Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(16) Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Vie, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, ku harap kau tidak bersedih dengan semua ini." ucap Lily.


Vie mengangguk mendengar hal itu. Saat ini, dia sedang berdiri di dekat jendela. Pikirannya menuju pada pengumuman hasil yang di sampaikan oleh Faga.


Kenapa bukan dia yang di pilih? Apa dia melakukan kesalahan?


Vie mengingat jelas kalau Fiqerlah yang menjanjikan kepadanya. Kepala keluarga mendukung dia, lalu Ayah Fiqer mendukungnya. Tapi kenapa seperti ini?


Tidak ada yang ingin menganggu keadaan Vie sekarang. Otavi, Tiasa, Nala dan Lily hanya bisa berdiri dari kejauhan untuk memastikan keadaan Vie.


"Pasti diriku tidak terpilih. Aku lupa kalau Nyonya Zisa dan Nyonya Violet sudah memberiku ancaman saat itu. Hehe, Aku terlalu lengah." benak Vie.


Langkah kaki membawanya menuju ke kamar Fiqer. Sudah tidak ada kesangupan di hatinya. Dia tidak tahu apakah Fiqer menyetujui keputusan itu atau malah sebaliknya.


Memikirkan semua ini, membuat Vie teringat mantan kekasihnya. Surza Norka memilih keputusan Ibunya dari pada mempertahankan dia.


"Tidak, Fiqer tidak akan seperti itu. Dia sendiri yang telah berjanji kepadaku." gumam Vie dengan perasaan aneh menghantuinya.


Perasaan aneh itu hadir karena rasa takut dan cemas yang menyerang. Vie bahkan mendengar bisikkan yang berasal dari halusinasinya.


'Dia akan memilih apa yang di putuskan keluarganya.'


'Laki-laki seperti itu, dia mempertahankan orang tuanya dari pada perempuan yang rela membela kekasihnya.'


'Ini adalah akibat yang akan kau tanggung karena kau meremehkan orang lain, Vie.'


'Kekasihmu pergi Vie. Apa yang akan kau lakukan?'


Vie segera menutup telinga mendengar bisikkan yang sebenarnya muncul karena dirinya sendiri. Rasa takut dan cemas menghantui hingga tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.


"Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak apa, ini hanya sebuah cinta yang tidak perlu kau tangisi. Tenang Vie, setelah semua ini berakhir. Pergilah meninggalkan semuanya di sini." gumam Vie.


Berbaring di kasur yang terdapat kenangan indah di dalamnya. Membuat air mata itu terus mengalir membasahi pipi.


Inilah yang membuat Vie tidak tenang. Hatinya terlalu jatuh ke dalam hingga dia akan kesulitan untuk menuju permukaan.


Perasaan yang kuat menjadikannya sebagai sebuah penenang hati tapi luka segera memenuhi isi hatinya. Jika bisa, Vie tidak ingin jatuh cinta sekarang.


Karena lelah menangis dengan membayangkan keadaannya. Vie terlelap dalam tidur yang benar-benar panjang.


Pagi hari menyambut, Vie membuka mata perlahan dan melihat sekelilingnya. Kekasihnya tidak kembali sampai pagi ini.


"Dia bilang akan kembali hari ini kan?"


Dengan tubuh yang lemas, Vie bangun dari tempat tidur. Langkah kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Namun, suara ketukkan pintu membuat Vie mengerutkan alisnya. "Fiqer tidak perlu mengetuk pintu kan?" benak Vie.


Tujuannya menuju ke kamar mandi itu seketika berubah arah menuju pada pintu.


Pintu tersebut terbuka perlahan olehnya tapi tangan seseorang tiba-tiba mendorong pintu. Tubuh Vie terdorong karena kaget dengan apa yang terjadi.


"Berkemaslah Vie, dan pergilah dari sini!" ucap Weliyana.


Vie mengerutkan alis mendengar apa yang wanita itu ucapkan. Dia segera menegapkan diri sembari menatap tajam ke arah wanita yang menganggu paginya.


"Pergilah dan angkat kakimu dari sini, Vie!" ucap Weliyan kembali dengan menarik tangan Vie secara tiba-tiba.


Hal itu membuat Vie melawan untuk menahan dirinya. "Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila!" pekik Vie.


Weliyana tetap menarik tangannya hingga keluar dari kamar. Vie terus memberontak hingga Weliyana terjatuh.


"Apa yang terjadi?"


Kelvi, pria itu datang dengan wajah terkejut di penuhi keringat. Dia menatap Vie dan Weliyana secara bergantian.


"Hiks! Aku tidak memaksamu Vie." ucap Weliyana secara tiba-tiba.


Vie tersadar melihat tangannya yang terkepal dan di angkat seperti ingin memukul seseorang. Padahal, tangan tersebut baru saja terlepas dari cengkraman Weliyana.


"Jangan menipu semua orang. Kau yang tiba-tiba datang menarikku!" pekik Vie.


Weliyana mengusap air matanya dan berdiri dibantu oleh Kelvi.

__ADS_1


Beberapa orang segera datang karena mendengar keributan itu. Mereka melihat Vie dan Weliyana yang tampak lusuh.


"Aku tidak menarikmu. Kau yang datang ingin memukulku! Kelvi sendiri yang melihatnya," ucap Weliyana.


Vie terteguh mendengar hal itu, dia melirik Kelvi yang menatapnya dengan serius. "Wah, mereka tertipu dengan dirinya?" benak Vie.


"Lihatlah dia Kelvi, dia memang tidaklah pantas menjadi menantu keluarga Michael. Seharusnya dia melangkah pergi dari sini, dia bukan lagi calon istri Fiqer. Akulah yang merupakan calon Istrinya!" ucap Weliyana dengan suara yang mengema.


"Kau? Kenapa bisa dirimu?"


Semua mata tertuju pada seorang pria yang datang dengan setelan formal. Langkah kaki pria itu menuju ke arah wanita yang baru bangun tidur.


"Sayang, apa yang kau lakukan di luar. Biasanya kau akan bangun jam sembilan pagi?" tanya Fiqer mengusap kepala Vie.


Rasa cemas yang dia alami semalam menghilang seketika. Mata Vie membulat bahagia melihat Fiqer datang dengan perhatian yang sama.


"Fi-fiqer?" gumam Weliyana dengan terteguh.


Mata Fiqer melirik semua yang ada di lantai dua ini. "Apa yang terjadi di sini?" tanyanya.


Vie melirik wajah sang kekasih yang kini mendekapnya. "Fiqer syukurlah," benak Vie.


"Ehem, jadi begini kak. Keributan tiba-tiba terjadi saat aku baru selesai berolah raga di lantai atas. Aku segera ke sini saat mendengar keributan mereka." Kelvi berucap sembari melirik ke arah Weliyana dan Vie.


"Saat aku tiba, mataku melihat Nona Vie terteguh dengan Nona Weliyana yang terjatuh. Jika aku lihat sekilas, terlihat Nona Vie ingin memukul Nona Weliyana." jelasnya.


Fiqer menatap ke arah sang kekasih yang kini berada di dalam dekapannya. "Sayang, apa kau ingin memukulnya?"


Vie segera menggeleng. "Dia yang tiba-tiba datang ke kamar. Lalu menarikku secara paksa dan bilang kalau aku harus pergi dari sini." sahutnya.


Fiqer terteguh mendengar apa yang Kekasihnya katakan. "Pergi? Apa maksudku pergi? Aku memilihmu kenapa harus pergi?" tanya Fiqer lagi.


Vie menundukkan kepalanya, dia tidak ingin mengucapkan apa yang terjadi kemarin. Biarkan dia lupa soal tersebut tanpa harus mengingatnya.


"Jelaskan Kelvi, apa yang terjadi tadi malam." ucap Fiqer kepada Adik keduanya itu.


Kelvi mengangguk, "Tadi malam, Faga mengatakan kalau Calon Istri kakak adalah Weliyana Furza, bukan Vie Maherqi."


Kerutan muncul di antara alis Fiqer. Dia melirik Weliyana yang menatap ke arah lain dengan wajah gusar.


Setelah diam sesaat, Fiqer menarik Vie di dalam dekapannya. "Vie tidak akan pergi. Aku akan membahas ini dengan Kakek. Jika ada yang ingin mengusirnya, datang kepadaku." ucap Fiqer dengan memberi tatapan tajam.


Semua seketika terteguh mendengar apa yang dikatakan olehnya. Apa lagi suara pintu tertutup membuat semua memutuskan untuk pergi tanpa berkata apa-apa.


Sedangkan Weliyana yang melihat hal itu segera mengerutkan alis. "Cih, kenapa dia kembali pagi ini." gumamnya.


Di dalam kamar, Vie di tuntun oleh Fiqer untuk duduk pada pangkuan kekasihnya. Dagu Fiqer bersandar di dada Vie, mata kekasihnya itu menatap dengan tenang.


"Apa tadi malam, kau menangis?" tanya Fiqer dengan mengusap pipi Vie.


Merasakan usapan lembut itu membuat Vie menahan tangan Fiqer agar tetap berada di pipinya. "Hm, aku menangis karena bukan aku yang di pilih oleh keluargamu."


Fiqer mengenggam tangan Vie dan mencium telapak tangan tersebut. "Aku akan menanyakan masalah ini ke pada kediaman utama. Tenang saja, semua ini pasti karena kesalahpahaman."


Vie mengangguk mendengar hal itu, dia segera mengalungkan tangannya di leher Fiqer.


"Ayo mandi, gerah nih." ajak Vie dengan menunjukkan senyumnya. Fiqer segera mengendong Vie menuju ke kamar mandi. "Ayo mandi, aku juga gerah nih." imbuh Fiqer.


...●●●...


Kediaman utama keluarga Michael tengah diselimuti suasana mencengkran.


Fiqer datang sesuai dengan janjinya kepada Vie. Dia tidak terima jika kekasihnya diusir tanpa dirinya ketahui.


"Mungkin ada kesalahan. Kakek mengambil keputusan sesuai apa yang di tentukan oleh para menantu. Baiklah, kalau begitu pertahankan Vie dan biarkan Weliyana yang pergi." ucap Kepala Keluarga dengan santai.


Fiqer mengangguk setuju, dia memang menginginkan Vie di sampingnya. Namun, Ibunda Zisa tidak menerima keputusan itu dengan mudah.


"Maaf Ayah, jika mengambil keputusan sepihak. Bukankah ini tidak adil? Weliyana berjuang juga untuk mendapatkan Fiqer. Dia berakhir tanpa ada yang mendukungnya?" ucap Nyonya Zisa yang merupakan Ibu Senja.


"Maksudmu?" tanya Kepala keluarga.


Zisa menarik napasnya dan menghembuskan semua itu dengan santai. "Bagaimana kalau kita membuat Fiqer bersama keduanya dalam satu hari. Kita lihat perkembangan mereka dulu, lalu memutuskan siapa yang berhak bersama Fiqer."

__ADS_1


"Aku mengingat jelas, kalau Ibu Fiqer menginginkan menantu yang baik untuk putranya. Maka, tentukan bersama selagi belum berakhirnya program ini." ucapnya.


Kepala keluarga mengangguk-angguk dengan keputusan Zisa. "Baiklah, Fiqer. Besok dekati dua orang tersebut. Lihat dengan baik yang mana wanita untukmu." ucapnya.


Fiqer ingin mengusulkan semua pikirannya tapi Kakeknya itu sudah pergi meninggalkan ruang tengah.


"Fiqer!" seru Nona Zisa.


Pandangan Fiqer tajam ke arah Ibu Senja. "Kenapa?"


"Lebih baik surat yang ibumu berikan itu, kamu baca. Bukan maksud Bibi untuk menghancurkan hubungan kalian. Tapi, ini semua dari ibumu sendiri." jelas Zisa.


Fiqer terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Senja. Surat yang di maksud itu memang ada dan belum di baca oleh dirinya sendiri.


"Aku tidak tahu apa kah isi tulisan itu. Tapi, ibumu berpesan kalau dia ingin kamu membacanya saat acara sekolah ini berakhir." imbuh Zisa.


Setelah berkata seperti itu, Zisa pergi meninggalkan Fiqer yang terdiam di tempat dengan tangan terkepal.


...●●●...


Vie merasa senang ketika tahu kalau dia mendapatkan kesempatan kedua untuk bersama Fiqer. Dia akan membuktikan kepada semua kalau Dialah yang akan menjadi menantu keluarga Michael.


"Kau tampak senang Vie." ucap Lily yang berdiri di samping Vie.


Makan malam telah usai, kejadian tadi siang terlupakan dan di ganti dengan informasi kalau Vie dan Weliyana akan melakukan pendekatan besok hingga malam tiba.


"Hm, tentu saja aku senang. Aku akan menunjukkan niat buruk mereka." sahut Vie sembari memakan cemilannya.


Lily yang sudah menjadi calon menantu keempat mengangguk kepala. "Kalau begitu, berjuanglah agar kita saling bersama lagi."


"Aku tidak tahu kapan kita seakrab ini. Tapi, melihatmu yang tidak di bantu siapapun. Itu membuktikan kalau kau berteman secara nertal. Bersamaku, bisa dan bersama yang lain pun bisa." ucap Vie sembari menatap Lily.


Apa yang dia katakan ada benarnya, Lily tidak pernah tampak jika bersaing. Selalu di tepikan oleh siapapun. Tapi, saat hasil pengumuman itu, dia lah yang berhasil lulus dengan aman.


"Sebenarnya, aku mengikutimu Vie. Tapi, aku tidak bisa menampakkan diri karena aku hanya bayangan yang tidak bisa berbuat apa pun." jelas Lily dengan menatap ke arah Vie.


Vie mengangguk-angguk kepala. Dia tidak tahu kalau wanita ini juga berada di dekatnya.


"Sudahlah, besok hari akan tiba. Aku harus menyiapkan segalanya." ucap Vie yang kemudian pergi meninggalkan Lily.


Setiba di kamar, Vie menatap datar ke arah seorang wanita yang kini berdekatan dengannya.


"Pesan Kepala Keluarga, Vie dan Weliyana akan tidur di dekat kamar Tuan Fiqer. Tidak ada yang tinggal satu kamar!" kata Faga saat itu.


Vie tentu merasa beruntung karena dia tidak perlu lagi merasa sesak di dekap oleh Fiqer. Meski begitu, dia akan merindukan bagaimana manjanya Tuan Muda Pertama itu.


"Sepertinya, Fiqer telah kau jadikan sebagai budakmu. Atau kau yang memang tidak terima dengan hasil akhir itu." cibir Weliyana.


Vie tersenyum sembari mendengus. "Bukankah hasil itu juga tidak benar. Kau baru satu minggu berada di sini, dan kau bisa mencapai poinku 5000 tanpa hambatan. Bukankah itu hasil yang tidak benar?"


"Jadi maksudmu, aku bertindak curang?" tanya Weliyana.


"Kalau kau mengaku dengan berkata seperti itu. Berarti kau curang." sahut Vie.


Tatapan keduanya seperti petir yang saling menyambar. Di lantai dua bagian mereka, hanya tersisa keduanya saja lagi. Sedangkan calon yang terpilih menikmati kamar mereka masing-masing.


"Dengan Vie, seperti perkataanku. Aku akan mengeluarkanmu dari Vila agar kau tidak lagi menginjakkan kakimu di sini." ucap Weliyana dengan nada peringatan.


Vie mengangguk dan memilih untuk tidak menghiraukan apa yang Weliyana katakan. Dia sudah tahu siapa yang ada di belakang Wanita itu. Yang harus Vie lakukan adalah tetap bersikap jujur dan yakin kalau dia tidak akan pergi dari Vila.


Di dalam kamarnya, Vie berbaring dengan menatap langit-langit kamar. Dia memikirkan apa yang akan dia lakukan besok agar keluarga Michael mengakuinya.


Baru kali ini Vie bersemangat untuk membuktikan kalau dia pantas bersanding. Alasannya melakukan itu semua karena Dia percaya kepada Fiqer.


"Dia tidak akan meninggalkanku seperti Surza. Aku yakin itu," gumamnya dengan wajah bersemu merah.


...●●●...


Di kamar lainnya, seorang pria meletakkan surat yang baru saja dia baca. Tangannya terkepal dengan perasaan tidak senang di hati.


Setelah membaca semua itu, dia tidak bisa berpikir jernih. Kenapa harus seperti ini. Surat yang di kirimkan berbeda dari apa yang dirinya tahu.


"Ibu, apakah benar dengan ucapanmu saat itu. Aku tidak tahu kenapa Ibu berubah pikiran. Namun, ku harap pilihan Ibu ini karena Ibu sendiri yang sudah memutuskannya. Ibu, aku percaya padamu." ucap Fiqer sembari menghela napas.

__ADS_1


Surat yang ada di atas meja di biarkan begitu saja. Tertulis di ujung surat, nama Liana Vivi yang merupakan nama, Ibunya.


__ADS_2