Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(7) Perubahan


__ADS_3

Di meja makan, Vie menikmati suasananya sendiri. Dia menikmati makan siangnya yang dibuat sendiri.


Vie memang bisa memasak, hanya saja sikap pemalasnya selalu mendominasi keinginan untuk bergerak. Jadi, Vie akan berakhir dengan menyuruh orang lain.


Asik menikmati makan siang itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk meja dengan begitu kuat. Vie terkejut mendengarnya hingga mendongak.


"Vie, tolong hidangkan makan siang untukku!" ucap seorang wanita asing yang Vie tidak kenali.


Wajah Vie tampak bingung mendengar ucapan itu. "Kenapa dengan wanita ini, dia tidak melihat kalau aku sedang makan siang." benak Vie.


"Jangan berlagak kalau kau masih di posisi pertama. Hei, kau di posisi terakhir, sekarang!" wanita itu kembali memukul meja seakan-akan menegur Vie.


"Hei! Jangan ganggu dirinya!" tegur Otavi yang melangkah masuk ke ruang makan. Dia segera berdiri di samping Vie.


"Ada apa ini?" tanya Otavi.


Wanita yang menganggu makan siang Vie, segera menjawab. "Aku hanya ingin menyuruh seseorang yang ada di peringkat rendah ini. Dia harus melayani aku yang berada di atasnya."


Otavi mengerutkan alis. "Bukankah tidak ada sistem seperti itu di sini. Memasak harus di lakukan seorang diri. Kalau kau ingin makan, tinggal memasaknya!"


"Hei, kau berada di posisi kedua. Wajar saja kau berucap seperti itu. Asal kau tahu ya, lima orang yang keluar dari sini, karena mereka merasa penindasan dari kalian." ucap Wanita itu.


Otavi tercenga mendengarnya. "Penindasan kami? Sejak kapan kami melakukannya?"


"Berlagak tidak tahu! Kalian di posisi sepuluh teratas selalu memandang rendah kepada kami." sahut wanita itu.


Vie yang melihat perdebatan mereka segera berhenti makan siang. Dia segera bangun dan berniat untuk pergi.


"Tunggu, Kau seharusnya menyajikan makan siang untukku!" ucap Wanita itu dengan mendekati Vie.


Langkah kaki Vie berhenti saat hampir keluar dari ruang makan. Dia berbalik badan dan melihat wajah wanita yang kini ada di depannya.


"Berpikirlah sebelum bertindak." ucap Vie yang kemudian melangkah pergi tanpa menghiraukan panggilan wanita itu.


"Hei, Vie!"


Setekah meninggalkan ruang makan, Vie melangkah kan kaki menuju halaman yang ada di samping kanan Vila.


Saat melewati ruang tengah, Nala segera mendekatinya sembari berlari.


"Langkahmu, Nala." tegur Vie.


Nala mengangguk dan segera berjalan dengan beriringan. "Aku mendengar keributan yang terjadi. Kenapa Kakak membagi poin yang di dapat. Sekarang, poin kakak hanya tersisa 200." ucap Nala.


Vie menatap halaman yang penuh keindahan, matahari pun mendukung untuk memberikan cahayanya.


"Aku membagi semua itu untuk bersikap adil. Siapa menduga kalau sikap baikku malah membuat orang lain menunjukkan sikap asli mereka. Semua itu menjadi sia-sia," jelas Vie.


Mereka berdua duduk di Gazebo yang kini tampak sepi. Mungkin karena begitu panas, tidak ada yang mau datang ke sini. Padahal, Angin yang berhembus mampu mendinginkan mereka.


"Lalu, apa kau akan menuruti keinginan mereka. Kak Vie, mereka seperti seorang senior yang menindas juniornya." ucap Nala.


Vie duduk dengan menatap pepohonan yang begitu tinggi. "Kau benar, lihatlah pohon itu. Jika kau tumbuh dengan baik, kau akan terlihat dimata orang lain. Dan jika kau hanya pohon biasa yang pertumbuhannya lambat, Kau hanya akan berakhir menjadi pendampingnya,"


"Nala, sikap seseorang akan terlihat. Dan kemampuan orang lain juga akan tampak. Aku tidak akan menuruti mereka untuk menindasku. Tapi, aku tidak akan bermain curang hanya untuk masalah poin. Selama aku mendapatkan yang ku mau, aku tidak akan mencari yang lain." jelas Vie.


Nala mengangguk kepala. "Hm, lalu Kak Vie akan berbuat apa setelah perubahan dadakkan ini."


"Aku belum ada rencana. Sebaiknya, kalian memperhatikan yang lain. Sepertinya, satu bulan tidak akan berjalan baik karena semua begitu ingin saling menyinggirkan."


"Nala mengerti Kak, baiklah ... Nala akan kembali ke Vila untuk mengerjakan tugas sekolah."


"Hm, belajarlah dengan benar." ucap Vie.


Kini di Gazebo hamya tersisa Vie seorang diri. Dia merenungkan semua yang terjadi selama dua hari ini.


"Aneh, kenapa masalah muncul secepat ini. Di sekolah umumnya, orang lain akan menindas ketika sudah beradaptasi selama satu minggu. Tapi, di sini seperti seseorang yang sedang mengendalikan orang lain,"


"Siapa yang bisa melakukan itu semua. Tapi, kenapa aku malah berpikir seperti ini ... di lihat saat pertama kali tiba, tidak ada yang terlihat saling menjatuhkan."


Vie berbicara dengan pikiran yang berjalan. Dia memikirkan tentang perkembangan yang di alami. Seharusnya, untuk menyinggirkan orang lain akan saling mengenal. Tapi, tidak ada perkenalan sudah lima wanita yang keluar tanpa menerima apa-apa.


"Semakin memikirkannya, semakin aku tidak menemukan jawabannya. Sudahlah, aku tidak perlu berpikir semua ini. Yang terpenting, aku tidak akan menuruti keinginan para orang gila." gumam Vie.


...●●●...


Malam hari tiba, Vie memutuskan untuk menuju ke ruang bersantai di lantai pertama. Dia duduk sembari menonton televisi.


"Bersantai?" tanya Tiasa yang tiba membawa cemilan.


"Hm, aku sedang tidak ada kerjaan." sahut Vie.


Tiasa duduk di samping Vie sembari menawarkan cemilan untuk keponakkannya itu.


"Kau tahu, 15 wanita ... ah tidak, ada sekitar 12 wanita mulai mendekati para penerus. Saat ini mereka tengah berdiskusi di aula. Kau tidak ingin ke sana?"


"Seharusnya aku yang bertanya, Kenapa kau di sini setelah tahu semua itu." celetuk Vie.

__ADS_1


"Hehe, aku hanya penasaran saja denganmu. Kau malah mengasingkan diri di sini. Padahal, posisimu tidak tergeser sekali pun." ucap Tiasa.


Vie yang hanya menatap televisi, segera menoleh ke arah Tiasa. Matanya menatap dengan pandangan penasaran.


"Kau tidak tahu, poinmu memang berubah tapi tidak dengan posisimu. Baru saja Faga menunjukkan kalau posisimu masih dipertama. Kedua itu Lily, ketiga hingga kelima, mereka ditempati oleh kami."


"Tunggu, apa maksudmu dengan posisiku yang masih berada di angka pertama." ucap Vie.


Tiasa menghela napas dengan perlahan. "Faga bilang, poinmu berkurang tapi tiak dengan posisimu. Kau akan terus berada di sana karena seseorang memilihmu." jelasnya.


Vie kepikiran dengan penjelasan Tiasa. Tidak ada yang memberikannya sebuah jawaban. Pada akhirnya, Vie menjadi penasaran dengan semua itu.


Di dalam kamar yang kini sudah sepi. Vie berbaring dengan menyamping ke arah kanan. Dia menatap kegelapan yang di cahayai lampu tidur.


Penjelasan Tiasa terus berulang-ulang menghantuinya. Siapa pria yang memilihnya? Dia saja baru dua hari berada di sini? Apa pria itu?


"Tidak mungkin Fiqer," gumam Vie.


Posisi berbaringnya berubah. Vie menatap langit-langit kamar. "Jika Fiqer, kenapa dia harus melakukan semua itu. Bukankah dia tidak menyukaiku! Tidak, jangankan menyukai, Fiqer bahkan tidak ada minat denganku."


"Tampaknya aku telah berlebihan." gumam Vie.


Tidak ingin terlalu dalam pikiran yang tidak jelas itu. Vie memutuskan untuk tidur dan mengejar mimpinya. Akan tetapi, suara kunci yang sedang membuat sesuatu, membuat Vie terduduk.


Suara itu dekat di kamarnya. Dia memperhatikan pintu kamar yang kini terbuka oleh seseorang.


Mata Vie menatap tajam melihat seorang pria membawa bantal di tangannya.


"Oh, kau bangun ternyata." ucap Fiqer yang mendekat secara perlahan.


Vie tercenga hingga mulutnya dituntun untuk tertutup oleh Fiqer.


"Ilermu sudah menyebar," celetuknya.


Vie segera sadar dan memperhatikan kasurnya. "Cih, apa yang kau lakukan di sini, B*jing**?" pekik Vie.


"Apa lagi, aku sudah mengatakan bukan. Kalau aku tidak bisa tidur tampak memelukmu." sahut Fiqer.


Tangan Vie segera menutupi dadanya. Dia memundurkan tubuhnya hingga bersandar di headboard. "Kau memang lelaki mesum! Bagaimana bisa kau melakukan itu dengan seorang wanita."


"Aku lurus, tidak belok. Tentu saja aku mau melakukannya dengan wanita. kalau dengan pria, bukankah aku sudah tidak waras." cibir Fiqer.


Vie menjadi bungkam seketika. Dia merasa ucapan Fiqer tidaklah salah. Tapi, siapa yang mau tidur lagi dengan pria seperti Fiqer ini.


"Buka kakimu!" perintah Fiqer.


Kerutan muncul dikening Vie. "Kau gila? Orang bodoh mana yang mau membuka kakinya untuk pria asing sepertimu!"


"Nah beginikan enak!" ucap Fiqer dengan menyelimuti tubuhnya.


Vie tidak bisa berkata-kata ketika mendapati Fiqer seperti ini. Dia tidak tahu kalau pria aneh ini ternyata memang gila.


"Ceritakan masalahmu, aku dengar kau membagi poinmu kepada wanita-wanita lain. Apa kau merasa sudah menjadi pahlawan atau kau sudah memikirkannya dari awal?"


Vie menatap pria yang kini ada di dekapannya. Tangannya yang terletak di paha, kini memeluk Fiqer untuk membenarkan posisinya.


"Aku terkejut saat tahu poinku 2000. Semua itu terasa aneh bagiku. Keluargamu, tidak mungkin bisa mengeluarkan poin hingga 2000. Pasti, yang paling memungkinkan itu sekitar 800 atau 500,"


"Jadi, aku meminta Faga untuk membaginya. Bukan maksudku menolak kebaikan keluarga Michael. Aku hanya merasa kurang adil dengan hal ini." jelas Vie.


Di kamar yang tenang ini, Vie mendekap Fiqer sembari menyandarkan kepalanya dikepala Fiqer.


"Setelah membagi poinmu. Kau mendapatkan perlakukan buruk. Apa kau tidak takut orang lain menjebakmu?" tanya Fiqer.


"Jebakkan kah? Aku tidak pernah mengalaminya. Jika itu terjadi, aku ingin lihat seberapa lemahnya diriku." sahut Vie.


Sejak kapan mereka menjadi sedekat ini?


"Oh, jadi kau tidak tahu kelemahanmu?"


"Bukan tidak tahu, Aku hanya mencari tahu kelemahan yang lainnya."


Keduanya seperti sepasang kekasih yang telah bersama.


"Jika seperti itu, Apa kau siap menghadapi sepuluh wanita lainnya?"


"Aku tidak tahu ... tapi kita bisa mencobanya,"


Apa lagi perasaan aneh muncul di hati masing-masing.


Vie tahu kalau dia merasakan degupan di hati. Akan tetapi, Vie segera membuang jauh-jauh perasaan itu.


"Sudahlah, ayo tidur Vie!"


Mata Vie terteguh melihat Fiqer yang menatap padanya. Posisi berdekatan itu berubah seketika.


Vie berada di dekapan Fiqer dengan berbaring di lengannya.

__ADS_1


"Malam ini indah ya, bulan menerangi bumi hinggs cahayanya tampak di balik jendela."


Vie menatap sedu sembari mengangkat tangannya. Dia memeluk pria yang kini mengenggam tangannya itu.


"Tuan Fiqer seharusnya kita tidak sedekat ini." Vie berucap dengan nada yang begitu pelan.


Alasannya mengatakan hal itu karena Vie bukanlah orang bodoh. Dia tahu kalau dirinya saat ini telah menaruh cintanya di tempat yang salah.


Usapan lembut terasa di kepala, Vie merasakan dengan tenang menerima semua itu.


"Benar, hubungan kita tidak sedekat ini. Tapi, anggaplah ini menjadi kedekatan kita sebagai teman. Mau kau menjadi temanku, Vie?"


Tidak ada jawaban yang bisa Vie berikan. Dia hanya diam dengan mata yang perlahan terpejam.


"Dengan berteman, kita tidak akan saling bermusuhan."


Vie tersenyum mendengar perkataan itu. Dia tidak tahu kalau ada seorang laki-laki yang mengajaknya berteman hanya untuk tidak saling bermusuhan.


"Aku tidak perduli dengan semua itu." benak Vie.


...●●●...


Pagi hari menyambut, Vie membuka matanya dengan perlahan. Terlihat kamar yang kini tampak sepi.


Tahu siap yang membuat kesepian ini hadir, Vie segera menarik selimutnya. "Baguslah dia pergi sebelum aku bangun." gumam Vie.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Vie bangun dari tidurnya. "Hoaam!"


Pintu kamar di ketuk, Vie bergegas menuju ke arah tersebut dengan rasa malasnya.


"Ada apa?" tanya Vie setelah membuka pintu.


Terlihat seorang pria berkacamata menatap ke arahnya. "Maaf menganggu waktu tidurmu."


Mata Vie membelak seketika. Dia segera menyegarkan diri dan memperhatikan pakaiannya sekarang.


"Tolonglah, kenapa dia datang di waktu seperti ini sih." benak Vie.


"Vie, apa kau baik-baik saja?" tanya Kelvi.


Vie segera tersenyum, "Hm ... ada keperluan apa?"


"Aku membuat sesuatu untukmu. Kalau bisa, kau boleh mencicipinya saat sarapan." ucap Kelvi.


"Oh, aku akan ke dapur. Terima kasih," Vie menatap bingung dengan pria yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Hm, aku menanti kedatanganmu." Kelvi pergi setelah berucap seperti itu.


Setelah melihat pria bermata empat pergi. Vie segera menutup pintu dan menguncinya.


"Oke, sekarang bersial dan mandilah!"


Tiga puluh menit berlalu, Vie segera melangkah keluar menuju ke lantai pertama. Langkahnya sedikit berlari sembari melirik ke segala arah.


"Sepi sekali, semua pasti berada di lantai bawah."


Apa yang Vie ucapan benar adanya. Lima penerus Michael menghadapi para wanita yang masih menjadi calon istri mereka.


"Wow, pagi-pagi seperti lintah." gumam Vie.


"Kau bangun juga, sudah sarapan?" tanya Lily yang melangkah mendekat.


"Oh Lily, aku piki kau akan berada di kerumunan orang itu."


"Aku akan merasa lemas di sana. lebih baik aku mengatur rencana untuk dinilai baik."


"Hm, kau benar juga."


Vie berbicara sembari melangkah menuju ke meja makan. Dia akan mencicipi makanan yang dibuat oleh Kelvi.


Setiba di sana, sudah ada Otavi, Tiasa dan Nala. "Akhirnya, ratu tiba juga." celetuk Nala.


"Kemarilah Vie, Kelvi membuatkan sarapan untuk semua wanita yang ada. Cicipilah!" seru Tiasa.


Vie melirik ke arah Lily yang tersenyum. "Kelvi membuat semua makanan ini untuk sarapan bersama."


"Aku pikir, hanya aku yang mendapatkan sarapan ini. Ternyata, dugaanku salah." benak Vie sembari tersenyum.


Terlalu bodoh dia memikirkan kalau semua itu khusus untuknya. Dia menjadi lupa di mana tempatnya saat ini.


"Vie, sarapan ini benar-benar enak!" puji Otavi.


Vie hanya mengangguk dan segera mengambil garpu untuk menyantap steak buatan Kelvi.


Satu potongan daging itu melesat dimulutnya. Ketika rasa nyaman sudah terasa, tiba-tiba saja makanan itu menghilang dengan membuat Vie membelakan matanya.


"Fiqer!" gumam Vie menutup mulutnya.

__ADS_1


"Oke, terima kasih sarapannya." teriak Fiqer yang mengiring bola basket keluar dari ruang makan.


Semua hanya menatap dengan wajah tercenga. Mereka melihat hal baru yang membuat hati iri.


__ADS_2