Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(31) Pergilah


__ADS_3

Vie duduk tenang di taman. Dia baru saja keluar dari kediaman Caca setelah pertemuannya dengan Otavi. Dia perlu setengah bulan untuk menenangkan pikirannya dan bersiap menghadapi Fiqer yang akan menemukannya suatu saat nanti.


Hari ini, Vie membawa Viviano untuk bermain di taman khusus anak kecil. Viviano yang berusia 2 tahun itu sangat menikmati permainan pasirnya. Tentu saja ada Caca yang menemani Vie. Gadis berusia lebih muda darinya itu selalu ada di saat dia kesulitan atau menemaninya.


“Kakak, Viviano duduk sendiri kakak!” pekik Caca yang membuat Vie meringis karena terkejut mendengarnya.


“Oh ya, ambil gambarnya Caca. Kita akan mengabadikan setiap Viviano tumbuh besar.” Ucapnya.


Vie mendengar suara kamera yang mengambil gambar. Ada kerutan muncul saat suara pengambilan gambar itu berbunyi beberapa kali. “Caca, apa kau mengambil gambarnya begitu banyak?”


“Heheh, iya kak ... habisnya Viano sangat tampan dan imut.”


Vie mengeleng mendengar hal itu. dia membiarkan apa yang Caca lakukan. Perlahan dia bangun dari tempat duduk sambil mengenakan alas kaki.


“Kakak ingin kemana?” tanya Caca menyadari dirinya bangun.


“Jagalah Viviano sebentar, aku ingin ke toilet.” Sahut Vie yang kemudian melangkah pergi. dia bukan ingin menuju ke kamar mandi, tapi menuju ke arah lain. ada perasaan yang membuatnya ingin kesana. Seakan seseorang memanggilnya dengan panggilan yang berbeda.


Setelah menjauh dari taman khusus itu, Vie melangkah menuju suatu tempat yang sedikit membuatnya binggung. Hingga, dia merasakan tangan seseorang mengenggamnya.


“Fiqer?” tebak Vie. Dia tidak melupakan orang yang dia cintai. Aroma parfum, genggaman tangan dan bahkan hembusan orang tersebut. Dia mengenalinya dan begitu hapal semuanya. Maka dengan mudah dia menebak siapa yang dari tadi menyuruhnya untuk keluar dari taman.


“Vie, aku merindukanmu!” ucap Fiqer yang kemudian memeluknya. Vie membiarkan pria ini melakukan apa yang dia mau.


“Kau kemana saja hm? Aku mencarimu Vie, aku mencarimu selama ini, aku selalu merindukanmu dan menginginkanmu kembali padaku. Ayo, ikut denganku!” Fiqer menarik tangan Vie dengan cepat.

__ADS_1


Vie segera menahan diri agar tidak ikut tertarik. “Aku tidak akan ikut denganmu dan kembali kepadamu, Fiqer.”


Vie tidak tahu apa yang Fiqer pikirkan serta bagaiaman reaksi pria ini. dia tetap mempertahankan dirinya agar tidak ikut.


“Apa karena kau buta dan karena anak yang kau lahirkan? Vie, aku siap bertanggung jawab. Aku masih mencintaimu dan tolong, jangan seperti ini.”


Vie tersenyum mendengar hal itu, perasaan cintanya muncul kembali. Dia sudah menduga, laki-laki ini adalah racun untuknya. “Tidak perlu, aku ingin hidup sendiri dengan anakku. Maafkan aku, aku merahasiakan kehamilanku darimu.”


“Aku tahu, aku tahu itu ... kau pergi karena tidak ingin mempermalukan siapapun. Tapi Vie, anak itu juga anakku. Tolong, ikutlah denganku!”


Gelengan diberikan oleh Vie. Dia tidak akan kembali, baginya semua ini tidak akan bisa di lanjutkan kembali. Meski dia masih mencintai pria ini, dia bertekad agar tidak lagi berhubungan dan memendam perasaannya.


“Tidak Fiqer, tolong tinggalkan diriku dan anakku. Tidak seharusnya kau menikahi seorang wanita yang telah menjadi pela*r ini. kau hanya akan membuat keluargamu malu.” Sahut Vie.


“Vie, apa yang kau katakan? Aku tidak akan malu Vie, aku mencintaimu apa kah semua ini salah hah?” Vie merasa tangannya di genggam orang pria ini.


“Berhenti mengatakan hal manis Fiqer, itu semua tidak akan pernah terjadi. Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali. Aku tidak akan ikut denganmu. Tolong, biarkan aku hidup bahagia di sini.” Vie merasakan genggaman di tangannya mengendur.


“Apa tidak ada tempat untukku memperbaiki kesalahankuVie? Aku mohon, kembalilah bersamaku!” pintanya kembali.


Vie menggeleng, dia tidak bisa kembali. Dia tidak ingin semuanya menjadi lebih baik padanya. Sejujurnya sakit baginya untuk menolak ini. tapi, ini semua demi dirinya. Jika keluarga besar tahu, terpaksa mereka akan memisahkan mereka karena Vie sudah ternodai dan tidak pantas untuk menikah.


Keluarga Maherqi sangat memperhatikan keadaan cucu dan menantu perempuan mereka. tidak ada yang boleh ternodai karena kesucian itu penting. Dan Vie telah melakukan kesalahan.


Memberikan kesuciannya kepada orang lain dan melahirkan anak tersebut. Betapa malu keluarganya memiliki penerus seperti ini. saat Fiqer membawanya kembali dengan Viviano yang masih kecil. Dia akan mendapat gunjingan dan Putranya akan diabaikan. Dia tidak mengharapkan semua itu.

__ADS_1


Tunggu saat semua sudah bisa dia kendalikan, dia akan kembali meski tidak harus bersama dengan Fiqer sekalipun.


“Vie, tolong pikirkan sekali lagi...”


Vie merasa dirinya di tarik ke dalam dekapan Fiqer. Lalu, ada sesuatu yang membasahi bahunya. Seketika dia sadar kalau Fiqer menangis dengan menahan isakkannya. Air mata pria itu benar-benar membuat hatinya terluka.


“Kenapa kau malah menangis. Seharusnya kau bahagia dengan Weliyana. Menikahinya dan hidup bersamanya.” Ucap Vie berusaha agar tidak ada rasa sakit yang bertambah.


Namun, air mata yang membasahi bahunya itu semakin menjadi. “Aku tidak menikah dengannya Vie. Dia hanya menginginkan uang, dia melakukan semua itu untuk Ibu Ketiga dan Ibu keempatku. Dia hanya menginginkan kerja sama yang menguntungkannya. Tidak ada cinta di antara kami. Dan aku, Hanya mencintaimu.”


Vie menutup matanya. Ucapan inilah, cara inilah yang benar-benar mengoyahkan hati. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, tidak ingin ada satu air matapun yang mengalir.


“Fiqer, lepaskan aku!” ucap Vie dengan penuh penekanan. Dia merasa Fqer mengencangkan pelukkannya. Hingga dengan berat hati Vie memutuskan untuk melepas pelukkan itu.


“Jangan pernah menemuiku lagi!” Vie bergegas melangkah pergi, meninggalkan pria ini. air matnya mengalir, dia berusaha mengingat di mana taman itu berada. Dia tidak lupa merasakan apakah Fiqer mengejarnya. Namun, tidak ada tanda-tanda laki-laki itu mengejar dirinya.


“Bagus, bagus, pergilah dariku Fiqer. Cukup cinta ku saja yang tumbuh tapi tidak dengan keinginanku untuk bersamamu. Aku, sudah tidak ingin berada di dekatmu. Kau, akan memberikan duniamu kepadaku dan kita mungkin akan menghadapi hal yang lebih berbahaya lagi.” benaknya.


Setiba di taman, Vie mengusap wajahnya dan berusaha untuk mencari keberadaan Caca.


“Kakak! Kakak dari mana?”


Vie merasa tenang ketika Caca masih berada di sini. “Hm, aku tadi ke toilet tapi sedikit tersesat.”


“Tersesat? Oh begitukah ... kalau begitu, ayo kita pulang, Viviano malah tertidur saat kakak meninggalkannnya.”

__ADS_1


Vie merasa kecurigaan Caca, tapi senang saat Caca tidak memperdulikannya. “Hm, ayo kita pulang.


__ADS_2