
Sebuah surat diletakkan pada meja ruang keluarga. Semua menatap tulisan itu termasuk Ayah Lima Penerus, Tuan Fintro.
"Ini bukan tulisan Ibumu, Fiqer. Ini tulisan Violet." ucap Tuan Fintro dengan begitu dingin.
Semua penerus yang ada menjadi bingung dengan apa yang terjadi. Termasuk Resga yang segera membela Ibunya.
"Ayah, tidak mungkin Ibu yang menulis itu. Ini surat wasiat ayah." ucapnya.
Tuan Fintro, Ayah Lima Penerus menghela napas dengan wajah datarnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan program ini. Untuk Zisa dan Violet, kemarilah." seru Tuan Fintro.
Nyonya Zisa dan Nyonya Violet melangkah mendekati meja yang ada di depan Suami mereka.
"Ini, adalah tulisanmu, Violet?" tanya Tuan Fintro.
Gelengan di berikan oleh Nyonya Violet. "Bukan suamiku, itu bukan tulisan Violet."
Tuan Vie tersenyum dengan begitu terpaksa. Dia menganggkat tulisan itu, lalu menunjukkannya di depan Nyonya Violet.
"Aku mengenalmu Violet. Semua istriku, aku tahu seperti apa mereka. Kau, tidak mungkin bisa meniru tulisan Istri pertamaku, karena tulisannya tidak serapi tulisanmu." ucap Tuan Fintro dengan nada tegas.
Nyonya Violet terteguh mendengar hal itu. Dia segera menggeleng dan bertekuk lutut. "Aku menjamin, kalau itu bukan tulisanku." ucapnya.
Tuan Fintro lagi-lagi tersenyum. Dia berdiri dan melangkahkan kaki ke depan. "Bangun Istriku, aku tidak menyuruhmu bertekuk lutut."
Tubuh Nyonya Violet dituntun untuk bangun dari berlututnya. Tuan Fintro tersenyum dan melangkah kembali duduk di sofa sebelumnya.
"Karena tidak ada yang mengaku baiklah. Pertama, katakan kepadaku. Kenapa ada Weliyana, dari keluarga Furya datang ikut ke sini. Aku tidak menerima undangan dan menyebarkan undangan untuk keluarga mereka." ucap Tuan Fintro.
Kakek Roger mengerutkan alis mendengar hal itu. "Jadi, Weliyana tidak kita undang?" tanyanya.
Tuan Fintro, sang anak segera mengangguk. "Ayah, tidak ada undangan untuk keluarga Furya. Mereka tidak menginginkan perjodohan ini."
Mata Tuan Fintro melirik ke arah Wanita yang menjadi calon istri anaknya. "Weliyana Furya, bukankah kau yang menoleh undanganku saat itu. Kau mengatakan kalau dirimu tidak pantas menikahi putraku. Lalu, kenapa kau mau menerima undangan dadakkan ini. Jika kau jujur, aku akan memaafkanmu."
Weliyana terdiam mendengar apa yang di katakan Tuan Fintro. Dia menatap ke arah lain yang bertepatan dengan mata Fiqer.
Tanpa terasa Weliyana meneguk salivanya. Dia segera menundukkan kepala karena melihat wajah kesal Fiqer padanya.
"Ayah! Jika surat itu bukan wasiat ibu, maka ... aku telah membuat kesalahan besar dengan meninggalkan Vie." ucap Fiqer dengan nada bingungnya.
Sang Ayah segera mendekat dan menepuk pundak putra pertamanya. "Kau benar, kau melakukan kesalahan dengan mempercayai surat itu. Fiqer, surat itu adalah tulisan dari Violet, ibu keempatmu."
Fiqer menatap ke arah wanita yang telah menghancurkan segalanya. Dia mengepal erat tangannya untuk menahan diri agar tidak menyakiti siapapun.
"Fiqer, ayah akan mengatakan sebenarnya kepadamu. Ibumu meninggal bukan karena bunuh diri. Bukan juga karena dia kecelakaan. Tapi, Ibumu meninggal, karena seseorang membuat racun di dalam minumannya." ucap Tuan Fintro dengan menatap sedu pada putranya.
"DAN KAU TAHU, SIAPA YANG MELAKUKAN ITU SEMUA ... MEREKA, MEREKALAH YANG MELAKUKANNYA!" sambung Tuan Fintro dengan pekikannya.
Semua terteguh mendengar hal itu. Pandangan mata tertuju kepada dua orang yang kini menundukkan kepala.
"Aku tidak mengerti dengan kalian berdua, Zisa dan Violet. Apa perhatianku kurang? Aku sudah mengatur segalanya untuk kalian. Kekayaanku juga ku berikan kepada kalian."
"Seluruh putraku, mendapatkan warisan dariku. Lalu, kenapa kalian membunuh Istri pertamaku?" tanya Tuan Fintro.
Nyonya Zisa menatap ke arah sang suami. "Aku? Apa aku membunuh istrimu. Aku tidak melakukan itu suamiku. Jika pun benar, mana buktinya?"
Tuan Fintro tersenyum. Dia segera melemparkan sebuah foto yang ada dia dapatkan. Foto tersebut menampakkan dua wanita yang memberikan minuman kepada Nyonya Liana.
Ciri-ciri dari orang tersebut persis seperti Nyonya Zisa dan Nyonya Weliyana.
"Apa aku perlu membuktikan yang lebih lagi, Istriku?" tanya Tuan Fintro.
Nyonya Zisa membuka mulutnya. "Kenapa, apa kau akan membunuhku juga? Memang benar, aku dan Violet yang telah meracuni Liana." ucapnya.
Semua benar-benar terteguh mendengar hal itu. Tidak ada yang tahu kalau Nyonya Zisa dan Nyonya Violet akan berbuat sepertu itu.
"Ini semua karena dia!" Nyonya Zisa menunjuk Fiqer yang terkejut karenanya. "Karena dia memilih Vie. Kami merasa kalau menantu ini akan menginjak-injak kami. Saat kami pertama kali bertemu dengannya, dia begitu sombong dan-,"
__ADS_1
"Bertemu?" potong Tuan Fintro. "Bukankah selama program calon istri ini, tidak ada yang boleh bertemu dengan para menantu. Apa yang kalian rencanakan?" tanyanya.
Mulut Nyonta Zisa menjadi bungkam seketika. Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Tuan Fintro menahan napas sesaat sebelum berhembus dengan kasar. "Kalian mengecewakan ku. Sejak pemakaman Liana, aku sudah mencurigai kalian. Karena, hanya kalian saja yang selalu menanyakan masalah warisan. Oke, jika kalian sangat ini warisan, aku akan memberikan, Senja dan Resga satu perusahaan. Kelola itu dan jaga."
"Lalu, aku tidak akan membantu jika perusahaan itu mengalami ke bangkrutan. Kalian tahu, karena tindakkan kalian ini, keluarga Maherqi hampir membenci kita."
"Cucu pertama dan penerus utama tidak terpilih. Aku berpikir, mungkin karena Vie melakukan kesalahan. Tapi betapa terkejutnya aku, ternyata putraku telah di butakan oleh istri ketiga dan keempatku." keluh Tuan Fintro.
Fiqer segera melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga. Dia akan menjemput Vie dan membawanya kembali.
Namun, baru beberapa langkah dia ambil, suara seseorang menghentikannya.
"Tuan muda Fiqer, Kak Vie ... dia telah pergi." ucap Nala.
Kepala Fiqer menoleh ke arah calon menantu yang paling muda. Dia segera mendekati Nala dan menatapnya. "Apa maksudmu dengan dirinya yang pergi?"
Nala takut menatap pandangan Fiqer. Penerus pertama itu seperti monster yang sedang kehilangan mangsanya.
Otavi segera melindungi Nala. "Tuan Muda, Kakek kami mengatakan kalau Vie menutuskan pergi ke kota T. Baru tadi pagi dia memilih untuk pergi. Dia bilang, kalau dia sedang menikmati liburannya." jelas Otavi.
Fiqer terdiam mendengar hal itu. Dia mencintai Vie, tidak ada yang Fiqer lupakan tentang wanita yang dia cintai. Namun, ada satu hal yang membuat dia berpikir buruk. Kenapa Vie pergi dengan cepat.
"Kami tidak tahu apakah kota atau desa yang dia kunjungi. Tapi, seluruh keluarga tahu kalau Vie pergi." sambung Tiasa.
Fiqer bingung untuk mengambil keputusan. Niatnya untuk menjemput Vie seketika urun. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar dan mencari keputusan yang tepat.
...●●●...
Di bus, Vie berdiri dengan di kelilingi laki-laki. Dia merasa sangat tidak nyaman di tempat seperti ini. Dia segera menoleh ke arah lain berharap ada yang membantunya.
Sebuah sentuhan bokong membuat Vie terkejut, dia menoleh untuk melihat siapa yang menyentuhnya. Seorang pria tersenyum sembari menunjukkan raut mesum kepada Vie. Dia segera mengerutkan alis dan menatap tajam padanya.
"Pria bodoh ini. Kenapa mereka mengangguku." gerutuk Vie.
Saat gerutukkan itu selesai, tiba-tiba di depan Vie memundurkan tubuhnya, hingga Vie bersandar di belakang. Dan lagi-lagi, dia mendapatkan sentuhan nakal. Pria di belakangnya berani memeluk pinggangnya.
"Kalian, jika berindak mesum lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkan kalian." ancam seorang gadis yang tampak berusia 18 tahun.
Vie di tarik menuju kursi kosong dan duduk di sana. "Duduklah di sampingku Kak. Para laki-laki itu memang suka menganggu orang lain. Aku sudah melaporkan mereka, ku harap polisi cepat menangapinya." gerutu gadis itu.
Vie tersenyum mendapati gadis baik yang mau menolongnya. Dia segera mengulurkan tangan hingga gadis itu terkejut.
"Eh, ada apa kak?" tanyanya.
"Perkenalkan, namaku Vie."
Gadis yang terkejut itu segera menyambut uluran tangannya. "Namaku, Caca Guvta. Guvta adalah marga Ayahku. Tidak terkenal tapi sangat luar biasa bagiku. Aku tinggal di desa Sgl 04 dan memiliki sebuah indekos."
"Ups!" Gadis itu menutup mulutnya setelah berucap panjang lebar. Vie tertawa melihat tingkah gadis imut ini.
"Marga yang menarik." ucapnya.
Caca ikut tersenyum. "Kakak, apa kakak memiliki Marga?" tanyanya.
Vie menoleh ke arah wanita yang benar-benar memiliki paras cantik. Dia menggeleng kepala, lebih baik dia berbohong sekarang. "Aku tidak memiliki Marga, namaku hanya Vie."
Caca ber oh sembari mengangguk-angguk kepalanya. Dia kembali lagi menoleh ke arah Vie.
"Ngomong-ngomong, kakak mau kemana ya? Kalau tidak salah, bus ini menuju ke kota T. Apa kakak berasal dari Kota S?"
"Hm, sebenarnya Kakak memang berasal dari Kota S. Namun, kakak lebih ingin tinggal di kota T. Dan kalau bisa, mencari kosan di desa Sgl 04. Kau tahu di mana itu?" tanya Vie.
Caca segera mengangguk kepalanya. "Tentu saja tahu, bukankah aku sudah mengenalkan diriku. Aku tinggal di desa sgl 04 dan memiliki indekos. Jika kakak mau, ayo ikut denganku."
"Ah, ini bukan bermaksud buruk kok. Aku hanya ingin menawarkan saja." imbuhnya dengan wajah cengigisan.
__ADS_1
Vie mengangguk. "Tidak masalah, itu tawaran yang bagus untukku. Baiklah, aku ingin ke tempatmu."
Caca segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan puas.
Perjalanan mereka menuju ke Kota T akan di mulai dengan menikmati keindahan alam.
Kota T berbeda dengan Kota S. Kota T masih memiliki keindahan alam dan penggunungan. Meski ada gedung tinggi, tingginya tidak akan melebihi gedung di kota S. Lalu, di Kota T masih memiliki pedesaan yang pemandangannya begitu asri.
Setiba di pemberhentian Bus. Vie dan Caca harus naik gojek untuk tiba di desa Sgl 04. Mereka masing-masing mengunakan gojek selama empat puluh lima menit.
Setelah berlalu, Vie dan Caca berhenti di sebuah rumah yang terdapat indekos di sampingnya.
"Sudah sampai Kak, ayo masuk saja dulu." ajak Caca.
Vie segera melangkahkan kakinya masuk ke kediaman keluarga Guvta. Dia mengikuti ke mana Caca membawanya.
"Nah, di sini indekosnya." ucap Caca menunjukkan dua tingkat indekos. Di sebelah kanan Vie terdapat kosan tersebut, lalu di sebelah kiri terdapat kamar mandi dan dapur yang sengaja di pisah.
"Ini indekosnya. Saat ini, hanya ada tiga laki-laki muda yang menyewanya. Mereka anak-anak kuliah." ucap Caca sembari menuntun Vie melihat-lihat.
"Hm, berarti ada sisa tiga ruangan yang masih kosong ya?" tanya Vie. Dia melihat hanya ada enam kamar kos yang tersedia.
Kepala Caca mengangguk-angguk. "Benar, sisa tiga kamar saja lagi. Yang ada di bagian bawah sudah di isi tiga pemuda itu. Sedangkan tiga di atas kosong."
Mata Vie melirik ke arah tiga kos yang ada di lantai atas. "Boleh aku melihat-lihatnya?"
Caca segera mengangguk. Mereka naik ke lantai dua sembari memperhatikan sekitar.
Di mata Vie, kos yang di dapatinya ini sangat sesuai dengan apa yang dia harapan. Pertama, kediaman Caca jauh dari kota dan desa Sgl 04 terletak jauh dengan pengunungan di sekitarnya.
Kedua, kostan Caca lebih fokus menatap indahnya pengunungan dan tidak jauh ada gedung kecil dari Kota T. Dan terakhir, tempatnya begitu sejuk karena dekat dengan pegunungan.
"Ini kamar yang ada. Masuklah," ucap Caca sembari membukakan salah satu pintu.
Vie memasukkan kakinya untuk melihat kamar. Ada kasur yang telah di sediakan, lampu dan ruang yang terbagi menjadi dua. Hanya, untuk memisahkan ruang itu, mengunakan gorden.
"Meski tidak semewah Indekos orang. Tempat kami aman kok Kak. Dan biarpun di gabung, Kami akan mengamankan wanita di sini. Aku pun tidur di lantai dua. Kamarku ada di sebelah kamar ini." ucap Caca.
Vie mengerutkan alisnya. "Kamarmu? Bukankah hanya ada enam pintu di sini?" tanya Vie dengan wajah bingung.
Caca tersenyum dan segera membuka jendela kamar. Di sampingnya, lebih tepatnya di belakang kamar ada sebuah ruangan lain.
"Itu kamar aku kak," ucap Caca.
Vie akhirnya mengerti, kamar Caca tersembunyi dari kamar lainnya. Dia tertipu dengan tata Indekos ini.
"Berapa perbulannya?" tanya Vie.
Caca segera menjawab, "Sekitar lima ratu ribu kak, itu sudah termasuk lampu, air dan dapur juga."
"Oh ya, masalah memasak, kakak bisa mengunakan dapur lain jika tidak ingin bertemu para pemuda itu." imbuhnya.
Vie mengangguk. "Lima ratu ribu ya, hm...."
Di dalam ingatan Vie, dia menyimpan uang sebesar 10 juta. Dan untuk mengaturnya, Vie perlu bekerja agar bisa bertahan hidup. Ayolah, dia saat ini tengah mengandung anaknya sendiri.
"Baiklah, aku ambil kamar ini. Dan lagi, kamar ini dekat dengan kamarmu." ucap Vie mengambil keputusan.
Caca mengangguk dan segera menyerahkan kunci kamar nomor 04 pada Vie.
"Aku akan mengambil sprei untuk kasurnya. Dan aku akan menyapunya juga. Tunggu di sini, kak."
Caca segera pergi meninggalkan Vie yang kini memperhatikan semua yang ada.
Dia melihat dengan teliti, bagaimana dulu kamarnya begitu luas, Kini menjadi kecil seperti kamar mandinya. Tidak, kamar mandinya pun lebih besar dari ini.
Vie segera menyentuh perutnya yang masih datar. Dia tersenyum dan mengusap-usap perut tersebut. "Lihat sayang, sekarang kita punya kehidupan baru. Tolong, jangan bandel ya, beri ibumu kekuatan untuk melewati semuanya."
__ADS_1
Tanpa sadar, Air mata kembali mengalir. Ini adalah rasa penyesalan di hatinya, dia menyesal dengan apa yang telah dilakukan. Hubungan bebas itu benar-benar menamparnya.
"Huh, hidup ku tidak semulus apa yang ku bayangkan." gumam Vie.