
"Vie?"
"Hei, bangunlah!"
Vie membuka matanya karena merasa terusik. Dia segera melihat Fiqer yang bersandar di dadanya.
"Pagi," ucap Fiqer sembari tersenyum.
Vie seketika mengingat kejadian tadi malam setelah melihat wajah Fiqer. "Jadi, kau sudah kembali waras?" tanya Vie sembari merengangkan tubuhnya.
Namun, sesuatu yang masih memasukinya itu belum juga terlepas. Vie segera menatap Fiqer dengan tajam.
"Kau akan kesakitan jika aku melepasnya." tutur Fiqer dengan mengubah posisi mereka.
Lagi-lagi, Vie berada di bawah dengan merasakan sesuatu yang bergerak pada sela kakinya.
"Kau, memang mesum!" gerutuk Vie.
"Boleh ya, ini baru pukul empat pagi." pinta Fiqer.
Vie hanya menatap ke arah lain tanpa menolak apa yang Fiqer pinta.
Melihat Vie yang tidak menolak bahkan mengijinkannya. Fiqer mengambil kesimpulan kalau Vie tidak melarang hubungan mereka ini.
Panas yang dilalui malam itu kembali terjadi pada pukul empat pagi. Hingga akhirnya, Vie duduk di sofa dengan rambut yang terurai.
"Maaf ya, pasti seluruh tubuhmu sakit." tutur Fiqer sembari mengeringkan rambut Vie.
Vie membiarkan perlakukan manis ini. Lagi pula, dia tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya sakit. Apa lagi, privasinya yang selalu membuatnya meringis.
"Vie, terima kasih ya." sebuah ciuman di pipi mendarat dengan mulus. Fiqer mengatur rambut Vie agar wanita itu tidak kepanasan.
"Fiqer, setelah ini. Tolong, jangan lagi mendekatiku." ucap Vie.
Fiqer yang sibuk mengepang rambut Vie seketika terhenti.
"Aku tidak ingin hal ini terjadi. Kau lihat, seluruh tubuhku sudah dimakan olehmu. Jika seperti ini terus, aku bisa-bisa mengandung anakmu." sambung Vie.
Fiqer segera bangun dan mendekati Vie secara perlahan.
"Cukup, lebih baik kau pergi ke kamarmu. Aku akan menyiapkan diriku sendiri. Hari ini, kau yang akan menjadi target kami." ucap Vie yang segera berbalik badan.
Fiqer tidak bisa berkata apa-apa. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Vie seorang diri.
Setelah suasana menjadi hening. Baru dirasa oleh Vie, seluruh tubuhnya sakit. Bagian intinya juga begitu sakit, saat Fiqer melepaskan benda miliknya, rasa sakit itu terasa seketika.
"Huh, sudahlah ... aku juga mau melakukannya. Jadi, tidak ada yang benar." gumam Vie.
Setelah bersiap, dia segera keluar dari kamar dan melangkahkan kaki melewati kamar Fiqer.
Vie tidak ingin mengingat semua itu, dia akan melupakannya dan menganggap semua itu sebagai mimpi.
"Sudahlah, cukup Vie. Jangan membuat hatimu terluka lagi." gumamnya.
Tiba di dapur, Vie melihat keadaan masih sunyi. Tidak ada seorang pun di sana selain dirinya.
"Tampaknya,aku bangun terlalu pagi."
Vie melangkah menuju tempat gelas berada. Di ambil gelas itu lalu Vie menuangkan air di dalamnya.
Beberapa tegukkan air masuk dalan tenggorokkan Vie. Rasa segar segera membuat tubuhnya menjadi lega.
"Hari ini, lebih baik aku membuat sarapan yang simpel. Hm ... baiklah, aku akan membuat omlet."
Setelah menutuskan hidangan apa yang ingin dibuat. Vie segera mengerjakan semuanya dengan berhati-hati.
Sejujurnya, Vie merasa lelah. Dia ingin tidur untuk menyegarkan tubuhnya. Tapi, jika meninggalkan dapur ini dan bertindak sendiri, bisa-bisa dia terkena peringatan kedua.
"Bangun pagi, Nona Vie?"
Vie berbalik badan sembari memegang dua butir telur di tangannya. "Oh Faga, iya ... aku bertugas membuat sarapan pagi ini."
"Nona Vie sungguh luar biasa. Tidak menyangka Nona bisa memasak." ucap Faga.
Vie tersenyum sembari membuat semua bahannya jadi satu. "Aku tidak bisa memasak Faga. Ini yang ku lakukan, hanya membuat sesuatu di atas api."
Faga tertawa mendengar jawaban Nona Vie Maherqi di depannya. "Bukankah sama saja?"
"Jika kamu tahu semua itu sama, kenapa bertanya?" celetuk Vie.
Faga segera terdiam untuk sesaat. Setelahnya dia tertawa kembali dengan berdiri menatap Penerus keluarga Maherqi itu.
"Nona Vie, senang berkenalan dengan Anda. Anda adalah orang yang begitu humoris hingga saya merasa tidak ada sikap menindas seseorang di dalam diri Anda." tuturnya.
Vie tersenyum, "jangan menilai dengan cepat. Kau belum mengenal diriku sepenuhnya. Kau akan tahu seperti apa diriku, setelah mengenalku lebih lama."
Faga bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Vie. Dia ingin menanyai lebih lanjut tapi seseorang mengambil alih suasana.
"Selamat pagi!" sapa Arabi sembari tersenyum.
__ADS_1
"Pagi Arabi," sahut Vie bersamaan dengan Faga.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Arabi dengan wajah penasarannya.
"Tidak ada, kami hanya bercanda. Faga menemaniku di sini. Karena kau telah datang, Aku ingin membuat kesepakatan denganmu." ucap Vie.
Faga memilih untuk pergi meninggalkan dapur. Sebelum pergi, Faga melihat Vie yang mengalihkan pembicaraan. Dia merasa kalau Vie Maherqi bukanlah wanita humoris seperti perkataannya.
Setelah kepergian Faga, Vie segera menaruh mangkuk yang sudah diisi oleh telur.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan kesepakatan itu?" tanya Arabi dengan menatap Vie.
"Aku belum mengatakannya, kau sudah tampak seperti setuju saja." celetuk Vie.
"Tentu saja aku langsung menyetujuinya. Kau pasti melakukan kesepatakan ini karena tahu kalau aku menargetkan Fiqer bukan?"
"Kau langsung tahu. Baguslah, aku tidak perlu menjelaskan lagi alasan aku ingin membuat kesepakatan denganmu,"
Vie tersenyum menatap Arabi. Dia segera menyatukan putih telur dengan kuningnya. "Apa kau akan membuat sarapan spesial untuk Fiqer?" tanya Vie.
Arabi menoleh secepat mungkin dengan perasaan terkejutnya. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Semalam, kau mengatakan kepadaku, kalau kau akan bersaing. Jadi, aku tahu kalau kau ingin memikat Fiqer. Benar bukan?" jelas Vie.
"Kalau kau tahu, lalu kenapa kau malah memberi kesempatan ini kepada musuhmu?" Arabi berucap sembari mengeluarkan roti yang akan dia masak dengan telur.
"Hm, aku tidak menargetkan Fiqer. Dia hanya mendekatiku karena iseng saja. Cobalah untuk menjadi orang yang dia inginkan." ucap Vie.
Arabi menghentikan kegiatannya. Dia segera menarik tangan Vie hingga mereka saling menatap. "Apa otakmu sedang bermasalah. Kau tidak tahu, dari kemarin-kemarin semua orang mengetahui kalau Kau adalah wanita yang dipilih oleh Fiqer."
Alis Vie berkerut mendengar perkataan Arabi. "Aku?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau adalah orang yang menjadi pusat perhatian semua orang. Bagaimana seorang pria yang dingin itu, berubah menjadi pria yang romantis saat bersamamu." ujar Arabi.
Vie melirik ke arah lain karena merasa ucapan Arabi ada benarnya. Vie sendiri sadar kalau Fiqer selalu tampak baik kepadanya dari pada wanita lain.
"Oh, mungkin itu karena dia sudah menganggapku temannya. Kalian masih bisa mendekatinya." ucap Vie.
"Seperti perkataanku, aku akan bersaing denganmu. Aku ingin melihat, apakah aku bisa mengantikan posisimu." ucap Arabi.
"Silahkan, aku sangat senang mendengarnya. Oh ya, sarapan kali ini buatkan untukmu saja. Katakan kalau aku tidak menghidangkan sarapan." Vie menaruh omlet yang sudah dia buat. Ada empat hidangan yang tersaji.
"Kau yakin? Baiklah jika kau ingin hal itu."
Sarapan pagi pun di mulai, Pria yang di nanti datang dengan duduk di antara Fifi dan Arabi. Vie lebih memilih untuk duduk di samping Fifi.
Suasana berubah seketika, terasa begitu dingin karena saat ini hanya ada kesunyian.
"Ah, aku ingin membuat Arabi dekat dengan Fiqer." sahut Vie dengan berbisik.
"Eh? Bukankah targetmu, Fiqer?" bisik Fifi.
"Aku tidak menargetkan siapapun. Sekarang aku hanya akan ikut-ikutan saja. Biarkan Arabi yang mendekatinya, lalu mendominasi pendekatan kali ini. oh ya, aku juga bisa membantumu untuk dekat dengan Kelvi." bisik Vie sebagai balasan.
Sarapan pagi itu benar-benar hening. Bahkan, para kelompok yang lain ikut merasakannya. Suasana yang mencengkam ada di kelompok mereka.
"Terima kasih sarapannya," ucap Fiqer.
Vie tidak menatap ke arah Fiqer, dia memilih untuk duduk dengan kaki yang rapat. Jujur saja, wajahnya saat ini sudah pucat karena kelelahan.
Aktifitas malam itu benar-benar membuatnya kehilangan tenaga. Dia berniat setelah sarapan ini akan beristirahat.
Namun, niat yang ingin di lakukan itu menghilang seketika. Vie terkejut melihat tangannya di genggam oleh Fiqer.
"Ikut denganku!" ucapnya.
Vie menahan diri agar tidak mengikuti langkah Fiqer. Akan tetapi, dia tidak memiliki tenaga yang bisa melawan pria itu. Mau tidak mau, Vie akhirnya mengikuti Fiqer.
Semua orang sudah biasa melihat hal itu, mereka hanya membiasakan diri dan sebagiannya memiliki tatapan penuh kebencian.
Ditarik secara tiba-tiba, Vie merasa pandangannya menjadi buram dengan langkah yang perlahan melemah.
Tidak menunggu lama, Vie menjatuhkan dirinya kedepan. Fiqer yang menyadari hal itu segera menangkap Vie dan mengendongnya.
"Kau demam!" pekik Fiqer.
Vie tidak lagi bisa menahan kesadarannya. Dia segera terpenjam dengan bersandar dibahu Fiqer.
...●●●...
Vie merasa nyaman dengan apa yang dia rasakan. Perlahan, Vie membuka mata dan melihat kalau dia berada di kamar seseorang.
"Ini?"
Vie memperhatikan keseluruhan kamar ini. Dia mendapati kalau dekorasi kamar khusus dibuat untuk laki-laki.
"Ini bukan kamarku," ucap Vie mengambil keputusan.
Setelah merasa lebih baik, Vie memutuskan untuk duduk dan melihat ada bubur yang masih menguapkan kumpulan asap.
__ADS_1
"Kamar siapa ini?"
"Sudah bangun,"
Vie segera melihat seorang pria yang keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan handuk menutupi pinggangnya. Sedangkan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada.
Pandangan Vie menoleh ke arah lain dengan cepat. Dia tidak ingin melihat bekas-bekas cakaran dan sesuatu yang seperti memar. Tolong, dia tahu siapa pelakunya.
"Ada bubur di sana, makanlah." ucap Fiqer yang kemudian melangkah ke ruang ganti.
Vie tidak membalas apa yang Fiqer katakan. Dia lebih memilih untuk menyantap bubur yang masih hangat itu.
Tidak lama menikmati bubur yang masih hangat, Vie mendapati Fiqer yang baru selesai berpakaian.
"Sudah membaik?" tanya Fiqer dengan menyentuh kening Vie.
Tangan Vie segera menepis telapak tangan Fiqer di keningnya. "Jangan memberiku sebuah perhatian. Aku tidak ing-,"
"Jadilah kekasihku, Vie!" potong Fiqer.
Mata Vie membelak seketika. tangannya yang memegang mangkuk melemah hingga Mangkuk itu terjatuh dan mengenai pakaian bersama selimutnya.
"Ah, panas!" pekik Vie sembari bangun dengan cepat.
Fiqer menahan Vie dan segera melepaskan pakaian yang dikenakan.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Vie. Dia menutup tubuhnya dengan kedua tangan. Saat ini, hanya tersisa br*nya saja.
Seluruh tubuh Vie dipenuhi tanda-tanda yang Fiqer buat. Pria itu segera menutupi tubuh Vie dengan kaos yang dia kenakan.
"Maaf, aku akan membersihkan ini." ucap Fiqer.
Vie terkejut melihat apa yang Fiqer lakukan. Dia segera mendekat dengan tumpuan yang tidak stabil. Hingga, Vie terjatuh di belakang Fiqer.
"Vie!" Fiqer segera berbalik badan dan menangkap tubuh Vie.
"Kau ini," kesal Fiqer yang segera membaringkan Vie di sofa. Dia segera melangkahkan kakinya pada kasur untuk membereskan kekacauan disana.
"Kenapa dia jadi perhatian seperti ini. Ada yang salah dengannya." gumam Vie.
Setelah semua bersih dan rapi. Fiqer melangkah mendekati sofa. Dia membungkuk lalu berniat untuk mengendong Vie.
"Apa yang sedang kau lakukan Fiqer?" tanya Vie.
Fiqer tidak menjawab pertanyaan itu, Dia lebih memilih untuk mengendong Vie dan membawanya ke kasur.
Vie berbaring dengan nyaman bersama perhatian Fiqer yang membuatnya keheranan. "Jawab pertanyaanku, Fiqer." desak Vie. Dia tidak tahan melihat hal seperti ini.
"Aku sedang memberi bukti kalau aku mencintaimu, Vie." jawab Fiqer dengan menyelimuti tubuh Vie.
Mata mereka saling bertemu, tatapan yang begitu tajam melesat untuk mencari apa arti dari tatapan itu.
Namun, semakin mencari ke dalam, Vie semakin sulit untuk menemukan maksud tersembunyi Fiqer. Dia hanya mendapati tatapan penuh cinta dari pria itu.
"Vie, jadilah kekasihku," ucap Fiqer dengan mengenggam tangan Vie.
Mendapati tingkah Fiqer yang semakin membingungkan, Vie akhirnya menenangkan diri dan membiarkan pria ini mengenggam tangannya.
"Jika kau berpikir, kalau semua ini karena hubungan tadi malam, itu semua salah. Aku mencintaimu saat kita tidur bersama waktu itu,"
"Sebenarnya, itu bukanlah rasa dari cinta. Aku saat itu ingin mengerjaimu, tapi pada akhirnya aku malah jatuh cinta hingga tidak bisa melepaskanmu."
Fiqer mencium telapak tangan Vie dan menaruh keningnya pada kening Vie. "Aku, cemburu melihatmu dekat dengan orang lain. Aku marah ketika kau tidak menghiraukanku. Aku juga tidak senang saat kau cuek padaku. Vie, aku benar-benar mencintaimu."
Kesunyian terjadi di antara mereka. Vie menatap lekad pada bola mata yang bergetar melihatnya. Dia benar-benar menemukan tekad serius dari Fiqer.
"Lalu, apa kau akan menjadikanku sebagai istrimu?" celetuk Vie.
Fiqer tersenyum sambil mengangkat kepalanya. Dia mengusap wajah Vie dan mencium bagian keningnya.
"Jika kau ingin, aku akan menikahimu." sahut Fiqer.
Vie mendengus sembari menatap ke arah lain. "Aku belum ada keinginan untuk menikah," celetuknya.
"Jika seperti itu, pikirkan lagi perasaanmu. Aku akan memilihmu setelah sekolah calon istri ini selesai." imbuh Fiqer.
Vie menoleh untuk melihat Pria yang baru saja memberikan sebuah harapan padanya.
"Jangan pernah memberikan harapan kepada wanita. Aku bisa saja salah paham hingga harapanku membesar yang bisa menghancurkan segalanya." ucap Vie dengan tatapan serius.
"Peganglah perkataan ku ini Vie. Aku tidak akan pernah berbohong kepadamu. Aku, akan menjadikanmu istriku dan ibu dari anak-anakku." ucap Fiqer dengan memberikan sebuah kecupan di kening, kedua pipi dan bibir Vie.
Mendengar perkataan yang luar biasa mengetarkan hati. Vie, yang telah kehilangan cinta pertama kini mendapatkan cinta lain yang tidak pernah di sangka.
"Apa kau mau menjadi kekasihku, Vie?" tanya Fiqer kembali.
Vie terdiam sesaat, dia mengangkat tangannya untuk melihat genggaman yang Fiqer lakukan. "Hn, jadikan aku sebagai kekasihmu. Cintai aku seperti apa yang kau katakan. Aku akan membalas semuanya dengan cintaku sendiri, Fiqer."
Fiqer segera memeluk Vie dengan perasaan senang. Kini, status mereka berubah seketika. Mereka bukan lagi seorang kenalan, melainkan sepasang kekasih yang akan memulai kisah cinta mereka.
__ADS_1