
Seorang pria menjatuhkan gelas dari tangannya. Suara terjatuh dan pecahannya begitu tersebar di lantai. Matanya hanya melirik kearah pecahan kaca sesaat. Lalu kembali menatap ke depan.
Pria itu, adalah Fiqer Michael. Wajahnya begitu mengerikan dengan rambut yang bergitu berantakkan. Matanya memerah dengan aroma minuman keras di sekitar tubuhnya. Iya, Fiqer sudah seperti orang gila. Apa lagi semenjak pertemuannya saat itu.
Fiqer tidak tahu bahwa ada keberuntungan yang baik padanya.Dia melihat seorang wanita di tuntun oleh gadis lain sambil mengendong seorang anak. Hal pertama yang Fiqer pikirkan, anak itu adalah anakku.
Meski semua yang ada dipikirannya itu benar, Fiqer malah tidak bisa menemui wanita itu. apa lagi, taman kecil di sana khusus untuk anak-anak, jadi tidak mungkin dia masuk tanpa ada alasan.
Hanya memperhatikan dan terus memperhatikan. Sampai akhirnya, Fiqer mendapatkan balasan. Dia melihat gadis yang dia cintai melangkah kepadanya dengan sedikit berbeda.
“Apa yang terjadi kepada Vie?” benaknya.
Saat semua perhatian telah tertuju kepada orang yang di cintai. Tidak akan pernah luput dari semua masalah. Fiqer tidak perlu bertanya, kenapa kenapa Vie berjalan selambat itu. wanita yang dia cintai telah buta, dan dia tahu alasannya.
“Kebutaanmu karena melahirkan anak kita.” Benak Fiqer.
Berbincang dan ingin memelukmu adalah hal yang paling utama di hati. Tapi, setelah semua yang dilakukan. Hal aneh pun terjadi,Wanita yang dia cintai mengatakan kepadanya untuk pergi. pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali padanya.
Fiqer tidak bisa melawan atau memikirkan hal yang lain. dia mematung di tempat hingga kehilangan Vie. Rasa terpuruk dan kehilangan memenuhi hati. Inilah perasaan yang sekali lagi datang. Fiqer segera kembali ke hotel dengan membaringkan tubuhnya.
Dan di sinilah dia, setelah pertemuan yang membuatnya menderita. Fiqer semakin tidak membaik.
“Vie, kenapa kau tidak mengijinkanku untuk membawamu kembali?” gumam Fiqer dengan rasa beersalahnya.
Bersalah, selama ini kenapa dia tidak berpikir dengan bijak dan memutuskan dengan tepat. Kenapa harus berpikir singkat hingga akhirnya kehilangan semua ini.
Keluarga, Ibu yang dia cintai. Meninggal karena di racuni oleh istri Ayahnya yang lain. kecemburuan yang tinggi membuat mereka haus akan perhatian hingga kehilangan kendali dan memutuskan untuk saling membunuh.
Lalu, orang yang di cintai. Wanita yang tanpa sengaja tidur bersama dan memutuskan untuk saling berkenalan hingga kedekatan yang terjadi. Memiliki malam panas yang memutuskan untuk berhubungan layaknya suami istri. Tapi, wanita itu pergi karena kesalahan Fiqer sendiri.
“Huh...” Fiqer kembali menghela napas dengan rasa lelah. Dia menatap langit-langit kamarnya. “Aku harus bagaimana? Apa aku harus memaksanya. Tidak! ... jika aku melakukan itu, aku akan semakin kehilangannya.”
...●●●...
Seharian berada di dalam kamar tanpa keluar, perasaan lapar mulai menghantuinya. Fiqer memutuskan untuk keluar dengan bersiap terlebih dahulu dan merapikan dirinya. Dia tidak ingin, orang lain apa lagi keluarga tahu keadaannya saat ini.
Fiqer keluar dari kamar menuju ke sebuah lift dan segera turun dari lantai delapan menuju lantai satu. Dia keluar saat lift terbuka dan melangkah menuju ke pusat perbelanjaan yang ada.
Langkahnya tenang meski tidak setenang perasaannya. Matanya melihat ke arah seseorang yang tenagh mengendong anak kecil. Tanpa berpikir panjang, Fiqer melangkah mendekatinya.
“Hm? Ada apa Tuan?”
Ucapan orang itu dengan mengarahkan badannya menghadap ke sumber suara. Fiqer sebenarnya tidak sengaja tersandung hingga mengenggam lengan orang yang dia cintai, Vie.
“T-,” Fiqer segera berhenti berucap. Dia sadar kalau Vie tahu bahwa itu adalah dirinya, dia akan segera di usir.
“Tuan? Ada apa?”
Fiqer menarik lengannya dan menulis sebuah kalimat di telapak tangan itu. ‘Maaf, aku telah menabrakmu’ itu yang dia tulis dengan sedikit gemetar. Berusaha agar Vie tidak mengenalinya.
“Oh begitu, apa kau bisu? Ah, maafkan aku ... aku hanya ingin memastikan saja.”
Fiqer tersenyum mendengar perkataan Wanita yang dia cintai. Apa lagi, melihat seorang anak laki-laki yang menatap padanya. Matanya terkejut ketika bertemu dengan mata anak laki-laki ini.
__ADS_1
Satu hal yang ada di kepala Fiqer, anak laki-laki ini adalah putranya. Dialah ayah kandung dari anak ini.
“Hm... mas?!”
Fiqer segera tersadar, dia memutuskan untuk menulis di tangan yang masih tergenggam. ‘Iya, aku bisu.’
“Oh... kita memiliki banyak kekurangan ya. Tapi di terima saja, karena kekurangan itu memiliki nilainya tersendiri.”
Rasa tenang mendengar ucapan yang dikatakan oleh Vie. Membuat Fiqer seperti mendapatkan vitamin. Dia tidak ingin semua ini berakhir, apa lagi melihat seorang putra yang merupakan anaknya sendiri.
‘bolehkah aku mengendong putramu?’ Dia bertanya dengan menulis setiap kalimat di tangan wanita yang dia cintai.
“Boleh, sebentar ya...”
Fiqer melihat bagaimana Vie melakukan cara untuk mengeluarkan Anak Laki-laki itu dari gendongannya. Lalu kemudian, Anak itu di serahkan kepadanya dengan begitu tenang.
“Aku percaya padamu karena firasatku baik. Semoga kau tidak berbuat yang jahat padaku.”
Fiqer tersenyum dan mengetuk jariknya dua kali di punggung tangan Vie. Itu sebagai isyarat kalau dia setuju dan segera menyambut anak laki-laki itu.
“Kalau boleh tahu, ini mas atau mbak ya?”
Fiqer tersenyum mendengar suara orang yang dia cintai. Dia segera menulis sebuah kalimat di tangan wanita ini. ‘aku seorang pria.’
“Oh begitu... haha, aku tidak terlalu memikirkannya. Hm, namanya siapa?”
Perasaan lucu dan imut mengetar di hati. Inilah yang Fiqer inginkan. Vie masih sama seperti dulu. Bersikap imut dan tenang di depan semua orang merupakan hal yang sudah mencari ciri khasnya.
‘Qer.’ Fiqer menulis kalimat itu dengan mengambil nama akhir dari panggilannya. Dia ingin melihat, apakah Vie dengan cepat menyadari semua itu.
Fiqer sekali lagi mengangguk dengan tersenyum. Dia merasa sedang melakukan sebuah permainan dengan orang yang dia cintai. ‘iya, salam kenal.’
“Oh ya, nama putraku Viviano.”
Mata Fiqer segera melirik ke arah seorang anak laki-laki yang kini menatapnya. Mata putranya itu sangat mirip dengannya bahkan ekspresinya. Hanya, senyum anak ini mirip ibunya.
“Papah!” pekik Viviano.
Fiqer terkejut mendengar hal itu. seperti baru saja mendengar anaknya mengatakan Papah. Meski, memang kenyataannya bahwa Fiqer adalah Ayah kandung Viviano.
“Eh? Viano, apa yang kau katakan hm? Dia paman Qer. Jangan mengatakan itu pada orang baru.”
Tidak bisa menahan rasa kagumnya. Vie memang sangat pantas menjadi istrinya. Dia tidak memandang apapun, baginya Vie berada di sampingnya sudah cukup.
‘Tidak apa-apa, biarkan saja Viviano memanggilku seperti itu. hm, apa dia rindu ayahnya?’ sengaja, Fiqer sengaja melakukannnya. Dia tidak ingin Putranya ini memanggil orang lain Ayah.
Fiqer berharap, panggilan Papah ini hanya kepadanya dan tidak ada yang lain. “Haha, Putraku baru pertama kali memanggil orang lain ayah. Apa lagi, dia mengatakan itu kepada orang asing. Padahal, Ada seorang laki-laki yang mendekatinya, tidak pernah satupun dia mengatakan kata papah.” Kata Vie.
Rasa senang segera memuncak di dada Fiqer. Inilah yang dia inginkan, dia ingin takdir baik selalu padanya dan tidak akan pernah pergi. siapa yang tidak senang mendengar hal itu. putranya seakan tahu siapa ayahnya dan siapa yang bukan.
Perlahan, Fiqer menurunkan wajahnya dan menatap Viviano yang menepuk-nepuk pipinya. “Papah!” tanyanya sekali lagi.
Fiqer merasa seperti di beri semburan cinta yang luar biasa. Ini hasil cintanya, dia mendapatkan seorang putra yang sungguh imut dan luar biasa. Tidak bisa menahan kegembiraan ini, Fiqer mencium pipi Viviano hingga membuatnya tertawa.
__ADS_1
“Tuan? Apa yang Anda lakukan kepada putraku?” tanya Vie.
Fiqer segera menulis sebuah kalimat di tangan wanita yang dia cintai. Tangan itu terletak di atas pahanya. ‘Aku menciumnya, dia sangat imut.’
“Oh benarkah? Apa Tuan tahu seperti apa wajahnya? Semua orang bilang, kalau dia memiliki senyum sepertiku, tapi tidak dengan tatapan dan wajahnya.” Kata Vie lagi.
Dengan perlahan Fiqer menulis kalimat di tangan Vie. Dia menatap wajah putranya yang tampaknya tidak ingin berpaling. Lalu, dia melirik ke arah Vie yang masih cantik meski tidak lagi bisa melihat.
‘Benar, senyumnya imut. Dia pasti mirip denganmu. Dan tatapannya serta wajahnya, aku rasa tidak juga. Ada kemiripan kok.’
“Kemiripan?” wajah Vie tampak penasaran dengan tulisannya.
‘Iya, tapi aku merasa kurang yakin. Apa kau memikirkan, siapa yang mirip dengannya.’ Fiqer memancing Vie untuk mengungkapkan perasaannnya. Dia ingin tahu apa yang membuat Vie tidak ingin kembali padanya.
“Mungkin itu ayah kandungnya. Hanya orang yang berbibit unggul itu saja. Aku tidak melakukan hubungan lain selain dirinya. Haha, aku malah menceritakan aib ku sendiri.”
Fiqer terdiam mendengar itu. dia mengerti apa yang Vie katakan. Siapa yang ingin menceritakan masalahnya sendiri kepada orang asing. Tapi, Fiqer tetap menuntun orang yang dia cintai agar berbicara kepadanya.
“Hm... sebenarnya, aku sangat mencintai kekasihku. Orang yang telah membuatku jatuh cinta yang kedua kalinya. Tapi, aku kecewa, aku kecewa kepadanya yang mengambil keputusan tanpa memikirkan diriku.”
“Aku bisa menerima jika sebuah keputusan itu berdasarkan perkataan ibunya. Tapi, seharusnya dia tahu, bahwa dia pernah berjanji padaku. Berjanji akan menjadikanku orang terpenting dalam hidupnya.”
“Huh, dia tetap meninggalkanku dan memilih orang baru yang hanya mengandalkan orang dalam untuk bersamanya. Sekarang, aku yakin dia pasti bahagia. bahagia dengan orang tersebut.” Penjelasan Vie.
Fiqer tersenyum menatap putranya. Dia tidak ingin menunjukkan hati yang sakit mendengar perkataan Vie. Benar, dia terlalu bodoh saat itu. kenapa dia memilih wanita baru dari pada orang yang dia cintai.
‘Dia pasti akan menderita dengan apa yang telah dia lakukan.’ Fiqer menulis itu dengan tenang. Dia membenci dirinya sendiri.
Kepala Vie menggeleng. “Tidak, aku tidak ingin dia menderita. Aku mencintainya dan tidak berharap hal itu terjadi. Kemarin, dia menemuiku dan memintaku untuk kembali.”
“Saat itu, aku membuatnya pergi agar tidak pernah datang lagi. kau tahu alasannya Fiqer!” ucap Vie secara tiba-tiba.
Fiqer terteguh mendengar hal itu. dia segera menatap Vie dengan pandangan terkejutnya. “Ba-Bagaimana kau tahu itu?” kaget Fiqer.
Matanya segera melihat Vie meraih Viviano dan mengendongnya. Fiqer tidak sempat menahan Viviano. Anak kecil itu segera menangis di dalam gendongan Ibunya.
“Vie, biarkan dia bersamaku!” pinta Fiqer dengan wajah memohon. Dia baru saja menikmati kehangatan ini.
“Aku sudah mengatakan kepadamu untuk pergi. tapi kau tidak mendengarkanku. Lalu, kau bertanya bagaimana aku bisa tahu bukan? Aku mengenalmu Fiqer. Sentuhan tanganmu itu tidak akan ku lupakan.” Vie segera melangkah pergi meninggalkan Fiqer.
Melihat hal itu membuat Fiqer ingin menyusulnya. Tapi, seorang pria segera menghentikan Fiqer.
“Berhentilah bung! Kau sudah membuatnya mengusirmu.” Ucap seorang pria yang memiliki wajah datar dan dingin. Tidak beda jauh dengan sikapnya sendiri.
“Siapa kau!” kaget Fiqer. Baru kali ini dia melihat seorang pria yang menghentikannya. Apa lagi, dia merasa pria ini dekat dengan Vie.
“Aku Xexin. Orang yang menjaga Vie. Dengar! Kau orang yang baik tapi sudah tidak lagi baik sekarang. karena Vie tidak ingin kau bertemu dengannya. Jadi, menjauhlah dari hidupnya.” ucap Xexin.
Fiqer mengerutkan alis. “Kau, siapa kau yang berhak mengatakan itu. aku adalah ayah kandungnya!” pekik Fiqer.
“Kau ayahnya? Lalu kenapa di saat Dia hamil dan menderita. Kau tidak ada di sampingnya? Apa kau pernah memikirkan bagaimana kehidupannya saat mengandung putramu?” tanya Xexin dengna bertubi-tubi.
Fiqer bungkam, tidak bisa menjawab apa pun. Dia menundukkan kepala karena malu dengan semua itu.
__ADS_1
“Asal kau tahu, Dia rela melahirkan anak yang dia dapat dari pria yang di cintainya. Sedangkan kau, merasa di rugikan? Sadarlah, dia yang paling menderita, Bukan dirimu!” jelas Xexin.