Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(6) 2000 Poin


__ADS_3

Di ruang tamu. Semua berkumpul termasuk Faga yang fokus menatap semua orang.


"Jadi jelaskan kepadaku, apa yang terjadi di antara kalian." ucap Faga.


Vie, Tiasa dan Wanita yang menganggu Nala. Ketiganya duduk di sofa secara terpisah.


"Aku melihat Dia menarik Nala saat asik berenang. Saat itu, jika napasku masih bisa tertahan. Aku akan menyeretnya keluar." ucap Vie membela diri.


Tiasa mengangguk setuju. "Aku tidak melihat apa yang Vie perhatikan. Namun, saat tiba di permukaan air. Nala memang tidak ada di sekitar kolam."


"Tidak! Mereka salah paham!" sanggah wanita yang kini bangun untuk membela diri. Jari telunjuknya menunjuk Vie dan Tiasa secara bergantian.


"Mereka salah paham. Saat itu, aku yang hampir tenggelam. Jika tidak menarik Nala, aku tidak akan mungkin selamat." jelasnya.


Vie merasa kerutan di keningnya. Dia segera bangun dan mendekati wanita tersebut, tapi dihentikan oleh Otavi.


"Kau pikir kami ini buta? Setelah aku muncul di permukaan. Nala tidak ada di sana. Lalu, aku kembali menyelam untuk menyelamatkannya. Dan apa yang ku lihat," Vie menatap tajam ke arah wanita yang menatap padanya.


"Kau menariknya seakan ingin membunuh Nala. Katakan saja yang sebenarnya, karena aku tidak akan memberikan ampunan jika kau berbohong." sambung Vie.


Wanita itu menangis seketika, sembari meringkuh. Dia begitu histeris menangis dengan suara yang mengema di ruang tamu.


"Kau gila? Kenapa malah menangis?" pekik Vie.


Faga segera bangun dari tempat duduknya. Dia mendekati Wanita itu dan membantunya untuk berdiri. Suara tangisannya mulai mereda setelah ditenangkan oleh Faga.


"Harca Biala, maaf kami sampai kan kepadamu. Dari cctv yang ada dikolam berenang. Kau lah yang bersalah karena menyerang Vie hingga menyebabkannya pingsan." ucap Faga.


Wanita bernama Harca Biala terteguh. "Apa? Aku yang salah karena membuat Vie pingsan?" Mata Harca melirik pada Vie. Dia kembali menatap Faga, kepala pelayan di depannya.


"Ku rasa, mata Anda yang salah. Bagaimana mungkin aku yang salah. Dia mencekikku, aku hampir mati karenanya. Bukankah wajar jika ingin menyerang balik? Nyawaku terancam!" sambung Harca.


Faga menghela napas dengan perlahan. "Benar kalau Vie mencekik Anda. Dia juga akan mendapatkan hukumannya." sahutnya.


"Aku tidak terima, dia di hukum begitu saja. Sedangkan aku harus melakukan sidang dengan kalian. Apakah karena dia mendapatkan posisi pertama hingga kami yang ada di bawah selalu terinjak-injak?" cibir Harca.


Semua yang ada di sana hanya terdiam, kecuali Vie yang tidak perduli sama sekali. Dia datang ke sini hanya untuk memenuhi undangan dan lagi, ingin uang hasil dari satu bulan di sini.


"Jika karena hal itu, maka tidak masalah kami harus saling menyakiti bukan? Kami tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka. Mereka yang begitu di dekati oleh penerus yang ada." jelas Harca.


Vie tidak tahu kalau mereka yang menjadi alasan semua ini. Perkelahian itu benar-benar menyimpan dendam.


"Berhentilah!" Kelvi menengahi dengan cepat.


"Sekolah calon istri tidak menjadikan semua ini sebagai tempat perkelahian. Tapi, menjadi tempat untuk saling dekat. Jika hanya karena kedekatan yang kurang. Tidak perlu khawatir, ini baru hari pertama. Kalian malah sudah saling menunjukkan taring masing-masing."


Kelvi menatap seluruh wanita yang ada di ruang tamu. "Kami yang menilai bukan kalian. Kami akan mengunjungi semuanya dan mengajak kalian berkenalan. Bukan berarti kami pemilih.


Hanya saja, masih ada 29 hari lagi untuk mengenal satu dan lainnya. Kenapa terburu-buru?"


"Jika seperti ini, maaf ... untuk rangking akan di rahasiakan." Kelvi segera menatap Faga yang ada di sampingnya.


"Rangking di rahasiakan. Cukup beri tampilan jika ada yang berubah." ucapnya.


Faga mengangguk, "Baik Tuan."


"Tetap saja, rangking tidak akan menghilang. Bagi kami, yang berada di peringat teratas akan menjadi pemenangnya." ucap Harca sembari membentangkan tangan.


"Lalu, jika yang berada di peringkat terakhir. Dia tidak akan mendapatkan apa pun, benar bukan?" sambungnya.


Kelvi membenarkan kacamata yang dia kenakan. "Sepertinya kau telah salahpaham Nona Biala. Peringat di sini, menunjukkan seberapa baik penilaian kami. Memang, Vie mendapatkan nilai teratas karena sebelum tiba di sini, dia di nilai dengan angka tinggi."


"Jika kalian tahu, nilai yang kalian dapatkan itu berdasarkan dari pandangan Kepala Keluarga kami. Mereka menilai seberapa cocoknya kalian menjadi menantu Michael. Bukan dari harta, bukan dari marga, tapi dari ketulusan hati kalian."


"Kenapa Vie, Tiasa,Otavi dan Nala mendapatkan posisi Lima teratas. Itu karena hasil dari pengamatan keluarga. Jadi, jangan menganggap kalian itu buruk, kami belum memberikan penilaian kami." jelas Kelvi.


Suara tawa menggelegar seketika. Harca menggeleng kepala dan meredakan suara tertawanya. "Aku ingin keluar! Terlalu bodoh aku ada di sini. Tidak masalah jika kalian tidak membayarku. Yang terpenting, Aku tidak terjebak dalam permainan ini."


Kelvi mengangguk. "Silahkan, pintu terbuka lebar untuk orang yang tidak memiliki pikiran panjang. Kami sangat terhormat karena bisa berkenalan dengan Anda." ucap Kelvi.


Rasa kesal tampak di wajah Harca. Dia segera pergi meninggalkan ruang tamu.


"Aku tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya. Mereka bahkan sukarela mengeluarkan orang lain." bisik Tiasa.


"Jika seperti itu, mereka sudah tahu sikap seseorang. Tidak perlu repot-repot menikah, cukup berkenalan saja sudah menunjukkan seperti apa orang itu." bisik Otavi.

__ADS_1


Kelvi segera menatap dua orang yang masih memiliki masalah. "Nilai kalian akan di kurangi sebanyak 200. Mohon untuk mengontrol diri dan kesopanan juga berlaku. Vie, peringatan pertama untukmu." ucap Kelvi.


Vie mendengus dan segera melangkah pergi. Lagi pula, semua ini memang akan terjadi suatu saat nanti. Sistem seperti sekolah ini akan siap mengeliminasi siapa saja.


"Aku ingin tidur," benak Vie.


Langkah kaki yang lebar itu segera tiba di kamarnya. Vie berbaring di kasur dan memejamkan.


Mimpi yang indah berubah menjadi mimpi yang mengerikan. Vie segera membuka matanya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. "Hoaam, aku sudah tidur selama itu?" gumamnya.


Ketukkan pintu membuat Vie mengerutkan alis. Alasan dia bangun karena mendengar ketukkan yang menganggu itu. Meski pelan, tapi ketukkan itu tidak berhenti.


Vie bangun dan segera mendekati pintu. Setibanya di sana, Vie membuka perlahan dan melihat Fiqer datang.


"Apa yang-,"


Mulut Vie di tutup dengan telapak tangan Fiqer. Matanya melihat pria di depannya ini mengunci pintu dan segera menyalakan ruangan kedap suara.


"Kenapa kau di sini?" tanya Vie.


Fiqer menjatuhkan dirinya di kasur. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, Dia merentangkan tangan. "Kemari dan tidurlah bersama." ucapnya.


Vie tercenga mendengar perkataan pria aneh di depannya. "Kau gila? Kau menyuruhku untuk tidur bersamamu? Hei Tuan Muda, kau ingin mengusirku juga?"


Pria yang merentangkan tangan itu segera menghela napas. Tangannya turun dan bersedekap di dada.


"Aku tidak bisa tidur. Sepertinya, benda kembar yang kenyal itu membuatku tidak tenang jika tidak menyentuhnya." tutur Fiqer.


Otak Vie seketika terhenti. Mencerna perkataan Fiqer menjadi sulit untuknya. "Apa? Benda kenyal, kau mabuk?" tanya Vie.


Fiqer kembali menghela napas. Dia segera mendudukkan diri dan bersandar. "Apa kau tahu, berapa peringkatmu sekarang?"


Vie melangkah mendekati kasur dan duduk di tepinya. "Aku tidak perduli dengan peringkatku. Yang ku inginkan hanya membawa uang itu pergi." sahut Vie.


"Uang?"


"Hm, Kau tidak mungkin, tidak tahu akan hal ini." ucap Vie.


Fiqer perlahan mengubah posisi duduknya."Tahu kok, jadi kau ke sini karena uang." ucap Fiqer yang memeluk Vie secara tiba-tiba.


"Sudah ku bilang, Aku ke sini karena ingin tidur denganmu." jawab Fiqer.


Vie memutar bola matanya dengan malas. "Keluarlah dari kamarku, aku tidak ingin terkena masalah. Dan lagi, peringatan pertama telah ku dapatkan."


"Itu hanya peringatan, kemarilah." seru Fiqer.


Vie masih engan mendekat hingga tangannya tiba-tiba ditarik. Sekarang Vie berada di pangkuan Fiqer dengan tangan menyentuh bahu pria itu.


Mata keduanya saling bertemu. Napas yang berhembus pun menjadi tidak beraturan.


Fiqer menatap mata Vie. Tangannya yang berada di pinggang ramping itu segera naik perlahan. Tiba di leher Vie, Fiqer menuntun wanita itu untuk mendekatkan wajahnya.


Vie tidak mau mendekat. Dia menahan diri dengan menekan bahu Fiqer. "Jangan lagi menciumku!" ucap Vie.


Fiqer tidak lagi memaksa. Dia segera mengubah posisi dengan membaringkan Vie dalam dekapannya. Kepalanya berada di dada wanita itu dan menempel dengan baik.


"Kau tidak mengenakan br*?" tanya Fiqer sembari mengusap-usap wajahnya di dada Vie.


Vie mendorong tubuh Fiqer. "Kau memang gila. Aku mengunakannya tapi khusus untuk malam hari."


Fiqer kembali mendekap Vie. "Hm, tidak masalah kalau kecil. Yang penting, ada." ucapnya.


Vie seketika tersenyum dengan amarah yang memuncak. Dia berusaha keras menjauhkan Fiqer darinya.


"Diamlah!" Fiqer mengangkat pandangannya untuk menatap Vie.


Melihat tatapan Fiqer seperti itu, Vie menyerah dan diam seketika.


Fiqer kembali memeluk Vie dan menengelamkan kepalanya hingga menempel di dada Vie.


Melihat tingkah aneh pria ini. Vie memutuskan untuk pasrah. "Selama dia tidak meminta lebih. Aku tidak perduli dengan semua ini." benak Vie.


Malam panjang itu sekali lagi di lalui dengan tidur bersama. Kali ini, keduanya dalam keadaan sadar.


...●●●...

__ADS_1


Vie membuka matanya dengan cepat. Dia duduk dengan pandangan melirik kesegala arah. "Dia pergi?" gumam Vie.


Melihat tidak ada tanda-tanda Fiqer. Vie menghela napas lega. Dia akan menjadi gila jika pria itu terus di dekatnya.


"Aku akan mengunci pintu dan tidur tanpa mendengarkan ketukannya. Lebih baik menjauhi pria itu, dia sedikit aneh. Eh, kenapa aku harus menjauh. Tidak, aku tidak akan kalah dengan pria itu."


Vie bangun dari tepat tidur. Dia bersihkan kamarnya dan segera mencuci muka sembari mengosok gigi.


"Hari ini joging di halaman. Selagi di kawasan mewah ini, gunakan waktu luang mu untuk menikmatinya."


Vie melangkah keluar kamar dan melihat Lily yang melewati kamarnya.


"Pagi Vie," sapa Lily.


Vie mengangguk dan mengunci pintu kamarnya. "Pagi juga, kenapa kau bisa lewat di sini?"


"Oh, aku menghampiri seseorang. Yeah, dia akan bertahan di sini." sahut Lily.


"Bertahan?" alis Vie berkerut mendengar perkataan Lily. Apa maksud dari bertahan itu?


"Kau terlalu cepat tidur tadi malam. Semalam, Kelvi memberi peluang kepada seluruh calon istri yang ingin mengundurkan diri. Sekitar lima orang akhirnya memilih untuk keluar."


"Benarkah? Jadi hanya tersisa 15 orang saja lagi?"


Lily mengangguk kepala. "Oh ya, kau tahu! Rangkingmu tidak pernah turun karena nilaimu sebesar 2000. Sedangkan yang lain hanya sekitar ratusan. Vie, kau beruntung sekali!"


"Hah, kau bilang apa?" langkah Vie berhenti. Dia menatap Lily yang ikut berhenti melangkah.


"Tidak salah, 2000? Hei, tidak ada yang memberi nilai ujian sebesar itu." Vie benar-benar terkejut mendengar perkataan Lily. Dia tidak tahu kalau nilainya sebanyak itu.


"Apa yang kau kagetkan. Menurutku nilaimu itu memang tepat. Kau tampak seperti wanita yang tidak akan kalah dengan siapapun. Jadi, kenapa ragu dengan kemampuan sendiri." ucap Lily sembari kembali berjalan.


Vie terdiam menatap kepergian Lily. Niatnya yang ingin berjoging seketika menghilang. Dia melangkahkan kaki menuju ke ruang Faga.


Setiba di sana, pintu diketuk olehnya hingga pemilik ruangan membuka pintu.


"Nona Vie, ada apa?" tanya Faga.


"Katakan dengan jelas, kenapa aku harus mendapatkan nilai 2000 sedangkan yang lain mendapatkan nilai ratusan. Apa yang terjadi?" tanya Vie.


Faga memberikan ruang untuk Vie masuk. Duduk di dalam dengan secangkir teh, Vie menatap Faga yang memainkan tablet di tangannya.


"2000 itu bukan nilai,melainkan sebuah poin. Seluruh keluarga Michael memberikan penilaian berdasarkan poin. Poin tertinggi itu 200, tidak heran poinmu 2000. Jadi, Anda tahu kalau seluruh keluarga Michael menilai Anda dengan baik." jelas Faga.


"Apakah tidak ada cara membagi poin itu. Nilainya terlalu tinggi, mereka tidak akan bisa merebut posisiku." ucap Vie.


Faga terteguh mendengarnya. "Hm, aku tidak tahu masalah ini."


Tahu apa yang di pikirkan Faga, Vie kembali berucap. "Aku bukan menolak penilaian keluarga ini. Namun, aku lah yang tidak pantas di sini. Bagikan poinku kepada seluruh wanita yang tersisa. Berikan nilai buruk padaku. Aku tahu, kalau semua ini hanya di awasi olehmu."


Faga semakin terteguh. Dia menatap Vie dengan pandangan khawatir.


"Aku tidak bodoh Faga. Seluruh ruangan ini memiliki cctv. Tapi tidak dengan kamar atau ruangan yang mampu memberi peluang orang lain untuk bersama. Tidak heran Kelvi begitu khawatir tentang kedekatanku."


"Keluarga Michael begitu terhormat hingga rumor buruk mereka tidak pernah terdengar. Namun, aku tahu kalau istri ketiga hingga kelima, mereka hamil diluar nikah. Benar bukan?"


"Benar," sahut Faga.


Vie menghela napas. "Aku ingin, mereka mendapatkan nilai yang adil. Mungkin, penilaian tinggi mereka kepadaku hanya karena aku seorang cucu dari teman mereka. Tenang saja, beri aku nilai sesuai dengan kemampuanku."


Vie segera pamit setelah berucap demikian. Dia melangkah meninggalkan ruangan yang terdapat seorang wanita di sana.


Langkah kaki Vie terhenti ketika tiba di pintu Vila. "Poin itu terlalu banyak. Kenapa mereka menilaiku sebesar itu. Apa ada tujuan lain?" benaknya.


"VIE!"


Vie segera menoleh. Dia melihat Otavi mendekat perlahan.


"Kau ingin joging?"


"Hm," sahut Vie.


"Aku ikut, dari tadi aku hanya berada di dapur untuk menyiapkan sarapan kalian. Ayo kita joging!" ucap Otavi.


Vie mengangguk dan melangkahkan kaki menuju keluar Vila. "Sudahlah, itu hanya sebuah poin. Jangan terlalu di pikirkan," benak Vie.

__ADS_1


__ADS_2