Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(33) Berkorban


__ADS_3

Fiqer duduk terdiam dengan apa yang pria di depannya ini katakan. Tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja Xexin katakan. Semua itu benar, dia tidak dirugikan. Bisa di bilang dia hanya menikmati semua yang terjadi.


Jika dia tidak memikirkan kesalahannya. Sudah pasti dia tidak akan ada di sini. Dan mungkin saja apa yang di katakan oleh Vie itu benar. Dia akan bahagia dengan wanita lain dan tidak akan tahu dengan semua ini.


Tapi, Fiqer berbeda. Dia pria yang selalu memegang perkataannya. Meski, saat itu ada kesalahan yang dia lakukan. Fiqer tetap memegang teguh janjinya dan tidak akan melupakan itu.


Kedatangannya sekarang untuk membawa Vie kembali ke kediamannya dan menjadi istrinya. Tapi, wanita itu tidak mau dan memutuskan untuk hidup mandiri tanpa ada dirinya.


“Aku akan memberimu sesuatu yang harus kau ketahui” Xexin berucap dengan tenang dan duduk di sampingnya.


“Vie,tidak pernah mengatakannya. Tapi, aku dan beberapa yang lain tahu apa yang di inginkan gadis itu. Vie, sangat ingin melihat bagaimana wajah Viviano. Seandainya dia tahu wajah putranya mirip denganmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.”


“Tapi... aku tidak tahan dengan orang-orang yang selalu mengatakan kalau Dia buta karena melahirkan anaknya. Jadi, aku ingin membawanya ke rumah sakit untuk operasi mata. Tapi, Dia menolak hal itu, aku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan.” Jelas Xexin.


Fiqer terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Xexin. Perasaanku menjadi sedih dengan hal itu.


Tentu saja, Vie pasti ingin melihat bagaimana perkembangan putranya. Bagaimana putranya tumbuh besar dan bagaimana dia pertama kali berjalan.


Semua itu pasti menjadi moment terbaik oleh sang ibu. dan tentu saja, Fiqer juga merasakannya. Tapi, harus ada yang berkorban dengan hal ini.


Entah dari mana tekadnya muncul, Fiqer mengangguk dan segera menatap pria asing yang merupakan orang terdekat Vie. Dia tidak cemburu, justru senang karena ada orang baik yan mau bersama Vie.


Meski, Fiqer sedikit tidak bisa menerima bahwa ada orang di dekatnya. Tapi, inilah yang harus Fiqer putuskan. Vie akan bahagia dengan orang baik yang ada disekitarnya.


“Aku ingin melakukan sesuatu dan kau harus membantuku.” Ucap Fiqer.


Xexin sedikit mengerutkan alis mendengarnya. “Apa itu?”


“Aku akan memberikan mataku kepadanya dan meninggalkannya seperti apa yang dia inginkan.” Keputusanku.


Pria itu terkejut mendengarnya hingga tertawa garing. “Hahaha, apa kau sudah gila? Kau ingin menyerahkan matamu dan meninggalkannya? Apa kau sedang bercanda dengan semua ini.”


“Tidak, aku tidak bercanda.” Fiqer menatap serius kearah Xexin. “Aku akan menyerahkan mataku dan menepati janjiku. Kau bisa memegang perkataanku ini.”


Fiqer mengeluarkan ponsel dan menulis sebuah nomor di notebook yang ada di sakunya. Dia menulis nomornya dengan cepat dan segera memberikan semua itu kepada Xexin.


“beri aku waktu satu minggu. Aku akan melakukan semua urusannya dengan cepat dan kau bisa menghubungiku. Jika aku sudah siap, aku akan memintamu untuk membawa Vie.”

__ADS_1


“Lalu, bagaimana cara membujuk Vie?” tanya Xexin dengan bingung.


Fiqer tersenyum dan menatap ke arah langit yang di penuhi awan cantik. Tidak lupa angin yang berhembus begitu tenang. “Katakan kepada Vie, bahwa ada operasi mata gratis. Dan jangan katakan kalau itu hanya untuknya. Berbohong kepadanya bukan hal buruk, selama itu demi kebaikkannya.”


Xexin menatap Fiqer dengan wajah yang sedikit tenang. “Apa kau yakin dengan hal ini?”


“Iya aku yakin! Aku akan melakukannya dan memberikan yang terbaik untuknya. Jadi, tolong percayalah kepadaku.” Ucapku menyakitkan dirinya.


Xexin mengangguk dan segera menyimpan kertas yang dia berikan. “Baiklah, kalau begitu sampai jumpat satu minggu lagi. akan ku rahasiakan ini darinya dan aku akan mempercayaimu. Tapi! Jika ini hanya sebuah kebohongan, aku akan menghajarmu karena telah memberi harapan besar seperti ini.”


Setelah ancaman itu, Xexin pergi meninggalkan Fiqer yang tersenyum kecut. Dia sedikit merasa sakit melihat Pria itu selalu dekat dengan Vie. Tapi, apa yang bisa dia lakukan. Jika dia mendekati Vie, dia pasti akan diusir begitu saja.


Fiqer segera melangkah kembali dengan tenang. Meninggalkan sebuah kenangan manis yang terjadi dalam waktu singkat. Namun, semua berbekas di hati dan akan Fiqer ingat di dalam jiwanya.


---


Satu minggu kemudian...


Seorang pria tengah melangkah mendekati wanita yang bermain dengan putranya. Mereka bermain di halaman depan kediaman Caca dengan menikmati indahnnay suasana sore.


“Oh, hai Kak Xexin!” sapa Caca dengan wajah ceria seperti biasanya. Hanya saja, gadis muda itu sudah tampak dewasa sekarang. badannya pun sudah terbentuk seperti gadis yang cantik.


Xexin tersenyum dan segera melangkah mendekat. “Hallo Viviano!” sapa Xexin.


Anak berusia dua tahun itu benar-benar begitu imut. Dia tersenyum seperti ibunya. Tapi, tatapannya dingin seperti Ayahnya. Xexin mengingat tujuannya.


Kedatangannya kali ini untuk membawa Vie seperti apa yang di janjikan. Xexin juga sudah mendapatkan informasi kalau Pria bernama Fiqer itu telah menyiapkan operasi mata untuk Vie.


“Pa-man!” ucap Viviano dengan nada yang benar-benar imut.


Xexin terteguh mendengarnya, bahkan Caca yang ada di depan Viviano segera menutup mulut karena terkejut.


Vie yang di belakang putranya tersenyum mendengar apa yang Viviano katakan.


“Waah, Dia memanggil Xexin paman. Ini sudah kedua kalinya dia berucap paman tanpa perlu di ajarin.” Ucap Caca dengan begitu bahagia.


Vie mengangguk. “Benar, tampaknya dia mendengar perkataan orang-orang di sekitarnya. Putraku memang pintar.”

__ADS_1


Xexin hanya diam melihat bagaimana Vie dan Viviano tampak bahagia. anak berusia 2 tahun itu sudah mulai cerdik dan bahkan sangat pintar. Dia bisa membedakan warna yang tercampur saat bermain bola.


Jika Vie melihatnya, dia pasti akan membanggakan putranya dan akan terus memuji kesayangannya itu.


“Ayo Viviano, Kita bermain mobil-mobilan. Paman Xexin pasti ingin berbicara sesuatu kepada Ibumu, ayo sama tante!” ucap Caca sambil mengulurkan tangannya.


Viviano segera menyambut uluran tangan itu dan bergegas di gendong oleh Caca. Keduanya segera menjauh dengan memainkan sebuah mobil yang di dorong dengan bantuan orang dewasa.


Setelah kepergian Caca, Xexin melihat kearah Vie yang dengan tenang membelai sebuah boneka beruang. Boneka itu hadiah darinya untuk Viviano saat usianya 1 tahun.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Vie sambil tersenyum.


“Aku ingin menanyakan hal yang pernah ku katakan kepadamu. Vie, apa kau tidak ingin melakukan operasi mata?” Xexin bertanya tanpa menatap ke arah lain. pandangannya lurus menatap Vie dengan tenang.


“Operasi mata? Aku tidak memiliki uang dan aku juga tidak memperlukannya. Lagi pula, inilah takdirku dan kau tidak mempermasalahkannya.” Sahut Vie.


Xexin mengangguk mendengar itu. “Meski, ada operasi gratis yang di laksanakan oleh pemerintah?” desakku lagi.


Tampak ada keraguan dari wajah wanita ini. bahkan, Xexin bisa melihat matanya bergetar ketika tahu akan hal itu. Xexin sedikit mendegus, dia mengerti kenapa Fiqer, mantan kekasih Vie bisa mengenal wanita ini.


“Mereka telah bersama dan tidak mungkin seorang pria bisa melupakan orang yang dia cintai.” Benak Xexin.


“Pemerintah? Apakah ada program seperti itu?” tanya Vie dengan sedikit kebingungan.


“Ada, bahkan sudah beberapa kali program itu di buat. Dan sekarang adalah kesempatan semua orang untuk mendapatkan operasi gratis. Di tambah, semua akan mendapatkan fasilitas terbaik.”


“Apa ini karena pemilihan pemerintah? Atau hanya sebuah setingan belakang?”


“Tidak, ini benar terjadi. Dan jika kau memang menyetujuinya. Aku akan segera mendaftarkanmu. Lagi pula, kau sangat ingin melihat putramu dan hidup bersamanya. Bukankah kau ingin melihat semua perkembangannya.”


“Semua pertanyaanmu itu terlalu banyak. Aku tidak bisa menjawab semuanya.” Vie menghela napas.


Xexin merasa senang setelah bisa mengalahkan ego wanita di depannya ini. dia yakin, Vie tidak akan bisa menolaknya.


“Baiklah, aku akan ikut. kapan pun itu, aku akan siap melakukan operasi ini.” keputusaannya.


Xexin tersenyum senang dengan apa yang dia dengar. “Itu keputusan yang tepat. Baiklah, aku akan memberi kabar saat tiba giliranmu.”

__ADS_1


Xexin segera bangun dari tempat duduk dan melangkah pergi. tidak memperhatikan lagi wajah curiga Vie. Meski begitu, Xexin yakin bisa menyembunyikan semua ini.


__ADS_2