Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(39) Mengerti


__ADS_3

"Bodoh!" teriak Ayah Fintro kepada pelayan yang ada di depannya. "Apa aku memperkerjakan kalian dengan otak anak usia dua tahun?"


Semua pelayan menunduk dengan wajah gelisah. Kepanikan dan rasa takut sudah memenuhi ekspresi mereka saat ini.


"Kenapa kalian tidak mencari kunci cadangan? Kamar Fiqer memiliki kunci cadangan dan semua tahu itu! Apa kalian benar-benar...."


Ayah Fintor menghela napas. Tidak ada gunanya mengatakan semua ini. Sekarang yang terpenting membawa Vie ke rumah sakit.


"TIDAK! AKU TIDAK IKUT!" tolak Vie masih memeluk erat tubuh Fiqer.


Saat ini Fiqer sudah terbujur kaku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Dia benar-benar pergi meninggalkan semua orang.


Para keluarga menatap iba dan merasa sedih melihat hal ini. Apa lagi, Ibu ketiga dan keempat yang telah melakukan rencana jahat mereka.


Kini, di depan mata dua orang sedang mencoba mengubah takdir. Namun, takdir yang tertulis tidak akan pernah di hapus oleh apa pun.


"Bangunlah Vie... hiks! Bangun!" ucap sang Ibu kepada putrinya.


"Tidak bu, biarkan aku mengikuti Fiqer. Dia sendiri dan dia mencintaiku. Aku tidak ingin meninggalkannya lagi. Biarkan aku bersamanya. Tolong jaga Viviano, dia akan mengerti dengan kondisi ibunya." Vie tetap memeluk Fiqer.


Semua yang melihat itu semakin sedih. Bahkan ada yang ikut menangis dengan apa yang terjadi saat ini.


Tidak lama, Vie yang memeluk erat tubuh Fiqer seketika melemah. Lalu, dia mulai menjatuhkan kepalanya di dada Fiqer dengan mulut berbusa.


Kepanikkan semakin terjadi. "VIE, APA YANG KAU MAKAN!" teriak sang Ibu.


Vie tersenyum dan memejamkan matanya. merasa seluruh tubuhnya yang mati rasa hingga napas terakhir berhembus dengan lembut.


Semua menutup mulut melihat hal ini. Hanya selisih beberapa menit, pasangan di depan mereka meninggal dengan cara bunuh diri.


"TIDAK! VIEEE!" teriak Ibu Rusmi dengan panik dan segera mengangkat Vie.


"Tidak sayang, putriku ... putriku, tolong sadarlah, sadarlahhh!"

__ADS_1


Takdir sudah tertulis di atas nama mereka. Sekarang, semua sudah terlambat dan tidak ada kesempatan untuk mengulanginya.


Di depan pemakaman, Semua tersenyum menatap dua makam yang bertuliskan nama Vie dan Fiqer.


"Mamah!... papah!" ucap Viviano dengan melambai-lambai ke makam kedua orang tuanya.


Semua yang melihat itu seketika terdiam. Anak berusia hampir 3 tahun itu seperti mengerti dengan yang terjadi.


"Hiks... cucu nenek, Ibu dan Ayah beristirahat dulu ya... setelah Viviano besar nanti, sering ke sini untuk bertemu Mamah dan Papah ya?" ucap Ibu Rusmi.


Viviano yang mendengar itu hanya mengangguk dan menepuk-nepuk tangan. Seakan setuju dan sangat menanti hal itu.


...●●●...


Bertahun-tahun berlalu dan usia Viviano sudah meranjak 15 tahun. Anak bayi tampan itu kini menjadi seorang remaja yang sangat mempesona.


Viviano melangkah keluar kamarnya dan menyapa semua orang dengan wajah dinginnya. Hal itu lah yang membuat pelayan takut sekaligus senang.


Di kenal sebagai anak Vie dan Fiqer. Sikap Viviano mirip seperti Ibu dan Ayahnya. Ceria di saat tertentu dan dingin di saat yang tidak pasti.


Pemuda tampan itu segera menghampiri Neneknya. "Iya nek," ucap Viviano yang tiba di ruang tamu.


Viviano tinggal bersama Kakek Dan Nenek pihak ibunya. Sewaktu-waktu, dia akan menginap di rumah kakek dari pihak Ayahnya.


"Kau mau kemana hm?" tanya Nenek Rusmi yang memberi Viviano sebuah surat.


Viviano menatap surat itu dan menatap Neneknya. "Apa ini, Nek?"


Nenek Rusmi tersenyum. "Simpan saja sayang, Nenek memberi ini untukmu. Saat kau mengunjungi pemakaman orang tuamu, baca di sana ya."


Viviano mengerutkan alis. Namun dia pun mengangguk dengan mengenggam surat yang di berikan Neneknya. "Baiklah nek."


...●●●...

__ADS_1


Seperti apa yang di ketahui oleh sang Nenek, Viviano melangkah ke pemakaman orang tuanya.


Sudah 12 tahun berpisah dengan sang orang tua. Viviano tetap tenang dan tidak bersedih. Hingga sekarang dia masih tenang tanpa ada rasa terluka.


Bagi Viviano, kepergian Ibu dan Ayahnya karena cinta mereka yang begitu kuat hingga keduanya memutuskan untuk pergi bersama. Itulah yang ada di pikiran Viviano.


Duduk di dekat dua makan orang tuanya, Viviano mengeluarkan surat yang Neneknya berikan.


Perlahan, surat itu di buka oleh Viviano. Dan ada begitu banyak tulisan yang ada di sana.


...Viviano, Cucu Nenek. Kamu pasti penasaran dengan apa yang terjadi kepada ibumu dan ayahmu. Sejujurnya Nenek tidak ingin mengatakan semua yang terjadi tentang orang tuamu. Tapi, Ibu mu bilang, kau akan mengerti tentang keadaannya....


...Ibu dan Ayahmu bertemu saat acara perjodohan yang di selengarakan oleh Kakek buyutmu. Saat itu keduanya tidak saling mengenal. Hingga kecelakaan kecil terjadi....


...Hubungan dan kedekatan mereka berlanjut dan terus berlanjut hingga kematian Nenekmu, Ibu dari Ayahmu. Saat hal itu, semua hubungan menjadi retak dan kebersamaan mereka terpisah. Tapi cinta keduanya tidak terhentikan....


...Viviano, Nenek saat itu tidak tahu apa-apa. Hingga Tantemu Otavi mengatakan kalau Ibumu mengandungmu dan sudah melahirkanmu. Ibumu bahkan mengorbankan penglihatannya untuk melahirkanmu....


...Setelah itu, Ayah mu juga memberikan hal yang sama. memberikan penglihatannya untuk Ibumu hinga dia bisa melihat lagi. Tapi pada akhirnya, Ibumu tahu siapa yang memberikan penglihatan itu dan menemukan Ayahmu yang meracuni dirinya sendiri....


...Lalu, ibumu ikut menghancurkan dirinya sendiri dan meninggal bersama Ayahmu. Cinta keduanya berakhir dengan kematian cucuku. Jadi, Nenek berharap kau mengerti bahwa Orang tuamu bukan membencimu, mereka hanya .......


Viviano menutup surat itu dan tersenyum. "Tidak perlu di katakan Nek, aku tahu Ibu dan Ayahku adalah orang tua yang luar biasa."


Perlahan Viviano berdiri dan menatap kedua makam yang ada di depannya. "Ibu, Ayah... terima kasih telah menghadirkanku di dunia ini. Viviano Fezi, akan menjadi anak yang baik dan memenuhi harapan kalian."


Setelah berkata seperti itu, seorang pengawal datang membawa payung untuk memayungi Viviano. "Tuan muda, Kakek Fintro dan Kakek buyut ingin bertemu dengan Anda."


Viviano mengangguk. "Viviano izin pamit Ibu, Ayah... tunggulah, Viviano akan menyusul kalian saat takdir Viviano telah tiba."


Pemuda tampan itu segera melangkah meninggalkan pemakaman.


Tidak ada yang sadar bahwa di dua makam itu, terlihat sepasang suami istri yang saling berpelukan dan menatap ke arah perginya dia. Mereka tersenyum dengan wajah bahagia.

__ADS_1


...~END~...


...****************...


__ADS_2