Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(28) Menjadi Ayahnya, Xexin?


__ADS_3

Fiqer menatap fokus ke arah komputernya. Dia melihat rekaman yang dia dapat dari rumah sakit beberapa hari lalu.


Di dalam rekaman, terlihat seorang wanita mengenakan masker di wajahnya. Lalu, wanita itu mengenakan baju oversize untuk menutupi perut buncitnya.


Mata Fiqer tidak salah dalam mengenali kekasihnya. Dia tahu kalau Wanita itu adalah Vie, orang yang dia cari selama hampir 10 bulan ini.


"Akhirnya, aku menemukanmu Vie." gumam Fiqer.


Setelah mendapatkan semua data yang bisa menemukannya dengan Vie. Fiqer memutuskan untuk pergi ke kota T. Dia akan menjemput Vie dan membawanya kembali.


"Aku tidak tahu kalau dirimu hamil Vie. Tenang saja, Aku akan bertanggung jawab." benak Fiqer dengan rasa senangnya.


Sudah berhari-hari dan minggu-berminggu yang dia lalui. Jejak Vie bagaikan pasir di pantai. Selalu hilang saat ombak menghantap jejaknya.


Fiqer tahu, dia bersalah besar dan telah melakukan kesalahan. Hatinya juga merasakan sakit ketika Vie memutuskan pergi tanpa jejak sama sekali.


Sekarang, Fiqer menghilangkan kekhawatirannya. Dia akan membawa Vie kembali, dan jika kekasihnya itu melahirkan anaknya. Maka, Fiqer dengan senang ati menyambut buah hatinya.


"Ayah, aku akan pergi untuk mencari Vie." ucap Fiqer di ruang kantor sang Ayah. Dia membawa koper dengan kunci mobil.


Ayah Fintro terkejut mendengar apa yang Fiqer katakan. Dia yang tengah melakukan rapat pagi segera berhenti.


"Rapatnya di tunda dulu," ucap Ayah Fintri dengan menghentikan rapat dan setelah itu, menatap wajah putranya.


"Kenapa? Apa kau menemukan jejak Vie?" tanyanya.


Fiqer mengangguk dan menggeleng, "Aku belum bisa memastikan apakah Vie ada di sana atau tidak."


Ayah Fintro menepuk pundak anaknya, Dia tahu kalau sang Putra tidak bisa melupakan cinta pertamanya itu.


"Pergilah, dan bawa menantu kita kembali. Ayah akan menunggumu di sini!" ucap Ayah Fintro.


Fiqer mengangguk dan segera berpamitan. Dia menyeret kopernya menuju keluar.


Mobil hitam melaju di jalan, kecepatan yang masih di rata-rata umumnya. Mengantarkan Fiqer menuju ke kota T. Perlu waktu 2 jam ke sana karena jalan yang begitu padat.


...●●●...


Di tempat lagi, seorang wanita tengah berjalan menyusuri dinding. Dia meraba-raba sekitarnya untuk menemukan ruangan.


"Mau kemana?"


Pertanyaan seseorang itu dikenali oleh wanita yang tengah berjalan. "Aku ingin ke kamarku, Xexin bisa bantu aku ke sana?" tanya Vie.


sudah satu minggu semenjak kelahirannya. Sebenarnya, Dokter tidak mengijinkan Vie pulang. Namun, Vie tetap berniat untuk kembali pulang.


Alasannya karena dia tahu, keluarganya pasti tengah mencari dirinya.


Xexin yang Vie seru itu segera mengenggam tangannya. "Baiklah, aku akan menuntun Anda."


Anggukkan kepala Vie berikan. Dia segera melangkah mengikuti Xexin yang menentukan arah.


"Bagaimana dengan perasaan Anda?"

__ADS_1


Vie menutup matanya dengan santai. "Aku? Tidak buruk, soalnya ada Viviano yang akan mengembalikan perasaanku."


"Anda tidak berniat untuk menghubungi keluarga Anda?"


Kerutan muncuk di alis Vie. Meski dia tidak melihat Xexin karena sekarang dai telah buta. Vie masih bisa mengetahui perasaan seseorang dari ucapannya.


"Aku tidak akan menghubungi keluargaku, sebelum merenggang nyawa." sahut Vie.


"Viviano pasti membutuhnya seorang ayah, jika-,"


"Apa kau ingin menjadi Ayahnya, Xexin?" tanya Vie dengan memotong ucapan pria ini.


Tangan yang dia genggam seketika menengang. Vie menyadari bahwa Pria di depannya masih menaruh rasa.


"Aku tidak ada niat untuk menikah atau menjadikan orang lain sebagai Ayah untuk anakku. Tenang saja, Ayahnya pasti tengah bahagia sekarang." ucap Vie.


Dalam bayangan yang hanya tersisa sebagai kenang-kenangan. Vie teringat bagaimana Fiqer memperlakukannya sebagai ratu.


Dia mampu menjatuhkan perserta lain, lalu menantang Nyonya Ketiga dan Keempat. Vie yakin, dia akan menjadi menantu keluarga Michael.


Namun, semua itu menghilang saat ada wanita lain di dalam hubungan mereka. Sekarang, Vie tidak lagi memperdulikan pria itu. Jika takdir baik, mau mempertemukan mereka. Mungkin, Vie akan berbalik arah padahnya.


Semua itu karena hati yang masih mencintai dan berharap janji itu bisa diwujudkan.


"Aku tidak mengerti dengan keputusan Anda." ucap Xexin.


"Tidak perlu dimengerti, cukup dengarkan saja." sahut Vie.


"Putramu masih tidur, apa yang Anda cari?" tanya Xexin.


"Aku mencari korset," sahut Vie.


Di saat dia asik mencari, sesuatu tiba-tiba berada dipahanya. Vie segera mengambil benda yang dia ketahui. "Kau menemukannya, bagus ... sekarang, keluarlah." perintah Vie.


Dia tidak mendengar suara penolakkan seseorang. Yang dia dengar hanya langkah kaki yang pergi meninggalkannya.


Karena tidak perlu lagi khawatir, Vie juga sudah tidak berharap banyak pada dirinya. Dia mengangkat setengah bajunya untuk melilitkan korset.


"Jika Anda duduk, korset itu tidak akan berguna." ucap Xexin.


Rambut Vie yang terikat dengan seketika terlepas. Itu semua terjadi karena dia berbalik badan untuk menghadap ke sumber suara.


Hening sesaat, Vie tersadar kalau dia mengangkat setengah bajunya. Dengan cepat dia menurunkan baju tersebut. "Kau masih di sana? Aku pikir sudah keluar." ucap Vie sedikit panik.


Tidak ada balasan dari orang yang dia ajak bicara. Vie memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya. Di saat dia melakukan itu, seseorang menyentuh tangannya dari belakang.


"Diam dan akan ku pasangkan." ucap Xexin di sampingnya.


Vie membelakkan mata, dengan cepat dia menggeleng untuk menoleh tawaran itu.


"Aku tahu batasan, berbaringlah di kasur." ucap Xexin kembali.


Vie ingin menolak tapi Pria itu telah melakukan sesuatu yang kemudian menuntun dirinya. "Berbaring dengan benar," katanya.

__ADS_1


Tidak lagi menolak, Vie hanya membiarkan apa yang Xexin lakukan. Dia mengangkat setengah bajunya.


"Permisi," ucap Xexin dengan nada yang lemah.


Vie merasakan seseorang membalutkan kain padanya. Lalu, sesuatu yang mengencangkan tubuhnya, segera terasa.


Selama ini, hanya Caca yang membantu Vie memasang korset. Tidak pernah satu laki-laki yang membantunya. Namun, kali ini Xexin adalah pria pertama yang melakukan itu.


Setelah diam sejenak yang membuat hembusan napas terdengar. Korset itu pun terpasang dengan begitu kencang. Vie merasa terbantuk dengan apa yang Xexin lakukan.


"Terima kasih, kau sudah membantuku." ucap Vie yang di tuntun oleh Xexin untuk duduk.


"Hm sama-sama, maafkan aku yang melakukan ini secara tiba-tiba." ucap Xexin.


Vie mengangguk dan segera mengarahkan tangannya untuk memeriksa Viviano.


Tahu apa yang dia lakukan, Xexin melakukan sesuatu yang membuat Vie bingung.


Dia kemudian merasa kalau Xexin menyerahkan seorang bayi yang kini menangis.


"Terim kasih, kau sudah banyak membantuku." ucap Vie.


Dengan santai, dia mengangkat kembali bajunya dan berniat untuk memberikan asi kepada Viviano.


Lirikkan mata yang tidak lagi bisa melihat melirik ke arah kanan. Vie mendengar langkah kaki yang pergi meninggakkan kamarnya. Lalu, suara pintu di tutup rapat juga dia dengar.


"Hehe, Xexin-Xexin ... aku tidak bermaksud untuk mennyakiti hati siapapun. Tapi, aku hanya akan menghambat kebahagiaan dan masa depan kalian."


Kepala Vie mengarah kepada bayi yang kini menerima asinya. Dia senang kalau putranya tubuh dengan baik, lahir dalam keadaan yang tidak kurang sekalipun.


"Bibit keluarga Michael benar-benar unggul, hahaha." gumam Vie sembari mengusap-usap tangan munggil Viviano dari balik sarung tangan.


"Fiqer, kau pasti bahagia dengan orang yang kau nikahi. Ku harap, saat kau bertemu putra kita. Kau tidak akan membencinya, atau malah melakukan sesuatu yang menyakitinya."


"Bagaimana pun, cintaku kepadamu begitu besar hingga Anak ini ikut lahir. Jika aku seperti Vie yang di tinggalkan oleh Surza, aku pasti mengugurkan anak ini."


"Alasannya simpel, karena aku tidak begitu mencintainya. Tapi kau, kau adalah pria yang berhasil memberi keindahan kepadaku."


"Tidak masalah mataku yang menjadi korbannya, asal putra kita lahir dari hasil cintamu kepadaku. Hufh ... huh." Vie tersenyum setelah mengeluarkan banyak ucapan.


Dia seorang wanita, orang yang menginginkan cinta serius bersama pria yang di sukai. Dan ada seorang pria yang memberikan ketulusan hatinya.


Meski di akhir, Cinta itu harus menghilang sepihak. Vie menghela napas dan segera menyudahi Viviano yang asik menerima asi.


"Kau bangun hm?" tanyamya sembari meraba wajah Vivano. Anak kecil itu jarang menangis. Dia menangis saat lahir dan saat lapar atau ada masalah padanya.


Tapi saat dia tenang, Viviano tidak menunjukkan reaksi lain. Hal itu memudahkan Vie untuk beristirahat. Bahkan, Caca yang akan mengantikan dirinya untuk mengajak Viviano.


"Ibu dengar, wajahmu mirip dengan pria asing. Yang terpenting, dia tampan dan luar biasa. Hahah, mereka tidak tahu kalau Ayahmu itu saaanggaatttt tampan!" pekik Vie dengan mengarahkan hidungnya di pipi mungil.


Tangan bayi itu menyentuh wajahnya. Vie senang dengan apa yang bayinya lakukan. "Hei Viano, apa kau setuju dengan perkataan ibu barusan?" tanya Vie.


Dia tertawa kecil dan segers menyentuh jemari kecil itu. Vie sangat senang dengan apa yang ada di hidupnya. Penyesalan? Mari singgirkan itu di dalam pikiran dan hati. Sekarang, Vie harus menatap kedepan dan memulai kehidulan baru lagi bersama Viviano Fezi, putranya.

__ADS_1


__ADS_2