Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(36) Di jemput


__ADS_3

Bagai terlahir kembali. Vie terdiam menatap semua orang yang ada di depannya. Xexin, Caca, Jefli dan Dokter. Lalu, seorang anak yang begitu tampan.


"Hm, Nona Vie, apa Anda baik-baik saja?" tanya Dokter.


Vie tidak menjawab. Hal pertama yang dia lihat adalah putranya. Viviano Fezi, anak pertama dari orang yang dia cintai.


Perlahan tangan Vie membelai pipi Viviano yang begitu mirip dengan Fiqer. Selama ini, bayangan mantan kekasihnya itu kembali dengan gambaran yang sempurna.


Seakan gambaran yang buram menjadi jelas di mata Vie. Dia tersenyum, "Viviano?"


"Hn...." sahut Viviano dengan mengangguk.


Vie tersenyum senang, Dia segera mengendong putranya untuk duduk di pangkuannya.


"Aku rasa Nona Vie sudah membaik," ucap Dokter.


Vie mengangguk, "terima kasih dok. Aku sudah membaik dan aku merasa telah sehat kembali. Terima kasih. Ah, sampaikan juga ucapan terima kasihku kepada keluarga pendonor."


Dokter hanya tersenyum dan segera pergi dengan ucapan pamit. Vie tidak menghiraukan apa yang Dokter itu lakukan. Dia sekarang memperhatikan putranya yang begitu tampan.


"Huaa, Viviano kau tampan sekali sayang. Ibu tidak tahu kalau setampan ini dirimu. Kau mirip dengan Ayahmu!" pekik Vie dengan begitu senang.


"Ayahnya? Apa ayahnya setampan Viviano, Kak Vie?" tanya Caca mendekat.


Vie mengangguk cepat. Dia mendudukkan Viano di pangkuannya. "Hm, Mata, Hidung, Bibir dan tatapan Viviano. Semua itu mirip dengan Ayahnya."


Jefli dan Xexin hanya diam mendengar hal itu. Ada rasa sakit di hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiam diri. Tidak ada yang akan tahan jika mendengar orang yang dicintai memuji orang lain selain mereka.


"Jadi, apakah Ayah Viano sangat tampan?" tanya Caca. Dia merasa penasaran dengan wajah Ayah kandungnya Viviano. Jika Viano kecil ini begitu tampan, maka Ayahnya lebih tampan.


Vie terkekeh mendengar pertanyaan Caca. Viviano yang ada di pangkuannya segera memeluknya. "Hm, kau bisa menebaknya sendiri Caca."


Caca mengangguk, dia mulai membayangkan seperti apa Ayahnya Viviano.


Melihat Caca seperti itu membuat Vie tertawa geli. Dia mulai menatap putranya yang sudah tumbuh besar.


"Kapan aku bisa pulang?" tanya Vie.

__ADS_1


Xexin menatap Jefli untuk menjelaskan segalanya. "Dokter akan mengawasimu untuk beberapa hari. Jadi, kita hanya tinggal menunggu kabarnya."


Vie mengangguk mendengar itu, "oke aku mengerti."


Beberapa hari berlalu, Vie akhirnya bisa kembali pulang dengan kebahagiaan sepenuhnya. Bahagia bisa melihat lagi dan merasakan semua yang ada di sekitar.


Namun, ada sesuatu yang salah di hati Vie. Sesuatu yang membuatnya ingin kembali, kembali menemui seseorang dan memastikan orang tersebut.


Akan tetapi, Vie menahan niatnya dan memilih untuk menikmati hari-harinya.


Setelah kepulangan dari rumah sakit, Vie kembali berkerja dengan membuka jasa cuci pakaian. Apa lagi, Kostan Caca dan Mas Jefli diincar anak sekolah yang sedang masuk SMA.


Saat ini Vie sedang menjemur pakaian sambil melihat putranya yang mulai pandai bermain di kereta khusus balita.


"Udah gede ya anak haramnya, bagaimana kehidupanmu hm, semakin bahagia?" ucap seorang wanita yang berdiri di luar pagar. Wanita itu begitu cantik dan Vie bisa tahu kalau dia pasti kembang desa di Sgl 04 ini.


"Tentu saja, aku harus bahagia kenapa harus sedih." sahut Vie sambil kembali melanjutkan kegiatannya.


Wanita itu mendengus kesal, lalu kembali berbicara. "Padahal, semua orang memuji kecantikanmu, tapi siapa yang menduga kalau kau hamil dan buta. Setelah itu, kau kembali dengan matamu yang sempurna itu. Apa kau simpanan pria?"


Mendengar kata simpanan, Vie teringat dengan kekayaan yang mengalir di belakang Fiqer. Dia tersenyum dan mengangguk.


Kembali, sikap sombong dan wanita yang kuat kembali kepadanya. Vie merasa seperti dirinya bukan seorang ibu muda tanpa suami. Tapi seorang wanita kuat yang siap membela diri sendiri.


"Cih, kau seorang j*l*ng yang sesungguhnya." cibir wanita itu.


Vie tersenyum, "lebih baik menjadi j*l*ng kepada priamu dari pada menjdi pelakor yang membawa pria orang lain."


Wanita itu tampak suram mendengar sahutannya. "Cih, siapa yang kau sebut pelakor hah?"


"Aku hanya berkata saja, tidak menyebut siapapun." sahut Vie dengan tersenyum. Dia tahu kalau wanita itu sudah memakan umpannya.


"Menjijikkan, aku tidak ingin melihatmu lagi. Dasar wanita j*l*ng!" pekiknya yang kemudian melangkah pergi.


Vie terkekeh mendengar hal itu, perlahan Vie melihat Viviano dan berniat untuk membawanya ke dalam rumah.


Namun, saat Vie ingin melangkah mendekati pintu dapur, Vie melihat wajah Caca yang penuh kejutan.

__ADS_1


"Ada apa, Caca?" tanya Vie.


"S-seseorang di luar mencari kakak...." sahut Caca dengan wajah terkejut.


Vie mengerutkan alis, perasaan tidak enak muncul di benaknya dan dia segera masuk menuju ke ruang tamu.


Viviano juga merasakan apa yang Vie rasa. Mereka melangkah terus hingga tiba di ruang tamu.


Wajah Vie berubah seketika dia melihat kedua orang tua yang berdiri ketika dia tiba. Lalu, tiga wanita yang sudah menikah dalam keadaan hamil.


"Vie!" pekik Ibu Vie bergegas mendekat dan memeluknya. Vie diam merasakan semua itu dengan Viano di dalam gendongannya.


"Maaf Tuan Maherqi, apakah Anda yakin kalau Vie ini putri Anda?" tanya Jefli dengan penuh penasaran.


Maherqi, keluarga yang terkenal di kota S. Tiba-tiba datang ke kota T dan mengunjungi desa Sgl 04 hanya untuk menjemput putrinya. Benar, Vie di jemput oleh mereka.


Rasa keterkejutan ini lebih mengerikan saat Caca, Jefli dan Xexin mengetahui kehamilan Vie. Rasa saat ini hampir membuat mereka merasa di dalam mimpi.


Keluarga Maherqi, penerus utama ternyata ada di dekat mereka selama ini? Mereka bertiga tengelam dalam pikiran masing-masing.


"Benar, Dia putriku. Vie Maherqi." ucap Ayah Vie dengan suara tegas.


Jefli terteguh dan mengangguk. Dia masih tidak bisa mempercayai semua ini.


"Otavi, kau memberitahu orang tuaku? Aku sudah bilang kalau aku bisa pulang sendiri!" Vie menatap tajam ke arah Otavi yang tenang menatapnya.


"Sampai kapan kau akan bersembunyi. Kau menyembuyikan keadaanmu dari keluarga besar. Lalu melahirkan anak dari keluarga Michael. Vie, apa kau pikir kau bisa hidup tenang dengan bersembunyi?" tanya sang Ayah.


Seperti sambaran petir menghantam kepala Jefli, Xexin dan Caca. Mendengar nama kekuarga Michael membuat mereka bungkam seketika.


Dua keluarga utama saling bertautan dan Vie melahirkan anak dari penerus Michael. Xexin dan Jefli akhirnya sadar siapa Fiqer sebenarnya.


"Lalu, apa yang akan kalian lakukan? Aku tidak ingin pulang dan meninggalkan putraku!" ucap Vie mengeratkan pelukkannya kepada Viviano.


Ibu Vie menggeleng, "Kita akan membawamu pulang dan kau boleh merawat putramu."


Vie menatap serius kearah Ibunya. memastikan tidak ada kebohongan.

__ADS_1


"Kami akan membawamu pulang, Vie!" ucap Sang Ayah.


__ADS_2