
Di perjalanan pulang, Vie bersama Caca menikmati es krim yang dibeli oleh Vie. Mereka melangkah bersama sembari bercerita.
"Kak, apa kakak yakin berkerja di sana?" tanya Caca dengan wajah yang tampak tidak percaya.
Melihat hal itu, membuat Vie menatap bingung padanya. "Kenapa? Apa pekerja di sana tidak baik?"
Gelengan diberikan oleh Caca. "Tidak kak, hanya saja berkerja sebagai karyawan toko seperti itu. Pekerjaannya pasti tidak mudah, Kakak harus mengangkat beberapa kardus untuk bisa menata di rak-rak yang ada."
"Lalu, liburnya pun sulit di dapat. Kalau izin akan mendapatkan potongan gaji. Aku mendengar itu dari temanku. Dia pernah berkerja di sana." jelas Caca.
Vie mengangguk sembari memakan habis es krim miliknya. Setelah itu, dia merasa senang dan mengusap-usap perutnya. Vie tahu, kalau bayinya ini sangat menyukai yang manis-manis.
"Tidak apa, aku harus mencari uang agar bisa membayar dan memenuhi semua keperluanku. Selain itu, aku ingin mandiri dan menabung." ucap Vie.
Caca mengangguk mendengar apa yang Vie katakan. Dia melangkah menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Vie.
Melihat tingkah Caca seperti itu, membuat Vie bersyukur. Dia masih bisa berbohong demi dirinya dan keamanan bayinya.
"Tidak masalah, hanya untuk mengangkat barang-barang kecil." benak Vie.
...●●●...
Satu bulan, bukan lah hal yang mudah untuk Vie. Ini pertama kalinya, dia beradaptasi di tempat kerja. Selama ini, Dia beradaptasi dengan sekelilingnya dalam jangkauan satu hari.
Namun, di Toko Toserba milik Pusta ini, melebihi ekspetasinya. Dia tidak mudah menghapal letak barang, melabeli harga dan bahkan menjaga kasir.
Di tambah, keadaannya yang hamil ini membuatnya sulit untuk bergerak. Jika ada lelaki yang ingin berbelanja, atau hanya sekedar bertanya. Vie berusaha tenang agar dia tidak membuang muka. Karena berkerja di tempat seperti ini, harus memiliki sikap keramahan.
Bokong cantik Vie duduk di ruang istirahat. Dia menghela napas sembari bersandar. Di ruangan ini, hanya ada dirinya dan juga cctv. Maka, Vie berusaha untuk tidak berucap apa pun.
"Aku tidak tahu, beradaptasi dengan menyembunyikan kehamilanku sesulit ini. Padahal, aku ingin mengelusnya." benak Vie.
Perutnya tidak tampak, tapi Vie selalu memerika keadaannya di malam hari, dan mengatur jadwal agar tidak bertabrakkan dengan pekerjaannya.
Selain masalah beradaptasi di tempat kerja. Vie belakangan ini, selalu di ganggu dua pemuda yang tinggal sama dengannya.
Mereka bahkan tahu kalau Vie berkerja di sini. Tidak heran, mereka akan berbelanja sesekali mengoda dirinya.
"Huh, melelahkan." gumam Vie.
Suara pintu terbuka terdengar di telinga. Dia melihat Aci masuk dengan menaruh sebotol air mineral padanya.
"Minumlah Kak, kakak pasti lelah dengan semua pekerjaan di sini." ucap Gadis itu.
Vie mengangguk dan segera meminum air yang Aci berikan. "Terima kasih."
"Sama-sama ... hm, Maaf sebelumnya Kak, aku penasaran, Apa Kakak adalah Vie Maherqi?" tanya Aci.
Setelah bertanya, dia merasa kebingungan sendiri. "Ah, maafkan aku ... aku tidak bermaksud lancang menanyakan nama kakak. Hanya saja, Vie Maherqi, nama Vie itu ... adalah Nama yang sangat terkenal."
Perasaan tidak mengenakkan mengenai hati Vie. Dia penasaran, kenapa dia bisa terkenal di pelosok desa ini. Mustahil, orang lain mengenalnya. Keluarga Maherqi, memiliki banyak penerus. Seharusnya, Otavi dan Tiasa yang lebih di kenal.
"Hm, sebenarnya aku juga penasaran, kenapa namaku harus sama dengan nama penerus itu." ucap Vie untuk mencari tahu semua yang tidak dia ketahui.
"Em, kalau tidak salah ... Vie Maherqi, adalah orang yang menyumbangkan dana besar di desa Sgl 04 ini. Cuma, tidak ada satu orang pun yang tahu seperti apa dia. Mereka hanya tahu, kalau nama Vie itu, hanya milik keluarga Maherqi." jelas Aci.
Vie terdiam mendengar hal itu. Dia berpikir, apa kah di dunia ini tidak ada orang yang memiliki nama sama sepertinya? Kenapa hanya dia yang harus mendapatkan nama itu.
Tidak ingin larut dalam pikiran yang bisa membuat moodnya berubah. Vie memutuskan untuk berhenti berpikir dan terus melanjutkan kebohongannya.
"Mungkin, itu hanya untuk membuat kalian ingat tentangnya saja. Nyatanya, namaku sama seperti Vie Maherqi itu. Aku senang memiliki namanya, haha." ucap Vie.
Aci ingin kembali berucap, tapi ketukkan pintu menyadarkan keduanya. Terlihat Pusta yang tersenyum, "maaf menganggu waktu mengobrol kalian. Vie, ada seseorang yang menjemputmu pulang."
Kerutan muncul di alis Vie. "Siapa yang menjemputku?" benaknya.
Setelah berpamitan karena hari sudah sore, di tambah jam kerja Vie ada di bagian siang. Jadi, malam ini tugas Aci dan karyawan yang lain.
Vie pun melangkah ke pintu belakang untuk pulang dan menemui orang yang menjemputnya.
"Hai kak!" sapa Caca.
Vie melihat seorang pria yang merupakan pamannya Caca dan tentu keponakannya itu ikut. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalian repot-repot menjemputku, terima kasih." ucap Vie.
__ADS_1
Jefli segera menggeleng. "Tidak, ini tidak merepotkan. Kami hanya ingin melarang anak-anak yang menganggumu. Aku selama ini berkerja di rumah, tidak tahu kalau kau di ganggu."
"Maaf Vie, kau harus mengalami semua ini karena kesalahan kami." ucapnya dengan menundukkan kepala.
Vie tidak enak melihat orang bersikap baik padanya. "Sudahlah, itu bukan masalah besar. Anak muda memang ingin mencoba hal baru. Tenang saja, aku baik kok." ucap Vie.
Sebenarnya, menunjukkan sikap asli Vie di depan orang baru ini, sangat mustahil. Vie sudah terlanjur berbohong di tambah menjaga keamanannya. Jika, mereka mengetahui bahwa Vie merupakan penerus keluarga Maherqi.
Mungkin, Mereka akan menyakitinya, atau meminta uang banyak dan bisa saja, mereka ingin hal yang tidak mudah untuk dipenuhi.
"Hah, aku malah memikirkan semua yang tidak seharusnya ku pikirkan." benak Vie.
"Ayo pulang, hari sudah mau gelap." ajak Vie. Ketiganya segera melangkah pulang.
"Kak Vie," seru Caca.
"Hm?" Vie menoleh untuk melihat ke arah Caca yang memandangnya.
"Kenapa, kakak belakangan ini suka makan es krim?" tanyanya.
Jefli yang ada di samping Caca segera menepuk kepala keponakkannya itu. "Kau ini, dirimu juga suka makan es krim. Tidak masalah, kalau dia juga menyukainya." tegurnya.
Caca memayunkan bibirnya sembari mengusap-usap kepala. "Tapi kan, aneh saja ... ini sudah satu bulan kakak Vie di sini. Dia selalu membawa es krim, lalu membuat es lilin di kulkas hingga Paman melarangku untuk memintanya. Aku juga mau!"
Vie tersenyum dan mengusap kepala anak gadis yang tingkahnya, benar-benar membuat dia pusing. "Kalau Caca mau, ambil saja. Tidak ada masalah kok."
Mendengar hal itu, Caca langsung tersenyum bahagia. "Terima kasih, Kak Vie!" ucapnya.
Vie menjadi lupa, berapa usia Caca yang bertingkah seperti ini. Dia menggeleng kepala dan segera menatap ke depan.
...●●●...
Hari demi hari berlalu, dan minggu pun ikut berlalu. Hingga, Vie bisa melihat bagaimana keadaannya sekarang.
Keringat yang selalu mengalir saat dia berkerja. Menunjukkan hasil yang memuaskan untuknya.
Saat ini, Vie berada di ruangan rawat untuk melihat perkembangan bayinya.
"Sudah tiga bulan lebih ya. Bayinya sehat, hanya saja, apa Anda minum es atau makan es krim?" tanya Dokter kandungan.
"Hm, Es Krim boleh. Hanya, tolong di atur ya, lebih baik menghindari penyakit dari pada mengobatinya. Terlalu banyak mengonsumsi yang manis, bisa menyebabkan diabetes." jelas Dokter.
Vie mengangguk, dia menatap perutnya yang tidak terlalu besar.
Dari kecil, Vie sering mendengar sebuah rumor. Orang yang hamil di luar nikah, pasti perutnya tidak akan tampak. Bahkan hingga menjelang lahiran.
Dan Vie mengakui semua itu. Dia bisa bertahan dengan kandungannya sampai usia 3 bulan ini. "Mungkin, Takdir tahu apa yang baik untukku. Dia yakin, wajahku saat ini berada di antara batasan. Malu dan tidak tahu malu. Hahahah," benak Vie.
"Baiklah, nanti jangan lupa vitaminnya dan kalau bisa untuk tidak mengangkat yang berat-berat. Untuk jenis kelaminya, belum bisa diketahui." ucap Dokter.
Vie segera mendudukkan diri dan merapikan pakaiannya.
"Oh ya, Nona Vie ingin memberi nama siapa kepada bayi ini. Gelarnya pun tidak apa-apa." ucap Dokter yang mengulurkan tangan.
Vie menyambut uluran tangan itu dan segera menuruni ranjang paisen. "Hm, aku belum memikirkannya, tapi ... boleh panggil dia Bolmis."
Wajah Dokter yang penuh senyum itu seketika datar. "Bolmis? Em,"
"Bola manis, dia selalu meringkuh seperti bola. Jadi, panggil saja dia bola manis!" jelas Vie.
Dokter kandungan itu terkekeh, "Ibu yang unik. Baiklah, namanya Bolmis!" ucapnya sembari menulis buku kandungan.
Vie yang melihat hal itu terkejut dia tidak tahu kalau ada buku khusus untuk ibu hamil.
"Buku ini tolong di simpan, kita akan bisa melihat perkembangannya tiap bulan. Maaf baru memberikannya sekarang karena Anda jarang mampir di sini."
"Nona Vie, apa hanya itu nama Anda?" tanya Dokter.
"Hm, hanya itu, Vie." sahut Vie.
Dokter segera mengangguk dan menyelesaikan pekerjaannya. Dia memberikan buku kandungan itu kepada Vie.
"Ini dia, semua sudah tercatat di sini. Mulai dari perubahan bayinya. Dan cara-cara merawat bayi nanti. Hm, Saya harap Ayahnya bisa ikut untuk melakukan pengecekkan." ucap Dokter.
"Kenapa Dok? Apa ada yang salah dengan kandunganku?" tanya Vie. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
__ADS_1
"Saat ini semua baik-baik saja. Semoga nanti akan terus seperti ini." ucap Dokter yang kemudian tersenyum.
Vie menyimpan apa yang dokter katakan kepadanya. Dia penasaran, kenapa raut wajah dokter kali ini tampak tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi, Bolmis, apa ada sesuatu yang menganggumu?" tanya Vie sembari mengusap perutnya. Dia melangkah menuju ke gang kecil karena tempat itu jalan menuju ke kediaman Caca.
Selama perjalanan, Vie memutuskan untuk memakan buah-buahan. Dia harus mengontrol diri agar tidak memakan es krim.
"Aku akan masuk malam ini. Semoga tidak ada banyak pelanggan di toko." gumam Vie.
Tiba di indekos Caca. Vie segera melangkahkan kaki menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Setibanya di dalam kamar, Vie berbaring sembari menarik hoodie yang dia kenakan. Terlihat perut buncit yang tampak kecil.
Di elus perut tersebut sembari mata Vie terlelap. Dia begitu nyaman merasakan semua ini. Sejujurnya sulit untuk Vie melewati tiga bulan tanpa ada keluarga di sampingnya.
Apa lagi, sang bayi tidak menyukai pria yang dekat dengan Vie. Meski, Vie sendiri tidak ada minat untuk mencintai lelaki lain.
Dan saat ini, Vie bisa peka terhadap tingkah orang lain. Dua pria yang tampaknya telah jatuh cinta. Vie tidak yakin, apakah mereka berdua jatuh cinta padanya.
Namun, perhatian kedua orang ini, membuatnya sadar dan siap menghindar. Vie tidak ingin memberi harapan kepada orang lain.
Termasuk, Pria yang saat ini mengetuk pintu kamarnya. Vie segera merapikan diri dan membukakan pintu. Dia melihat Zaksa tersenyum padanya.
"Ini, aku membawa kue strawberry untukmu. Siapa tahu Kak suka." ucapnya sembari menyodorkan bungkusan di depannya.
Mau tidak mau, Vie mengambil kue itu. "Em, terima kasih."
Zaksa tersenyum, "Baiklah jangan lupa di makan!" pesannya.
Vie tersenyum dan berniat untuk menutup pintu. Namun, matanya terkejut melihat tangan Zaksa menyentuh pundaknya.
Mata Vie melihat jelas, hoodie yang dia kenakan sedikit miring, di tambah baju dalaman Vie terlihat keluar karena hoodie tersebut menyibakkan bahunya.
"Bahumu, maafkan aku juga." ucapnya yang kemudian melangkah pergi.
Vie segera menutup pintu dan melepaskan hoodienya. Di lempar hoodie itu dengan perasaan tidak senang.
"Hei, Bolmis. Jangan begitu, aku baru membeli hoodie itu kemarin!" gerutuk Vie.
Meski mual sudah tidak lagi di alami, Vie masih harus menghadapi mood bayi yang ada di kandungannya ini. Entah kenapa, tidak ada sikap Vie yang mengalir di bayinya.
Setiap orang yang mendekat, Vie harus menjauh. Jika ada sesuatu yang di sentuh orang lain, Vie akan segera membuangnya.
Padahal, semua yang Vie beli itu hasil dari kerja kerasnya sendiri. "Sial, Kenapa sikap bayi ini sama seperti Ayahnya." gerutu Vie.
Jam kerja tiba, Vie keluar kamar dengan mengunci pintu. Dia membawa tas kecil di punggungnya dengan berisikan uang dan ponsel pintar.
Semenjak membeli ponsel itu, tidak ada yang menghubunginya. Karena Vie tidak memberitahu semua orang, kalau dia membeli ponsel.
Selain itu, motor yang dia gunakan untuk berpergian, hanya di tinggalkan pada pemberhentian bus. "Aku jadi kepikiran motor itu," gumam Vie.
"Mau kerja?"
Vie menoleh ke tangga, di bawah sana sudah ada Jefli yang tampak siap. Seperti yang Vie katakan, ada dua pria yang entah kenapa selalu ada di sekitarnya. Untung saat pemeriksaan tidak ada mereka. Jadi, dia masih bisa berbohong.
"Hm, aku mendapatkan waktu malam." ucap Vie sembari menuruni tangga.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." ucap Jefli melangkah terlebih dahulu.
Vie menatap punggung pria di depannya. Matanya melirik ke arah lain untuk mencari suasana. Saat Vie melihat ke arah kamar mandi. Ada seorang pria yang menghirup rokok sembari menatapnya.
Tatapan pria itu tajam, seakan tengah menguliti Vie. Mendapati tatapan seperti itu, membuat Vie menenguk salivanya. Bolmisnya pun tidak senang hingga membuat Vie segera menoleh ke depan.
"Ada apa Bolmis? Apa kau merasakan sesuatu yang aneh?" benak Vie.
Vie memikirkan apa yang terjadi barusan. Dia memang tidak akrab dengan pria perokok itu. Di tambah, Vie tidak sering melihat keberadaannya.
Sekali mereka bertemu, itu hanya saat Raki menegurnya untuk berhenti merokok. Tidak ada pertemuan baik yang terjadi di antara mereka.
"Kenapa dengannya? Aku seperti di mata-matai oleh pria itu." gumam Vie.
"Vie?"
Vie menatap Jefli yang kini berhenti karena mereka telah tiba di tempat kerjanya.
"Jangan terlalu sering melamun. Fokuslah berkerja dan semangat." ucapnya.
__ADS_1
Vie menganggum dan segera berterima kasih. Setelah itu, Dia melangkah masuk ke toko untuk bekerja.