
" Tolong minggir" Ujar meila pada pria yang ada didepannya itu. Pria tersebut merentangkan tangan menghalangi lagkahnya. Lalu ia mengelilingi meila .sambil mengamatinya dengan penuh menyelidik.
" Kamu siapa?" Tanyanya dengan tatapan curiga.
" Aku teman mamamu!" Ujarnya dengan lantang tanpa takut. Ia mencoba memberanikan diri karena menurutnya pria yang seperti itu jangan dikasih hati.Apalagi sampai kita terlihat takut." Ooh no...! Pasti aku akan ditindasnya". Batin Meila.
"Teman?"
" Mama?" .Lalu beberapa detik kemudian dia tertawa keras.
"yang benar saja. Kamu bilang teman mamaku?" Tanyanya dengan muka heran. Meila mengangguk membenarkan.
" Apa kamu sebenarnya sudah tua tapi awet muda?" Ujarnya asal.
"Tepat sekali! Pintar" Ujar meila lagi sambil menjentikkan jarinya.Lalu menyuruh pria itu minggir dan ia berlalu ke dapur untuk mengambilkan Air mineral. Pria yang bernama deni itu masing mematung sambil berpikir.
" Bego banget sih! Masa ngk lihat muka gua nich.da berumur apa belom.ck...ck.." Cerca meila dalam hati sambil hendak kembali ke kamar bu miska.
" Tunggu!!" Kembali ia dihadang pria itu didepan pintu dapur.
" Beri aku jalan.mamamu membutuhkan minuman cepat!" Ujarnya tegas. Pria yang bernama deni itu justru semakin masuk kedalam dapur.Otomatis meila mundur dan mundur sampai langkahnya terhenti karena terbentur kursi meja makan.Meila bergidik. Diedarnya pandang mencari sosok pekerja rumah tangga rumah itu.Tapi entah kenapa semua sepi. Mungkin wanita itu lagi istirahat dikamarnya atau ada pekerjaan lain dilantai atas sehingga ia tidak mendengar mereka.
" Kamu mau apa.Jangan macam-macam yach!" Meila masih berusah tegas.
" Aku menyukaimu.Kamu cantik! " Ujar pria itu dengan muka mesumnya.Mengamati fisik meila. Meila jadi ingin muntah melihatnya. Dia pria dekil dengan pakaian preman yang kayaknya jarang dicuci. Nafasnya saja bau rokok.
Meila meletakkan baki minumannya di meja makan.Lalu ia mendorong pria itu untuk mundur namun yang ada kedua tangannya ditangkap pria itu.
__ADS_1
"Lepaskan!.." Jeritnya
" Kamu tidak sopan sama tamu mamamu yach!" Umpatnya lagi yang justru membuat pria itu tertawa.
" Lepaskan dia!!! Berani nya kamu pegang tangan pacarku!!!"
Tiba-tiba suara seseorang menggelegar membentaknya.Meila dan deni reflek memandang kearah datangnya suara.
Ternyata Farrel sudah berdiri didepan pintu.
Lalu ia segera menarik tangan meila untuk menjauhui pria itu.
" Sudah kubilang biar aku yang ambil tadi yank!" Ujarnya membuat meila tertegun.
Pacar?" " Sayang?" Gumannya dalam hati.
Sementara dalam hati deni begitu kesal saat kakak nya memanggil wanita didepannya dengan sebutan pacar dan sayang. Ia begitu cemburu.Mengapa sampai sekarang ia tidak punya pacar dan belum bisa memanggil sayang pada seseorang ( Efek Pengangguran.hehehe) Sementara kakak nya sudah dilihatnya membawa dua wanita yang berbeda kerumah itu.
" Terserah-serah akulah mau gonta ganti pacar. Yang pasti untuk kedepan kamu harus sopan sama dia yach! Dia akan sering kesini mengurus mama.Jadi kamu jangan macam-macam.Kala tidak..!" Farrel mengepalkan tinjunya. Pria itu mengkeret. Rupanya Farrel masih disegani sama adik-adiknya. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara dan sebagai anak laki-laki tertua ia masih dipandang mereka. Meila salute akan wibawa pria di depannya itu. Sesampai dirumahnya ia melihat perubahan sikap dan nada bicara Farrel. Dari lembut menjadi sangat tegas padahal sewaktu bertemu sebelumnya tidak begitu.
" Ayo sayang katanya sambil menarik tangan meila.Sementara tangan kanannya mengangkat baki minuman yang tadi diletakkan meila di meja. Segera Mereka berlalu dari dapur sembari di ikuti tatapan kesal dan cemburu pria yang bernama deni tersebut.
Tapi ia memilih untuk diam dan tidak buat keributan karena memang ia sangat takut pada kakaknya itu. Sejak kecil ia tidak pernah menang melawannya jika mereka adu tinju.
Sementara Farrel masih menggengam tangan meila. Entah kenapa jantung meila masih terasa dag..dig..dug..Ia berniat melepas ngengaman tangan Farrel karena dilihatnya Farrel mengangkat baki mimuman dengan satu tangan sementara tangan kirinya menggengam tangan kanan meila.Ditepis begitu Farrel justru memperkuat genggamannya membuat meila terkesima. Seperti ada perasaan sesuatu yang datang.
" Biarkan saja! biar anak-anak itu semua melihat dan takut juga padamu" Ujarnya yang membuat meila mengurungkan melepas tanganya.Lalu dibiarkan nya saja Farrel tetap menggenggamnya menuju kamar mamanya.Namun langkah mereka terhenti saat dilihatnya Ibu Miska mama nya mereka sudah berdiri didepan pintu.
__ADS_1
" Loch ma! kok ada disini?" tanyanya heran
" Iya bu kenapa di luar?" Tanya meila juga..
" Tadi mama dengar agak ribut di dapur.Jadi mama keluar karna mama khawatir." Ujar ibu itu.Tapi meila dan Farrel tidak ada melihat wajah khawatir di wajah ibu miska itu yang ada wajah berseri-seri. Teryata ibu miska sangat senang mendapati anaknya dari dapur sampai atas menggengam tangan meila. Rupanya ia salah paham. Ia berpikir kala mereka sudah mulai ada rasa.Ia mengamati dari lantai atas yang memang dari lantai dua rumah mereka leluasa memandang keruang dibawahnya.
" Tapi mama tidak terlihat sedang khawatir" Ujar Farrel sambil tersenyum.Meila juga tersenyum. Buru-buru ia sadar tangannya digenggam Farrel.Lalu ia buru-buru melepaskannya karena dilihatnya sepertinya ibu miska jadi salah paham.
" Yach udah ayo kita masuk ma" Ujar Farrel. Meila pun memapah wanita itu untuk masuk kembali ke kamarnya. Mereka memberinya minum air mineral tersebut. Lalu Farrel kembali ke dapur lagi membuatkan Teh manis untuk mereka ber tiga dan mereka makan aneka cake kering yang sudah disiapkan Farrel sebelumnya dikamar mamanya itu sambil bercerita cerita dan tertawa.
Diam-diam meila memperhatikan Farrel. Dia laki-laki yang baik. Yang sangat sayang sama mama dan sepertinya sama keluarganya juga. Karena ia lihat juga meski galak pada adek-adeknya ia membawa satu kotak roti kering itu untuk mereka juga dan meletakkan di ruang keluarga.
Setelah meila melihat ibu miska sudah kembali ceria dan sudah makan snack sore. Ia berpamitan pulang karena hari sudah sore. Ibu itu melepasnya dengan bahagia.Diciumnya pipi kanan dan kirinya.
" Makasih ya sayang buat hari nech.Ibu senang sekali kamu disini menemani ibu" Ujarnya sambil mengelus rambut meila.
" Ia sama-sama bu.saya juga senang bisa menemani ibu" ujar meila sambil mencium tangan wanita itu berpamitan.
" Serasa mama dirawat anak dan menantu" Celetuk wanita itu lagi yang membuat Farrel dan meila langsung menoleh.
" Mama...." Ujar farrel memberi sinyal tidak boleh demikian.
" Memangnya kenapa? mama bilang kan "serasa".yang mama rasakan loh.." ujar mamanya menggoda. Wajahnya cerah dan sumigrah. Mendengar itu meila dan farrel tertawa kecil.
"Ma..ma.. terserah mama aja dech" Ujarnya lagi mengalah. Lalu mereka pamit lagi dan wanita itu mengizinkan. Ia hanya melepas mereka dari kamar saja. Ia berpikir seolah-olah ia sedang dikunjungi anak dan menantu dan sedang melepas mereka untuk pulang.
" Seandainya semua ini kenyataaan" Ujarnya dalam hati penuh harap.
__ADS_1
Sementara meila dan Farrel sudah dilantai bawah. Sebelum keluar rumah Farrel memanggil bibi pekerja rumahnya untuk menemani mamanya dikamar karena ia harus mengantar meila. Tadinya meila tidak mau diantar dan bilang akan naik taxi online,tapi Farrel dan mamanya tidak mengizinkan.
Setelah si bibi naik dan masuk ke kamar mamanya.baru mereka bergegas keluar rumah. Mereka berpapasan dengan ke tiga adiknya yang ketiganya duduk ambil tempat nya masing-masing, ada yang di sofa ruang tamu sambil baring-baring main game siapa lagi kala bukan diko.Sedangkan Aan menonton TV dan Deni lagi duduk-duduk malas di teras. Mereka sejenak berhenti pada Aktifitasnya dan memperhatikan kedua manusia yang melewati mereka. Sengaja Farrel kembali menggengam tangan meila menggandengnya keluar. Adiknya tak ada komentar apa-apa. Mereka melihat sebentar lalu kembali sibuk pada aktifitasnya masing-masing.Hanya deni yang mengamati mereka dari teras meski mereka sudah didalam mobil. Tatapan nya begitu tidak suka. Tapi peduli apa pada dia. Ujar meila dalam hati.Mobil mereka pun melaju membelah senja.