
"Aku tidak bisa," ucap Vie.
Nyonya Violet dan Nyonya Zisa terteguh mendengarnya. Hingga Nyonya Violet mendekat dan mencengkram pakaian Vie.
"Kau menolak tawaran kami? Apa alasanmu?" tanyanya.
Vie melepaskan cengkraman orang yang memang dari awal tampak tidak senang padanya. Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan tenang.
"Aku melakukan semua ini demi keadilan dan kejujuran. Jika aku berkerja sama dengan kalian, aku sama saja bertindak curang." jelas Vie.
Nyonya Violet memejamkan matanya dengan perasaan kesal. Dia menatap tajam pada Vie. "Aku katakan kepadamu, jangan bertindak seakan kau yang paling istimewa di sini. Aku akan pastikan, kau pergi dengan wajah menunduk!" ancamnya.
Vie tersenyum, "Aku menunggu hal itu. Oh ya, aku baru sadar kalau para Nyonya Michael bersikap seperti ini. Bersikap seperti anak-anak yang takut hartanya habis." cibirnya.
Nyonya Zisa tidak tinggal diam, dia menunjuk Vie dengan tatapan yang sama tajamnya seperti Nyonya Violet.
"Jangan berharap kau menginjakkan kakimu di kediaman Michael. Aku akan mengusirmu dari sini, ingat itu!" ucapnya.
Vie lagi-lagi tersenyum. Dia mengangguk dan membiarkan para wanita itu pergi dari hadapannya.
Suara pintu dibanting membuat Vie terkejut hingga tubuhnya tersentak. Dia tidak percaya akan bertemu Nyonya Michael yang bersifat seperti ini.
"Apa seluruh menantu Michael bersifat seperti mereka? Aku tidak ingin di suap agar bisa mendapatkan seluruh harta. Meski, aku memang pencinta kekayaan. Tidak, itu hanya alasanku untuk menghindari masalah percintaa saat itu."
Vie melangkah keluar ruangan, dia mendapati seluruh mata menatap tajam padanya. Hanya Otavi, Tiasa dan Nala yang tersenyum melihat dia.
...●●●...
Setelah kejadian itu, sudah tiga minggu mereka menghabiskan waktu untuk bersekolah Calon Istri ini.
Ada enam orang yang di keluarkan karena poin mereka turun secara drastis. Entah apa sebabnya, yang pasti ke enam wanita itu pulang dengan uang sebagai hadiahnya.
Sore ini, Vie menghabiskan waktu bersantai sembari menatap indahnya kota S. Dia bersandar di dada kekasihnya, yang tidak lain adalah Fiqer.
Tidak ada lagi kebohongan dalam hubungan mereka. Arabi yang mengincar Fiqer pun memutuskan untuk menjauh dan mencari target yang lain.
Kini, tidak ada saingan Vie untuk mendapatkan Fiqer. Membosankan, itu lah yang Vie rasakan. Dia bosan karena saingannya tidak ada.
"Hei, jangan bengong sayang." ucap Fiqer dengan mencium punggung Vie yang duduk di depannya.
Vie menghela napas mendengar apa yang Fiqer katakan. "Aku tidak bengong hanya sedang berpikir saja."
Fiqer melesatkan kepalanya untuk bersandar di bahu Vie. "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku bingung, kenapa aku tidak di keluarkan? Padahal poinku hanya 200." ucap Vie.
Fiqer tersenyum mendengar hal itu. Dia mengusap-usap perut Vie di balik baju kekasihnya. "Siapa bilang poinmu 200? Poin mu sekarang sudah mencapai 5000."
Mata Vie membelak mendengar perkataan Fiqer. Dia menahan tangan kekasihnya yang mengusap-usap itu. Badan Vie menghadap ke arah Fiqer.
"Apa yang 5000 poin? Bukankah itu terlalu banyak?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Fiqer tersenyum melihat Vie seperti ini. Dia menuntun kekasihnya untuk duduk berhadap padanya.
Posisi mereka sangat dekat hingga Vie menahan Fiqer agar tidak mendekatkannya.
Melihat Vie yang ingin menjauh, Fiqer menuntun Vie dengan menarik pinggang ramping yang selalu di sentuh setiap malam olehnya.
Benar, Fiqer dan Vie melakukan hubungan terlarang yang tidak ada orang lain tahu selain mereka.
"Jangan bertindak seperti gadis polos, Vie. Aku sudah memilikimu sepenuhnya. Cinta, hati, sayang dan tubuhmu. Aku sudah mengurungnya di dalam hatiku!" bisik Fiqer dengan penuh penekanan.
Mendengar hal itu membuat Vie memerah seketika. Hatinya benar-benar di buat berdegup kencang hingga Vie memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya di dada Fiqer.
"Yosh! Yosh! Calon Istriku bisa malu juga." ucap Fiqer sembari mengusap rambut Vie.
"Hm, akan ku jelaskan kenapa poinmu tidak turun dan malah naik. Pertama, Karena Kakekku memberikan poin senilai 200 setiap harinya padamu."
"Kedua, karena Ibuku juga memberikan hal yang sama dan ketiga karena aku sudah memilihmu. jadi, poinmu tidak akan turun, dia akan tetap di posisinya." jelas Fiqer.
Mendengar hal itu, membuat Vie terdiam sesaat. "Kenapa Kakek dan Ibumu, memberikan poin penuh padaku?" tanyanya sambil menengelamkan kepalanya.
"Karena kami menyukaimu!" sahut Fiqer.
Vie terdiam seketika. Dia akhirnya mengerti kenapa Nyonya Zisa dan Nyonya Violet memintanya untuk berkerja sama. Semua ini karena dia telah di pilih tanpa syarat.
Lalu, jika dia berhasil menikah dengan Fiqer. Seluruh kekayaan keluarga Michael akan jatuh di tangan Fiqer dan sebagiannya akan menjadi milik Vie.
"Seperti itu ternyata. Tapi sayang, yang ku pikirkan sekarang adalah cintaku." benak Vie.
__ADS_1
Fiqer memeluk Vie dengan tenang. Malam yang tiba itu menjadi saksi kedekatan mereka.
"Vie!" seru Fiqer.
"Hm?"
"Boleh aku melakukannya lagi malam ini?"
Vie semakin menengelamkan matanya mendengar perkataan Fiqer. "Lakukanlah, tapi ingat. Jangan sampai aku hamil!" ucap Vie.
Fiqer mengangguk dan segera bangun menuju ke kamar mereka. Tidak ada lagi kamar bagi Vie. Dia akan tidur di kamar Fiqer dan melalui malam panas yang benar-benar melelahkan.
Semua orang tahu hubungan mereka tapi tidak dengan masalah ranjang panas itu. Apa lagi, jadwal yang di buat sedikit berantakkan karena kurangnya para wanita.
...●●●...
Pagi harinya, Vie bangun tanpa ada Fiqer di dekatnya. "Tumben? Biasanya dia akan selalu menempel padaku." gumam Vie.
Seluruh tubuhnya kelelahan karena digempur tadi malam.Meski begitu, tubuhnya bersih bahkan rambutnya masih setengah basah.
"Dia benar-benar merawatku. Siapa yang tidak meninginkannya menjadi suamimu. Fiqer, ku harap kau bisa memenuhi janjimu." benak Vie.
Setelah berpakaian rapi, Vie memutuskan untuk keluar. Jejak tanda-tanda cinta itu tidak lagi terlihat. Fiqer selalu memberi tanda cinta di dada, punggung dan bagian dekat privasinya.
Tempat-tempat yang paling di sukai Fiqer. Lalu, Vie pun juga tidak tinggal diam. Di ajari bersikap ganas saat beraktifitas. Vie selalu meninggalkan jejaknya tidak tentu arah, dan Fiqer menyukai hal itu.
"Tandai aku seperti teka teki yang kau berikan. Hari ini, aku mengira tandanya ada di leherku, ternyata ada di tengkukku." kata Fiqer saat itu.
Vie suka bermain dan menerima tantangan seseorang. Seperti sekarang, di ruang tamu seseorang datang menarik perhatian mereka.
"Siapa dia?" tanya Vie setelah tiba di ruang tamu.
Seorang wanita yang tersisa di Sekolah Calon Istri menjawab. "Dia adalah wanita tambahan yang di kirim khusus oleh keluarga Michael."
"Wanita tambahan?" Vie menatap seorang wanita yang berpenampilan cantik. Di tambah tinggi badannya melebihi tinggi badan Vie.
Setelah mengetahui semua itu, Vie duduk di Gazebo sembari memikirkan semuanya. "Hanya tersisa satu minggu lagi. kenapa mereka mengirim wanita khusus secara dadakkan?" benak Vie.
"Pasti kau memikirkan kedatangan wanita asing itu?"
Vie segera menoleh melihat Fifi datang dengan wajah penuh senyumnya. "Terima kasih telah membantuku dekat dengan Kelvi. Lalu, aku tidak menduga kalau kau bersaing dengan Arabi hingga Dia di keluarkan begitu cepat."
"Sudahlah, aku hanya mengingat kebaikkan seseorang. Tapi aku senang juga, sekarang yang tersisa cuma sepuluh orang." imbuh Fifi.
Vie mengangguk setuju, kedatangan wanita itu melengkapi mereka. Namun, Vie tidak tahu target wanita itu siapa.
"Oh ya, aku berkenalan dengan wanita asing itu. Namanya Weliyana Furya. Marga Furya adalah keluarga yang ada di bidang kedokteran dan juga industri hiburan."
"Wanita itu adalah model yang berbakat hingga perusahaan Ayahnya bisa di kenal seluruh dunia. Kedatangannya ke sini ikut menjadi calon istri dengan undangan VIP berwarna emas yang dia dapat."
"Tampaknya, bukan hanya kau yang mendapatkan perlakuan khusus. Tapi, wanita itu juga mendapatkannya." ucap Fifi.
Vie terdian mendengar perkataan Fifi. Wanita yang mendapatkan undangan khusus itu pasti keputusan besar yang di buat oleh keluarga Michael.
Tapi kenapa? Hari ini seluruh penerus Michael tidak ada di Vila. Mereka pergi tanpa ada kabar sama sekali.
Tepukkan pundak di rasa oleh Vie. Dia kembali sadar karena Fifi menepuk-nepuk pundaknya. "Aku harap, dia menjadi sainganmu Vie. Kau adalah wanita yang berbahaya yang harus di kalahkan oleh orang yang lebih berbahaya lagi."
"Hm, semoga harapanmu itu benar." sahut Vie.
Fifi meninggalkan dirinya seorang diri. Dengan pikiran berkabut, Vie terdiam di tepatnya.
Keluarga Furya bukan keluarga sembarangan. Di bandingkan dengan keluarganya, dia masih terlalu jauh untuk bersanding dengan keluarga itu.
"Sudahlah, hanya karena marga aku jadi takut kehilangan Fiqer. Tidak mungkin Pria itu akan meninggalkanku. Dia sudah berjanji banyak padaku kalau akulah yang akan menjadi istrinya." benak Vie.
Malam hari menyambut dengan suasana yang sedikit aneh. Di mana, Vie mendapatkan kejutan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Seseorang melempar telur padanya hingga mengenai kepala dan perutnya. Dengan rasa tidak bersalah, Dia berucap. "Aku minta maaf, aku hanya ingin mengetes apakah telurnya masih mentah? Ternyata benar-benar mentah." ucap Weliyana dengan senyum puasnya.
Vie menatap wanita asing yang kini tampaknya memberitahu kalau dia menjadi saingan Vie sendiri.
"Aku dengar, kau adalah wanita spesial yang selalu di manjakan oleh Tuan Fiqer. Apa yang cantik darimu?" tanya Weliyana dengan mendekati Vie.
Keduanya saling menatap tajam. Tatapan yang saling menjatuhkan.
Vie harus mendongak menatap wanita yang berprofesi sebagai model ini. Dia tersenyum dan mengambil cairan telur dari bajunya.
"Jangan pikir tentang aku cantik atau tidak. Pikirkan saja tentangmu, bagaimana kau harus menghadapi wanita yang baru saja kau lempari dengan telur." ucap Vie sembari mengoleskan cairan telur itu di baju Weliyana.
__ADS_1
Wajah Weliyana seketika berubah. Matanya membelak dengan kekesalan yang telah di puncaknya. "Kau!" pekik Weliyana.
"Apa yang terjadi di sini?"
Semua mata melihat ke arah pintu yang menunjukkan lima penerus bersama Faga. Kedatangan mereka tampak tidak baik-baik saja.
Vie bisa melihat, semua penerus itu mengenakan pakaian formal seakan baru menyelesaikan suatu urusan.
"Fiqer!" pekik Weliyana yang berlari langsung kepelukkan Fiqer.
Vie yang melihat hal itu seketika sadar kalau Weliyana adalah orang khusus yang di kirim oleh keluarga Michael.
"Apa ini perbuatan dari Nyonya waktu itu?" benak Vie.
Di saat melihat wanita asing memeluk kekasihnya. Fifi datang dengan berbisik di telinga.
"Saingan beratmu datang Vie, apa yang akan kau lakukan?"
Vie melirikkan mata pada Pria yang kini mendorong Weliyana.
"Kenapa gadis manja ini ada di sini? Menjauh dariku!" ucap Fiqer yang kemudian melangkah masuk menuju ke arah Vie.
Melihat reaksi kekasihnya yang seperti itu, Vie mengarahkan kepalanya untuk berbisik di telinga Fifi. "Terlalu awal mengambil keputusan kalau dia saingan beratku. Nyatanya, dia seperti seorang jal**g yang berprofesi sebagai model."
"Aku akan menyaksikannya keseruan ini," bisik Fifi sebagai balasan.
Vie melihat sang kekasih yang tampak sedih ketika sudah berada di depannya. Tanpa basa basi, Fiqer mengendong Vie ala koala dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.
Dilirik oleh Vie, wanita asing itu tampak kesal dengannya. "Aku tidak tahu kalau keluarga khusus akan mengirim wanita untuk menjauhkanku dari Fiqer." benak Vie.
Tiba dikamar sang kekasih, Vie mendapati Fiqer yang berwajah lelah dengan duduk di tepi kasur. Di tambah, Vie mendapatkan pelukkan dari kekasihnya.
"Ada apa hm?" tanya Vie.
Sudah tiga minggu hubungan mereka. Vie tidak mungkin, tidak tahu dengan apa yang terjadi pada kekasihnya.
"Ibuku, ibuku baru saja meninggal Vie." ucap Fiqer dengan nada yang pelan.
Mata Vie membelak seketika. Hatinya yang senang mengalahkan orang lain seketika menghilang. Dia memeluk Fiqer dengan usapan lembut di kepalanya.
"Ibumu? Kapan dia meninggal? Kenapa tidak membawaku untuk melihatnya?" tanya Vie bertubi-tubi.
Mulut Vie menjadi bungkam ketika baju yang dia kenakan basah karena air mata seseorang. "Fiqer, menangislah!" ucapnya.
Kesunyian menjadi peneman mereka saat ini. Fiqer benar-benar sedih dengan kematian Ibunya yang Vie sendiri tidak pernah melihat wanita itu.
Di tambah, Vie tahu kalau dia menjadi pilihan utama dari Ibu kekasihnya.
Karena kesedihan ini terus berlanjut, Vie memutuskan untuk menuntun Fiqer agar berbaring di kasur.
Di peluk tubuh kekasihnya untuk memberi kehangatan dan penenang hati yang terluka itu. "Setelah menangis, cepatlah kembali bahagia. Tante pasti ingin hal itu darimu, dia tidak ingin kau terus bersedih."
Fiqer memeluk Vie dengan erat, dia mengangguk-angguk tanpa menjawab apa yang kekasihnya ucapkan.
"Vie!"
"Hm?"
"Kau tahu, Ibuku bilang jika dia akan berkunjung hari ini untuk menemuimu. Tapi, dia malah meninggal dengan mulut berbusa. Menurutmu, apa yang terjadi kepadanya?"
Vie terdiam mendengar perkataan Fiqer. Mulut berbusa yang berarti Ibu kekasihnya itu meninggal karena di racuni orang lain?
"Tapi, Ibu meninggalkan sebuah surat kepadaku. Aku belum membaca suratnya. Namun, orang-orang bilang, dia memilih meracuni dirinya karena aku memilihmu."
"Memilihku? Bukankah kau bilang kalau ibumu menyukaiku?" tanya Vie.
Kejanggalan muncul di hatinya. Dia merasa aneh dengan perkataan Fiqer.
"Aku tidak mempercayai perkataan mereka. Karena aku telah mencintaimu dan ibuku menyukaimu. Tapi kenapa, orang lain membencimu?"
"Fiqer, apa yang terjadi kepadamu? Jika ada yang aneh katakan kepadaku." ucap Vie.
"Bibi ketiga dan keempat datang berkunjungi tiga minggu yang lalu. Dia bilang kalau kau menyogok mereka untuk membuatmu tetap bertahan di keluarga Michael...,"
"Kau percaya omongan mereka?" tanya Vie dengan memotong perkataan kekasihnya.
Kali ini, kesunyian itu menjadi aneh karena Vie mengeluarkan perasaan tidak senangnya.
Mendapati perubahan Vie, Fiqer segera memperdalam pelukkannya. "Tidak, aku percaya padamu karena aku mencintaimu."
__ADS_1
Vie diam dengan perasaan kacau yang muncul di benaknya. Kenapa malah dirinya yang di salahkan oleh keluarga Michael. Apa maksud dari semua ini?