Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(37) Kecurigaan


__ADS_3

"Maaf merepotkan kalian selama ini," ucap Vie. Dia menggendong Viano dan para pengawal membawa tasnya.


Xexin, Jefli dan Caca hanya terdiam. Mereka masih memikirkan semua ini. Sulit di percaya oleh ketiganya. Wanita yang tampak seperti biasa saja, ternyata seorang penerus utama keluarga ternama.


"Ayo pulang, Vie!" ajak sang Ibu dengan menuntun Vie.


Vie mengangguk dan segera mengikuti langkah sang Ibu. Keputusannya ikut pulang karena dia tidak ingin melibatkan keluarga Caca.


Apa lagi, para warga sudah mengetahui siapa dia. Bahkan, orang yang menghina Vie segera bungkam karena mengetahui siapa Vie sebenarnya.


Empat mobil cukup membuktikan siapa Vie. Para warga dan wanita-wanita yang mencacinya seketika tertampar akan fakta kalau Vie bukan wanita sembarang.


Apa lagi, Keluarga Vie malah memberikan beberapa uang sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga putri mereka.


Kepergian empat mobil itu membuat Caca kembali sadar. "Tunggu, Kak Vie!" pekik Caca.


Mendengar pekikkannya, Jefli dan Xexin segera tersadar.


"Astaga, apa yang terjadi?" gumam Jefli kepada dirinya sendiri. Sedangkan Xexin memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Setelah mengetahui semua ini. Yang ada di benak mereka masing-masing hanyalah, 'Vie merupakan penerus keluarga Maherqi' tidak ada pikiran lain selain itu.


...●●●...


Di Kota T menuju ke kota S. Vie diam menatap putranya yang tertidur. pandangannya menatap ke jalanan sambil terdiam.


"Vie, bisakah kau menceritakan semuanya kepafa ibu hm? Katakan kepada ibu, apa yang menyebabkanmu menyembunyikan semua ini?" ucap sang Ibu sambil menatap ke arahnya.


Saat ini, di dalam satu mobil. Semua pandangan hanya tertuju kepada Vie.


Helaan napas berhembus, Vie masih fokus menatap jalan raya tanpa menoleh. "Karena aku tidak ingin menyebabkan dua keluarga besar bertengkar."


"Kalau kau tahu bahwa keluarga akan bertengkar, kenapa kau tidak mengatakan hak yang sebenarnya?" kali ini sang Ayah yang bertanya.


Vie terdiam sesaat dan kemudian menjawab. "Apa pun itu, aku punya alasan tersendiri," sahutnya.


Semua diam seketika dengan jawaban itu. Bagaimana pun, seseorang punya tanggung jawabnya sendiri dengan apa yang dia lakukan. Dan itulah yang di alami oleh Vie sendirian.


Tidak lama, Mereka tiba di Kota S dan langsung menuju ke kediaman keluarga Maherqi.


Mobil berhenti di depan halaman dan seorang pelayan segera membukakan pintu.


Vie keluar dari mobil sambil mengendong Viviano yang tertidur. Dia tampak engan kembali namun pada akhirnya, dia tidak bisa menghalau takdir yang sudah ditulis untuknya.

__ADS_1


"Ayo masuk," ajak sang ibu.


Vie melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan para pelayan yang menyambut kedatangannya.


Siapa yang tidak mengenal Vie Maherqi. Semua pelayan bahkan menunduk ketiks melihatnya. Seakan mereka merasakan aura mendominadi yang membuat mereka tidak tenang jika tidak memberi rasa hormat.


Langkah kaki Vie berhenti di ruang tamu. Seluruh keluarga hadir termasuk keluarga Michael. Vie tertegun melihat hal itu.


"Kenapa semuanya di sini?" gumam Vie.


Kakek Guvan menatap Vie dengan wajah serius. Ruang tamu itu sunyi seperti tidak ada kehidulan di sana. Hingga Vie membuka suara.


"Aku pulang, Kakek."


"Kau ingat pulang? Ada hal utama yang ingin kakek tanyakan. Dia... putramu?" tanya Kakek Guvan menunjuk seorang balita berusia 2 tahun di gendongan Vie.


Vie mengangguk cepat, "benar Kakek... ini putraku, Viviano."


Helaan napas kakek Guvan membuat semua terdiam dan semakin sunyi.


Jangan tanya apa yang terjadi, karena semua saat ini sudah mengetahui semuanya. Hal yang paling membuat keluarga malu adalah hal seperti ini.


Seorang wanita yang hamil di luar nikah dan membawa seorang putra yang merupakan anaknya sendir. Sudah di tetapkan bahwa wanita itu adalah aib keluarga.


"Tidak ada yang mengijinkanmu untuk berbicara." potong kakek Guvan dengan wajah serius dan nada dingin yang keluar dari mulutnya.


Vie mengangguk dan segera menutup mulut. Sang Kakek kembali bertanya. "Apa Ayahnya, Fiqer?"


Kepala Vie menggeleng. Keluarga Michael tertegun melihat hal itu. "Kenapa bukan cucuku, Nak Vie?" tanya kakek Roger.


Vie dengan tenang menjawab, "Tidak mungkin Fiqer yang melakukannya Kakek."


"Tapi wajahnya, Itu adalah wajah putraku!" ucap Ayah Fintro yang tidak lain adalah Ayah Fiqer.


Vie terdiam, dia berpikir akan lebih baik berbohong tapi takdir sungguh berbeda dari harapannya.


"Nak Vie, kami akan bertanggung jawab atas anak ini dan kami...."


"Tidak, tidak perlu." potong Vie cepat sambil menahan diri untuk tidak menaikkan suaranya.


Keluarga Michael tertegun mendengar apa yang Vie katakan. "Lalu, apa yang kau inginkan? Kau tidak tahu saja Nak Vie, Putraku saat ini hmph!"


Vie mengerutkan alis melihat Kakek Roger yang merupakan kepala keluarga, sedang menutup mulut putranya dengan tangan.

__ADS_1


"Putra anda? Maksudnya Fiqer? Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Vie. Rasa kepekaan sudah mendarah daging untuk Vie sendiri.


Seluruh keluarga bungkam setelah mendengar perkataannya. Vie semakin curiga dan menatap ke arah Nala Bi.


"Katakan Nala, aku tahu kejujuranmu. Apa yang terjadi kepada Fiqer!" ucap Vie dengan sedikit tekanan.


Nala Bi menunduk dengan mulut tertutup rapat. Tidak ada keberanian untuk berbicara. Hal itu membuat Vie semakin curiga.


Saat seperti ini, Vie tiba-tiba teringat dengan hal-hal yang dia alami saat operasi mata.


Saat itu, dia melakukan pemeriksaan terakhir untuk mengetahui keadaan matanya. Saat itu, dia menunggu dokter sambil berbincang dengan perawat.


"Boleh aku bertanya kepadamu?" tanya Vie dengan tenang sambil menatap ke arah perawat


Perawat mengangguk dengan ramah. "Iya?"


"Kenapa yang melakukan pemeriksaan mata hanya aku saja? Bukankah para penerima donor mata banyak?" tanya Vie.


Perawat itu segera bungkam sesaat sebelum menjawab dengan tenang. "Mereka sudah melakukan,"


"Pemeriksaan terlebih dahulu?"potog Vie. Dia sudah peka jawaban perawat dan Dokter. "Katakan saja sebenarnya, apa yang terjadi."


"Uhm, maaf Nona Vie. Kami tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Jadi, maaf." ucap Perawat pada akhirnya.


Vie mengangguk paham dengan ucapan perawat dan memutuskan untuk menyimpan rahasia ini.


Sekarang kepingan rahasia memuncak di benak Vie yang membuatnya mendekati sang Ibu. "Ibu jaga Viviano, apa pun yang terjadi. Tolong jaga dia dan beri cinta serta kasih sayang."


Setelah itu, Vie berlari keluar dari Vila Maherqi. Keluarga yang melihat hal itu segera terkejut.


"Hentikan Vie!" teriak Kakek Roger.


Namun, Ayah Fintro menolak ucapan Ayahnya, Kakek Roger. "Biarkan saja dia pergi, agar dia tahu apa yang terjadi kepada Fiqer."


Ayah Musi mengerutkan alis. "Apa kau ingin menyalahkan kalau butanya anakmu karena anakku?"


Ayah Fintro menggeleng, "Tidak... bukan itu yang ku maksud. Aku ingin Vie dan Fiqer saling mengerti satu dengan yang lain. Mereka saling berkorban."


Hanya ada anggukkan dan pengertian yang mereka rasakan. Semua tahu kisah cinta mereka, sekarang biarlah takdir membantu kebahagiaan mereka.


Deringan ponsel dengan suara panggilan masuk membuat Otavi segera mengangkat ponselnya. Itu adalah pangilan pelayan dari kediaman utama.


"Halo?"

__ADS_1


"Nyonya Otavi, tolong... Tolong Tuan Muda Fiqer!" pekik Pelayan dari balik panggilan.


__ADS_2