
Beberapa hari berlalu, Vie hari ini di temani Caca untuk berjalan-jalan di luar. Dia sangat antusias dengan hal itu, karena sudah sangat lama dia tidak berjalan-jalan di Desa Sgl.
Dengan mengendong Viviano, Vie melangkah bersama Caca yang menuntunnya.
“Aku dengar, di dekat jembatan kecil itu terdapat penjual keliling. Dia menjual kebab dan krepes!”
“Oh ya, emang harganya berapa?”
“Kalau dari menunya sih sekitar sepuluh ribu. Jika di beri toping lebih dari dua, harganya menjadi lima belas ribu.”
“Apa itu harga krepes?”
“Hm, itu harga krepes!”
Vie mengangguk mendengar apa yang Caca katakan. Siapa yang menduga kalau makanan sekarang sangat mahal. Untung dia membawa uang yang lumayan agar bisa meneraktir gadis yang menuntunnya ini.
“Kapan kita akan tiba?” tanya Vie.
“hm, perjalanannya lumayan. Sekitar lima belas menit.”
Helaan napas Vie lakukan. Dia tidak menduga kalau tempat itu lumayan jauh dari kediaman Caca. Meski begitu, dia mendengar suara bahagia Viviano yang bergerak-gerak.
Suara itu adalah suara tertawa yang Vie dengar. Namun, suara kali ini keras entah karena apa.
“Caca, apa yang membuat Viano tertawa sekeras ini?” tanya Vie.
“Apa kakak tidak tahu kalau saat ini kakak sedang dilihati oleh orang-orang. Dan yang membuat Viano tertawa, itu karena dia melihat banyak orang yang menatap kakak.”
“Eh? Orang-orang menatapku? Tidak salah, seharusnya Viviano yang dilirik mereka.” ucap Vie.
“Hm, sebenarnya mereka juga melirik Viviano. Namun, ada beberapa pria yang melirik kakak dan istri mereka segera memberi sebuah jeweran di telinga pada pria itu.”
Vie terteguh mendengar sahutan Caca. Dia akhirnya mengerti kenapa Viviano begitu bahagia. “Anak ini, apa dia seposesif seperti ayahnya?” benak Vie.
“Kakak, kita hampir tiba!”
Vie merasa genggaman di tangannya mengencang, dia segera mengikuti langkah Caca sembari menjaga Viviano di gendongannya.
Mereka akhirnya tiba di tempat penjualan keliling. Hidung Vie mencium aroma makanan yang begitu manis. Dia dengan cepat menentukan yang mana, makanan yang enak untuk dia makan.
“Caca, apa kau tahu hidangan yang ada di tengah itu?” tanya Vie.
“Oh, dia menjual martabak manis!”
“Bawa aku kesana, aku ingin membelinya.” Ucap Vie dengan cepat.
Dia merasa, Caca terdiam sesaat setelah ucapannya. tidak lama, Caca kembali sadar dan segera melangkah menuju ke arah yang dirinya tunjukkan.
Semakin dekat Vie melangkah, aroma martabak manis itu menenuhi hidungnya. Dia menjadi tergiur untuk membelinya.
“Mau beli neng?” tanya kang martabak.
Vie diam mendengarkan dua orang yang berbicara ini. dia sesekali menuntun Viviano agar tenang, karena putranya saat ini begitu hyperaktif.
“Iya kang, kita ingin membeli ....”
“Kalau cuma satu toping, harganya cuma dua belas ribu neng. Kalau ingin di tambah susu, harganya menjadi lima belas ribu neng.”
“Oh begitu ya, hm....”
“Beli empat martabaknya pak, topingnya dua, gunakan susu dan pakaikan rasa coklat untuk satu martabak. Sisanya, seterah gadis ini.” potong Vie.
“Eh? Kak, beli empat buat siapa? Dan lagi kok seterah aku sih!”
“Beli aja Caca, kalau kau merasa sulit yasudah...,” Vie segera mengetuk-ngetuk gerobak kang martabak.
__ADS_1
“Buatkan empat martabatnya dengan isian coklat dan susu bersama keju.”
“Baik mbak, silahkan duduk dulu!”
Vie merasa Caca menuntunnya untuk duduk. Dia mendudukkan bokong cantiknya sembari memberi Viviano minuman yang dia bawa. Minuman itu berisikan asi miliknya, dia tidak akan membuka bajunya di depan umum untuk memberi asi kepada Viviano. Cukup membuatnnya ke dalam botol khusus bayi.
“Kak Vie, kakak ingin membelinya untuk siapa?” tanya Caca.
Vie mengerakkan tangannya untuk mengenggam tangan gadis itu. dia merasa Caca dengan cepat mengenggema tangannya.
“Dengar Caca, kita bisa memakannya bersama bukan?” tanya Vie kembali.
Dia tersenyum santai dengan wajah bahagianya. Membuat Viviano menangis sekencang-kencangnya.
“Eh, Viano! Ada apa?” tanya Vie dengan panik.
Caca segera mendekatinya dan memberikan botol bayi kepada Viviano. Dia juga berbisik di telinga Vie. “Kakak tahu, senyum kakak tadi membuat pria yang mengantri di sini menatap kakak. Tidak hanya itu, bahkan ada yang tersenyum ke arah kakak, sayangnya Viviano yang melihat hal itu dan menangis sekencang mungkin.”
Mendengar bisikkan Caca, Vie terdiam dengan menundukkan pandangannya. “Apa aku masih terlihat cantik, Caca?” bisik Vie.
Vie berpikir, dia akan menjadi wanita yang berpenampilan buruk, tidak mendapatkan perawatan tubuh yang bagus. Lalu, dia pasti akan tampak begitu lusuh dengan segala hal yang ada di dekatnya. Dia ingat, saat Bibinya baru melahirkan, Bibinya itu tampak begitu lusuh dan tidak ada aura kecantikkan. Kecuali saat ada acara, barulah Bibinya itu tampak cantik.
Namun, bagaimana bisa Caca mengatakan kalau dirinya menarik perhatian para pria di sini. Dia saja tidak ada keinginan untuk melakukan semua itu.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sudahlah, mereka juga tidak akan menyukaiku, aku kan buta.” Benak Vie.
Setelah lama menunggu, martabak manis itu kini ada di tangan Caca. “Ayo kak, kita pulang!” ajaknya.
Vie segera bangun dan berdiri mendekati Caca. “Bukankah kau ingin membeli krepes? Apa kau yakin tidak ingin membelinya?”
“Hm ... aku ingin membelinya, tapi kakak tahu,”
Vie menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan apa yang Caca katakan. “Para laki-laki ini dari tadi memperhatikan kakak.” Bisiknya.
Kepala Vie dengan cepat mencari solusi, dia memikirkan bagaimana caranya agar semua pria ini tidak melihatnya. “Apa di sekitar sini ada warung?”
“Aku akan duduk di sana, yang terpenting di saja tidak ada laki-laki. Biar nanti, aku yang mengurus sisanya.” jelas Vie.
Vie merasa Caca kini menuntun dirinya ke sebuah arah yang tidak jauh dari jalan pulang. Vie merasa dia di arahkan untuk duduk.
“Ibu, saya menitipkan kakak saya di sini. Tolong jaga dia ya,” ucap Caca.
“Oh tentu Nak, silahkan duduk!”
Vie mendengar balasan dari ibu-ibu itu tersenyum. Meski dia tidak sering berjaln di sekitar Desa Sgl. Dia merasa kalau orang di sekitarnya ini sangat baik.
Caca segera meninggalkannya, dia pun dengan perlahan menuntun Viviano untuk duduk di sampingnya. Balita imut itu kini duduk dengan memakan kerupuk kentang.
“Berapa usianya, Neng?” tanya seseorang.
Vie hanya mengarahkan kepalannya sedikit, dia tidak bisa melihat jadi tidak akan mungkin bisa menatap orang yang mengajaknya berbicara. “Tujuh bulan Mbak.”
“Hm, maaf Neng, apa Neng tidak bisa melihat?” tanya yang lain.
Vie dengan cepat menganggukkan kepala. Dia tersenyum sembari mengusap Viviano yang ingin ada di pangkuannya.
“Maaf ya neng, ibu engak tahu kalau neng begini. Tapi, neng beruntung ya, punya anak laki-laki yang tampan, seperti orang luar negeri.”
“Benar banget, lihat bulu matanya itu. dia sangat tampan, siapa ayahnya neng?”
Vie tersenyum mendengar apa yang di katakan para ibu-ibu ini, dia juga merasa bahagia ketika tahu putranya sangat tampan di mata semua orang.
“Putraku memiliki seorang ayah yang luar biasa, dia saat ini sedang sibuk hingga tidak bisa bertemu dengan putranya.” Sahut Vie untuk menghindari petanyaan tentang nama suaminya itu.
“Oh begitu ya, pasti ayahnya sangat sibuk mencari uang untuk menghidupi istri dan anaknya. Bagus kalau begitu neng,” sahut mereka.
__ADS_1
Vie tersenyum dan segera menikmati kebahagiaannya untuk memanjakan Viviano di dalam gendongannya.
“Vie!”
Kerutan muncul di alis Vie. Dia sangat menghapal panggilan ini, dengan perlahan dia membangunkan tubuhnya untuk menghadap ke arah orang yang tiba-tiba menyerunya.
“Otavi, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Vie dengan suara yang di tenangkan. Hatinya sagat terkejut mendapati kalau Otavi ada di sini. Dia tidak salah mengenali suara keluarganya, Otavi adalah orang yang selalu dekat padanya.
Selama mereka bersama saat masih sekolah, Otavi dan Vie dianggap sebagai primadona di sekolah tersebut. Kenapa bisa seperti itu, itu karena setiap Otavi mengalami masalah, dia akan mendapatkan bantuan dari Vie dan begitu juga sebaliknya. Lalu, mereka yang tampak cantik dengan gaya mereka sendiri.
“Aku ingin berbicara berdua denganmu, ini penting!”
Vie merasa rasa tidak tenang mendengar perkataan itu. dia segera mendekap Viviano dan mengikuti Otavi yang membawanya.
Mereka masuk ke dalam mobil, Viviano segera di letakkan di samping Vie.
“Katakan, apa yang ingin kau katakan!” ucap Vie.
“Apa kau sekarang tidak lagi bisa melihat Vie? Matamu tidak lagi memfokuskan pandanganmu?” tanya Otavi.
“Iya, aku sekarang buta Otavi, apa lagi yang ingin kau tanyakan?” ucap Vie.
“Apa kau gila Vie? Sekarang anak siapa ini, apa kau menjual dirimu di sini. Aku terkejut melihatmu ada di dekat warung. Saat aku memperhatikanmu, kau tampak tidak seperti dulu. Kau seperti seseorang yang baru, apa yang terjadi? Seluruh keluarga sedang khawatir padamu.”
Vie merasa kecemasan dari ucapan Otavi. Namun, dia dengan tenang menjelaskan semua yang terjadi padanya.
“Aku mengandung anak Fiqer, Otavi. Jika keluarga besar tahu dengan apa yang ku lakukan, aku akan menderita hingga tidak ada kebahagiaan di dalam hatiku. Apa lagi Fiqer, pria itu sepertinya telah bahagia dengan wanita yang dia pilih sendiri. sedangkan aku, aku akan menderita dengan perjodohan yang keluarga kita lakukan.”
“Lalu, aku memang bukan lagi yang dulu, kau telah melihatnya sendiri. aku buta, tidak memiliki penglihatan dan di tambah, aku melahirkan seorang anak tanpa ada Ayahnya. Jadi, tidak perlu bertanya seberapa jauh aku berubah. Aku, bukan lagi yang dulu.” Jelas Vie.
“Aku tidak mengerti dengan keputusanmu ini. kenapa kau malah ingin pergi, asal kau tahu, Fiqer mencarimu, dia masih mencintaimu, di-,”
Vie mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Otavi. “Tidak perlu lagi mengatakan tentang hal itu, Fiqer, aku akan menganggap dirinya bahagia. Tidak perduli seperti apa dia sekarang. dengar Otavi, aku berharap kau bisa merahasiakan semua ini. aku akan membesarkan anakku dan kembali ke kekediaman Maherqi.” Potong Vie.
Tidak ada lagi yang bisa Otavi katakan. Vie segera mengendong Viviano dan membuka pintu mobil.
“Vie! Jika suatu hari nanti Fiqer mencarimu, apa tidak masalah kalau aku memberitahukan keberadaanmu?” tanya Otavi dari dalam mobil.
Vie dengan perlahan berbalik badan. Dia mengangguk kepala dan memutuskan pergi. suatu saat nanti, Fiqer pasti akan menemuinya. Tidak perduli dimana itu yang pasti, Vie akan menghadapi pria itu.
Dengan perlahan, Vie melangkah untuk kembali pada tempatnya, tapi seseorang dengan cepat mengenggam tangan Vie.
“Siapa?” tanya Vie dengan terkejut. Dia sangat ingin merasiakan tentang identitasnya. Tidak ada yang boleh tahu kalau dia adalah penerus utama keluarga Maherqi.
“Kak Vie, kakak ngapain di sini sih? Caca mencari kakak loh. Untung Ibu-ibu itu bilang kalau kakak berjalan untuk berbicara dengan seseorang. Ngomong-ngomong, di mana orang itu?”
Vie dengan perlahan mengatur napas karena dirinya begitu terkejut mendapati Caca. Ada perasaan lega saat tahu kalau Caca tidak melihat pertemuan yang dia lakukan.
“Oh, iya ... dia orang yang sedang memperlukan sesuatu. Seperti seorang penjual yang menawarkan produknya. Dengan berkata kalau aku temannya, dia mengajakku berjalan dan mengatakan banyak hal seperti menyembuhkan mata buta, yeah seperti itu lah.” Sahut Vie.
“Masih saja ada seorang sales di sekitar sini.. yeah, mereka selalu menawarkan produk yang belum pasti keasliannya. Bahkan, mereka bisa saja menipu siapapun sambil mengatas namakan seseorang.” Gerutuk Caca.
Vie tersenyum dan mengangguk kepala. Dia merasa sangat lega dengan Caca yang tidak menanyakan hal lainnya. “Ayo pulang Caca, Aku lelah berjalan seperti ini.”
“Oke, kemarikan Viviano. Ayo Viviano bersama Tante.”
Viviano dengan cepat menyambut apa yang Caca lakukan. Dia memberikan Viviano agar Caca bisa mengendongnya.
“Kak, berpeganganlah di pundakku.” ucap Caca.
Vie mengangguk dan segera memegang pundak Caca. Mereka kembali pulang dengan perasaan yang tidak tenang.
Sejujurnya, Vie merasa tidak bisa tenang setelah bertemu Otavi. Dia mengingat jelas kalau Ibunya memberitahu bahwa Otavi telah menikah dengan Kelvi. Pria berkaca mata itu pasti akan memberitahu keberadaannya kepada Kakak Pertama mereka.
Selain karena masalah itu, Vie masih berharap bisa tenang tanpa di ganggu. Dia baru mengendong putranya, baru saja menikmati dunia luar dengan mata buta ini. harapannya, Tidak akan terwujud dengan cepat jika Fiqer benar-benar menemukannya.
__ADS_1
“Apa Fiqer akan memerahiku? Atau mengambil Viviano dariku? Tidak, aku tidak ingin itu terjadi kepadaku. Aku masih ingin bersama Viviano, masih berharap bisa bersamanya dan aku ingin mendapati bagaimana Putraku tubuh besar.” Benak Vie.
Meski dia berpikir seperti itu, dia harus menyiapkan diri untuk bertemu dengan Fiqer. Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan melawan atau mungkin sebaliknya. Sejujurnya, cinta yang masih ada di hati tidak akan berubah. Dan Vie mengakui semua itu, dia masih mencintai Fiqer.