Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(27) Viviano Fezi


__ADS_3

Semua mata menatap ke arah pasien yang kini telah melahirkan seorang putra yang tampan.


Jefli dan Caca segera mendekati Vie yang masih damam tidurnya.


"Paman, apa Kak Vie kini tidak lagi bisa melihat?" tanya Caca.


Jefli segera mengangguk, "begitulah yang dokter katakan."


Apa yang di sahut oleh Jefli ada benarnya. Saat ruang UGD di buka. Jefli, Caca dan Xexin segera mendekati Dokter yang keluar.


"Nona Vie telah di pindahkan padz ruang rawat. Kalian bisa menjenguk dirinya. Oh ya, Nona Vie juga sudah memberikan nama anaknya kepada kami. Namanya, Viviano Fezi."


"Demi keamanan semua, Bayi Nona Vie akan di letakkan berada di ruangan yang sama." jelas Dokter.


Kepala Jefli, Caca dan Xexin mengangguk bersamaan. Mereka kembali memfokuskan pandangan pada Dokter.


"Satu hal yang kalian ketahui, Nona telah mengorbankan matanya. Jadi, dia tidak bisa lagi melihat. Mohon untuk tidak membuat dirinya khawatir, karena itu bisa menganggu perasaannya." pesan Dokter.


"Tenang saja, Kami akan menjaganya." ucap Jefli menyahut.


Dokter segera mengangguk dan melangkah pergi. Meninggalkan seorang perawat yang akan menuntun Jefli berserta yang lainnya.


Di ruang rawat Vie, Caca menatap keranjang bayi yang kini terdapat bayi tampan di sana.


"Hei Viviano, akhirnya kau lajir di dunia ini. Tahukan kau, Ibumu mendapatkan sepuluh kantong darah, agar kau bisa lahir." ucap Caca.


Apa yang dia katakan adalah kebenarannya Vie harus menerima suplei darah golongan O karena dia telah kehilangan banyak darah. Selain darah, Vie juga kehilangan penglihatannya.


"Caca, jangan berkata seperti itu. Sini kemarilah, ikut denganku!" ajak Jefli.

__ADS_1


Caca yang mendengar itu segera mendekat. "Ada apa?"


"Kita harus pulang. Kau, pilih beberapa pakaian untuk Vie di sini dan aku akan mengambil beberapa hal penting. Untuk Xexin!" Jefli menatap ke arah pria kuliahan yang berdiam diri di dekat pintu.


"Jaga Vie, jika dia sadar segera beri air minum padanya."


Xexin mengangguk. Jefli dan Caca segera melangkah pergi meninggalkan ruang rawat.


Seorang diri di ruangan ini, Xexin memutuskan untuk mendekati keranjang Bayi. Dia penasaran, seperti apa wajah anak dari Nona Vie.


"Alisnya menukik, bibirnya tipis dan," Xexin terteguh melihat bayi di keranjang tersenyum. Seperti orang yang menikmati mimpi indahnya.


"Senyumnya, mirip dengan sang Ibu. Tapi, wajah bayi ini terlihat seperti orang lain. Apa mungkin, wajah ini adalah wajah Ayahnya?" gumam Xexin.


Dia menatap tangan mungil yang tidak sengaja keluar dari lilitan kain. Bayi kecil itu, di selimuti dengan kain yang membungkusnya. Agsr tidak ada banyak pergerakkan dari bayi ini.


"Aku akan memcuci tanganku." gumam Xexin yang segera menuju ke kamar mandi. Untung ruang rawat Vie terdapat kamar mandi pribadi.


Rasa ringan dan lemah lembut terasa di tangannya. Hati Xexin bergetar menikmati sentuhan lembut ini.


"Vi, Viviano, Fezi." ucap Xexin.


Setelah berucap seperti itu matanya tidak sengaja melirik ke arah brankar yang dimana seorang wanita tengah duduk.


"Nona Vie?" tanya Xexin yang bergegas meninggalkan Bayi Viviano. Dia melangkah mendekati brankar dan segea memberikan Vie tempat duduk yang nyaman.


"Terima kasih Xexin. Oh ya, di mana Jefli dan Caca?" tanya Vie.


Mata Xexin memperhatikan keadaan dari wanita yang masih dia cintai. Benar, Xexin telah jatuh cinta kepada Vie.

__ADS_1


"Mereka akan kembali, minumlah ini." ucap Xexin sembari menyodorkan segelas air.


Vie, gadis itu segera menyambutnya dan meminum air tersebut hingga habis.


"Apa jenis kelamin anakku? Viviano Fezi yang kau katakan, nama itu adalah nama laki-laki yang ku siapkan untuk anakku."


Xexin melirik keranjang yang terdapat seorang bayi. Saat ini, Bayi tersebut tidur dengan lelapnya. "Hm, Dia laki-laki," sahut Xexin.


Senyum Vie terukir membuat Xexin mengingat senyum bayi yang baru lahir. Tebakkannya tidak salah, Bayi itu benar-benar mirip ibunya.


"Bagaimana dengan matamu?" tanya Xexin sembari mengupas buah.


"Gelap, tidak melihat apa pun. Tapi aku sudah mengatasi semua ini. Aku telah menyiapkan diri dengan mataku ini."


"Kau begitu kuat, padahal saat melahirkan, kau hampir kehilangan nyawamu." ucap Xexin dengan mengerutuk.


"Hehe, maafkan aku. Pasti kalian khawatir kan? Tenang saja, anakku tidak akan di rawat oleh kalian jika aku meninggal saat itu."


"Aku sudah membuat kesepatakan dengan dokter. Dia yang akan mengantar Viviano ke kediaman Keluargaku."


"Keluarga?" tanya Xexin dengan kerutan di alisnya. Dia baru mengetahui kalau Nona Vie ini punya keluarga.


"Aku punya keluarga. Dan aku sudah menyiapkan segalanya, jika aku tiada." jelas Vie.


Xexin hanya bisa terdiam. Dia penasaran, siapa keluarga Vie. Saat Vie menjadi penyewa baru di Indekos Guvta. Tidak pernah terlihat satu keluarga pun datang untuk menjenguk dirinya.


"Huh, sekarang mataku buta. Aku tampaknya berharap kepada dirimu, Jefli dan Caca."


"Kau ingin mataku?" tanya Xexin.

__ADS_1


"Baik sekali, tidak perlu. Mata seperti ini belum ada apa-apanya dengan jalan hidupku. Yang terpenting, aku telah melahirkan anakku."


Penjelasan itu membuat Xexin terdiam. Dia mengangguk dengan apa yang di jelaskan oleh Vie.


__ADS_2