Cinta Berakhir Kematian

Cinta Berakhir Kematian
(26) Ibu atau Anak?


__ADS_3

Kehidupan Vie semakin tidak membaik. Semakin bertambah usia kandungannya. Semakin buram pandangannya.


Vie benar-benar merasakan rasa sakit di matanya. Saat ini, Usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan. Dan karena hal itu, Jefli dan Xexin selalu menjaganya.


"Kak Vie, makan dulu." ucap Caca yang melangkah masuk ke dalam kamar.


Vie mengangguk, dia melangkahkan kaki menuju ke kasurnya. Mata Vie benar-benar kehilangan pandangan yang jelas.


"Nona Vie, kami sarankan kepada Anda untuk mengugurkan kandungan ini. Mata Anda mulai-,"


"Tidak apa dokter, menjadi buta pun aku tidak masalah. Dokter, aku hanya meminta satu hal kepadamu, saat aku lahiran nanti tolong pertahankan bayiku."


Itulah yang Vie simpulkan saat pemeriksaan terakhirnya. Di usia kandungan 9 bulan ini, Vie hanya bisa berdiam diri di kamar.


Selain karena masalah matanya, Vie juga tidak bisa lagi berkerja. Terpaksa laundri ditutup karena apa yang dia alami.


Vie merasa sebuah piring ada di pangkuannya. Dia segera melirikan mata untuk melihat Caca yang tampak buram. "Terima kasih, Caca."


"Hm, tidak perlu berterima kasih di setiap waktu. Kak Vie, apa kakak tidak ingin memikirkannya sekali lagi?" tanya Caca.


Kekhawatiran gadis itu benar-benar mengerikan. Dia selalu menanyakan hal itu berulang kali ke padanya. Vie akui, bahwa apa yang di lakukan Caca adalah demi kebaikkannya.


"Aku tidak akan merubah apa yang sudah ku tetapkan, tenang saja ...," Vie menyentuh perutnya dengan lembut. "Aku yakin, Dia akan menjadi anak yang baik dan hidup dengan bahagia."


Vie tidak mendengar balasan dari Caca. Dia menyentuh sendok yang ada di piring dan mulai memakannya. Makanan yang dia makan dimasak oleh Caca.


Rasa terima kasih yang selalu di ucapkan tidak bisa menganti kebaikkan orang-orang yang ada bersamanya.


"Caca, apa aku boleh keluar kamar?" tanya Vie.


Pandangannya menjadi buram saat usia kandungannya memasuki 8 bulan. Dia selalu merasa sakit kepala hingga pandangannya menjadi gelap.


"Hm, aku akan menanyakan ini kepada Paman Jefli. Penglihatan kakak mulai tidak jelas, takutnya nanti kenapa-napa." sahut Caca.


Vie mengangguk karena dirinya tidak bisa merepotkan gadis ini. Dia sendiri sudah merepotkan banyak orang. Jadi, dia tidak ingin merepotkan orang lain lagi.


Siang ini, setelah makan Vie memutuskan untuk berdiri di dekat jendela. Meski pandangannya tidak jelas, Vie masih bisa melihat bayangan orang lewat.


Sembari menatap sekelilingnya, Vie mengusap-usap perutnya dengan tenang. Dia duduk di kursi sedikit berjarak dari jendela.


"Bolmis, kalau anak ibu lahir nanti, bisakah anak ibu berjanji. Jadilah anak yang baik dan tidak dendam kepada orang lain."


"Ibu yakin, setelah kau lahir dan besar nanti. Semua akan menyayangimu dan akan mencintaimu."


Berucap seperti itu, Vie teringat dengan masa lalunya. Bagaimana semua pria memberi janji kepadanya, memberi harapan dan sebuah impian.


Namun, semua itu harus menghilang seperti di telan bulan. Vie tersenyum, mengingatnya.


"Bolmis, apa sebaiknya Ibu memikirkan namamu? Hm ... karena Maherqi dan Michael tidak cocok bersandar di nama Bolmis. Ibu, akan memberikan nama yang tidak akan di ganti oleh siapapun."


"Tunggu lah, saat lahir nanti Ibu akan meminta Dokter menyimpan nama ini." gumam Vie.


Dia kembali menatap jendela dan menikmati pemandangan yang ada.


Sore harinya, pintu kamar Vie di ketuk oleh seseorang. Karena dia berada di kursi,Vie hanya bisa berucap dari dalam.


"Masuk saja, pintunya tidak terkunci." ucapnya.


Suara pintu di buka terdengar di telinga. Vie merasa seseorang mendengar dengan mendorong sesuatu.


"Aku dengar dari Caca, Anda ingin berjalan di luar. Aku bisa menemani Anda." ucap Xexin.


Vie terteguh mendengar ucapan itu. Pria bernama Xexin ini menganggap dirinya sebagai seorang keluarga.


Meski begitu, dia berpisah dengan teman-teman kampusnya. Karena, Raki dan Zaksa, tidak senang dengan keputusan Xexin waktu itu.


Vie tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Namun, dia tahu alasan kenapa mereka berpisah.


"Xexin, apa kau ingin mengajakku berjalan di luar?" tanya Vie. Hatinya senang ada orang yang mengijinkannya keluar.


Vie merasa, berada di dalam kamar ini, seperti di dalam sangkar. Meski dia tahu kalau dia sedang dilindungi oleh Caca, Jefli dan Xexin.


"Hm, Pak Jefli bilang kalau dia tidak bisa menemani Anda. Jadi, Saya sebisa mungkin untuk meluangkan waktu kepada Anda." sahut Xexin.


Vie terdiam mendengar hal itu. "Hm, kalau kau sibuk, tidak perlu menemaniku berja-,"


Tangan Vie tersentak ketika seseorang menyentuhnya. Meski tidak ada lagi rasa jijik, Vie tetap tidak berkeinginan untuk di sentuh oleh orang lain.


"Aku memiliki waktu luang. Mari, kita menikmati udara luar." ucap Xexin.

__ADS_1


Vie membiarkan pria baik ini menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi. Dia tahu kalau saat ini,dia berada dikursi roda.


"Berpeganganlah, Aku akan membawa Anda keluar." ucap Xexin.


Vie mengangguk dengan rasa senang. Dia memejamkan matanya, berusaha untuk mulai beradaptasi dengan mata buram ini. Vie tahu kalau setelah melahirkan nanti, mungkin ada dua hal yang terjadi padanya.


Buta atau meninggal. Harapan Vie, Bolmisnya lahir dengan sehat dan dia akan memberi kabar kepada orang tuanya.


"Tunggu aku sampai ke rumah sakit. Jika memang diriku tidak bisa lagi bertahan, Bolmis akan ke kediaman Maherqi." benak Vie.


Kursi roda terhenti entah di mana. Namun, Vie bisa merasakan udara sejuk menerpa wajahnya. Aroma makanan, pepohonan dan yang lain-lain tercium di hidung Vie.


"Kita sudah di luar, saat ini Anda berada di halaman." ucap Xexin.


Vie mengangguk dan membentangkan tangannya. Dia membuka mata untuk merasakan bagaimana keadaan alam. Sudah dua bulan dia memutuskan untuk berada di kamar. Membiarkan Caca dan Jefli merawatkan.


Selama itu, Vie hanya menatap jendela dan membayangkan, bagaimana keadaan udara di luar. Apakah hujan masih dingin, musim panas masih panas, Vie hanya bisa menebak.


Sekarang, dia merasakan semua itu. Angin pun seperti menyambut dirinya.


"Xexin, bisakah kau membantuku?" tanya Vie.


"Tentu, katakan saja." sahut Xexin.


Vie mengulurkan tangannya. "Aku ingin bangun, menginjakkan kakiku di tanah ini."


"Tapi Anda tidak beralas kaki." kata Xexin.


Vie mengangguk sembari tersenyum. "Tidak apa, aku ingin menginjaknya langsung dari kakiku."


Vie tidak mendengar balasan Xexin. Dia hanya merasa tangannya digenggam dan kemudian di ajak untuk berdiri.


"Hati-hati!" ucap Xexin.


Vie menggengam erat tangan Xexin saat dia memposisikan diri. Setelah merasa seimbang, Vie melepaskan tangan Xexin.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Perlahan Vie melangkahkan kaki dan merasakan semua yang telah lama tidak dia rasakan.


Hingga, langkah kakinya mulai melebar dan lama-kelamaan, Vie memutar tubuh dengan menikmati udara di sekitar.


Dia tidak memperdulikan Xexin yang ada di sekitarnya. Biarkan dia menjadi anak kecil satu hari ini. Karena dia tahu, setelah ini mungkin tidak akan lagi bisa menikmati semuanya.


"Hati-hati!" pekik Xexin.


Suara mobil berhenti di dekat mereka. Vie memutuskan untuk menatap dengan pandangan yang tidak jelas. Namun, dia melihat kalau ada seseorang yang keluar dari pintu.


"Vie, ayo kita ke rumah sakit. Sudah saatnya, kau jadwal kelahiranmu." ucap Jefli.


Rasa senang Vie bertambah, Dia menanti hari kelahiran anaknya ini. "Kalau begitu aku akan mandi!" pekik Vie.


Karena rasa senangnya, langkah kaki Vie tidak seimbang. Dia tiba-tiba merasa tubuhnya miring ke kanan dan tidak bisa membenarkan posisinya.


"VIE!"


"VIE!"


Vie merasa tubuhnya lemas karena terjatuh menyamping. Sesuatu di kakinya mengalir entah karena apa. Di tambah, pendengarannya yang tampak sakit dan mata yang mulai mengelap.


"A-anak ... ku," gumam Vie sebelum akhirnya terlelap dalam kegelapan.


...●●●...


Di Kota S, Fiqer melangkah menuju ke rumah sakit untuk mengambil hasil kehamilan Otavi, Tiasa dan Nala. Ketiga menantu keluarga Michael, hamil secara bersamaan.


Jika ada yang bertanya kapan mereka menikah. Jawabannya, setelah acara program tersebut. Pernikahan di adakan secara bersamaan. Otavi, Tiasa dan Nala adalah menantu keluarga Michael.


Untuk menanyakan tentang kesalahan Zisa dan Violet. Ayah Fiqer memutuskan untuk memberi hukuman kepada mereka. Dan Fiqer sendiri tidak tahu hukuman apa itu.


Langkah kaki Fiqer berhenti di ruangan khusus Dokter kandungan. Dia masuk ke dalam setelah memberi ketukkan.


"Oh Tuan Michael ... silahkan masuk!" sapa Dokter kandungan.


Fiqer duduk dikursi dengan tenang. "Bagaimana hasilnya?"


"Penerus keluarga Michael memang memiliki bibit unggul. Semua menantu keluarga Anda benar-benar hamil. Ini pemeriksaan yang telah ku periksa." ucap Dokter.


Fiqer mengangguk mendengar itu. Dia segera meranjak bangun dari tempat duduknya. Namun, tanpa sengaja mata Fiqer melirik ke arah berkas yang ada di meja kerja.


"Vie?" gumamnya setelah membaca sebuah pemeriksaan di sana. Kerutan muncul di antara alis Fiqer.

__ADS_1


"Oh, ini pemeriksaanku di kota T. Ada seorang wanita bernama Vie. Dia cantik dengan mata tajamnya." ucap Dokter dengan mengambil berkas tersebut.


Fiqer sebenarnya tidak memperdulikan hal itu, tapi rasa penasaran di hatinya memuncak setelah mendengar Kota T. Tiba-tiba saja, pikirannya teringat kepada sang kekasih.


"Vie? Kapan Anda melakukan pemeriksaan ini?" tanya Fiqer.


Dokter segera menatap hasil pemeriksaannya. "Hm, itu terjadi enam bulan yang lalu. Saat itu, aku mendapatkan tugas untuk berkerja di sana." sahut Dokter.


Fiqer mengingat kalau sudah hampir 9 bulan lebih Vie menghilang. Saat itu pun, dia mencari keberadaan Vie 6 bulan yang lalu. "Tidak mungkin?" gumam Fiqer.


Dokter yang sedang memeriksa berkas terkejut mendengar gumamannya. Ruangan kerja milik Dokter, mampu mengemakan suara gumaman Fiqer.


"Tuan Muda Fiqer?" tanya Dokter untuk memastikan.


Fiqer segera melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa berpamitan. Saat ini, pikirannya tengah tidak tenang.


Selama 9 bulan mencari keberadaan Vie di kota T, tidak ada satu pun tanda-tanda dia menemukan wanita itu.


Namun, hari ini seakan keajaiban menuntunnya. Fiqer dengan percaya diri, kalau Vie yang Dokter itu temui, adalah kekasihnya.


Vie Maherqi, penerus keluarga Maherqi ini, hanya dirinya yang mendapatkan nama Vie. "Vie, akhirnya aku menemukanmu." benak Fiqer.


...●●●...


Di rumah sakit Kota T. Lima perawat tengah kewalahan dengan bangsal yang mereka bawa. Seorang wanita tengah pingsan dalam keadaan hamil.


Tidak hanya itu, ada satu wanita dan dua pria yang memiliki raut wajah khawatir.


"Kak Vie sadarlah!"


"Kak Vie! Hiks, kak sadarlah ... Bolmis tolong sadarkan ibumu!" pekik Caca.


Perawat segera menuntun bangsal di ruang UGD. Setelah mereka masuk, seorang perawat lain segera menghalangi pintu.


"Mohon maaf, tunggu di sini." ucapnya.


Caca, Jefli dan Xexin hanya bisa menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Mereka masing-masing, mengalami kepanikkan.


"Aku, seharusnya aku tidak jauh darinya." pekik Xexin dengan rasa bersalah.


Jefli yang ada di sampingnya segera menepuk pundak anak kuliahan ini. "Tidak ada yang salah, ini sudah menjadi takdirnya."


Xexin terdiam mendengar hal itu. Mereka semua melihat bagaimana keadaan Vie saat dia terjatuh. Wanita itu segera dipenuhi darah hingga Caca tidak berani membuka mata.


"Paman, Kak Vie baik-baik saja kan? Dia tidak akan kenapa-napa kan? Paman, tolong jawab Caca." ucap Caca dengan kepala menunduk. Tangan gadis itu gemetar karena melihat banyaknya darah.


Ibu Caca meninggal karena hal yang sama. Saat itu, Caca akan mendapatkan seorang adik. Namun, karena kecelakaan yang terjadi. Caca kehilangan Ibu dan Adiknya. Tentu, semua yang dia alami menjadikan trauma dalam hidupnya.


Seperti sekarang, Caca menjadi takut hingga pikiran negatif merasukinya.


Dengan cepat, Jefli memeluk sang keponakkan dan menenangkan dia. "Hm, Vie akan baik-baik saja. Dia sendiri yang bilang, kalau Dia dan Bolmis akan aman."


Caca menumpahkan air matanya di pelukkan sang Paman. Sedangkan kedua orang ini, Jefli dan Xexin. Mereka sedang meneguhkan hati agar tetap dalam ketenangan dan bisa membantu saat terjadi sesuatu.


Pintu UGD tiba-tiba dibuka. Seorang dokter keluar dengan membuka maskernya. "Dengar, siapa di sini wali dari Wanita ini?"


Jefli segera menyahut. "Kami keluarganya, dan aku adalah kakaknya."


Dokter itu mengangguk. "Baiklah, kami sangat mengharapkan pilihan kalian. Pilih Ibu atau anaknya?"


Xexin yang mendengar itu segera mendekat. "Tidak bisakah menyelamatkan keduanya?" tanyanya.


"Saat ini Nona sedang mengalami pendarahan, kami juga harus memeriksa stock darah rumah sakit. Untuk keputusan ini, sebagai bentuk berjaga-jaga, jika kami tidak bisa menyelamatkan keduanya. Kami, akan menyelamatkan salah satu dari mereka." jelas Dokter.


Xexin mengerutkan alis karena kesal mendengar ucapan itu. Bagaimana pun, jika dia berada di situasi ini, tentu tidak ada pilihan yang pasti. Jika memilih ibunya, Vie akan buta selamanya dan akan menjadi menyedihkan karena kehilangan anaknya.


Jika, mereka memilih Anaknya. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan menjaga anak itu. Xexin ingin menjaganya, tapi tidak ada izin dari Vie sama sekali.


"Anaknya, selamatkan anaknya jika memang tidak ada pilihan lain." ucap Caca secara tiba-tiba.


Jefli dan Xexin menatap ke arah Caca yang kini tersedu-sedu.


Dokter yang mendengar hal itu segera mengangguk. "Terima kasih atas keputudannya."


Setelah itu, Dokter kembali masuk ke ruangan meninggalkan Caca yang kini di dekati dua pria.


"Apa yang kau katakan Caca?" pekik Jefli.


Tidak tinggal diam, Xexin pun ikut bertanya. "Caca, saat ini kita dalam keadaan sulit, kau mengambil keputusan itu sama saja menghancurkan hidup Vie."

__ADS_1


"Tapi, Kak Vie pasti akan memilih Anaknya. Bolmis adalah anak pertama Kak Vie. Jika kita memilih Kak Vie, maka tidak akan ada lagi cahaya di wajahnya." sahut Caca dengan pandangan sedu.


Semua diam tidak lagi mengeluarkan pendapat. Mereka mengerti dengan apa yang Caca usapkan. Semua hanya bisa pasrah dengan keputusan takdir.


__ADS_2