
Meila belum dapat berkata apa-apa ketika menyadari Derin berharap Ia menjadi kekasihnya. Pria itu baru sadar dari komanya.Kakinya saja masih dibalut perban.Ia telah menjalani beberapa Operasi dibagian organ tubuh dalam.Ia kembali dalam keadaan hidup sudah merupakan mujizat bagi seluruh keluarga dan orang-orang yang mengenalnya.
Derin berusaha bangkit dari tidurnya.Meila melerai.Digoyangkannya kaki kirinya tetapi sepertinya ia tidak merasakan apa-apa.Sejenak Pria itu melihat kearah kakinya dan menatap Meila binggung.Tentu saja Meila juga panik. Ia berpikir apakan kaki Derin kenapa-kenapa.
" Apa ngk bisa digerakkan bang?" tanyanya penasaran sambil berusaha mendekati kaki kiri Pria itu. Derin mencoba sekali lagi.Tapi tetap saja kakinya seperti kebas dan tidak dapat merespon.
"Apa kakiku patah?" Ia kelihatan mulai panik.Meila menenangkannya.Bersamaan dengan itu mamanya masuk kedalam ruangan.Sepertinya wanita itu melihat reaksi anaknya dari balik pintu ruangan yang memang ada sebagian kaca tembus pandang untuk dapat melihat ke bagian dalam ruangan tersebut. Mamanya bercerita bahwa kakinya mengalami sedikit masalah.Kakinya patah,tapi Ibu tersebut berjanji bahwa anaknya akan tetap bisa berjalan lagi.
"Ngak usah panik ya nak.Nanti masih ada operasi berikutnya.Ini hanya menunggu kamu siuman aja.Kan udah siuman.Ntar setelah operasi lagi semua akan baik-baik aja." Mamanya menenangkannya.
"Ia bang.Sabar yach,pasti abang Derin bisa jalan lagi.Meila yakin itu bang." Meila menggengam tangan Derin meyakinkannya bahwa Ia akan baik-baik saja.
Melihat meila begitu berusaha meyemangatinya,Derin akhirnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dibalasnya senyum gadis itu.Mata Meila berbinar-binar, antara sedih,terharu dan berusaha memberikan semangat padanya.
"Ma bisa tinggalkan kami sebentar?" Derin menoleh kepada Ibunya itu.Mamanya sedikit terkejut karena anaknya mengusirnya, namun Ia berusaha maklum. Anaknya itu baru siuman.Biarlah gadis itu menolongnya melupakan rasa sakit ditubuhnya. Akhirnya dengan berah hati Ibu Derin meranjak pergi. Ditolehnya Meila yang masih duduk disisi ranjang anaknya.
"Aduuh begini rupanya kala anak sudah besar,harus siap-siap cemburu kala anaknya lebih tertarik dekat dengan seorang gadis daripada Ibu sendiri," gumannya dalam hati. Segera Ia berlalu dari dalam ruangan itu meski ada sedikit rasal kecewa.
Sementara didalam ruangan Meila dan Derin saling bertatapan.Derin sangat senang bisa kembali melihat Meila.Ia bercerita jika dalam komanya Ia seperti bermimpi.Mimpi gadis itu sulit untuk Ia gapai.
"Abang mimpi kayaknya Meila itu jauh banget.Susah untuk datang ketempat dek Meila berdiri," ujarnya, "tapi sekarang abang senang bisa kembali sadar dan bisa bertemu dx Amel lagi," serunya lagi sambil mengerakkan tangannya berusaha mengapai wajah meila. Melihat itu Meila sengaja mendekatkan wajahnya. Ada perasaan bahagia bisa dicintai seperti itu. Derin mengelus lembut wajahnya.Ia masih mengangumi dan merasa Meila bertambah cantik. Sementara diluar ruangan Ibunya mengintip dari balik kaca pintu itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa melihat anaknya yang baru siuman itu sudah langsung bisa bermesraan aja sama gadis itu.Sebenarnya Ia tidak suka pada Gadis tengik itu tapi apa boleh buat yach.
__ADS_1
"Dasar anak sekarang, sudah sakit masih ingat mesra-mesraan gitu," dengusnya agak kesal. Tapi... yach... tapi lagi dech ceritanya.Anaknya kan lagi sakit. Jadi Ia harus banyak bertoleransi dan mengalah. Yach iyalah bu.Namanya bermesraan mau koma mau sadar mana mungkin lupa.hehehe.
"Jadi gimana,dari tadi belum jawab pertanyaan abang?" Derin kembali ke topik yang sempat belum terbahas dan terjawab.
"hm...harus dijawab sekarang yach?" Meila tersenyum pura-pura malu-malu meong.Melihat itu Derin jadi ikut tersenyum lebar.
"Yach iyalah.Ntar keburu mati abang!" jawabnya. "Masak ia tahun depan," seloroh Lee.Meila tertawa
"Aduh janganlah Bang.Jangan gitu ngomongnya.Seram pakai kalimat mati-mati segala," Meila merajuk. Bibirnya mayun. Derin tertawa melihat Ekspresi manja Meila. Dicubitnya gemas pipi gadis itu dengan tangan lemahnya.
"Maka nya jawab sekarang, biar jangan sampai Abang mati karena penasaran."
Meila berkata, "Aduuh harus yach. Ada-ada aja abang Derin nich." ujarnya sambil garuk-garuk kepala kayak orang ketombean berat.
Derin masih tersenyum bahagia, dielusnya rambut gadis itu. "Kamu yakin kan Mel?" Ia berusaha memastikan lagi.Dengan berat Meila menganguk sambil Ia paksakan tersenyum semanis-manisnya demi menyakinkan Derin. "Ini demi penyembuhan Derin. Apapun harus kulakukan." ujarnya mantap. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Gadis itu berpikir seiring waktu Ia akan bisa memperbaiki segalanya, karena Ia tidak tega menolak cinta orang yang baru kembali dari kematiannya. Yach koma kan beti-beti dikitlah sama mati.hehehe.
Sementara ditempat berbeda Lee sudah tiba di Ibukota. Hatinya begitu berbunga mengingat Ia berhasil menyatakan cinta pada Gadis yang masih muda itu. Ia sudah mengunjungi kantornya di kota tersebut. Kini Ia sudah kembali kerumahnya. Sebuah rumah yang megah.Memang itu adalah rumah tetapnya karena letaknya di Ibukota, sedangkan yang letaknya di beberapa Provinsi adalah apartemen-apartemen yang sebagian Ia sewa namun sebagian besar adalah miliknya.
Saat mengingat betapa banyaknya Ia memiliki Properti dan Ia juga pengusaha dibidang Properti. Lee tersadar kekasihnya tinggal dirumah indekos. "Kasihan dia, apakah perlu kuberikan satu rumah untuknya?" Lee menimang-nimang kira-kira Meila bakal menerima apa tidak. Sejenak Ia mikir,mungkin Gadis itu tidak akan menerima jika mereka baru saja berpacaran seperti itu. "Ah..biarlah besok-besok aja, kala kami udah lama pacaran. Biar dia ngk tersinggung pula," gumannya dalam hati. Dalam lamunannya Ia berpikir kira-kira Gadis itu sedang apa. Sambil berbaring di kasurnya yang nyaman dan empuk Ia raih ponselnya. Lee senang begitu tersambung dan terdengat suara Gadis yang dirindukannya diseberang sana.
Rupanya saat asik berbincang sambil sedikit bermesraan dengan Derin yang masih terbaring diranjang rumah sakit, ponsel Meila berbunyi. Sejenak Ia abaikan, namun Derin menyuruhnya untuk mengangkat. Ia enggan, tangannya gemetaran. Ia tidak biasa berbohong, tapi supaya Derin tidak curiga Ia angkat dan sambil menjawab Ia permisi pada Derin untuk keluar. Meila berusaha tenang menjawabnya dan pura-pura santai aja cara jawabnya. Apalagi Ia biasa memanggil Lee dengan kata Kakak. "Ia kak. Sudah sampai yach?" ujarnya sambil keluar dari kamar rawat Derin. Ia hanya menundukkan sedikit kepalanya kepada Derin tanda minta diberi izin keluar ruangan. Derin menganguk tanda setuju. Dalam hati Derin sedikit binggung, mengapa menjawab telpon Kakaknya harus keluar ruangan segala. "Yach sudahlah, mungkin itu omongan yang penting," gumannya dalam hati.
__ADS_1
Sementara Meila dan Lee.
"Kok masih manggil Kakak sih?" tanya Lee. Ia merasa binggung kok ngk ada perbedaan pacaran sama temenen.hehehe. Meila menjawab, "Trus maunya dipanggil apa?" Mendengar itu Lee tertawa.
"Panggil sayang kek,honey kek,pokoknya yang sweet-sweetlah," ujarnya lagi masih dengan mimik senyumnya. Mendengar itu Meila ikut tersenyum.
"Aduh,gimana ya kak belum terbiasa," ujarnya lagi.
" Tuh kan! Kakak lagi!" protes Lee.
" Ia...ia Maaf...!" ujar meila, "trus panggil apa yach?" tanyanya sambil garuk-garuk lehernya yang sebenarnya ngk gatal tapi karena merasa binggung.Kebanyakan garuk-garuk nich si Meila kala lagi pusing.
"Ya udah panggil Hon aja. Honey!" ujar Lee diseberang sana.
"Oke..Oke..." jawab Meila.
Lee protes, "Loh kok belum disebut Honeynya?"
"Ayo bilangin dunk!" Lee sok manja. Meila keringat dingin,karena tiba-tiba Ibu Derin mendekat kearahnya.Ntah darimana Wanita sangar itu tiba-tiba muncul.
"Ayo dong Hon panggil begitu donk" rajuk Lee.
__ADS_1
"Meila lagi sama siapa nich?" Lee jadi curiga karena Ia merasa seakan-akan Meila berat untuk memanggilnya dengan sapaan sayang layaknya orang berpasangan. Merasa dicurigai Meila buru-buru menjawab
"Baik...baik Hon," ujarnya terbata-bata. Ibu Derin yang mendengarnya menyipitkan matanya.