tidak memberitahu alamatnya. Dan kami juga tidak bisa memaksa privasi orang lain. Maafkan kami Tuan Muda,” ucapnya dengan menundukkan kepala.


Fiqer menatap berkas yang ada di tangan, meski dia tidak bisa mengetahui keberadaan Vie. Dia masih bisa menemuinya di rumah sakit.


“Aku akan menunggunya di sini dan memeriksa secara langsung sambil mencarinya.” benak Fiqer.


Setelah membuktikan kalau Vie benar-benar ada di kota T. Fiqer memutuskan pergi dari rumah sakit lalu mencari tempat tinggal sementara. Dia perlu beberapa orang untuk membantunya mencari jejak Vie.


“Dia telah melahirkan, mungkin sulit untuk mengunjungi rumah sakit. Tapi, aku akan menaruh beberapa anak buahku di sini. Jika dia datang, aku akan langsung membawanya kembali.” gumam Fiqer yang masuk ke dalam mobil.


Roda empat itu segera membelah jalan, meninggalkan kawasan rumah sakit.


...●●●...


Satu minggu telah berlalu semenjak kedatangan Fiqer di kota T, dia tidak menemukan kabar tentang Vie. Hal itu membuatnya menjadi pusing hingga matanya tampak seperti panda.


“Kenapa tidak ada satu pun yang bisa menemukannya? Kota T tidak sebesar Kota S, mereka bukan orang lemah yang dia pekerjakan. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil mereka lakukan.” gumam Fiqer dengan merebahkan kepalanya di sandaran kursi.


Sudah lelah mencari keberadaan Vie, dia bahkan lupa untuk mengisi pertunya. Jika orang suruhannya tidak membawakan makanan, Fiqer sudah pasti akan seperti mayat hidup.


Helaan napas dia lakukan, sebuah minuman yang memabukkan ada di sampingnya. Fiqer meraih minuman itu lalu meneguknya dengan perlahan. Semenjak dia kehilangan Vie, minuman ini menjadi peneman untuknya. Dia bisa membayangkan kehadiran Vie di sampingnya, meski semua itu hanyalah bayangan.


“Aku akan mencarinya kemana?” guman Fiqer dengan menjatuhkan kepalanya di meja. Tidak lama rasa kantuk datang menyerang dan dia segera terlelap tidur.


...●●●...


Di desa Sgl 04, Vie benar-benar merasa di beri kasih sayang. Dia tidak perlu merasa khawatir karena semua sigap membantunya.


Apa lagi Caca, gadis muda itu segera membantu ketika Viviano menangis. Bahkan, Caca juga yang akan memandikannya dan meringankan pekerjaan Vie.


“Caca, beristirahatlah ... dari pagi kau terus berkerja, aku tidak bisa mengajimu.” ucap Vie dengan santai. dia mengaku bahwa uang tabungannya mulai menipis karena banyak keperluan yang dia butuhkan. Siapa yang menduga kalau bayi seperti ini begitu banyak mengunakan kain karena dia sering buang air kecil.


“Apa yang kakak katakan? Aku tidak mengharapkan semua itu. sudahlah, kakak hanya perlu bersantai dan bersiap karena Viano telah selesai mandi.” ucap Caca.


Vie hanya bisa tersenyum di kasur. Dia duduk sepanjang hari di sana dan menemani putranya. Tidak ada yang bisa dia lakukan, matanya buta dan malah akan menjadi beban orang lain. lebih baik dia berada di dalam kamar dan menahan diri untuk tidak berkerja.


Saat Viviano telah besar nanti, Vie akan bekerja entah sebagai apa. Yang terpenting, dia bisa memberi makan pada Putranya.

__ADS_1


“Ini kak, Viviano telah selesai mandi dan wangi.”


Vie membuka tangannya dan menyambut Viviano yang masih di dalam kain terlilit ringan ini. Senyum Vie terukir dengan apa yang ada di dekapannya.


“Kak Vie, Caca akan ke dapur untuk memasak. Jika ada sesuatu, panggil Vie saja kakak.” Pesan Caca.


Vie mengangguk dan segera memberikan asi kepada Viviano. Dia menatap ke arah jendela yang menghembuskan angin di wajahnya. “Viviano, cepatlah besar dan kita akan menjelajahi dunia luar agar kau bisa mengetahui dunia itu seperti apa.” gumam Vie.


...●●●...


Waktu pun berlalu, Viviano kini telah berusia 7 bulan. Dan Vie juga bisa dengan mudah untuk menikmati halaman depan. Dia selalu mengendong Viviano untuk sekedar menikmati pemandangan.


Untuk masalah posyandu, Caca atau Jefli yang akan membawa Viviano. Tidak heran para ibu-ibu di desa juga akan mencari-cari siapa ibu Viviano. Saat mereka tahu kalau Vie adalah Ibu kandung Viviano. Ada gunjingan serta pujian yang Vie dapat.


Pernah suatu hari, saat Viviano berusia 3 bulan. Vie membawa putranya untuk duduk di teras. Seorang Ibu-ibu yang hanya bisa di dengar oleh Vie berucap, “Tidak punya Ayah, apa yang Anda lakukan hingga mendapatkan putra setampan itu? Anda pasti menjual diri Anda kan?”


Ucapan itu sangat menyakitkan di hati Vie. Meski begitu, dia senang para Ibu-ibu ini berucap tepat di depannya. Kalau di belakangnya dia akan merasa sakit hati.


“Aku tidak menjual diri bu, Cuma tidak sengaja saja melakukan hubungan panas saat itu. hingga menghadirkan putra tampan ini.” sahut Vie.


Ibu yang memberi pertanyaan itu kepadanya segera bungkam. Lalu, Ibu-ibu yang lain segera menyerang Vie dengan umpatan mereka.


“Kau bilang melakukan hubungan panas dengan tidak sengaja. Memalukannya, wanita cantik sepertimu malah melakukan itu dan mengatakannya dengan santai, seakan tidak ada yang terjadi kepada kalian. Aku, tidak akan menuntun putriku untuk bertingkah sepertimu.”


“Benar, aku yang sebagai wanita juga ikutan malu dengan apa yang telah dia lakukan.”


“Lihat sekarang, kau melahirkan seorang anak, suatu saat nanti ... orang yang melakukan hubungan badan denganmu pasti hanya menginginkan putranya, bukan kamu!”


Vie menghela napas, dia tidka menjawab apa yang Ibu-ibu itu katakan. Sudah terlalu pusing untuknya mendengar hal seperti itu. karena tidak mendapatkan jawaban darinya, Vie mendengar suara langkah kaki yang pergi sembari mengerutuk.


“Sudah, aku malu untuk mengakuinya cantik.”


Mengingat semua itu, membuat Vie menghela napasnya. Dia tidak menduga kalau semua ini harus di hadapi dengan mental yang kuat. Vie sejujurnya ingin menyerah, tapi sang buah hati ini selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Viviano bisa duduk dengan dipangkuannya. Bayi itu juga bahkan sudah bergumam-gumam dengan bahasa bayi yang tidak dimengerti oleh Vie sendiri.


“Hm, hmm, bhuaa, Bha-ba-ba.”


Vie mendengar perkataan Bayinya, segera terteguh. Dulu, saat pertama kali Bolmis menendang perutnya. Vie saat itu hampir saja mengumpat untuk menegur anaknya. Dia terkejut dengan tendangan dadakkan itu, di tambah hatinya menjadi senang dengan apa yang dia dapati.


Sekarang, Bayinya mulai bisa berbicara. Tangan bayi itu juga mengenggam jarinya dan bahkan mengecup-ngecup ujung jari di dalam mulutnya. “Ada apa Viano? Apa kau ingin mengatakan sesuatu hm? Anak ibu sudah pandai ya, sudah pintar duduk, berbicara, nanti bisa jalan juga yang sayang!”


“Hm, Ba-ba-ba....”


Vie tertawa renyah mendengar sahutan Viviano. Putranya baru saja menyahut perkataannya. Suara imut itu tidak bisa lepas dari kepala Vie.


Dengan hati-hati, Vie mengarahkan Viviano ke udara dan memberi ciuman di pipu Putranya dan memeluk bayi imut ini.


Karena apa yang dia lakukan, Viviano tertawa dan mengerak-gerakkan kakinya karena rasa bahagia. tidak hanya itu, ada suara tertawa kecil yang Viviano lakukan.


“Hei, apa Putra ibu senang dengan apa yang Ibu lakukan hm? Hahah, kemarilah sayang, peluk ibumu dan nanti, jadilah pria yang baik dan cintai wanita yang tulus mencintaimu. Ibu akan mendukung siapapun yang kau inginkan, asal semua itu tidak merugikan dirimu.


“Hm, tidak ... Ibu tidak melarang kau ingin menikahi gadis kaya atau gadis sederhana. Yang terpenting, dia menghargai dirimu, Ibumu dan juga menghargai orang tuanya. Itu yang paling penting dalam hidup ini.” jelas Vie sambil bangun dari tempat duduk. Dia mengambil tongkatnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Untungnya, Vie menghapal denah rumah yang terdapat Indekos ini. dia bisa dengan mudah berjalan tanpa perlu di tuntun oleh siapapun. Sambil mengendong Viviano, Vie melangkah masuk melalui pintu dapur.


Saat perjalannya yang ingin menuju ke kamar, Vie mendengar langkah kaki seseorang yang berlawanan arah darinya.

__ADS_1


“Vie, apa kau ingin ke kamarmu?”


Vie mengenali suara itu, dia segera mengangguk kepala. “Hei Mas Jefli. Iya, aku ingin ke kamar dan membawa Viviano untuk beristirahat.” Sahutnya.


“Kalau begitu, Vivano kemarilah bersama paman!”


Vie merasa Viviano tidak merespon sama sekali. Bahkan tidak ada balasan dari apa yang Jefli katakan.


“Ehem, kemarikan tanganmu Vie, aku akan menuntun kalian ke kamar.” ucap Jefli.


Uluran tangan segera Vie berikan. Dia membiarkan Jefli mengenggam tangannya. Namun, saat beberapa langkah mereka lakukan. Viviano yang ada digendongannya segera memukul pelan tangan Jefli.


Vie merasakan pukulan tangan itu. dia tahu kalau Viviano tidak menyukai Jefli. Tingkah Viviano ini sudah muncul dari kecil, saat dirinya berusia 1 bulan, Xexin dan Jefli ingin bergantian menjaga Viviano. Namun, putranya tidak mau di sentuh oleh siapapun, kecuali Caca dan Vie sendiri.


Dan tidak hanya di sana, saat Viviano yang mulai melihat sekitar. Dia semakin tidak ingin ibunya di dekati siapapun. Hanya Caca yang selalu ada di samping Vie.


“Viano, tidak boleh begitu!” tegur Vie karena merasa tidak enak. Dia masih merasakan kalau Viviano memukuli tangan Jefli.


Semua itu terjadi hingga Jefli melepaskan tangannya saat mereka tiba di dalam kamar. Viviano yang ada di gendongan Vie segera memeluk tubuhnya. “Baba!”


Ucapan itu membuat Vie tersenyum tipis, tingkah putranya sangat menurun dari sang Ayah. “Maaf Mas, Viviano tampaknya tidak biasa menerima semua ini. tapi tenang saja, besar nanti dia akan mengerti dan menghargai Mas.”


“Tidak apa Vie, lagi pula jika dia tidak melarangku ... aku mungkin akan memutuskan untuk mendekatimu dan jatuh cinta kepadamu. Tapi, syukurlah ada dia, jadi kau tidak perlu takut kalau orang lain jatuh cinta kepadamu.”


“Mungkin, Viano bertingkah seperti ini, karena dia tahu siapa ayahnya dan siapa yang bukan. Viviano, pertahankan apa yang kau lakukan. Jika tidak, paman akan mengambil ibumu dari ayahmu itu!”


Vie terdiam mendengar apa yang Jefli katakan. Dia di serang perkataan seperti ini. seperti sebelumnya, Xexin pun melakukan hal yang sama. saat ini, pria kuliahan itu sedang menyelesaikan studinya karena tidak lama lagi, pria itu akan mendapatkan gelarnya.


Telinga Vie mendengar suara langkah kaki yang pergi dengan pintu di tutup. Vie segera mendudukkan dirinya dan menuntun Viviano untuk berbaring di kasur.


“Viano, apa kau sengaja melakukannya? Ibu sebenarnya tidak mempermasalah apa yang kau lakukan. Tapi, jangan terang-terangan begitu. Ibu kan jadi malu,” ucap Vie sembari mengusap-usap hidung anaknya.


“Baba, ba, bwa!”


Kepala Vie menggeleng, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Percuma saja menegur bayi kecil ini. “Dia tidak mengerti ucapanmu Vie!” gumam Vie.


Setelah berkata seperti itu, Vie memutuskan untuk berbaring di samping putranya. Membiarkan Viviano bermain dengan mengusap-usap wajahnya.


Di pikir-pikir, Vie telah hidup bahagia tanpa merindukan orang yang dia cintai. Apa lagi sekarang dia tidak lagi memikirkan pria yang sangat dia cintai. Meski, hatinya masih memberikan rasa cinta yang kuat untuk pria itu. namun, kini dia hidup bahagia tanpa ada dirinya.


“Benar, tanpa dirinya aku bisa bahagia. Vie, nikmati hidupmu dan hidup bahagia bersama putramu!” ucap Vie dengan memiringkan tubuhnya untuk menatap Viviano. Dia merasa putranya itu kini ingin memakan hidungnya.


“Hei Viano, apa kau akan memakan semua yang ada di depan mulutmu hm?” tanya Vie sembari mengusap-usap wajah putranya. Dia tahu kalau pengihatannya tidak jelas. Namun, dia yakin putranya saat ini tengah tersenyum.


...●●●...


Di kediaman Maherqi, Otavi tengah bersiap untuk mengunjungi tempat tinggal keluarganya dulu. Dia juga mendapat kenalan di sana untuk membantu Kelvi membangun proyek baru.


“Sayang sudah siap?” tanya Kelvi dengan membawa koper di tangan.


Otavi mengangguk, dia mengendong putrinya yang baru saja lahir. Putrinya bernama Inoel Keyla Michael, memiliki mata cantik yang mirip seperti Ayahnya. Seluruh keluarga senang dengan hal itu.


Tidak hanya Otavi, Tiasa juga mendapatkan buah hatinya bersamaan dengan Nala. Ketiganya melahirkan cucu perempuan untuk keluarga Michael.


Keluarga Maherqi memiliki keturunan perempuan. Jika, para cucu mereka menurun dari pihak keluarga Inoel atau Ina, maka mereka akan mendapatkan keturunan perempuan. Kecuali Maherqi, mereka dipenuhi anak laki-laki hingga yang menjadi anak perempuan hanya Vie saja.


“Ayo, kita akan ke desa Sgl 04, Otavi!” ucap Kelvi dengan mengenggam tangan istrinya. Otavi mengangguk dan segera mengikuti langkah Kelvi.

__ADS_1


__ADS_2