
Hari belum sepenuhnya pagi, tapi Vie memutuskan untuk pergi dari Vila ini. Hatinya sakit, jiwanya tersiksa dan semua kepercayaannya menghilang seketika.
Dia tidak ingin merasa sakit dan lebih sakit lagi. Lebih baik dia pergi meninggalkan Vila ini dan menikmati hari-harinya tanpa bertemu dengan Fiqer dan penerus lainnya.
Terutama, wanita yang ingin dia hindari, kini berdiri di depannya dengan bersedekap di dada.
"Ini adalah jal**g yang sesungguhnya. Apa kau menderita hingga menjual dirimu sendiri?" cibir Weliyana dengan senyumnya.
Vie tidak menghiraukan apa yang di katakan wanita itu. Dia menarik kopernya dan melangkah menuju pintu.
Pakaian yang di kenakan Vie sangat sederhana. Tidak heran tanda-tanda c*p*ng yang diberikan Fiqer terlihat. Di tambah, langkah kaki Vie yang harus sedikit terbuka karena baru saja di sentuh oleh Fiqer.
"Hei, berapa bayaranmu melakukan semua itu. Aku akan membayarmu, oh ya ... kalau hamil, uangnya bisa kau gunakan untuk mengaborsinya." celetuk weliyana.
Langkah kaki Vie terhenti seketika. Dia menatap Wanita yang sedari tadi mengoceh di depannya. Dengan cepat tangan kiri Vie mencengkram leher Weliyana.
"Aku paling membenci orang yang sudah tidak di hiraukan, masih ingin perhatian. Dengar Weliyana! Ini hidupku dan ini urusanku. Jika kau ingin membuka lebar kakimu, buka saja dan tunjukkan kepada orang yang kau cintai. Bukan mencibir orang lain."
"Kau tahu, aku muak melihat seorang hewan yang selalu mengonggong. Seakan melihat sesuatu atau membujuk tuannya. Dengar baik-baik, kau juga wanita. Kedatanganmu juga merusak hubungan orang lain."
"Ku tidak tahu apa yang membuatmu mau bekerja sama dengan Nyonya Zisa dan Nyonya Violet. Tapi dengar, suatu saat nanti kalian akan menerima apa yang kalian tuai. Semoga, tidak membuat hidup kalian menderita."
Vie menghempaskan tangannya hingga Weliyana terbatuk-batuk setelah cengkramannya lepas.
Langkah kaki Vie di ambil kembali. Dia meninggalkan Vila tanpa memberitahu siapapun. Dia juga sudah memesan taksi online yang siap menjemputnya.
Weliyana yang melihat kepergian Vie segera meringkuh. Dia menyentuh lehernya yang masih merasakan cengkraman Vie. "Dia, dia ingin membunuhku." gumamnya.
Tiba di halaman, Vie memutuskan untuk terus melangkah hingga melihat gerbang utama. Di sana, seseorang tampak menunggu kedatangannya.
"Anda akan pergi tanpa berpamitan kepada siapapun?" ucap Kelvi dengan melangkah mendekatinya.
Vie menghentikan langkah kakinya. Di tatap wajah Kelvi, orang yang akan menjadi suami Otavi.
"Aku tidak perlu berpamitan, sudah cukup dengan tipu muslihat keluarga kalian. Aku tidak ingin membuat keluargaku di sini, ikut terkena masalah. Cukuo membenci diriku saja." sahut Vie.
"Setidaknya, berikan perpisahan terbaik. Anda telah-,"
Vie tersenyum, dia tahu apa yang di khawatirkan oleh Kelvi. "Tenang saja, meski aku hamil sekalipun. Aku tidak akan memberitahu keluarga kalian. Dan anaknya, akan ku sembunyikan dari publik. Hahaha, itu tidak akan terjadi." ucap Vie sembari melangkah menuju gerbang.
"Aku harus pergi, diriku tidak ingin melihat air mata, Otavi, Tiasa dan Nala. Jadi, tolong buka gerbangnya." pintanya.
Pria bermata empat itu mengangguk dan membukakan gerbang. Sudah siap sebuah mobil hitam dengan supirnya.
"Kami menerapkan kesopanan yang tinggi. Berani menjemput, berani mengantarnya kembali. Tolong, terimalah semua ini, Nona Vie." Kelvi berucap sembari menundukkan kepalanya.
Vie mengangguk dan segera membuka ponselnya. "Jika taksi tiba di sini, bayarlah. Aku menganti uangmu," ucap Vie.
Kelvi menggeleng, "sudah ada taksi tiba di sini, dan aku sudab membayarnya. Tidak perlu menganti uangku."
Vie tersenyum dan menyimpan uang yang dua punya. Dirinya segera masuk ke dalam mobil dan sedikit membuka jendelanya.
"Oh ya, hadiah yang ku terima. Kirim saja ke kediamanku. Aku sangat berterima kasih dengan sekolah aneh ini. Sampai jumpa dan semoga kita tidak pernah bertemu lagi." ucap Vie dengan lambaian tangannya.
Vila megah nan indah di tinggalkan oleh Vie tanpa menoleh sekalipun. Air matanya mengalir karena masih ada perasaan yang sama, perasaan yang ingin mencintai terus menghantuinya.
Usapan di pipi untuk menghilangkan air mata itu, menegarkan diri dan siap memulai hari. "Vie, mari melupakan apa yang terjadi. Tinggalkan semuanya di sana dan mulai dengan cinta barumu, seperti sebelumnya." benak Vie.
Tidak lama menunggu, Vie datang di kediaman Maherqi. Dia keluar dari mobil dan kembali membawa kopernya.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada supir, Vie melangkah mendekati gerbang yang terdapat penjaga di sana.
"Loh, Nona Vie?" kaget mereka.
Vie tersenyum, "Maaf Pak datangnya sebelum pagi. Boleh di buka pintu gerbangnya pak?"
Gerbang segera di buka oleh Pak Penjaga. Alasan Vie kembali cepat sebelum matahari tiba, karena menutupi apa yang ada di tubuhnya. Dia tidak ingin orang tuanya tahu.
Meski begitu, Pak Penjaga jelas melihat apa yang terjadi kepada Nonanya. Vie pun menyadari hal itu. Dia tersenyum sembari berkata, "rahasiakan ya Pak."
Pak penjaga mengangguk kepala dan segera membungkamkan mulutnya. Melihat keputusan Pak penjaga yang tepat, Vie memutuskan untuk masuk ke dalam Vila melalui jalan pintasnya.
Ada lorong kecil yang mengarah langsung pada kamarnya, Vie mengambil jalan itu untuk menghindari cctv ruangan.
Setiba di kamar dengan selamat. Vie segera membersihkan dirinya. Melepaskan semua pakaian yang di kenakan, hingga seluruh tubuhnya tampak di cermin kamar mandi.
Terlihat bekas tanda dan gigitan yang Fiqer berikan. Mereka selalu melakukan hubungan terlarang di manapun tempatnya. Meski, hanya ada di kamar Fiqer saja.
Namun, semua yang mereka lakukan penuh dengan perasaan cinta yang membara. Sekarang, perasaan membara itu menghilang karena Vie memutuskan untuk melupakan semuanya.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri. Vie mengunakan make up untuk menutup tanda cinta di lehernya. Untuknya, tanda itu tidak separah dulu.
"Huh, hoaam!" Vie berbaring di kasur empuk miliknya. Matanya kembali mengantuk, dan senyumnya perlahan memudar.
Vie memutuskan untuk tidur dan melupakan semua yang terjadi. Besok paginya,dia akan mengejutkan semua orang.
...●●●...
Pagi hari yang indah menyambut, Vie membuka mata karena memang sudah saatnya dia bangun. Setelah pandangannya pulih dengan baik, lirikkan mata menuju ke arah jam dinding.
"Hoam, baru jam delapan pagi?" gumamnya sembari mendudukkan diri.
Setelah perasaannya lebih baik, Vie memutuskan untuk mandi dan bersiap mengejutkan orang tuanya.
Berpakaian hoodie untuk menutupi lehernya, Vie akhirnya keluar kamar dengan wajah segar dan gembira.
Langkah kaki lebarnya berlari menuruni tangga menuju dapur, di mana semua keluarga tengah berkumpul.
"PAGI!" teriak Vie.
Semua pandangan orang-orang tertuju padanya. Mereka terkejut melihat kedatangan Vie.
"Astaga, Vie?"
"Hei, kapan kau kembali?"
"Ayoo, lihatlah cucu tampak kurus di sana. Ayo makan dulu di sini."
Vie segera menarik kursi untuknya. Duduk di dekat Kakek dan Ayahnya.
"Hei, Vie ... kau kembali kapan?" tanya Ayah Musi. Memiliki tatapan elang seperti Vie saat marah. Lalu, pria yang dingin ketika orang lain tidak mengenalnya. Dia adalah Ayah, Vie.
"Sebenarnya kemarin siang aku harus kembali. Tapi, Otavi melarangku. Dia bilang ingin mengajakku untuk makan bersama. Dan aku tertidur di sana." sahut Vie.
Sang Ayah mengusap kepalanya dengan lembut. "Apa kau ingin melakukan perjodohan lain? Ayab memiliki teman, putranya ingin mencari seorang istri." ucapnya.
Vie menggeleng mendengar hal itu. Di samping tempatnya duduk, ada sang Ibu yang merangkulnya. "Sudahlah, jika jodohnya bukan dengan keluarga Michael. Maka, tidak perlu memaksa dirinya. Dan lagi, dia baru kembali setelah satu bulan pergi. Jangan membuatnya meninggalkan kita dulu."
Ayah Musi mengangguk mendengar perkataan istrinya. "Baiklah, putriku nikmati waktu luangmu. Apa kau ingin pergi ke mal? Atau tempat liburan lainnya?"
Vie melihat sebuah kartu bank di depannya. "Untuk apa Ayah?" tanya Vie.
"Untuk kau gunakan lah. Pergilah nikmati waktu liburanmu." ucap sang Ayah.
Semua mengangguk dan memulai sarapan mereka. Vie tersenyum menikmati suasana hangat ini. meski dia berbohong, keluarganya tidak akan tahu apa pun tentang perjodohan itu.
"Suatu saat nanti, aku akan mengatakan semuanya. Maaf semua," benak Vie.
...●●●...
Seorang pria mengubah posisi tidurnya. Tangannya terulur untuk mencari sesuatu. Tidak menemukan apa yang dia cari, Mata pria itu terbuka.
Suasana sunyi, cahaya matahari tidak bisa menembus jendela yang tertutup gorden. Matanya segera menangkap tempat yang berantakkan.
"Vie?"
Pria itu duduk dan memperhatikan kembali apa yang terjadi di dalam kamarnya. Setelah meneriksa semua itu, wajahnya menjadi datar seketika.
"Kau meninggalkanku, Vie?"
Fiqer, pria yang saat ini tidak mengenakan busana apa pun memilih untuk menuju ke kamar mandi. Dia melihat cermin yang menampakan bekas ciuman di pipinya.
Tangan Fiqer segera menyentuh pipi tersebut. Dia bisa membayangkan bagaimana Vie menciumnya sebelum memilih pergi.
"Vie, maafkan aku. Aku tidak bisa menahanmu karena pilihan ibu."
- Fiqer, ibu meminta maaf kepadamu karena surat ini pasti akan menyakiti dirimu. Ibu, berharap agar kau menikah dengan Weliyana, bukan dengan Vie. Ibu tidak ingin kau menderita menikahi gadis itu, dia tetap hanya gadis biasa.-
Fiqer bersandar di dinding kamar mandi. Di begitu bingung mengambil keputusan yang aneh ini.
Sejujurnya, Fiqer tidak ingin melepaskan Vie. Dia sudah mencintai gadis itu dan akan benar-benar memilikinya.
Namun, tidak mungkin dia melupakan apa yang di janjikan Ibunya. Dia akan terus mematuhi perkataan sang Ibu, karena cinta pertamanya adalah Ibunya.
Setelah meratapi semua itu, Fiqer memutuskan untuk membersihkan diri dan membiarkan lehernya terekspos.
Banyak tanda cinta yang di berikan oleh Vie kepadanya. Dia tidak akan membunyikan semua ini. Akan lebih baik kalau orang tahu kalau dia memiliki orang yang di cintainya.
Di ruang makan, Fiqer duduk menikmati hidangan yang di sajikan oleh koki khusus. Dia makan tanpa menghiraukan orang-orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Fiqer, pagi." sapa Weliyana sembari duduk di sampingnya.
Fiqer hanya berdehem tanpa merespon lebih lanjut. Dia hanya memenuhi janjinya kepada sang ibu, tidak ada perasaan yang dia berikan kepada Weliyana.
"Apa pagi ini ada waktu? Aku ingin berjalan keluar." ucap Weliyana.
"Bukankah kemarin sudah mengajakku keluar." kata Fiqer menatap gadis di sampingnya.
Weliyana, hanya tersenyum dan tiba-tiba merangkulnya. "Hei ayolah, kita akan menjadi pasangan seumur hidup. Apa salahnya menghabiskan waktu berdua." goda Weliyana.
Fiqer menarik tangannya hingg rangkulan itu terlepas. "Dengar, kau tidak melihat jejak di leherku ini, aku tidak bisa keluar." ucapnya.
Semua terteguh melihat leher Fiqer yang penuh tanda memar dan gigitan kecil.
Otavi, Tiasa dan Nala bungkam melihat hal itu. Mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tentu saja, Penerus Michael juga mengetahui hal itu. Apa lagi Kelvi yang hanya melirik tanpa membahas lebih lanjut.
Weliyana segera bungkam melihat hal itu. Dia menatap ke arah lain untuk menenangkan dirinya.
"Aku akan pergi ke kediaman utama. Kelvi dan Resga ikut denganku." ucap Fiqer yang memilih untuk menyelesaikan sarapannya.
...●●●...
Seperti apa yang di katakan oleh Ayahnya. Vie kini berdiri di sebuah pusat perbelanjaan. Dia menatap puas dengan apa yang ada di matanya.
"Tidak sia-sia aku kembali." pekik Vie
Mengenakan kacamata hitam, Vie melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaannya.
"Hei, Vie!" teriak seseorang.
Vie menoleh ke arah seorang wanita yang datang dengan semburan bahagia.
"Oh, Hai Putri." sapa Vie dengan menyambut kedatangan Putri, teman masa sekolahnya.
"Aku mendengar kau mengikuti ujian calon istri ya. Bagaimana hasilnya?"
Vie tersenyum ketika wanita di depannya ingin mengingatkan kejadian semua itu. "Aku tidak berhasil lolos. Ternyata banyak yang cantik dan lebih baik lagi."
"Eh? Benar, keluarga Michael itu pasti mementingkan kualitas menantu mereka."
"Benar, bahkan mereka harus memperhatikan sebaik apa mereka bekerja."
"Ooh, begitu ya... sudahlah, karena kau tidak lolos. Ayo kita menjelajah di pusat perbelanjaan ini. Aku dengar ada ramen yang sangat enak."
"Eh, benarkah?"
Vie mengikuti langkah Putri menuju ke sebuah kedai ramen yang berada di tepi pusat perbelanjaan.
Di sana sudah ada banyak pelanggan. Vie dan Putri duduk sembari menikmati hidangan tersebut.
"Gila, ini enak banget." pekik Vie. Dia akhirnya bisa bebas menghabiskan waktu seorang diri tanpa ada hambatan.
"Nah bener kan. Ayo makan lagi, kali ini aku yang traktir." ucap Putri.
Makan sepuasnya, senangkan hatimu hingga kamu bahagia. itu lah yang ada di benak Vie. Setelah puas makan dia harus berpisah dengan Putri karena mereka berbeda tujuan.
"Sampai jumpa ya, Vie!" lambaian tangan Putri di balas hal yang sama oleh Vie.
Setelah kepergian temab sekolahnya Vie memutuskan untuk menaiki lantai kedua. Di sana ada banyak pakaian yang bisa membuatnya tergoda.
"Aku ingin membeli hoodie, biar tidak terlihat kurus." gumam Vie.
Langkah kaki membawanya menuju ke lift. Sembari menunggu, Vie memutuskan untuk bermain ponselnya.
[Tante Muda *Otavi*]
Kenapa pulang tidak pamit?
"Eh, dia baru menyadari kalau aku sudah pergi." benak Vie sembari membalas itu.
Aku pamit pulang terlalu pagi. Kau pasti tahu apa yang terjadi kan?
Vie tersenyum setelah membalas hal itu. Dia tahu kalau Otavi pasti telah mengetahui semuanya. Tidak perlu di rahasiakan lagi. Jika keluarganya tahu, mungkin Vie akan di jodohkan dengan orang asing.
"Aku tidak berharap pada perjodohan." gumamnya.
Asik berpikir seorang diri. Vie menatap lift yang terbuka di depannya. Terlihat seorang pria yang bersama seorang wanita.
__ADS_1
"Vie?"
"Surza dan ... Putri Relia?"