CINTA DENGAN EMPAT PRIA

CINTA DENGAN EMPAT PRIA
JEBAKAN ASMARA


__ADS_3

Meila menghela napas saat Ibu Derin memandangnya dengan tatapan curiga. Pelan-pelan Ia turunkan Hp dari daun telinganya.


"Siapa itu?" Ibu Derin bertanya tapi dalam pikiran Meila seolah-olah Mertua sedang menangkap basah Menantu yang sedang selingkuh.hehehe


"Kakak tan" ujarnya berbohong namun Ia sendiri menjadi gemetaran karena begitu gamblangnya kali ini Ia berdusta.Tidak biasanya. Ia biasanya adalah gadis yang hanya bisa mengatakan kalimat yang jujur saja.Tapi kali ini entah kenapa keadaan memaksanya berbohong.


"Udah dulu ya kak." Ujarnya menutup telepon yang masih tersambung.


"Tuh kan, kok kakak lagi" gerutu Lee diseberang sana.Tidak pakai waktu lama telepon pun terputus.


"Aiih...main mati-matiin aja" Lee mengeleng. Ia berharap dapat berbincang lebih lama dengan gadis itu. Namun gadis itu lagi menhadapi si calon Ibu Mertua yang killer.hehehe...


Sedangkan Lee, kini ia memikirkan kira-kira bagaimana supaya Ia tetap bisa berkencan dengan Meila tanpa harus Ia bersusah payah kembali ke kota XX tersebut.


Sebuah keputusan gila dibuat Lee. Ia betul-betul ingin menikahi Meila.Cuma Ia harus mencari jalan agar semua hal itu terwujud. Kini Ia memiliki sebuah ide agar dapat bertemu Meila meskipun Ia sedang bekerja di Ibukota.


"Apa?" Farrel terperanjat. Sejenak tangannya berhenti pada aktifitasnya yang hendak memasukkan beberapa pakaian ke dalam Travel Bagnya. Hari ini Ia memang lagi ada Penerbangan di Malam hari makanya Ia sedang bersiap-siap.


"Yach...bantu aku membujuk Meila biar Ia kesini yach.Semua kuserahkan samamu Farrel" Lee berusaha meyakinkan lagi.


"Tapi ini keterlaluan.Masa melibatkan Mamaku" Farrel protes.Namun Lee meyakinkan akan lebih mudah Meila datang ke Jakarta karena Ibu Miska. Lama Farrel dan Lee bernogoisasi. Hingga akhirnya dengan berat hati Ia menerima permintaan sahabatnya itu. Lagian Ia juga suka jika Meila datang kesana.


Segera Farrel menelepon Mamanya.Mengabarkan jika Ia ingin Mamanya berkunjung ke Ibukota. Sekalian menghilangkan stress juga. Ia memikirkan betapa sulit mamanya melalui hari-hari sepeninggalan Papanya. Ditambah Ketiga adiknya yang selalu berulah. Kini Farrel telah menjadi tulang punggung keluarganya. Memang selain bekerja sebagai Polisi Almarhum Ayahnya memiliki beberapa bidang tanah yang konon katanya ditanami tanaman Kelapa sawit. Cuma Farrel belum pernah melihat perkebunan Mereka karena dari SMP Ia sudah sekolah di Ibukota. Kebun tersebut dipercayakan pada orang kepercayaan Papa mereka dan letaknya di daerah yang harus ditempuh Empat jam perjalanan dari kota Provinsi. Farrel berniat suatu waktu Ia dapat meninjau daerah tersebut karena adik-adiknya tidak ada yang mau terjun kesana. Mereka hanya menerima hasilnya Via transfer Bank dari orang kepercayaan papanya. Hal itu menambah beban pikiran mamanya, karena menurutnya hasilnya berbeda dari sewaktu suaminya masih hidup.

__ADS_1


"Nak mama ngk mau jalan-jalan karena mama kan mau kedaerah mau meninjau kebun sawit kita" Mamanya menolak.


"Janganlah Ma sendiri.Ntar kala ada libur Farrel akan kesana nemani mama. Aku janji deh ma, pasti nanti kita kesana" bujuk Farrel. Mamanya berusaha menolak dengan berbagai cara namun Farrel menceritakan jika Ia akan jalan-jalan dengan gadis yang bernama Meila tersebut. Betapa senangnya hati Ibundanya tersebut, dan tiba-tiba Ia berubah menjadi semangat.


"Kapan kami akan berangkat?" Seolah-olah anak kecil yang mendapat hadiah Mamanya sangat kegirangan.


"Nanti kuatur Ma. Ini hari rabu.Gimana kala jumat? jadi Mama dan Meila bisa menikmati akhir pekan disini" Farrel memberi penawaran.Mamanya sangat senang namun Ia mau pergi dengan satu syarat Farrel harus meluangkan waktu menemani mereka walaupun ngak harus lama. Pria itu berjanji pada Mamanya. Ia sangat senang jika Mamanya senang. Kini Ia minta tolong pada Mamanya agar membujuk Meila untuk turut serta dengannya.


Mendegar itu mama Farrel terkejut. Baru Ia menyadari mungkin mengajaknya jalan itu sekalian modus ingin bertemu dengan gadis itu.Yach Ia pun semangat untuk menyanggupi buat membujuk Meila.


Meila masih bersama Derin dirumah sakit ketika teleponnya kembali berbunyi. Derin yang sedari tadi menggengam tangannya segera melepaskan jemari gadis tersebut. Meila melihat mata Derin menatapnya penuh tanya. Ia pun menjadi tidak ingin meninggalkan Derin dan tetap mengangkat telepon disebelahnya.


"Hallo..." jawabnya begitu ia mengeser tombol hijau di hpnya.


"Ibu Miska.Apa kabar Bu?" Meila begitu gembira menyadari siapa yang menelepon.


"Kabar baik Mel," jawabnya ibu tersebut.


"Meila apa kabar juga sekarang?" Ia bertanya karena sudah lama juga tak bertemu gadis tersebut.


Meila bercerita jika Ia baik-baik saja. Lalu Ia balik bertanya keadaan Ibu itu. Ibu itu begitu semangat menceritakan apa-apa saja yang menarik perhatiannya.Meila pun tertawa akan ceritanya. Sampailah akhirnya Ibu Miska menceritakan maksud tujuannya.Awalnya Meila enggan namun kerena kuliahnya atau bimbingan tidak ada dihari sabtu maka ia menerima tawaran wanita itu demi adab dan kesopanan juga karena Ia kasihan melihatnya.


"Pokoknya santai aja Mel. Ibu sudah suruh Farrel mengurus semuanya.Pokoknya hari sabtu kita udah berangkat deh." Bahasa ceria keluar dari bibir ibu tua tersebut. Meila senang mendengarnya. Sampai Ia lupa ada Derin disebelahnya.

__ADS_1


"Maaf bang." serunya.


"Siapa mel?" Derin bertanya.


"Bukan siapa-siapa bang," ujarnya sambil tersenyum manis.Derin memandang curiga,namun Ia lega gadis itu tersenyum tenang padanya.


"Udah dulu ya bu,ntar kita bicarakan lagi.Aku lagi ada sedikit urusan diluar Bu," ucap Meila. diseberang sana Ibu Miska menganguk.Ia begitu bahagia. Ia berjanji akan menelepon Meila lagi untuk mengabari bagaimana kelanjutan mengenai perihal keberangkatan mereka. Meila mengiakan dan Ia menyudahi teleponnya.


Selesai bertelepon dengan Meila Ibu Miska menghubungi anaknya Farrel dan mengabarkan mengenai percakapannya dengan gadis itu.Mendegar Meila tidak masalah untuk menemani mamanya liburan ke Ibukota hati Farrel begitu bahagia. Jujur meski baru berpisah dari Meila di kota XX ia sudah merindukan sosok gadis itu.Tapi kadang-kadang memang muncul sebuah kesadaran jika Ia tidak boleh begitu.Ia masih menjalin hubungan denga Desi dan mereka masih berstatus pacaran selain itu Meila juga sudah menjadi pacar Lee sahabatnya sendiri.


"Aku harus menghubungi Lee." Farrel tiba-tiba tersadar jika Ia belum memberitahu Lee kabar baik tersebut. Ia coba menelepon dan Lee mengangkatnya.Akhirnya Ia memberi tahu jawaban Meila. Lee begitu gembira. Farrel saat itu sedang berada di sebuah bar Hotel di kota Soul. Ia baru saja sampai dari penerbangannya dan sedang beristirahat. Adrenalinnya tiba-tiba meningkat mendegar Lee sangat bahagia akan kabar yang Ia bawa. Ingin rasanya menjitak kepala Lee akan kelebaiannya. Ya kira-kira begitu mungkin Ia sedang bertingkah seperti anak kecil jika Ia sedang gembira. Farrel paham betul akan sahabatnya itu.


"Apa kamu begitu senang Lee?" selidiknya.


"Tentu saja donk!" ujar Lee masih begitu bahagia.


"Mungkin kamu sekarang sudah jingkrak-jingkrak yach" seloroh Farrel. Lee tertawa dan mengiakan.Bahkan Ia bercerita jika Ia sangat gugup dan binggung hendak mempersiapkan apa untuk menyambut Meila karena tinggal beberpa hari lagi. Farrel mendengar kecut


satu sisi Ia begitu senang satu sisi ada sisi lain yang memberontak.


Selesai mendegar celotehan Farrel meminum bir banyak-banyak sampai Ia sempoyongan. Lalu tanpa sadar Ia menelepon Meila dan gadis itu menerimanya.


"Hallo..." jawab gadis itu diseberang sana.

__ADS_1


__ADS_2