
"Kalau bukan orang yang sudah menikah, maka wanita itu pasti terkena asam lambung." sambung Fifi dengan santai.
Vie menghela napas meski dia tidak bisa menenangkan hatinya. Dia mengingat hubungan panas yang dia lakukan dengan Fiqer.
"Kenapa kau bertanya tentang hal itu? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Fifi.
Vie menggeleng, "Aku? Tidak ada. Hanya penasaran dengan orang-orang yang sedang muntah dikediamanku."
Kepala Fifi mengangguk-angguk. "Oh ya, kalau begitu selesaikan gambaranmu."
Vie segera menyelesaikan lukisannya. Dia menatap hasil gambarannya. "Aku sudah selesai sampai jumpa Fifi." ucap Vie memilih untuk pergi.
Celana Vie tertarik saat dia melewati Fifi. Kepalanya menoleh untuk melihat wanita yang masih duduk di kursinya.
"Vie, maafkan apa yang ku lakukan kepadamu saat itu. Aku benar-benar berharap kalau diriku bisa menjadi menantu keluarga Michael. Sayangnya, semua itu hanyalah harapanku saja."
"Harapan kah, sama ... aku juga berharap sesuatu sepertimu. Namun, hasilnya berbeda. Aku mendapatkan Fiqer meski harus berpisah, sedangkan dirimu harus menanggung malu." celetuk Vie.
Genggaman Fifi di lepas olehnya. Dia segera melangkah pergi meninggalkan wanita yang kini menundukkan kepala.
Setiba di parkiran, Vie memutuskan untuk menjalankan motornya menuju ke sebuah toserba. Dia masuk ke dalam dan mencari sesuatu yang akan menjawab keganjalan hatinya.
"Em, ini ...," penjaga kasir terteguh melihat apa yang Vie berikan. Dia tidak menghiraukan pandangan orang lain. Yang saat ini merasuki pikirannya, hanya sebuah jawaban nyata.
Setelah membayar semua itu, Vie memutuskan untuk pulang ke rumah. Setibanya di kediaman Maherqi. Vie memutuskan untuk melangkah pergi dengan cepat ke kamarnya.
Panggilan sang Ibu pun tidak di hiraukan oleh Vie. Dia melangkah ke depan dengan mengenggam belanjaannya.
"Ada apa dengan cucu kita?"
"Mungkin dia sedang ada sesuatu, Ayah."
"Sudahlah, biarkan dia menikmati liburannya."
Ucapan orang tua yang berpikir positif kepada anaknya.
Vie tiba di dalam kamar, menutup rapat pintu dan melangkahkan kaki menuju sofa kecil.
Bungkusan yang dia bawa segera di keluarkan oleh Vie dan kotak yang dia beli segera di buka. Sebuah tes kehamilan tampak di depannya.
"Wow, apakah takdir mengujiku? Aku mengatakan kepada Kelvi, jika aku hamil. Aku akan menyembunyikan keberadaanku. Huh, lagi-lagi, aku menjilat salivaku sendiri."
Vie beranjak menuju ke kamar mandi dan melihat bagaimana cara pengunaan tes kehamilan itu.
Setelah membaca semua yang ada di kotak kemasan. Vie segera mengunakan tes itu untuk mengetahui jawaban yang saat ini di cari olehnya.
Seperti petunjuknya, Vie kini menatap tes kehamilan dengan berdiri di depan cermin kamar mandi. Dia memperhatikan perubahan garis yang ada di sana.
"Berapa lama aku harus menunggu garisnya muncul?" gumam Vie.
Matanya begitu teliti menatap hasil yang akan tampil di depannya. Setelah beberapa detik berlalu, sebuah garis merah yang kembar tampak di depan mata Vie. Dia segera bungkam melihat hal tersebut.
"Haha, tidak mungkin!" pekik Vie sembari menggeleng. Tes kehamilan itu digenggam erat oleh dirinya.
...●●●...
Di meja makan, semua keluarga tengah berkumpul dengan menanti makan malam tiba.
"Vie, ada apa denganmu?" tanya Bibi Herqa.
Vie segera menoleh menatap sang Bibi. Bibi Herqa adalah anak angkat dari Kakek Garha Maherqi, Ayah Otavi.
"Tidak ada Bi, Vie hanya tidak enak badan saja." sahut Vie.
Saat ke wahana bermain, Vie hanya memainkan satu permainan. Apa melulis di sebut permainan? Vie tidak tahu semua itu. Yang terpenting, dia sekarang sedang tidak baik-baik saja.
"Begitu kah? Ya sudah, ayo makan bersama. Oh ya, karena kau tidak menyukai jengkol. Bibi yang akan menghabiskan bagianmu." ucap Bibi Herqa.
Vie melihat semangkuk jengkol di depannya. Dia tahu kalau itu bagiannya tapi, Vie tidak menyukai jengkol.
Kepalanya ingin mengangguk, akan tetapi hidungnya menghirup aroma makanan yang seharusnya dia benci.
Mangkuk berisi jengkol itu segera di ambil oleh Vie. Bibi Herqi terteguh dengan apa yang Vie lakukan.
"Bukan kah kau bilang tidak menyukainya, Vie?" tanya sang Bibi.
Vie tersenyum dan berusaha untuk melanjutkan kebohongannya. "Sepertinya, aku ingin mencoba jengkol ini. Boleh ya?"
Seluruh keluarga setuju tanpa memberi penolakkan. Mereka senang dengan perubahan Vie. Tidak ada yang tahu kalau Vie saat ini tengah gelisah.
"Aku sebaiknya pergi ke rumah sakit." benak Vie mengambil keputusan.
__ADS_1
Setelah makan malam itu, Vie segera mengatur kegiatannya. Dia harus keluar kediamana tanpa perlu di ketahui oleh orang lain. Apa lagi, Ayahnya sudah menitipkan seorang supir yang siap mengantar ke mana pun.
Bersendawa di lakukan Vie, aroma jengkol tercium olehnya. Biasanya, Vie akan menjauh atau bersikat gigi untuk menghindari bau jengkol ini. Namun, sekarang dia malah tidak perduli. Hidungnya malah menerima aroma itu dengan baik.
Vie pun tidak bisa mengosok giginya. Dia hanya akan berkumur dengan pewangi mulut. Tanpa sadar, Vie menyentuh perutnya yang tampak datar.
"Jika aku benar-benar hamil. Aku harus ke mana ya, apa aku harus mengugurkannya?" guman Vie.
Di usap lembut perut tersebut hingga dia tertidur dengan nyaman.
Pagi harinya, Vie membuka mata untuk menatap sekelilingnya. Dia segera mendudukkan diri dan menatap cermin yang memang terpajang tepat di depan kasur.
"Baiklah, aku harus ke rumah sakit hari ini." benak Vie.
Bersiap dengan perlengkapan yang ada. Vie melangkahkan kaki menuju ke luar kamar.
"Hufh, huh...."
Vie melangkah menuruni tangga dengan santai. Dia sudah begitu ahli dalam berbohong. Sebegitu mudahnya mengucapkan kebohongan yang tidak pernah di alaminya.
Meski begitu, semua demi kebaikkan Vie sendiri. Dia juga bingung, kenapa harus berbohong.
"Mau ke mana Vie?"
Vie menatap pria yang merupakan kepala keluarga Maherqi. Bisa di bilang, Dia adalah kakek buyutnya.
"Kakek," sapa Vie dengan mendekati.
Sang Kakek mengandeng Vie untuk menuju ke sofa ruang keluarga. Vie pun mengikuti apa yang diinginkan oleh Kakeknya.
"Kau ingin ke mana hm?" tanya sang Kakek kembali. Dia duduk di sofa bersebelahan dengan Vie.
"Begini Kakek, Vie bosan di rumah. Jadi, hari ini Vie ingin berjalan-jalan dengan membawa motor. Boleh ya Kakek, dan tolong kasih tahu Ayah kalau aku ingin mengunakan motor." pinta Vie dengan wajah memohon.
Tidak ada yang bisa menolak wajahnya. Sang kakek saja langsung mengangguk sembari mengusap kepalanya. "Kalau kau memang ingin berjalan-jalan, silahkan. Tapi, hati-hati, jangan membawa motor seperti pembalap." pesan Kakek.
Vie mengangguk dengan senyum senangnya. Dia segera berpamitan dan melangkah pergi sebelum orang lain tahu.
...●●●...
Tiba di rumah sakit, Vie sudah mengatur jadwalnya dengan nama Vie tanpa Marga. Dia juga menyembunyikan dirinya agar tidak ada yang tahu, siapa dia.
"Ada yang bisa di bantu, bu?" tanya Dokter dengan suara ramah.
Vie tersenyum di balik masker. "Maaf bu, harus pakai masker segala, lagi flu."
Dokter wanita itu mengangguk. "Tidak apa Bu, di pakai aja jika penat, lepaskah maskernya."
Anggukkan kepala sebagai tanda menyetujui, dari Vie. Dia segera menunjukkan tes kehamilannya. "Dok, ini pertama kali aku mengunakan tes kehamilan ini. Menurut Anda, apakah akurat?"
Dokter itu memeriksa tes kehamilan dengan menatap Vie. "Apa ibu baru menikah?"
Vie terteguh mendengar hal itu. Dia segera menjawab dengan nada tenang. "Iya Dok, pernikahan kami memasuki usai tiga bulan."
Kebohongan Vie segera di respon dengan kepercayaan Dokter. Tes kehamilan itu di serahkan kembali padanya.
"Sepertinya, untuk memastikan semua itu, kita perlu tiga tes kehamilan. Dan, untuk mendapatkan hasil akurat, cobalah untuk mengunakan tes itu saat baru bangun tidur."
"Jika ibu, bangun di jam empat pagi atau lima pagi. Bawalah tes kehamilan ini dan lihat hasilnya. Jika garis dua muncul, maka Ibu di nyatakan positif hamil."
"Tapi, karena sudah datang di sini. Mari, saya periksa." ucap Dokter.
Penjelasan panjang lebar itu tidak berguna untuk Vie. Dia datang ke sini juga untuk membuktikan semuanya.
Pemeriksaan pun di mulai, Vie melalui semua itu tanpa ada hambatan. Sesekali, dia memerankan diri sebagai seorang wanita yang baru menikah dan sedang mengalami flu ringan.
"Uhuk! Jadi, bagaimana dengan hasilnya?" tanya Vie.
Dokter tersenyum memeriksa lembaran yang keluar lima belas menit yang lalu. Dia menunjukkan hasil lembaran itu di depan Vie.
"Sekamat bu, Anda di nyatakan hamil. Semua tes yang kita lakukan positif. Usia kandungan Anda sudah satu minggu." jelas Dokter.
Vie tersenyum di balik masker. Siapa yang menduga, hubungan bebasnya telah menghadirkan kehidupan baru di perutnya. Vie seketika mencengkram baju yang ada di bagian perut.
"Dokter, apa aborsi itu menyakitkan?" tanya Vie dadakkan.
Dokter yang ada di depannya terkejut mendengar hal itu. "Aborsi? Ibu, bukankah ini Anak pertama Anda. Untuk melakukan Aborsi memiliki resiko yang tinggi."
Vie membungkam mulutnya, dia tidak berani berkata apa pun sekarang. Ucapan sebelumnya benar-benar di luar dugaan.
"Maaf Dok, hanya bertanya saja. Soalnya, ada tetanggaku yang juga tengah hamil. Namun, dia masih berusia 20 tahun." ucap Vie.
__ADS_1
Dokter tersebut mengangguk mendengar apa yang dia katakan. "Waah, usia seperti itu pasti sangatlah muda. Semoga, menjadi ibu muda yang baik dan sehat jasmani. "
Vie tersenyum dan segera pamit meninggalkan ruangan. Dia akhirnya mengerti, kenapa banyak yang ingin mengugurkan anak mereka dalam hubungan bebas ini.
Sembari berjalan, Vie memikirkan tentang nasibnya. Jika mempertahankan Anak ini, dia akan mendapatkan amarah besar keluarga.
Tapi jika mengaborsinya, hati Vie merasakan rasa sakit yang mendalam. Dia seakan membuang cintanya sendiri.
Vie akui, dia masih mencintai Fiqer. Tampaknya, rasa cinta ini akan terus bertahan di dalam hatinya.
Tiba di parkiran, Vie memutuskan untuk kembali pulang. Dia telah memutuskan sebuah tujuan untuk menyelesaikan masalah ini.
"Baiklah, karena aku menjadi ibu muda tanpa suami. Lebih baik aku pergi membawa anakku dan membesarkannya di sana." benak Vie.
Di kediaman Maherqi, Vie melangkah masuk ke dalam dengan cepat. Dia menuju ke kamar dan mulai mengemasi barangnya.
Setelah tersusun rapi, koper itu di dirikan dekat pintu. Langkah kaki Vie segera menuju ke laptop yang ada di atas meja.
"Baiklah, untuk memulai hidup baru. Aku harus memikirkan tempatnya."
Kursor laptop tertuju pada denah wilayah. Vie memutuskan untuk pergi ke kota T. Ada sebuah desa di sana, Desa Sgl 04. Desa itu lumayan terpencil untuk Vie.
"Baiklah, aku akan mengirim denah ini. Hm, tinggal uang untuk tinggal di sana. Aku tidak akan membawa ponsel lamaku dan kartu bankku."
Vie mengatur dompet yang dia bawa. Di atur semua itu hingga yang dia bawa hanya ponsel baru dan uang tunai.
"Cukup untukku. Tiba di sana nanti, aku akan mencari pekerjaan yang tidak memberatkanku."
Di usap perut yang masih datar itu dengan perasaan bahagia. Vie begitu senang meski perasaannya penuh kesedihan.
"Sudahlah, ayo kita pergi dari kota S ini." ucap Vie dengan semangat tinggi.
Di ruang tamu, semua keluarga terteguh dengan apa yang Vie lakukan.
"Nak, kau ingin pergi ke kota T? Kenapa liburan di sana?" tanya sang Ayah.
Vie memayunkan bibirnya. Sudah saatnya, dia mengunakan mode berbohong yang kini menjadi kesukaannya.
"Ayah, teman sekolahku merekomendasikan wisata pulau yang ada di kota T. Jadi, aku ingin ke sana sekalian menikmati waktu liburku. Aku ingin tinggal beberapa bulan di sana, tenang saja semua yang Ayah berikan sudah ku bawa."
Seluruh keluarga diam sesaat, hingga sang Kakek bicara. "Jika itu keputusanmu, baiklah. Kakek akan menyetujuinya. Tapi, Vie ... berapa lama kau akan di sana?"
"Hm, Vie akan kembali kalau Vie bosan Kakek." sahutnya.
Semua mengenal Vie. Hanya penerus utama ini yang memiliki sikap unik. Rasa bosannya itulah yang menarik. Dia bisa meninggalkan apa yang menurutnya penting. Rasa bosan Vie paling lama hanya sekitar tiga bulan.
Karena hal itu, semua keluarga mengangguk menyetujui keputusan Vie .
"Baiklah, kalau begitu biar kau pergi menggunakan mo-,"
"Aku akan menggunakan motor Ayah. Temanku sudah menungguku. Tenang saja, Aku tidak akan kenapa-napa kok." potong Vie.
Sang Ayah yang ingin berbicara itu menjadi diam. Dia mengangguk kepala mendengar ucapan putrinya.
Ibu Rusmi segera memeluk Vie dengan erat. Dia mengusap kepala putrinya. "Kau memang tidak betah di rumah ya. Jaga dirimu di sana, jangan sampai kau sakit."
Vie tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian melangkah pergi sembari membawa kopernya. Sudah dia tinggalkan barang-barang yang bisa melacak keberadaannya.
Keluarga Maherqi mudah melacak semua yang ingin mereka cari. Ponsel semua orang di tanam alat pelacak, lalu kartu bank pun mendapatkan hal itu. Mereka akan melacak hingga menemukan semuanya.
Maka, Vie tidak ingin hal itu. Dia memutuskan untuk melahirkan anak ini. Dan tempat yang ingin dia kunjungi ada di Desa Sgl 04. Tempat itu, tidak akan mungkin bisa di lacak keluarganya.
"Sampai jumpa," ucap Vie sembari melambaikan tangan. Dia menyiapkan dirinya untuk memulai hidup baru.
...●●●...
Tuan Fintro Michael menatap kaget dengan apa yang terjadi.
"Bukankah seharusnya Vie yang ada di sampingmu, Fiqer?" tanyanya dengan serius.
Sore ini, seluruh calon Istri dikumpulkan untuk berkenalan satu dengan yang lain. Namun, Ayah Fintro, dia tampak tidak senang dengan perkumpulan ini.
"Ayah, bukahkah ibu yang menyuruhku untuk memilih wanita ini." sahut Fiqer.
Tuan Fintro menggeleng kepala mendengar hal itu. "Tidak pernah ada nama Weliyana dalam keputusan ibumu. Sebelum dia meninggal, Ibumu bilang kalau kau harus menikah dengan Vie, bukan dengan Weliyana."
Kakek Roger terteguh mendengar perkataan putranya. "Loh, Weliyana ini bukan mengikuti tantangan dari awal?"
Ayah Fintro menggeleng, "Aku pun kaget ketika tahu kalau ada lagi calon tambahan. Sebelumnya, tidak ada pemilihan seperti ini."
Suasana di kediaman Michael benar-benar mencengkam. Tiasa, Otavi dan Nala hanya bisa meneguk saliva mereka.
__ADS_1