Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(15) Tidak terpilih


__ADS_3

Semenjak pertengkaran itu terjadi, Vie dan Fiqer saling mempercayai dan membangun kembali kedekatan mereka.


Vie pun dengan perasaan senang menerima semua itu. Siang ini, dia menyajikan sebuah makanan yang di buat dengan tangannya sendiri.


Cinta yang membuatnya gila, begitu tampak di wajah Vie. Semua orang pun tidak akan bisa menutup mata ketika melihat keromantisan mereka.


"Apa ini sayang?" tanya Fiqer mendapati makan siang yang di hidangkan oleh Vie.


Di meja makan ini, tidak hanya ada Vie dan Fiqer. Ada Weliyana yang juga membawa makan siang buatannya. Di tambah penerus lain yang sedang mendapatkan pendekatan dari calon istri lainnya.


"Ini bakso, makanan yang di sukai Ibuku." ucap Vie dengan mengerakkan garpu untuk mengambil Mie yang ada di dalam mangkuk.


Fiqer dengan cepat membuka mulutnya untuk menerima suapan Vie. Matanya begitu serius menatap wajah kekasihnya.


Weliyana yang tidak tinggal diam segera memotong steak yang dia buat. "Fiqer, makanlah ini. Ini tidak kalah enak." ucapnya.


Fiqer menerima suapan itu tanpa memberikan respon lebih. Seakan sudah menunjukkan kalau Fiqer tidak menyukai Weliyana.


Tapi tetap saja, Weliyana berjuang untuk mendapatkan hati Fiqer.


Vie yang melihat perjuangan Weliyana tersenyum. Dia seakan melihat wanita yang menghancurkan hubungan orang lain, sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengambil hati kekasihnya.


"Aku telah mengambil kesepakatan bersama Fiqer. Biarkan Weliyana melakukan pendekatan tanpa harus menolaknya." benak Vie.


Makan siang yang mereka lakukan membuat calon-calon yang lain menjadi tidak fokus. Mereka melihat bagaimana tingkah dua wanita yang sedang memperebutkan seorang pria.


Lupa kalau mereka sendiri juga sedang bersaing agar bisa mendapatkan posisi sebagai Istri Penerus Michael.


"Aku tidak tahu kalau Vie akan membiarkan Weliyana mendekati Fiqer." celetuk Kelvi dengan membenarkan kacamatanya.


Otavi yang mendengar hal itu ingin segera menyahut. Namun, Fifi segera mengambil alih suasana.


"Ah, mungkin Vie ingin persaingan dengan damai. Agar tidak ada pertengkaran." sahutnya.


Otavi yang mendapati tingkah Fifi hanya tersenyum. "Vie, jika kau tidak di pilih maka kita akan pulang bersama. Dan jika kau di pilih, berbahagialah selalu." benaknya.


Vie merasa getaran di hati karena namanya di panggil begitu tiba-tiba. Matanya seketika melirik ke arah Otavi yang tersenyum padanya. Senyuman itu dengan cepat di balas oleh Vie.


"Apa yang kau senyumkan sayang?" tanya Fiqer dengan menuntun dagu Vie, agar wajah kekasihnya itu menatap padanya.


Vie tersenyum melihat Fider yang tampak begitu cinta padanya. Dia mengenggam tangan kekasihnya itu. "Aku hanya sedang merasa senang saja." jawabnya.


Lagi-lagi Weliyana menatap keromantisan mereka hingga dia pergi tanpa berpamitan. Vie yang melihat hal itu segera terkekeh.


"Aku sudah kenyang Vie, ayo temani aku berenang siang ini." ajak Fiqer dengan mengenggam tangan Vie.


Mereka berdua meninggalkan ruang makan yang membuat semua saling melirik. Di dalam pikiran mereka, terlintas hubungan yang begitu di harapkan meski itu hanya sebuah angan-angan.


"Tinggal beberapa hari saja lagi, Kita akan mengetahui hasil akhir." bisik seseorang.


Yang ada di dekatnya mengangguk. "Benar, bisa di pastikan kalau Vie lah yang akan menjadi istri dari penerus pertama."


Semua bisikkan itu terdengar di telinga Fifi. Dia menatap ke arah pintu, di mana Vie dan Fiqer pergi.


...●●●...


"Apa kau hanya akan berdiam di sini tanpa bergerak? Saat ini, saingan mu tengah menikmati waktu bersama mereka di kolam berenang. Kenapa tidak ikut bersama?" tanya Fifi pada wanita yang sedang mengigit kukunya.


"Apa yang kau tahu? Jika aku mendekati mereka, Fiqer akan curiga kepadaku." ucap Weliyana yang kini menenangkan dirinya dengan mengatur pernapasan.


Fifi memutar bola matanya dengan jengah. "Aku sudah berkerja sama dengan Nyonya Zisa dan Nyonya Violet. Aku pikir, diriku akan langsung mendapatkan posisi sebagai Istri Kelvi, tapi nyatanya aku harus membantumu di sini."


Kedatangan Nyonya Ketiga dan Keempat itu memberi kesempatan emas untuk Fifi. Dia sebenarnya bergantung di bahu Vie agar bisa mendekati Kelvi.


Namun, Vie seperti sebelumnya, tidak menghiraukan orang lain, apa lagi setelah menjadi kekasihnya Fiqer. Fifi tidak bisa berjuang tanpa ada yang membantunya.


Karena hal itulah, dia menerima tawaran dari Nyonya ketiga dan keempat untuk menjatuhkan Vie dan memberikan peluang pada Weliyana. Akan tetapi, semua itu tidak mudah di lalui. Dia bahkan mendapatkan ancaman dari Vie sendiri.


"Aku tidak akan terusir dari sini." benak Fifi menyemangati dirinya.


"Kau tidak perlu khawatir. Kau akan bersama Kelvi seperti kesepakatan awal. Tenang saja, hanya tinggal empat hari saja lagi. Akan ku pastikan, Vie pergi dari Vila dan kau yang akan bertahan." ucap Weliyana dengan wajah seriusnya.


Fifi tersenyum mendapati Weliyana yang begitu serius. Dia akan menanti hari di mana melihat Vie yang menunduk malu karena di keluarkan dari Vila.


...●●●...


Empat hari berlalu dengan tenang dan damai, tidak ada yang bertengkar bahkan saling menjatuhkan.


Vie pun dengan santai melalui harinya, di tambah Weliyana tampak menjauh tanpa di suruh. "Aku tidak tahu kalau seorang pelakor bisa sadar juga." gumam Vie sembari menikmati pemandangan di Gazebo.


"Hei Vie!"

__ADS_1


Kepala Vie dengan cepat menoleh. Dia melihat Weliyana, wanita yang baru saja dia gumamkan.


"Menikmati indahnya pemandangan?" tanya Weliyana.


"Hm, kenapa? Apa kau ingin ikut menikmatinya?" tanya Vie kembali.


Weliyana tersenyum dengan menunjukkan gigi putihnya. "Aku ke sini hanya melihat bagaimana wajah bahagiamu ini. Aku tidak sabar melihat wajah sedihmu, karena malam ini adalah penentuan siapa yang tinggal dan pulang."


Vie mengangguk-angguk kepala mendengar apa yang Weliyana katakan. "Aku memang suka melihat seseorang menebarkan pesonanya seperti kupu-kupu. Sayangnya, usia mereka tidaklah lama."


Weliyana yang tadi tampak bahagia segera mengerukan alisnya. "Apa yang kau bilang?"


"Aku hanya berkata, kalau aku senang melihat seseorang yang mirip seperti kupu-kupu. Memiliki banyak kecantikkan tapi harus berusia muda." jelas Vie kembali.


Weliyana segera menunjuk wajahnya dengan pandangan kesal. "Kau menghinaku? Dengar Vie ... aku pastikan malam ini kau akan di keluarkan dari Vila. Dan hidupmu akan hancur setelahnya."


Ancaman yang luar bisa itu membuat Vie terdiam. Dia melihat Weliyana yang melangkah pergi meninggalkannya.


Ucapan Weliyana tiba-tiba terulang dalam pikiran Vie. Dia mengulang kata 'di keluarkan dari Vila' perkataan itu membuatnya tidak tenang.


"Aku tidak mungkin di keluarkan, Fiqer pasti akan mempertahankanku? Tidak mungkin dia memilih keluarganya. Ah tidak,"


"Aku tidak seharusnya berkata seperti itu. Keluarga adalah orang tua kita. Pasti ada alasan semua itu terjadi." gumam Vie menangkan dirinya.


Dia akan menanti malam ini. Fiqer memberitahu padanya kalau Dia tidak akan ikut dalam keputusan akhir sekoalah. Kekasihnya itu akan kembali pada besok harinya.


"Tenanglah Vie. Yakin kalau tidak akan terjadi apa pun dalam hubungan kalian." benak Vie menyemangati dirinya.


Malam harinya, Semua berkumpul di ruang tengah dengan altar yang sudah di siapkan.


Vie berdiri dekat dengan keluarganya. Semua mengalami kemajuan. Baik Nala, Otavi, Tiasa dan Lily. Ke empatnya sudah menarik perhatian para penerus meski belum tahu apakah mereka akan tinggal di Vila.


Keputusan kali ini menjadi Akhir dari Sekolah Calon Istri. Setelah mereka di pilih, hanya tinggal pertunangan dan pernikahan yang menanti.


Tentu semua sudah menunggu hari ini tiba, termasuk Vie yang entah kenapa menaruh harapan besar.


Faga datang dengan langkah kaki yang mengema di ruangan. Semua diam melihat kedatangannya.


"Ehem, selamat malam." ucap Faga dengan menunjukkan slide yang tampil di dinding putih. Terlihat semua calon Istri yang tersisa.


Namun, di sana terdapat perbedaan. Vie dan Weliyana mendapatkan poin yang sama hingga posisi mereka di sejajarkan.


Vie melirik ke arah Weliyana yang tersenyum padanya. "Apa yang membuat wanita ini dalam satu minggu sudah mencapai posisi ku? Siapa yang ada di belakangnya?"


"Seperti yang kalian lihat, semua poin sudah tampak di depan mata. Nilai yang kalian dapatkan itu sebagian besar dari penilaian kepala keluarga Michael dan anggota keluarganya."


"Tentu, semua nilai ini di berikan dengan pengamatan masing-masing. Semua ruangan di lantai pertama dan ketiga telah direkam oleh cctv dan di tonton seluruh keluarga Michael."


"Kedekatan yang kalian lakukan mulai dari saling mengenal hingga berada di dekat para Penerus. Semua itu di nilai dengan mereka sendiri. Tidak hanya Anggota keluarga Michael. Para penerus juga memberikan nilai pada kalian."


"Baiklah, sebelum menunjukkan keputusan para keluarga. Faga akan menunjukkan beberapa pesan yang di kirim kepada orang yang tidak terpilih."


Faga mengerakkan jarinya di tablet yang langsung menampilkan sebuah pesan di dinding.


"Dari Kepala Keluarga Michael,"


-Terima kasih kepada kalian yang telah mau ikut dalam acara ini. Kami sangat senang dengan kehadiran kalian. Setelah pengumuman ini, Aku selaku kepala keluarga berharap tidak ada dendam di hati. Kalian yang terpilih dan tidak terpilih, semua yang kalian punya sangat kami hargai-


"Selanjutnya, dari Ayah Lima Penerus."


-Aku ingin mengucapkan terima kasih pada penerus yang ada. Terutama Vie Maherqi. Kau sangat cantik bagiku. Sayangnya, kau harus berakhir menjadi menantuku bukan istriku-


"Ehem, lanjut."


Vie terteguh mendengar namanya di sebutkan. Siapa yang menduga, Ayah dari para penerus menyukainya. Hatinya semakin yakin akan tinggal di sini.


Setelah pesan-pesan itu. Tiba di mana pengumuman akan tersampaikan. Slide berubah menampilkan penilaian yang sama seperti sebelumnya.


"Baiklah, silahkan Nyonya kedua, ketiga, keempat dan kelima untuk naik ke altar." ucap Faga.


Semua mata menatap ke arah wanita yang melangkahkan kaki menuju altar kecil itu.


"Mereka cantik," itu lah yang ada di dalam benak mereka masing-masing.


Vie pun tidak bisa untuk memalingkan wajahnya melihat Nyonya kedua dan kelima yang tampak begitu imut.


"Para Nyonya akan mengumumkan siapa yang terpilih. Karena urutan pertama akan di umumkan di akhir, maka nama yang akan di sebutkan dari urutan kedua." Faga menyerahkan posisinya kepada Nyonya kedua.


"Silahkan, Nyonya Niraya Mudtha." ucap Faga.


Nyonya kedua bernama Niraya segera mendekati mic dan membuka amplop hitam yang sudah ada satu nama di sana.

__ADS_1


Setelah amplop itu di buat, semua berdebar-debar kecuali Vie. Dia tidak merasakan apa pun karena bukan dia yang akan terpilih.


"Calon Istri untuk Putraku Kelvi, adalah ...,"


Vie melirik ke arah Fifi yang tampak bangga dengan dirinya. Dia melihat lagi ke arah Otavi yang tepat di sampingnya.


"Apa kau berdegup-degup?" tanya Vie sembari berbisik.


Otavi mengangguk, "hm ... aku menargetkan Kelvi. Semoga, aku terpilih Vie." sahutnya.


Vie mengangguk dan menatap ke arah altar. Nyonya Niraya kembali berucap.


"Inoel Otavi!" ucapnya.


Mata Vie membelak mendengar hal itu, dia menoleh menatap Otavi yang juga melihat ke arahnya.


"Silahkan Otavi Inoel untuk naik berdiri di samping Nyonya Niraya." ucap Faga.


Vie segera mendorong Tante mudanya yang berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Siapa yang tahu kalau Otavi benar-benar terpilih.


"Hiks, Otavi sial*n. Dia terpilih sedangkan aku belum tahu apakah bisa menjadi menantu Michael." gerutuk Tiasa.


Vie terkekeh mendengarnya. "Hei, baru penerus kedua yang di sebutkan. Belum calon penerus ketiga."


"Hei Vie, jangan membuatku semakin tegang." ucap Tiasa dengan menyembunyikan wajahnya di bahu Vie.


Diusap kepala Tiasa oleh Vie dengan kekehan kecil melihat tingkah Tante mudanya yang satu ini.


Setelah merasa tenang, Vie melirikkan matanya kepada wanita yang kini menundukkan kepala. "Aku sudah bilang, jangan terlalu percaya diri." benaknya.


"Baiklah, Nyonya Zisa Rahaya, silahkan." ucap Faga.


Nyonya yang di panggil itu segera mendekati mic dengan amplop hitam di tangannya. Mata wanita itu tertuju pada Vie.


Mendapatkan lirikkan mata yang diberikan. Vie hanya memandang datar dan memilih untuk tidak menghiraukannya.


"Wanita yang mencari calon Istri Senja, adalah Ina Tiasa!"


Kehebohan terjadi secara mengejutkan. Vie mendapati pelukkan dari Tiasa dan ciuman singkat di pipinya. "Yes, aku berhasil terpilih Vie!" ucap Tiasa.


Vie menggeleng melihat tingkah Tiasa. "Aku tidak tahu kenapa bisa Tiasa menjadi menantu ketiga? Sudahlah, itu tidak penting." benaknya.


"Nyonya Violet, silahkan."


Mata Vie segera melihat ke arah wanita yang membawa amplop hitam dengan malas. "Siapa pun yang terpilih, ku harap Dia tidak menderita." benaknya.


Wajah Nyonya Violet tampak tidak senang bahkan seperti biasa saja. Seakan acara ini hanya menyia-yiakan waktunya.


"Calon Istri untuk Resga adalah Laila Lily." ucapnya dengan santai.


Vie mendapatkan tepukkan dari arah belakangnya. Dia melihat Lily tersenyum sembari melangkah menaiki altar.


"Dia berhasil tanpa ada yang menyainginya. Yeah, tipe pendiam memang menyesatkan." benak Vie.


Di saat seperti inilah, degupan hatinya muncul seketika. Hal itu muncul karena setelah pengumuman calon penerus kelima. Maka, penerus pertama akan di umumkan juga.


"Silahkan, Nyonya Wensia Laya."


Wanita yang tampak cantik dan imut bagi Vie. Senyum wanita itu juga sangat cantik hingga Vie terpesona melihatnya.


"Seperti Ibu. Tersenyum sedikit, semua pria tertarik." benak Vie.


"Hallo semuanya. Aku akan mengucapkan selamat kepada Bi Nala, dia akan menjadi calon Istri untuk putraku."


Vie menoleh ke arah Nala yang tersenyum senang. Dia segera menaiki altar meski sedikit kecerobohan terjadi. Gadis muda itu hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.


"Benar-benar, Nala ini." benak Vie sembari menggeleng.


Tiba waktunya di mana penerus pertama di umumkan. Via berdiri seorang diri dengan perasaan tenangnya.


"Baiklah, Faga yang akan mengumumkan siapa, yang akan menjadi calon Istri Tuan Muda Fiqer."


Rasa berdegup muncul di hati, Vie menutup mata untuk menyiapkan dirinya.


"Selamat kepada Nona Rahaya Weliyana. Anda adalah Calon Istri Tuan Muda Fiqer." ucap Faga.


Mata Vie membelak seketika, dia terkejut mendengar apa yang baru saja Faga katakan.


"Aku menang, Vie!" bisik seseorang di sampingnya.


Ah, Vie melupakan kalau dia sedang bertarung dengan tiga orang sekaligus. Nyonya Zisa, Nyonya Violet dan Weliyana. Ketiganya adalah lawan yang harus di hadapi oleh Vie seorang diri.

__ADS_1


"Selamat kepada yang terpilih. Untuk yang tidak terpilih, kalian akan kembali pulang besok hari. Sekian dari kami terima kasih!" tutup Faga.


"Aku lupa, tentu saja aku tidak akan terpilih. Karena ada orang yang memanipulasi segalanya." benak Vie.


__ADS_2