
Beberapa hari berlalu, Vie sudah di izinkan untuk membuka perban di matanya.
Semenjak kejadian yang hampir merengang nyawa. Vie masih mampu mempertahankan kehidupannya.
"Vie, apa kau merasa baik-baik saja?" tanya Jefli dengan menaruh bubur di Nakas.
Vie menghirup udara dengan tenang dan mengusap perut putranya yang tengah tertidur. "Tentu, aku baik-baik saja. Mas dan Xexin selalu menanyakan keadaanku. Bahkan, Caca begitu panik dengan diriku."
"Siapa yang tidak panik kepadamu? Kau hampir kehilangan nyawamu saat operasi selesai. Lalu," benak Jefli terhentidengan wajah sedihnya.
Diam beberapa saat, Jefli menghela napas dengan tenang. "Semua khawatir karena memikirkan keadaanmu."
Vie tersenyum mendengar hal itu. "Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja."
Jefli hanya terdiam mendengar hal itu. Dia memutuskan untuk mengambil mangkuk yang berisi bubur. "Kau perlu sarapan, ini untukmu."
Mangkuk itu tiba di tangan Vie dengan begitu lembut. Siapa yang tidak ingin memberikan perhatian dan kasih sayang kepada orang yang kau cintai.
Jefli dan Xexin, adalah dua pria yang masih mencintai seorang ibu muda. Ibu muda itu tidaj lain adalah Vie sendiri.
Dan tentu saja, Vie sadar akan semua itu. Tapi, seperti perkataannya. Dia masih mencintai orang yang sama dan tidak ada niat untuk membuka hati lagi.
"Terima kasih," ucap Vie. Perlahan, Vie memakan sarapannya sambil sesekali mengelus Viviano yang tertidur di pangkuan.
Jefli memandang Vie dengan tatapan sedih. Dia mengingat jelas, bagaimana saat operasi itu. Kepanikkan terjadi....
Seorang perawat keluar masuk dengan wajah panik. Hal itu membuat Jefli dan Xexin ikut panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Xexin.
Salah satu dari pelayan dihentikan oleh Xexin. "Katakan, apa yang terjadi?" tanyanya dengan panik.
Perawat segera menjawab dengan nada pelan. "Pendonor sedang mengalami masalah lalu penerima juga mengalami masalah. Kami harus menangani keduanya agar mereka tidak kenapa-napa. Mohon untuk tetap tenang."
Setelah berkata seperti itu, Perawat segera melangkah pergi dengan cepat. Ucapannya membuat Jefli dan Xexin terdiam.
Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah yang ada di pikiran mereka saat ini.
Setelah menunggu lebih dari dua jam. Melewati batas waktu selesainya operasi. Xexin dan Jefli bertemu dokter yang melakukan operasi.
"Jadi dok, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jefli.
__ADS_1
"Sebenarnya, Nona Vie dan Tuan Fiqer mengalami masalah besar. Tiba-tiba jantung mereka berdua berhenti berdetak." ucap Dokter.
Xexin dan Jefli yang mendengar hal itu merasakan dunia mereka runtuh seketika. Bagaimana dua orang yang saling mencintai bisa seperti ini.
Di satu sisi, keduanya ingin menjaga Vie. Di sisi lain mereka juga ingin menjenguk Fiqer. Namun, pada keputusan akhir, keduanya memilih untuk tetap menunggu Vie.
Setelah semua kembali aman. Jefli dan Xexin memutuskan untuk menjenguk Fiqer. Saat tiba di ruang rawatnya. Yang mereka temui hanya kekosongan.
"Apa pria itu pergi?" tanya Jefli.
Xexin mengangguk. "Dia menepati janjinya. Mungkin, seseorang telah menjemput pria itu."
"Aneh, siapa pria itu. Kenapa dia sangat mencintai Vie. Pria itu tampak tidak asing untukku." Jefli berpikir keras untuk mengingat seseorang yang memiliki wajah seperti Fiqer.
"Dia, cucu pertama dan anak pertama keluarga Michael. Fiqer Michael." ucap Xexin tiba-tiba.
Seperti kejutan yang mendebarkan hati. Jefli menjadi terdiam seketika. Otaknya tiba-tiba berkerja dengan baik dan ingatannya mengarah kepada seorang pria yang ada di surat kabar.
Di surat kabar itu, seorang pegusaha muda yang terkenal dengan kejenuisannya. Jefli akhirnya mengingat semua yang hampir dia lupakan. "Jadi, cucu pertama dan pewaris utama keluarga Michael. Dia adalah ayah Viviano?"
Xexin mengangguk. "Benar, Dialah ayah kandung Viviano."
Jefli bersandar di dinding dengan perasaan campur aduk. Bingung dengan apa yang di dengar olehnya.
Wajah tampan dan memiliki banyak status, pria itulah yang sudah menarik hati Vie. Gadis yang Jefli sukai dan berharap bisa bersamanya.
Tapi semua sudah jelas. Vie mencintai pria itu dan pria itu juga mencintai Vie. Mereka masih mencintai meski tidak saling bertemu.
"Kalian di sini?" tanya perawat tiba-tiba.
Jefli segera berdiri tegap dan Xexin berbalik badan. Keduanya menatap perawat yang akan membersihkan ruang rawat.
"Apa kalian ingin tahu keadaan Pendonornya?" tanya Perawat.
Jefili mengerutkan alis mendengar itu. "Apa yang terjadi kepadanya?"
"Pendonor mengalami pendarahan yang tiba-tiba. Kami pun kaget dengan keadaannya. Apa lagi, pria itu tampak pucat setelah sadar. Kami ingin menawarkan bantuan untuknya. Tapi pria itu segera menggeleng."
"Lalu, pria itu di jemput oleh pelayannya dalam keadaan yang masih kurang baik-baik saja." jelas Perawat.
Jefli terdiam mendengarnya. Bahkan, saat ini dia masih mengkhawatirkan keadaan Fiqer.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, kapan dokter akan membuka perbanku?" tanya Vie.
Kesadaran Jefli kembali. Dia dengan santai melangkah mengambil mangkuk itu dan meletakkannya di nakas. "Tidak lama lagi, tunggulah."
Vie mengangguk dengan senang. Dia mengusap-usap kepala Viviani yang masih tertidur pulas.
Tidak lama menunggu, Dokter tiba dengan kebahagiaan di wajahnya. "Selamat pagi, Nona Vie."
Vie mengangguk dengan tersenyum. "Pagi juga."
"Baiklah, kita akan membuka perbannya sekarang." ucap Dokter.
Vie mengangguk senang mendengar hal itu. Tidak lama lagi, pandangan yang gelap akan penuh warna untuk Vie sendiri.
...●●●...
Suara benda terjadi membuat Pelayan pribadi segera bergegas mendekati Tuannya. "Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Pelayan itu.
Dengan meengangguk, Pria itu berjalan kembali bersama penutup matanya. Benar, Pria itu adalah Fiqer Michael. "Tidak apa, aku baik-baik saja."
Pelayan itu menunjukkan wajah khawatirnya. Sudah beberapa hari berlalu. Tuannya kembali dengan kehidulan yang lebih buruk.
Di tambah, para keluarga hampir memarahi keputusan Tuannya. Namun, tidak ada satu pun yang berani untuk melakukan itu.
Pelayan ingin membantu Tuannya. Namun Fiqer segera menghalangi apa yang Pelayannya lakukan.
"Kakak ipar?" seru Seseorang.
Fiqer mengerakkan kepalanya untuk memastikan indra pendengarnya tidak salah. "Ada apa, Otavi?"
"Maaf, seharusnya aku...."
"Kau sudah membantuku. Jika kau tidak mengatakan keberadaan Vie. Aku tidak akan pernah menemukannya. Tidak peelu merasa bersalah." Fiqer dengan cepat memotong perkataan Otavi.
"Aku harus beristirahat. Pelayan, tuntun aku." ucapnya.
Pelayan yang berniat menolong segera mengangguk dan menuntun jalan. Meninggalkan Otavi yang terdiam di tempat.
Semua tahu? Tentu saja tidak. Otavi tidak memberitahusemua keluarga tentang keadaan Vie. Dia memutuskan untuk bungkam karena tidak ingin membuat semua kecewa atau bertengkar.
Apa lagi, dua keluarga merupakan teman dekat. Tidak mungkin, Otavi akan membuat dua keluarga ini bertengkar. Dia juga tidak bisa tinggal diam.
__ADS_1
"Bagaimana caraku, memberitahu semua orang keadaan Vie. Tanpa membuat pertengkaran." benak Otavi.