Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(17) Kau berbohong Fiqer


__ADS_3

Satu hari adalah kesempatan yang tidak akan di lewatkan oleh siapapun, termasuk Vie. Namun, Pagi ini dia mendapati hal yang membuat hatinya gelisah.


"Benar Kak Vie. Nala melihat Tuan Fiqer pergi keluar bersama Weliyana." ucap Nala kepadanya.


Baru saja pagi menunjukkan diri, Vie harus mendapatkan kejutan seperti ini. "Jadi maksudmu, mereka pergi pagi sekali sebelum aku bangun?" tanya Vie.


Nala mengangguk pelan. Dia tidak tega mengatakan semua itu.


Kegelisahan di hati tampaknya tidak bisa Vie hindari. Namun, rasa cinta di hati membuatnya tetap tenang dan berpikir positif. "Mungkin, Fiqer menemaninya karena pendekatan ini." benak Vie.


"Terima kasih Nala, aku akan membuat sarapan pagi ini." ucap Vie.


Nala mengangguk dan segera pergi. Tidak ada lagi tantangan yang harus mereka kerjakan. Yang telah di pilih sebagai menantu, tidak di izinkan menyentuh dapur bahkan mengerjakan yang lain. Mereka juga di izinkan pulang.


Namun Tiasa,Otavi dan Nala, ketiganya tidak pulang sebelum mendapat kabar baik dari Vie.


Setelah kepergian adik sepupunya. Vie memutuskan untuk menuju dapur dan membuat sarapan.


Kali ini dia membuat sarapan dengan cinta yang mendalam. Ayolah, dia telah menemukan cintanya, wajar saja dia sebahagia ini meski hatinya di landa kegelisahan.


Vie menyajikan steak dan kentang goreng sebagai peneman. Saat asik memotong kentang, tidak sengaja dia mengiris jarinya sendiri. Hingga jari telunjuknya di beri perban luka.


"Tidak apa, rasa sakit ini akan di ganti dengan wajah Fiqer yang bahagia." gumam Vie menyemangati dirinya.


Waktu pagi tampaknya lambat berlalu. Via duduk di meja makan dengan menatap hidangannya. Semakin waktu berlalu, semakin kecemasan muncul di hatinya.


Hingga, siang hari tiba dengan Vie yang membuka mata. Dia terkejut ketika tahu kalau dirinya tertidur di meja dapur.


"Astaga, masakkannya jadi dingin!" pekik Vie sembari mengambil hidangan yang ada di atas meja.


Pegangan yang tidak kuat membuat hidangan Vie jatuh ke lantai. Piring yang dia gunakan seketika pecah dengan makanan yang terkena percikannya.


Vie terdiam seketika. Hasil masakannya menjadi seperti ini karena dia baru bangun. "Aku harus memasaknya lagi." gumamnya.


Di bersihkan piring-piring yang telah pecah itu, makanan yang kasih utuh harus di buang oleh Vie. Dia merasa sedih karena sarapan pagi ini akan di buang begitu saja.


"Tidak apa, Fiqer belum kembali pasti meladeni wanita itu. Sebaiknya, aku membuatkan makan siang." gumam Vie kembali menyemangati diri.


Dia segera menuju dapur dan membuatkan makan siang yang simpel untuknya. Mie goreng yang di sajikan kini tampak enak di mata Vie. Dia belum makan dari pagi, waktu makan siang pun hampir tiba.


Vie akhirnya memutuskan untuk makan saat Fiqer datang. Dia akan makan siang bersama kekasihnya.


Satu jam berlalu, dua jam pun ikut berlalu. Hingga waktu makan siang itu lewat dengan waktu sore yang tiba.


Perasaan Vie yang tenang itu berubah seketika. Dia merasakan rasa lapar, kegelisahan dan tidak tenang di hati.


"Fiqer akan pulang bukan?" benak Vie.


Di saat pikiran kalutnya muncul, di situ juga dia melihat kedatangan orang yang di nanti.


"Fiqer!" pekik Vie.


Langkah kakinya melebar untuk mencapai tempat berdirinya Fiqer. Setibanya di sana, Vie terdiam melihat Fiqer mengenggak tangan Weliyana.


Saat dia memperhatikan itu, tangan tergenggam seketika lepas dengan suara bertanya yang dingin.


"Ada apa?" tanya Fiqer.


Vie meneguk salivanya. Dia saat ini tengah berperang dengan pikirannya. Hatinya berkata kalau Fiqer pasti lelah meladeni Weliyana. Namun pikirannya malah berkata, kalau Fiqer tidak lagi melihat ke arahnya.


"Sudah makan?" tanya Vie. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Dia tidak bisa berbicara apa pun. Matanya melirik Weliyana yang tersenyum bahagia. Lalu, dia melihat tangan lain Fiqer yang mengenggam paper bag yang tidak bisa dia hitung seberapa banyak itu.


"Kami sudah makan Vie, makan malam kali ini juga sudah di atur oleh kami. Lebih baik kamu diam di sini saja!" ucap Weliyana.


Vie mengerutkan alisnya. "Bukankah pendekatan satu hari ini, aku juga mendapatkan bagian?" tanyanya.


"Kau memang mendapatkannya. Tapi, aku terlebih dahulu memutuskan untuk mengatur jadwal bersama Fiqer." sahut Weliyana.


Vie melirik ke arah Fiqer, pria itu diam tidak membela dirinya.


"Fiqer, apakah itu benar?" tanya Vie.


Pria yang di panggilnya segera menjawab, "Benar ... dia telah membuar jadwal terlebih dahulu. Aku akan menemanimu saat makan malam selesai." sahut Fiqer.


Vie diam seketika. Di dalam hatinya hanya ada kalimat 'pergilah dan tinggalkan semuanya'. Kalimat itu berhasil membuat kakinya melangkah pergi, meninggalkan Pria dan Wanita yang tampak serasi.


"Vie, apa yang kau harapkan?" benak Vie saat tiba di dalam kamar. Dia memikirkan kejadian tadi. Tangannya yang terluka kini mulai terasa sakit. Di tambah dirinya baru saja mendapati kekasihnya bersama wanita lain.


"Fiqer mau bersamanya? Apa tidak salah?" benak Vie.

__ADS_1


Vie menutul mata dengan bersandar di balik pintu. Dia memikirkan apa yang terjadi hari ini, kenapa bisa semua berbeda dari harapannya. Bagaimana, orang yang dia cintai berpindah tujuan.


...●●●...


Malam hari tiba, setelah makan malam yang di lakukanmya seorang diri. Vie memutuskam untuk menunggu di ruang tamu. Menanti kedatangan kekasihnya seperti yang dia janjikan.


Namun, benar-benar sebuah harapan. Pukul sepuluh lewat tiga puluh tiba. Vie mendapati Fiqer kembali dengan mengendong Weliyana yang tertidur.


"Fiqer?" Vie segera melangkah mendekati kekasihnya yang baru tiba ini.


"Maaf Vie, aku tidak bisa menemanimu seharian ini. Maafkan aku," ucap Fiqer yang kemudian berlalu.


Vie tercenga mendengar hal itu. Dia tidak tahu kalau seperti itu alasan yang Fiqer berikan.


"Kau, berbohong Fiqer!" gumam Vie. Mata yang penuh kebahagiaan itu seketika redup.


Setelah semua ini, Vie memutuskan untuk tidur di kamarnya dan mendengarkan keputusan akhir yang akan di beritahu oleh Faga.


Pagi harinya, di ruang tengah Vie dan Weliyana berdiri untuk mendengarkan keputusan Faga. Siapa yang tinggal dan pergi.


"Selamat untuk Nona Weliyana, Anda akan menjadi istri Tuan Fiqer. Dan maaf Nona Vie, Anda harus pulang dan kembali." ucap Faga. Dia merasa sedih membacakan pengumuman ini.


Vie mengangguk, dia segera melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.


"Aku sudah bilang bukan, kau akan pergi dengan kepala menunduk!" bisik seseorang yang membuat Vie berhenti melangkah.


Mata Vie menatap ke arah Nyonya Violet dan Nyonya Zisa. Hal yang lebih membuatnya tenang, Weliyana berdiri di antara mereka.


"Pergilah dari sini, Vie." ucap ketiganya.


"Aku mengatakan terima kasih kepada kalian. Kedua, aku tidak akan pergi dengan kepala menunduk. Bagiku, kepergianku inilah pilihan yang tepat. Tinggal bersama orang buruk seperti kalian akan membuat hidupku lambat menuju masa depan."


"Terima kasih sekali lagi ku ucapkan. Lalu, sampai jumpa!" ucap Vie.


Langkah kakinya segera pergi meninggalkan lantai pertama. Vie memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya.


"Kak, apa maksudnya ini!" pekik Nala yang membuka pintu kamar secara tiba-tiba.


Vie mengemasi kopernya dengan santai. Dia melangkah mondar-mandir, membawa pakaiannya.


"Itulah hasilnya Nala. Fiqer memilih wanita itu, bukan aku!" sahut Vie. Nada bicara sedikit tertekan.


Vie tersenyum mendengar hal itu. "Tidak salah Nala, yang salah adalah kita. Lebih tepatnya aku! Aku yang terlalu percaya dengan omongan laki-laki."


Usapan lembut Vie berikan. Dia tersenyum sembari berucap, "aku senang, kalian mendapatkan jodoh yang baik. Dengar, jangan melakukam kesalahan yang membuat kalian di benci. Beritahu juga kepada Otavi dan Tiasa." pesannya.


"Apa maksudmu memberitahu. Kita bisa menyampaikan keputusan ini Vie, semua ini tidak adil." imbuh Otavi yang datang dengan air matanya.


Vie tersenyum kembali, di usap pipi yang berisi itu. "Jangan mempermalukan keluarga kita Otavi. Jangan mengemis yang tidak seharusnya kita lakukan. Dengar, biarkan aku pergi dengan semua ini."


Tiasa memeluk Vie secara tiba-tiba. Membuat Vie terteguh, dia dengan cepat membalas pelukkan itu. "Vie, hiks! Pokoknya, aku mendoakan kebahagiaan untukmu."


Vie mengangguk-angguk mendengar hal itu. Dia segera merapikan kopernya dan mengangkat koper itu.


"Tunggu Vie, beristirahatlah dulu. Ayo makan siang di kamarku!" ajak Otavi.


"Aku tidak bisa Otavi, aku ingin-,"


"Ayolah, kita akan jarang bertemu." ajak Otavi dengan sedikit memaksa.


Vie mengangguk dan mengikuti langkah Otavi. Dia membawa kopernya menuju kamar Tante mudanya itu.


Setiba di sana, Tiasa dan Nala segera duduk bersama Vie. Mereks menatap mie goreng yang dibuat oleh Otavi.


"Makanan ini kesukaanmu, Vie. Kita akan menikmatinya bersama!" pekik Otavi.


Vie mengangguk. Semua menikmati mie goreng yang spesial untuk Vie. Menghabiskan makanan itu hingga perutmu kenyang dan berakhir dengan rasa kantuk.


"Hoaam!" Vie menguap saat perutnya telah benar-benar terisi penuh. Memang seperti inilah Vie, makanan yang di makan jika membuatnya kenyang, rasa kantuk akan muncul.


Vie bisa saja tidur setelah menunggu tiga puluh menit. Namun, saat ini Vie memutuskan untuk memejamkan matanya.


"Aku akan tidur, bangunkan aku saat sore tiba." pesan Vie.


Semuga mengangguk mendengar hal itu, dan membiarkan Vie terlelap di dalam mimpinya.


...●●●...


...(⚠️Bagian ini mengandung unsur dewasa. Mohon bijak dalam membaca. Terima kasih⚘⚠️ )...

__ADS_1


Pintu kamar di ketuk saat malam tiba. Otavi yang membiarkan Vie bermalam di kamarnya segera menyelimuti tubuh keponakkannya itu.


Alasan Otavi melakukan ini agar hati Vie tenang saat kembali nanti. Dia tidak ingin keponakkannya menangis dan berpura-pura bersikap tegar.


Otavi yang menyaksikan kejadian tadi pagi sudah merasa sakit. Apa lagi saat tahu kalau Vie tidak di beri kesempatan oleh Fiqer hingga keponakkanya itu memendam rasa amarahnya.


Ketukkan pintu kembali menyadarkan Otavi. Dia segera melangkah menuju pintu. "Siapa?" tanyanya saat pintu terbuka.


Otavi diam seketika, dia tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Fiqer yang ada di balik pintu.


"Di mana Vie?" tanya pria itu.


Otavi terteguh, "untuk apa Anda menemuinya. Biarkan dia beristirahat." ucapnya.


"Aku ingin dia ada di sampingku malam ini. Aku melakukan kesalahn tapi tidak bisa membelanya. Biarkan, dia bersamaku. ku mohon!" ucap Fiqer.


Otavi tidak bisa menolak bahkan menyetujui. Dia hanya diam melihat Fiqer mengendong Vie hingga keluar dari kamarnya.


"Maaf, Vie." gumam Otavi mengerutumi dirinya karena tidak bisa menolak ucapan Fiqer.


...●●●...


Perlahan mata Vie terbuka. Dia merasa tubuhnya di bawa seseorang. Saat pandangannya menjadi jernih, Vie melihat wajah Pria yang sudah mencampakkannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Vie dengan nada dingin.


Pria yang mengendongnya terteguh seketika. "Aku ingin tidur denganmu!" sahutnya.


Vie memandang datar ke arah wajah pria ini. Hatinya telah terluka, dia tidak lagi bisa merasakan kebahagiaan ketika mendapat perlakukan seperti ini. Hatinya seakan membatu dalam satu malam.


"Tidur? Oh, baiklah ... aku akan melayanimu, Tuan Muda." ucap Vie dengan menatap ke arah lain.


Fiqer yang mendengar hal itu terteguh. "Apa yang kau katakan!"


Vie tidak menghiraukan apa yang Fiqer ucapkan. Dia lebih memilih untuk diam dan membiarkan pria ini membaringkannya di kasur.


Setelah berbaring di sana. Vie mendapati Fiqer memeluknya dari belakang. "Tidurlah, Vie." ucapnya.


Vie menjauhkan tangan yang memeluknya. Rasa sakit yang dia rasa sudah memuncak. Dia tidak akan lagi menerima keromantisan ini.


"Vie!" pekik Fiqer


Tubuh pria yang memeluknya segera berubah posisi. Vie duduk di paha Fiqer dengan membuka baju Fiqer.


Wajah Fiqer terkejut melihat hal itu, dia segera mendudukkan dirinya.


"Vie, apa yang kau lakukan?" pekiknya.


Vie bergerak cepat untuk berbaring di tubuh Fiqer. Di beri tanda ketubuh itu hingga Fiqer melenguh seketika.


Sesuatu yang panas itu segera mengeluarkan hasrat yang tertahan.


Fiqer mencoba menahan nafsunya hingga membalikkan posisi Vie.


"Sadarlah Vie, apa yang kau lakukan?" tanyanya.


Vie menangkup wajah Fiqer dan memberikan ciuman panas hingga lenguhan lagi terjadi.


"Kenapa? Bukankah kau ingin tidur denganku? Dan lagi, kita tidak akan bertemu setelah malam ini." ucap Vie membelai wajah Fiqer.


Fiqer terdiam mendengar hal itu, dia menatap wajah Vie yang mulai mengoda untuknya.


"Fiqer, ayolah. Apa kau hanya ingin tidur denganku, tanpa bercinta?" ucap Vie lagi.


Pengodaan yang dilakukan oleh Vie berhasil membuat Fiqer menyerangnya. Mereka saling berlenguh dengan keringat yang membasahi tubuh.


Saat dirinya di cintai dengan suasana yang penuh keindahan ini. Hati Vie berjerit menderita dengan air mata yang mengalir. Apa lagi merasakan sesuatu yang memasuki dirinya.


Semburan cinta membuat permainan berhenti dengan cepat. Vie maupun Fiqer terbaring lemas hingga tanpa sadar kantuk datang.


Setelah merasakan kesunyian di sekitarnya. Vie melepaskan pelukkan Fiqer di tubuhnya. Di punggut pakaian yang terlepas dari tubuhnya.


Tubuh yang masih lengket tidak di bersihkan oleh Vie. Dia melangkah keluar kamar dengan pakaian yang benar-benar lusuh.


Sebelum membuka pintu, Vie melangkah pada kasur Fiqer. Dia mencium wajah kekasihnya sebelum pergi.


"Fiqer, kau telah berbohong kepadaku. Semoga, ini yang menjadi terakhir kalinya kita bertemu. Dan, aku mencintaimu." bisik Vie.


Dengan langkah berat Vie keluar kamar bersama air mata yang mengalir. Hatinya sakit tapi cintanya tidak pada sama sekali.

__ADS_1


Tanpa dia ketahui, kalau pria yang baru saja bercinta. Tengah mengigaukan, "Maaf, Vie."


__ADS_2