Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(9) Sebuah Rasa


__ADS_3

Pagi hari yang begitu indah menyambut. Vie segera membuka matanya dan mendapati seorang pria yang berbaring didada.


"Pantas, dadaku terasa sesak." benak Vie.


Dengan perlahan, Vie menepuk-nepuk pipi Fiqer yang kini merasa terganggu.


"Hei kebo, bangunlah!" seru Vie.


Jemari-jemarinya yang menepuk pipi Fiqer segera di genggam. Vie terteguh mendapati tangan Fiqer mengenggamnya.


"Biarkan aku tidur, Vie." ucapnya dengan suara yang begitu serak.


Vie mengerutkan alisnya, dia mencium sesuatu yang aneh. "Kau minum, Fiqer?" tanya Vie.


Pria yang berbaring di dadanya mengangguk. Lalu, dia mengubah posisi berbaringnya dengan mendekati ceruk leher Vie. Hidung mancung miliknya menyentuh kulit leher Vie, hingga terasa hembusan napas dan tarikkannya yang membuat Vie geli.


"Hentikan itu! Jawab pertanyaanku, Apa kau minum Fiqer?"


Fiqer berdehem sembari menghirup aroma tubuh Vie yang membuatnya candu. Dia mengarahkan tangannya untuk menyentuh benda kembar yang kenyal di dada Vie.


"Hm, tadi malam aku minum. Menemani para wanita yang akan menjadi calon istri." sahut Fiqer.


Vie segera menepis tangan tersebut untuk menjauh darinya. "Oh, kalau begitu," Vie menjauhkan Fiqer. Namun sayang, Fiqer memeluk Vie hingga tidak ada celah untuk terlepas darinya.


"Kalau begitu, apa?" tanya Fiqer. Kepalanya terangkat menjauhi ceruk leher Vie. Dia menompang dagu di antara sela dada Vie.


Melihat hal itu, semburan merah muncul di wajah Vie. Dia dengan cepat melayangkan tangannya untuk memukul pria ini. Tapi, apa yang dia lakukan tidak akan berhasil karena Fiqer dengan cepat menahan tangannya.


"Seharusnya, Kau melakukan ini bersama wanita yang lain. Oh, jangan bilang kau melakukan pendekatan ini dengan wanita-wanita yang lain? Bagaimana berbaring di dada para wanita?" tanya Vie.


Raut wajah Fiqer menjadi datar. Dia membenamkan kepalanya hingga menekan dada Vie. Rasa sakit muncul karena penekanan yang terjadi.


"Shtt, Sakit Fiqer. Menjauhlah! Kau ingin membunuhku?"


Fiqer mengangkat kepalanya sembari bangun dengan membangunkan Vie untuk duduk di pahanya.


Kali ini, posisi Vie berada di pangkuan Fiqer. Sedangkan Fiqer duduk tegap dengan mendekapnya.


"Aku tidak ada niat melakukan itu kepada wanita lainnya. Bukankah aku pernah bilang kepadamu, kalau aku akan kesulitan jika jauh darimu." ucap Fiqer.


Vie mengerutkan alisnya. Dia mengusap kepala Fiqer yang bersadar di dada. "Kau merugikan diriku. Dengan memelukku, menyentuh dadaku dan berani menciumku. Aku dirugikan olehmu," Vie berucap sembari menatap dengan wajah tenang.


Fiqer mengangguk, dia mengangkat kepalanya untuk memandang Vie. "Kalau begitu, Kau boleh menciumku, memelukku, lakukan apa yang kau mau."


Vie hanya bisa menghela napas. Dia segera melepaskan pelukan Fiqer dan memilih untuk bangun.


"Pergilah ke kamarmu, aku harus tidur kembali." ucapnya.


Tidak ada balasan oleh Fiqer, Vie segera menatap pria itu yang tiba-tiba ada di depannya.


Sebuah ciuman mendarat, Vie merasa ada hisapan kecil yang kemudian terlepas darinya.


"Kau, kau masih mabuk ya? Sial! Jangan bilang kalau Kau sudah menjamahku?" Vie menatap tubuhnya yang masih mengenakan baju tidur.


Namun, dia terkejut melihat bagian lengan kanannya yang tampak memar. "I-ini?"


"Itu c*p*ng!" sahut Fiqer.


Vie menatap tajam pria yang dengan santai menyahut . Dia segera melayangkan tangannya hingga mendarat mulus di pipi Fiqer.


"Kau b*jing**,bej*t, mes*m!, pria yang tidak tahu malu. Bagaimana bisa kau melakukan ini saat ku tidur?"


Vie segera bangun dan menarik Fiqer untuk turun dari kasurnya.


"Tunggu dulu, Aku tidak melakukan apa-apa padamu." Fiqer membela diri.


Vie tidak bisa menerima semua ini. Dia sudah merelakan dadanya di sentuh bahkan menjadi permainan pria di depannya. Namun, Vie tidak bisa menerima jika tubuhnya yang lain ternodai.


Dalam kamus Vie, dia akan menjaga kegadisannya untuk pria yang akan dia nikahi. Bahkan mantan kekasihnya tidak pernah mendapatkan Vie.


Sedangkan penerus pertama ini, berhasil merampas ciuman pertama dan dadanya. Tentu Vie tidak ingin merelakan hal lain yang seperti ini.


"Keluar dari kamarku!" ucap Vie yang kemudian membanting pintu. Dia mengunci rapat pintu kamarnya dengan perasaan amarah di hati.


"Pria bej*t! Dia bermain sesuka hatinya. Cih, dasar pria bodoh!" pekik Vie.


Setelah hampir tiga puluh menit menenangkan diri. Vie memilih untuk bermain ponsel sebelum mandi.


Data seluler itu menyala dengan cepat hingga notifikasi whatsapp terdengar ditelinga. Vie segera mengaktifkan mode senyap agar semua suara notifikasi tidak terdengar.


Ponsel pintar itu tampak tenang dengan semua pesan yang sudah tersusun rapi. Vie akhirnya membuka semua pesan-pesan itu.


[+xxxx]


Vie, ini nomor Fifi Yenlow(emot senyum)


[+xxxx]

__ADS_1


Vie, ini nomor Arabi Beyla(emot chees)


"Eh, aku baru ingat kalau tadi malam grup akan di buat. Huh, ini semua karena Fiqer."


Mata Vie melirik pada lengan kanannya, terdapat ****** yang begitu tampak jelas. "Kenapa aku tidak merasakan kelakukannya malam itu. Dia, semakin berani." gumam Vie.


Ponselnya segera bercahaya terang hingga kesadaran Vie kembali. Dengan cepat dia mengangkat panggilan itu.


"Hallo?"


"Vie, ini aku Fifi Yenlow. Tampaknya, kau melupakan rencana kita malam tadi. Sudahlah, grup sudah di buat. Kau hanya perlu membaca jadwal kita hari ini."


"Jadwal?"


"Iya, jadwal apa saja yang akan kita lakukan untuk pendekatan dengan Tuan Muda Resga."


Vie melirik ke arah pintu kamar. Mendengar kata Tuan Muda, Vie seketika mengingat Fiqer.


"Hallo, Vie?"


"I-iya?"


"Bersiaplah, kita akan membuat sarapan yang dilakukan oleh Arabi. Kau dan aku akan membantu di dapur."


"Baiklah, aku akan ke sana."


Vie mematikan panggilan itu. Dia seketika mengingat kalau dia pernah berdebat dengan pria bernama Resga.


"Huh, aku tidak ingin melakukan hal seperti ini di pagi hari. Sudahlah, lakukan dengan cepat kemudian kembalilah dengan membawa uang." gumam Vie.


...●●●...


Di dapur, Vie melihat Fifi dan Arabi yang sibuk berbincang. "Ternyata, di dapur semua kelompok sedang sibuk ya." benak Vie.


"Vie?"


Pandangan Vie segera teralihkan, dia menatap Otavi yang membawa piring dengan mie goreng sebagai hidangannya.


"Ini?" Vie menelan salivanya melihat makanan itu. Mie goreng ini adalah makanan kesukaannya.


"Ini, makanlah ... aku membuatkannya untukmu." ucap Otavi.


Vie tersenyum dan segera menyambut piring itu. Namun, seorang pria menahan tangannya.


"Hari ini, kelompokmu akan melakukan pendekatan denganku. Apa yang dihidangkan teman kelompokmu, itulah yang harus kau makan. Vie, apakah kau tahu apa itu arti kata MENGHARGAI?"


"Sakit!" rintih Vie yang berusaha melepaskan cengkraman Resga.


Untungnya, Resga dengan cepat melepaskan tangannya. Vie segera mengusap lembut pergelangan yang dicengkram.


"Apa hidangannya sudah siap?" tanya Resga.


Vie melihat Fifi dan Arabi tersenyum. "Duduklah, kami sudah menghidangkan sarapan pagi ini untuk Tuan." ucap Fifi.


"Oh, bagus ... mari sarapan."


Resga duduk di meja makan. Untungnya, meja makan ini panjang hingga semua mendapatkan bagiannya.


Vie ingin duduk untuk ikut sarapan. Akan tetapi, hidangan di kursinya tidak ada sama sekali.


"Ah maafkan aku, Vie. Aku tidak tahu kalau kau akan sarapan. Dari pagi kami menunggumu untuk membuat sarapan dan kamu tidak kunjung datang." ucap Arabi.


Sepiring hidangan itu tampak dengan jelas di mata Vie. Dia tahu, kalau saat ini dia sedang dipermainkan.


"Karena kau tidak membantu, aku tidak bisa membuatkan sarapan untukmu. Maafkan aku," imbuhnya.


"Aku juga minta maaf, seharusnya aku datang menemuimu agar kita bisa membuat sarapan bersama." sambung Fifi.


Vie ingin berbicara tapi pria yang menjadi target mereka mendahuluinya.


"Biarkan dia menuai apa yang dia buat. Kalau ingin menjadi menantu Michael, kau harus disiplin akan waktu. Jangan berasumsi kalau semua pekerjaanmu itu, hanya ada di kasur saja. Pikirlah baik-baik, jangan sampai menjadi seorang jal*ng." cibirnya.


Vie menarik kecil tepi bibirnya. "Benar, apa yang di katakan oleh Tuan Resga. Tapi, aku tidak akan melakukan pendisiplinan hanya untukmu. Lagi pula, Fifi menelponku lima belas menit yang lalu, seharusnya hidangan ini belum matang."


"Memasak dalam kurung 15 menit memang begitu bagus. Tapi tidak mungkin steak yang masih mentah akan di hidangkan? Aku yakin, kegiatan memasak ini dimulai sebelum menelponku. Lebih tepatnya, satu jam sebelum kabar datang." ucap Vie.


Matanya melihat raut tidak tenang dari Fifi dan Arabi. Vie hanya mendengus melihatnya.


"Lanjutkan saja, aku tidak selera untuk sarapan bersama." lanjut Vie. Dia segera melangkah untuk pergi dari ruang makan ini.


"Tunggu Vie, aku membuatkan mie untukmu!" teriak Otavi.


Vie berhenti melangkah, dia berbalik badan dan mendapati Otavi sudah di depannya.


Suara garbu menubruk meja terdengar ditelinga. Semua perhatian tertuju kepadanya.


"Tidak ada yang boleh memberi makanan untuknya hari ini!" ucap Resga sembari menunjuk Vie.

__ADS_1


Melihat dirinya yang di tunjuk, Vie segera tersenyum. Dia ingin menjauhkan perkara ini dari keluarga. Cukup dia saja yang menerima semua perlakukan aneh di dalam Vila ini.


"Eh! Kenapa dia tidak boleh mendapat makanan. Vie, aaa!"


Vie melihat Fiqer mengarahkan daging ayam kepadanya. Semua mata yang menyaksikan itu segera membelak.


"Kakak! Bukankah kita harus menilai mereka. Jika kakak selalu membela wanita ini, sama saja Kakak memilihnya. Jika seperti itu, bawalah dia di depan Ayah!" ucap Resga.


Fiqer tersenyum dan meletakkan ayamnya di dalam piring. "Tapi, tidaklah sopan sikapmu yang seperti itu. Kau seakan mengatakan kalau Vie tidak seharusnya di sini. Perhatikan tingkah dan perkataanmu."


Resga segera bungkam. Dia kembali duduk dengan wajah yang begitu tidak senang.


"Ini, makanlah Vie." ucap Fiqer memberikan sarapannya. Vie tersenyum dan mendorong kembali piring itu.


"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan perhatian siapapun. Oh ya, Tuan Muda Kelvi!" seru Vie.


Pria berkacamata segera berdiri dari tempat duduknya. "Iya?"


"Aku ingin bertanya, apakah kalian akan mengurangi poin jika ada yang melakukan kesalahan, baik kecil sekalipun?" tanya Vie.


Kelvi segera mengangguk, "iya, akan ada pengurangan poin untuk setiap kesalahan."


"Baiklah, berapa poinku saat ini?" Vie bertanya lagi.


"Poin Anda tersisa 200." jawab Kelvi dengan membenarkan kacamatanya.


"Oke, potonglah poin itu. Aku ingin sarapan Mie Goreng ini." ucap Vie yang kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Dia tidak ingin ada di sana setelah semua yang terjadi.


Bukan malu, Vie hanya ingin menjauhkan dirinya dari orang-orang tidak jelas. Lagi pula, apa untungnya dia berada di sana.


Langkah kaki Vie berhenti di sebuah Gazebo. Kali ini, Gazebo itu berada di sebuah teras depan Vila.


Vie memandang labirin yang dibuat khusus untuk menghiasi halaman depan. "Setidaknya, berada di sini lebih pantas dari pada di dalam sana." gumam Vie.


Mie goreng itu dinikmati dengan nyaman oleh Vie. Dia memperhatikan keindahan halaman ditambah udara sejuk yang meniup wajahnya.


"Aku tidak tahu kalau kau mudah sekali di tipu."


Lirik Vie menatap seorang pria yang datang membawa sebuah cemilan.


"Kenapa Tuan Fiqer ada di sini, seharusnya Anda berada di tempat Anda." ucap Vie.


Fiqer mengangguk dan segera duduk di samping Vie sembari bersandar di bahunya.


Melihat tingkah Fiqer seperti itu, Vie segera menjauhkan tubuh pria ini darinya. "Kau akan membuat orang lain salahpaham." Vie segera menatap Fiqer dengan pandangan tajam.


Fiqer mendengus. "Entah kenapa, aku tidak suka sikapmu seperti ini. Kau tampak menolakku secara tidak langsung."


Vie mengerutkan alisnya. "Maksudnya?"


"Pertanyaanmu malam itu, akan ku jawab di sini...," Fiqer mendekatkan wajah Vie. Mata mereka saling bertemu dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kau bertanya, apa aku menyukaimu. Jawabannya IYA! aku menyukaimu." ucap Fiqer.


Mata Vie segera membelakkan mendengar perkataan Fiqer. Tanpa terasa dia menelan salivanya.


"Tapi, aku tidak ada niat untuk menjadikanmu milik ku. Karena, kau tidak ingin menjadi Nyonya Michael Fiqer. Maka, aku tidak akan menjadikanmu milikku tapi aku mengakui kalau aku mencintaimu."


Vie tersenyum dengan napas lega yang dia lakukan. "Kau benar, tampaknya aku juga merasakan hal yang sama. Ada Sebuah rasa yang muncul setiap aku bersamamu. Mungkin, kau selalu mendengarnya karena memelukku,"


"Yeah, Aku juga mencintaimu, Fiqer." ucap Vie dengan membalas tatapan Fiqer. "Namun sama, Aku juga tidak ingin memiliki hubungan denganmu. Kau, tampak mengerikan jika telah memiliki sesuatu. Seperti, kau tidak akan berbagi dengan siapapun."


"Bukankah, apa yang ku miliki memang tidak seharusnya orang lain sentuh. Seperti, Kau yang bersama Resga. Aku tidak ingin kau berada di dekatnya, bahkan sedetikpun." imbuh Fiqer.


Vie terteguh mendengar apa yang Fiqer katakan. "Kau! Kau memang lelaki mengerikan. Aku menjadi merinding mendengarnya." Vie segera memeluk tubuhnya sendiri dengan merindik geli.


"Haha, Vie ... kau memang orang yang paling ku cintai." ucap Fiqer sembari mencium pipi Vie. Dia melangkah pergi meninggalkan Vie yang mematung.


"Dia memang gila!" Vie menyentuh pipi yang dicium oleh Fiqer. Dia tersenyum tanpa sadar dengan apa yang terjadi.


...●●●...


"Faga, bagaimana perkembangan di sana?"


"Tuan, perkembangannya diluar dugaan Faga. Para calon istri ini selalu berkembang hingga kedekatan mereka tidak bisa dianggap biasa. Salah satunya, Tuan Muda Fiqer yang saat ini dekat dengan Nona Vie."


"Vie? Vie Maherqi, penerus pertama yang merupakan seorang perempuan."


"Benar Tuan."


"Fiqer dan Vie ya, hm ... baiklah, kabari aku perkembangan yang lainnya. Aku ingin tahu, seberapa dekatnya mereka."


"Faga mengerti!"


Panggilan berakhir dengan Faga mematikan panggilannya. Dia segera menatap layar tablet di tangan yang menampilkan poin seseorang.


"Vie Maherqi, poin mu tidak akan pernah berubah. Karena, Kau adalah wanita pertama yang membuat Tuan Fiqer berubah." gumam Faga.

__ADS_1


__ADS_2