Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(14) Pertengkaran


__ADS_3

Semenjak hal itu, Vie menjadi tidak bisa tenang dengan hari yang dia lalui. Seperti pagi ini, setelah membersihkan diri karena aktifitas malam yang panas. Vie memutuskan untuk menuju dapur dan membuat sarapannya sendiri.


Setibanya di sana, Vie melihat sekumpulan wanita yang tengah berbincang sembari memasak. Mereka tampak begitu bahagia dengan suara tertawa yang memenuhi ruangan.


"Pagi," sapa Otavi.


Vie melirik ke arah Tante mudanya itu. "Pagi juga ... ada apa dengan mereka?"


Belum sempat Otavi menjawab, Nala sudah terlebih dahulu merangkul Vie. "Sepertinya, Jadwal tidak lagi berguna Kak. Mereka mulai membentuk satu kelompok berisi lima orang. Lalu, target mereka tentu saja lima penerus." imbuhnya.


Vie merasa tidak ada yang baik untuknya hari ini. "Kalau begitu, kalian akan bersaing dengan mereka?"


"Jelas, kau yang akan memimpin kita. Aku menargetkan Senja untuk menjadi milikku." sambung Tiasa dengan merangkul Vie.


"Aku? Kenapa harus aku yang memimpin?" Vie terteguh mendengar perkataan Tiasa.


"Tentu saja kau yang harus memimpin Vie," imbuh Lily yang datang di samping Otavi.


Vie mengerukan alisnya. Dia menatap Lily dengan tatapan bingung. "Alasannya?"


"Kau memiliki poin yang paling tinggi di antara kami. Lalu, posisimu telah mendominasi antara kita. Di tambah, kedatangan wanita itu menjadi saingan terbesar mu. Jadi, tentu saja kau yang harus memimpin." jelas Lily.


"Kenapa aku? Jika perkara poin, seharusnya dirimu menjadi pemimpin. Untuk mendominasi, aku tidak menargertkan semua penerus. Jadi, kenapa harus aku?" Vie berucap sembari mengerakkan salah satu alisnya.


Dia tidak ingin membuat kelompok. Masalahnya ada pada keluarganya sendiri. Jika kelompoknya kalah, otomatis anggotanya ikut kalah. Dia tidak ingin hal itu terjadi.


"Tapi, jika kita tidak membuat kelompok-,"


Vie mengangkat tangannya menghentikan ucapan Lily. "Tidak, kita bersaing dengan normal. Tidak ada kelompok. Jika itu terjadi, kau akan berakhir sama dengan pemimpinmu sendiri."


Lily yang sedari tadi membujuknya seketika diam. Suasana di sekitar mereka menjadi hening setelah perkataannya.


"Aku tidak bermaksud untuk menjauhkan kalian. Tapi, jika kelompok ini terbentuk, kalian yang sudah mencapai titik tertinggi, akan jatuh seketika. Tinggal beberapa hari saja lagi, bertahanlah." sambung Vie.


Lily, Otavi, Tiasa dan Nala mengangguk. Mereka juga memikirkan posisi yang sudah di capai dengan susah payah.


"Sudahlah, lebih baik kalian membuat sarapan. Karena sisa sepuluh orang. Tidak perlu menentukan kepada siapa yang akan memakan masakan kita. Hidangkan saja di atas meja." usul Vie.


Semua mengangguk dan segera menuju ke dapur. Meninggalkan Vie yang menghela napas.


"Wajahmu tidak baik-baik saja, Vie."


Lirikkan mata menuju pada Fifi yang bersedekap di dada. Dia tersenyum dengan berdiri di samping Vie.


"Ku rasa, kau akan terjatuh dari posisi teratasmu Vie. Kedatangan Weliyana benar-benar mengubah segalanya. Apa mungkin kau akan kehilangan Fiqer?" ucapnya dengan wajah mengejek.


Ekspresi Vie seketika tajam menatap Fifi. Dia mendekatkan wajahnya hingga bibirnya tiba di telinga Fifi.


"Kau ... jangan ... terlalu ... percaya diri." ucap Vie. Dia kemudian menjauhkan wajahnya, "Aku takut bukan hanya aku yang terjatuh. Tapi, dirimu juga akan ikut terjatuh bersama. Tenang, untuk sekarang bertindaklah seperti api yang memanasi semua orang."


"Setelah itu ... kau akan merasakan apa yang telah kau buat." Vie berlalu meninggalkan Fifi yang menghela napas dengan cepat.


Seperti seseorang yang kehilangan ruang pernapasannya. Fifi segera bersandar di dinding dengan mengatur napasnya. "Dia, dia memang mengerikan." ucap Fifi.


Setelah memberikan ucapan yang tidak di pikirkan oleh Vie. Dia melangkah menuju Gazebo untuk menenangkan pikirannya.


"Tidak, kenapa aku malah seperti ini." gumam Vie.


"Kak Vie!"


Langkah kaki Vie segera terhenti. Dia berbalik badan dan mendapati Nala datang mendekat.


"Ada apa Nala?" tanyanya.


"Kak Vie, ayo kita ke kamarku!" ucapnya sembari menarik Vie melangkah menuju lantai dua.


Vie bingung melihat reaksi Nala yang tampak cemas. Keponakkannya itu seperti wanita yang baru saja melihat sesuatu, hingga dia terkejut dan ingin membuktikan ucapannya benar.


Setiba di dalam kamar Nala, Vie berhenti di sebuah jendela yang menunjukkan halaman depan Vila.


"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Vie.


Nala menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.


"Kak, apa tadi pagi Kakak melihat Tuan Fiqer pergi?" tanya Nala.

__ADS_1


Vie mengerukan alisnya ketika Nala bertanya kembali tanpa menjawab apa yang dia tanyakan. "Tidak, dia memang pergi pagi-pagi. Yeah, jarang sih dia pergi. Tapi kenapa?"


"Kakak lihat, jendela kamarku langsug tertuju pada halaman depan. Pagi tadi, saat aku ingin menikmati suasana pagi, aku melihat Tuan Fiqer melangkah menuju ke luar gerbang."


Vie diam mendengarkan apa yang Nala katakan. Kepalanya seketika memberi gambaran bagaimana Fiqer melangkah menuju gerbang tersebut.


"Sebenarnya, itu sudah menjadi hal biasa untukku. Tapi, pagi ini dia pergi tidak seorang diri. Melainkan seseorang ada di dekatnya, Kak Vie tahu siapa?"


Alis berkerut itu seketika menghilang. Vie menatap Nala dengan wajah yang mengatakan siapa dia?


"Dia adalah Weliyana Furya. Wanita asing yang baru kemarin tiba." ucap Nala.


Hati yang penuh kepercayaan itu entah kenapa bisa retak begitu saja. Vie menatap ke arah jendela dan tanpa ilustrasi, dia bisa membayangkan bagaimana kedua orang itu melangkahkan kaki menuju gerbang.


"Weliyana seperti mengantar Tuan Fiqer menuju gerbang. Aku tidak yakin akan hal itu, apakah mereka dekat atau tidak. Tapi, aku yakin kalau wanita yang bersama Tuan Fiqer adalah Weliyana. Aku mengingat pakaian yang dia kenakan." imbuh Nala.


Vie merasa udara sejuk menerpa wajahnya. Keheningan menyelimuti dirinya bersama rasa hampa yang menghilangkan perasaannya.


"Fiqer, apa kau berbohong kepadaku?" benak Vie.


Nala yang melihat perubahan Vie segera menyentuh pundak Kakaknya itu.


Merasa dirinya di sentuh, Vie segera melirikkan mata dengan tajam. Nala yang melihatnya segera mundur dengan cepat. Dia melihat silet merah yang memancarkan kemarahan.


"Maaf Nala," ucap Vie. Dia segera melangkah menuju ke pintu kamar. "Terima kasih apa yang telah kau sampaikan. Maaf dengan perlakukanku tadi."


Setelah itu, Vie melangkah pergi meninggalkan Nala yang terduduk di lantai. Tangannya gemetar melihat wajah Kakaknya itu. "Ma-ta, Matanya ingin membunuhku!"


Langkah kaki Vie terhenti tepat di depan seorang wanita yang baru menginjakkan kakinya di Vila ini. Dan wanita itu telah membuatnya kehilangan arah.


"Mau kemana Nona Vie," ucap Weliyana.


Vie tidak menghiraukan apa yang wanita di depannya ini katakan. Dia memilih untuk melangkah pergi dengan melewatinya.


"Aku dengar, kau tidur di kamar Fiqer ya?" celetuk Weliyana.


Vie segera berhenti dan berbalik untuk melihat wanita yang tersenyum padanya. "Kenapa? Apa ada urusannya denganmu?" tanya Vie.


Weliyana tampak puas setelah mendengar respon darinya. Wanita bertubuh model itu menepuk-nepuk pundaknya sembari tersenyum.


Mata Vie membelak seketika. Dia melihat wajah Weliyana yang semakin puas setelah berucap.


"Oh ya, tadi pagi aku mengantar Calon suamiku. Dia tampak bahagia ketika aku mengantarnya." imbuh Weliyana yang kemudian berlalu meninggalkan Vie.


Dengan wajah yang bukan menunjukkan rasa senang atau sedih. Vie melirik lantai yang menampakkan kakinya. Matanya saat ini benar-benar penuh akan kekesalan.


"Wanita ini," gumam Vie yang ingin berbalik untuk mengejar Weliyana. Namun, Otavi segera menahannya dan menarik Vie untuk berada di samping tangga.


"Jika kau mengamuk, kau mengakui telah kalah darinya Vie!" ucap Otavi.


Vie menutup matanya untuk menenangkan diri. "Kau benar, aku termakan emosi."


Otavi mengenal Vie, wanita yang merupakan anak pertama, cucu pertama ini. Dia akan bersikap seperti pembunuh jika ada yang menganggunya. Namun, tidak ada yang tahu sikap ini kecuali Otavi.


"Aku takut, suatu saat nanti amarah yang dia pendam akan membunuhnya." benak Otavi melihat keponakkannya menenangkan diri.


Vie bukan seorang gadis yang manja seperti gadis lainnya. Dari kecil Vie di ajarkan dengan kekerasan, baik mental dan fisiknya. kesabaran Vie pun ikut di uji, hingga saat dia marah tidak pernah terlihat oleh semua orang.


Tapi, suatu hari Otavi mendapati Vie hampir membunuh dirinya karena mental yang dikuatkan itu. Sejujurnya Otavi sendiri tidak tahu apa yang membuat Vie memilih membunuh dirinya sendiri.


Tapi satu yang Otavi tekankan dalam pikirannya.


Vie tidak akan menyiksa orang lain dan lebih memilih menyakiti dirinya sendiri.


"Terima kasih, Otavi." ucap Vie menepuk pundak Tante Mudanya. Dia kemudian melanjutkan langkahnya dan memilih untuk beristirahat di kamar Fiqer.


...●●●...


Malam hari tiba, Vie duduk di balkon kamar Fiqer. Dia menatap bulan yang begitu terang tanpa bintang di sekitarnya. Bulan kali ini di penuhi dengan awan yang begitu tebal.


Suara pintu di buka terdengar di telinga. Vie tidak menoleh, dia membiarkan orang tersebut masuk. Hingga seseorang menciumnya dengan tiba-tiba.


"Malam sayang," sapa Fiqer.


Sekotak pizza ditaruh pada meja. Fiqer mengangkat tubuh Vie dan mendudukkan sang kekasih di pangkuannya.

__ADS_1


"Sudah makan malam?" tanya Fiqer sembari menyantap pizza yang dia bawa.


Vie tidak menjawab apa yang Fiqer tanyakan. Dia memilih untuk berdiri dari pangkuan Fiqer. Namun, sang kekasih menuntunnya untuk kembali duduk.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi diam seperti ini, tidak seperti biasanya." ucap Fiqer dengan menatap wajah Vie.


Lirikkan mata Vie terarah pada wajah Fiqer. Dia menarik napas dan menghambuskannya dengan tenang.


"Apa tadi pagi, kau pergi dengan Weliyana yang mengantarmu?" tanya Vie.


Fiqer mengerutkan alisnya. "Oh, pagi tadi ... iya dia mengantarku dengan mengatakan kalau itu sebagai pendekatannya. Sudahlah, aku juga tidak mencintainya." sahut Fiqer.


Vie tahu kalau sikap cuek Fiqer masih berlaku untuk Weliyana. Namun, hatinya tidak tenang dengan semua sahutan itu.


"Kau bisa mencintainya dengan membiarkannya tidur denganmu. Apa kau akan tidur dengannya, Fiqer?" tanya Vie.


Wajah Fiqer menjadi penuh kebingungan. "Vie, apa yang terjadi padamu? Apa kau cemburu padanya. Kalau begitu, itu bagus. Berarti, kau mencintaiku." ucap Fiqer dengan memilih pikiran positif.


"Tidak Fiqer, aku sedang bertanya padamu. Apa kau mencintai seseorang hanya karena dia tidur denganmu? Melakukan hubungan panas yang membuatmu puas?" tanya Vie dengan mata yang begitu serius.


Melihat hal itu membuat kerutan muncul di alis Fiqer. "Vie, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau pasti telah salah paham."


"Jawab saja Fiqer," potong Vie.


Kali ini keduanya saling memutuskan untuk berdiri. Fiqer menatap Vie dengan wajah bingung sedangkan Vie menatap dengan wajah serius. Keduanya seperti api dan air yang saling bertemu.


"Vie, aku tidak mencintaimu karena hal itu."


"Lalu, apa?" potong Vie dengan cepat.


"Aku tidak bisa menjelaskan hal cinta ini. Tapi aku serius mencintaimu. Untuk tidur bersama,"


"Tidur bersama menurutmu hal wajar? Atau apa?" tanya Vie dengan kembali memotong perkataan Fiqer.


Tidak ada jalan keluar dalam pembahasan mereka, Fiqer menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dia sedang menahan amarahnya saat ini.


"Cukup Vie, pembahasan kita ini akan membuat kita salah paham." ucap Fiqer dengan tenang.


Vie tersenyum, "aku hanya perlu jawaban darimu. Apa kau jatuh cinta dengan orang yang kau tiduri, itu saja."


Fiqer termakan emosinya, dia segera menatap Vie dengan wajah yang kesal. "Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau membahas masalah itu, apa kau menyesal telah menyerahkan keperawananmu kepadaku?" tanyanya dengan nada yang terselip kemarahan.


Vie terteguh mendengar hal itu, dia tidak berniat untuk memancing Fiqer. Dia hanya ingin menanyakan hal tersebut dengan jawaban kalau Fiqer tidak semudah itu jatuh cinta. Tapi, pembahasan mereka benar-benar tidak terarah.


"Aku pagi ini pergi menuju ke kediaman Ibuku untuk melakukan penyerahan warisan. Kepalaku pusing dengan masalah warisan ini, aku tidak ingin semuanya. Tapi mengingat kalau aku akan menikahimu, aku melakukan semua ini untuk bisa memberi kehidupan padamu Vie!"


"Lalu, apa masalah dengan Weliyana?, aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku mencintaimu. Aku mencintaimu Vie! Apa harus ku umumkan pada seluruh penghuni Vila? Atau Dunia?"


"Dan lagi, hubungan tidur ini. Aku mencintaimu bukan karena tidur bersama. Tapi, perhatianmu dan caramu berbicara padaku. Aku tertarik padamu. Bukan perkara tidur bersama."


"Sudahlah, aku ingin mandi!" ucap Fiqer yang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.


Vie terdiam mendengar perkataan itu, tanpa terasa air matanya mengalir. Meski tidak mengalir banyak, Vie benar-benar terluka mendengar hal itu.


Dia telah salah berbicara dengan masalah yang tidak jelas ini. Di tambah, Ibu Fiqer baru pergi meninggalkan putranya kemarin.


Dengan langkah lebar, Vie masuk ke dalam mengejar kekasihnya. Tanpa dia ketahui, kalau seseorang menatap kesal dari kejauhan.


Setiba di depan pintu kamar mandi, Vie mengetuk pintu tersebut. Suara air yang mengalir seketika terhentikan.


"Maaf Fiqer, aku salah. Aku tidak seharusnya menanyakan hal itu padamu. Maafkan aku, ini salahku."


"Hatiku tidak tenang, aku pernah mengalami putusnya cinta karena kekasihku dulu memilih untuk bersama orang tuanya."


"Saat itu, aku merasa kehilangan orang yang begitu menyayangiku. Tapi, tetap saja hubungan itu berakhir dengan alasan Marga."


"Aku hanya takut kehilanganmu, di tambah janji yang kau katakan kepadaku. Fiqer, aku takut kehilanganmu dan aku juga mencintaimu."


Vie terteguh ketika pintu kamar mandi di buka secara tiba-tiba. Dia bahkan terjatuh hingga Fiqer menangkap tubuhnya.


"Maaf Vie, aku ikut terpancing emosi. Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu padamu. Aku juga mencintaimu dan takut kehilanganmu." ucap Fiqer.


Vie seketika menangis mendengar hal itu. Benar, dia takut kehilangan Fiqer. Pria ini telah di anggap sebagai rumah untuk Vie sendiri.


"Ayo mandi bersama!" ajak Fiqer dengan menarik Vie dan mengusap wajah kekasihnya itu. Pintu kamar mandi segera di tutup dan suara air segera memenuhi ruangan.

__ADS_1


Malam ini, pertengkaran pertama mereka terjadi karena suasana hati yang saling bertolak belakang. Tidak tahu kedepannya seperti apa nanti.


__ADS_2