
Hari sudah pagi. Matahari tersenyum dan keluar dari peraduannya. Meila bangun dengan tersenyum mengingat kisah manis malam tadi ia bertemu dengan tiga pangeran kodok yang sama-sama tampan.Yach kira-kira disebut pangeran kodok ajalah yach.Habis merasa kayak di dunia dongeng aja. kw...kwkw...
Mengingat-ingat sosok ketiganya Meila seperti tenggelam diantara mereka yang tinggi rata ratanya mungkin diatas 175 cm. Sementara meila adalah gadis mungil yang tidak terlalu tinggi. Ngk apa-apa deh sedikit pendek yang penting banyak peminatnya. Celotehnya girang di dalam hati. Ia masih saja mengingat-ingat betapa serunya bertemu dengan Lee, Bastian,dan Lian malam minggu itu. Mereka main di Time Zone bareng seperti anak kecil.Semua game mereka coba
"Mungkin masa kecil mereka kurang bahagia kali," ujar Meila dalam hati. Ngk sadar juga kala masa kecil dia juga yang kurang bahagia.hahaha...
Meila masih tertawa mengingat-ingat betapa lucunya sosok Bas dengan Lian.Yang sering berkelakar aneh dan sering sahut menyahut berdebat. Lee yang paling cool diantara mereka.Trus Meila mikir sepertinya ke dua temannya agak takut pada Lee. "Mungkin dia sekaligus atasan mereka" pikirnya.
Meila memutuskan menyelesaikan minimal satu Bab dulu skripsinya sebelum pergi kerumah Derin menghadiri pesta Ultahnya. Derin sudah janji mau jemput dia sekitaran jam 10.00 Wib. Meila melihat jam di dinding.Masih banyak waktu untuk mengerjakan skripsinya. "Bagaimanapun aku tidak boleh lupa sama tujuan utamaku kesini" guman Meila dalam hati. Sambil sudah tenggelam dan asik dengan laptop dan buku-buku refrensinya.
☆☆☆
Meila sudah berdandan cantik dengan dress mermaid Pink pastel yang membalut tubuhnya. Rambutnya digerai dan memakai lipstik merah muda juga.Derin yang menjemputnya dibuat terkagum-kagum akan kecantikan Meila yang beda dari biasanya.Biasanya gadis itu hanya memakai celana jeans panjang dengan atasan kemeja atau kaus saja.Kadang-kadang memakai blazer bila pergi kuliah.Kali ini sangat berbeda. Angin nakal dari pepohan rindang rumah kosnya juga mempermainkan rambutnya. Ia begitu terlihat segar sekali.
"Sudah siap Tuan Putri yang cantik" Ujarnya sambil mengecup telapak tangan Meila.Gadis itu terkejut tapi mukanya bersemi merah muda. Menambah gemas yang melihatnya.
"Kamu cantik sekali. kamu beda hari ini Mel" ujarnya menggoda gadis itu.Meila hanya bisa tersenyum saja.
"Ngombal banget sih" Ngerutunya.
"Yuk cepat pergi! Meila segera menarik tangan Derin.Takut mereka dilihat Ibu kos nya.Ntar wanita itu ngarep banget.Kwk...kwk...Apalagi kala ngk berharap dibawain sesuatu. Dia pikir kali beli makanan itu pakai daun kali,hahaha...Apalagi Derin kan masih baru selesai Kuliah masih Koas lagi. Meski dia anak orang kaya bukan berarti juga bawa upeti tiap hari. Meila...meila
.Parno banget sih sama Mak kostnya.hahaha...
Sementara Derin ketawa aja ngelihat Meila menariknya sambil celingak-celinguk kesana kemari. Seperti orang habis maling aja.
"Ntar kala Meila bertampang siaga satu ngitu orang-orang jadi curiga loh sma kita.Ntar kita dikira maling lagi" Canda Derin begitu tiba di dalam mobil. Meila tersenyum malu menyadari Derin melihat gelagatnya.Ia pura-pura mengalihkan ke topik lain.
Meila bercerita jika ia takut ketemu orang tuanya Derin.Derin menenangkannya dengan mengatakan kala keluarganya orang-orang yang menyenangkan.Mereka orang-orang sopan yang ngk terbiasa menggunakan kata-kata kasar.Jadi Meila bakal aman disana. Mendengar itu Meila sedikit lega meski tetap saja jantungnya dag...dig...dug...kya mau lepas aja.
Mereka sudah tiba di rumah.Derin memperkenalkan Meila kepada kedua orangtuanya.Kakaknya dan juga adik perempuanya.Mereka menjabat Meila dengan No ekspresi. Meila heran kenapa ada keluarga yang satu rumah tampangnya No ekspresi ngitu.Dibilang ekspresi ngk suka.Ngk juga.Ekspresi marah,ngk juga. Yach ekspresi dingin dan datar aja ngitu.Meila menerka-nerka mungkin memang mereka kurang suka.
__ADS_1
"Derin sini sebentar" Mamanya memanggil ke dapur. Derin pamit sebentar kepada Meila.Tinggalah gadis itu duduk sendiri mengamati tamu-tamu lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Ada beberpa teman-teman dekat Derin yang diundang. Mereka membentuk gerombol atau geng di meja yang lain.Mereka asik membahas masalah yang ngk jauh-jauh dari dunia medis. Meila betul-betul merasa asing ditengah-tengah mereka.Tapi ia usahakan senyaman mungkin dan tetap tersenyum manis.
Derin telah berjalan ke arah dapur menemui mamanya.
" Apa dia itu pacarmu nak?" tanya Mamanya menyelidik.
" Ngk Ma,masih Teman" ujar d
Derin menjawab mamanya
"Masih?Berarti kamu ada niat menjadikan dia pacar kan?" ujar Mamanya lagi khawatir.
"Mama mohon Nak.Kamu fokus dulu sama Koas kamu yach, Kamu juga jadi sering kluyuran sampai malam-malam.Kamu sekarang jadi berbeda.Ngk seperti anak mama yang dulu. Kata teman-teman kamu juga kamu kerjanya kurang Fokus" Mamanya memandangnya dengan sedih. Derin tersentak,dari mana Mamanya tahu tentang Meila. Apa mamanya memata-matainya.
"Darimana mama tahu tentang Meila?" tanyanya.
" yach tahulah Nak. Yach mama cari tahulah mengenai anak-anak mama sendiri." Tutur mamanya lagi.Derin terdiam.Ngk nyangka mamanya rupanya ortu yang posesif.
"Tapi Meila ngk ada hubungannya kok ma, aku aja yang mungkin kurang mampu mengikuti koasnya" ia masih berusaha membela Meila.Tidak terima gadis itu disebut-sebut sebagai penyebab jatuhnya nilai-nilainya yang karena kurang fokus dalam masa pendidikan Profesinya. Mendegar itu Mamanya hanya bisa tersenyum kecut.Ia merasa kasihan sama anak laki-laki semata wayangnya itu.
" Jadi alasannya karena nilai ku ma?" tanya Derin menyelidik, "Jika nilaiku baik-baik saja, Mama ngk masalah kan?" tanyanya lagi.Mamanya menghela nafas.
"Tetap aja ngk boleh.Kamu boleh pacaran asal kuliahmu tetap oke, tapi tidak dengan dia nak, Dia itu mungkin sudah punya pacar" kata mamanya sambil menunjuk Foto-foto Meila dari hpnya. Derin terperanjat melihat Meila dengan tiga orang pria-pria kekar yang rata-rata brewokan.Mereka tampak bahagia makan dan minum bersama disebuah resto.
Derin meminta hp mamanya demi melihat dengan jelas siapa wajah gadis ity. Memastikan betul-betul.Teryata memang benar dia Meila.Sejenak hatinya terpukul.Ia ngak menyangka Meila bisa bersama dengan pria-pria yang dewasa itu.
" Darimana mama dapat fotonya" tanyanya menyelidik. Belum mamanya menjawab seseorang gadis muncul ke arah mereka.Dia adalah Bella teman akrabnya sejak kecil hingga kuliah pun mereka masih tetap bersama.Sama-sama kuliah di Fakultas kedokteran itu.
"Aku yang kasih ke Tante!" ujarnya, "kamu kira temanmu itu sepolos yang kamu kira.Jangan-jangan dia ayam kampus lagi." ejek Bella gamblang membuat Derin mengangkat kepalanya melihat tajam ke arah Bella yang menurutnya terlalu lancang jika berbicara.
"Uuups! maaf!" Bella menutup mulutnya sok imut.
__ADS_1
" Jaga bicara mu Bell.Pokoknya Kamu harus menarik kata-katamu itu.Meila ngk seperti itu.Mungkin aja itu teman-temannya di organisasi di luar kampus.Siapa tahu juga mereka saudara-saudaranya".Derin berusaha membela.
" Sudah! sudah! jangan ribut.Yang penting derin sudah tahu siapa gadis itu sebenarnya".ujar mamanya melerai mereka
"Sumpah ma.tapi dia gadis yang baik kok"dia masih berusaha memperbaiki citra si gadis Meila.
Apapun yang ia katakan tidak mampu membuat mamanya menarik kata-katanya.
"Aku mengirimnya ke Tante dari Wa.Kemarin malam minggu itu aku kebetulan disana. yach kufoto aja sekalian" ujar bella gampang sambil senyum penuh kemenangan.
Derin masih terdiam mencoba menenangkan hatinya, lalu ia pergi meninggalkan Bella dan mamanya.
Acara pesta sudah usai. Derin mengantar Meila kembali pulang kerumah kosnya.Derin tidak bersemangat.Ingin rasanya ia menanyakan semua itu pada Meila, tapi Ia enggan.Ia memutuskan akan melakukan dengan caranyanya sendiri untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.
" Tunggu sebentar yach Bang Derin" Ujar Meila. begitu mereka sampai di depan rumah kosnya.Tadi ia belum sempat memberikan kado yang telah ia persiapkan sebelumnya untuk Derin.
"Ada apa?" Derin mengeryitkan keningnya heran.Gadis yang ditanya malah sudah berlari ke dalam kos dan tidak lama kemudian ia sudah kembali membawa Paper bag di tangannya
"Apa itu?" tanyanya. Meila lagsung meyodorkannya.
"Ini hadiah kecil aja.Silahkan dibuka,semoga suka yach Bang" ujarnya sok manja.Derin berterimakasih buat kado yang Meila beri.Ia periksa sebuah kemeja bewarna biru laut.
"Ngak tahu ukurannya pas apa ngk.Aku hanya menerka-nerka aja" Celotehnya lagi masih dengan senyum menghiasi bibirnya.Berharap lelaki di depannya itu suka.Derin menganguk tanda suka.Ia tersenyum senang teryata Meila perhatian padanya.
"Makasih ya mel, Aku akan sering memakainya." ucapnya sembari tersenyum dan memegang telapak tangan Meila.Meila menghela nafas lega dan ikut tersenyum.Teryata Derin menyukai kado kecil pemberiannya.Setelah mereka mengobrol sebentar Derin pun berpamitan pulang.
Meila masih melambaikan tangan padanya dan Ia siap-siap hendak melajukan mobilnya hendak pergi dari sana ketika tiba-tiba ada mobil lain yang datang menepi. Seorang laki-laki jangkung turun dari mobil dan memanggil Meila kencang.
"Meilaaaaaa!" Teriaknya girang masih di dalam mobil.Meila melihat siapa yang menyapanya.Laki-laki itu turun dan sedikit berlari kecil ke arahnya yang masih mematung di pintu pagar rumah.
Seketika itu muka Meila memucat.Melihat kearah Derin yang belum pergi dari sana
__ADS_1
Derin hanya tersenyum kecut ke arah Meila.Senyum yang penuh tanya dan dipaksakan. Rasanya ia ingin turun dan menayakan siapa Pria itu lagi tapi ia enggan karena ia sudah berada di dalam mobil.Pria itu bukan yang ia lihat di foto yang diperlihatkan Mamanya tadi ketika dirumahnya. Derin merasa malu untuk turun hanya buat menanyakan semua itu jadi dia memutuskan pergi dari sana dan meninggalkan Meila yang masih memandang kepergiannya.
☆☆☆