
Farrel menelepon Meila dalam kondisi setengah mabuk dari Kota Soul Korea.Meila tidak mengenal nomor ponsel yang meneleponnya.Tertera kode luar buka +62. Saat mengangkat telepon itu Ia terkejut karena itu suara Farrel.Sepertinya Ia dalam keadaan mabuk. Meila menanyakan mengapa Farrel menelepon hampir ditengah malam,tapi Farrel tidak menjawab. Ia hanya mengatakan jika Ia sangat merindukan gadis itu dan Ia sangat berharap Meila ada disana saat itu. Ia juga mengatakan Korea sangat indah dan romantis.Ia berharap untuk kedepan Meila dapat mengurus Visanya dan ikut bersama dia kesana.Meila mendegar antara percaya antara tidak.Ia saja belum pernah trip keliling Negerinya apalagi sampai melancong ke Korea.Negeri para oppa-oppa ganteng.Hehehe
"Jangan melantur kak.Kakak mabuk yach?" Sejenak ia menyadari bahwa pria diseberang sana sepertinya melantur dan mengajaknya bukan dalam kesadaran.Entah kenapa ia agak jantungan sendiri.Mungkin karena harap-harap cemas dan sesungguhnya berharap ajakan itu dibuat dalam keputusan yang sadar.
"Ia Mel,Aku ngk mabuk.Mau kan?" ujar Farrel.Lalu Ia berkata jika mereka membawa Mamanya si Ibu Miska ke Jakarta disana sekalian Ia mengajak mereka mengurus Visa ke Korea.
"Jadi Ibu ikut?" tanya Meila.Sejenak Farrel berpikir bahwa itu tidak akan romantis diantara mereka.Namun Ia takut gadis itu menolak.
"Tentu saja karena itulah aku mengajakmu juga," ujarnya. Mendegar itu Meila kegirangan.Sekira Ia tidak merasa Farrel memiliki niat aneh.Dasar Meila polos amet.Sekiranya Farrel menelepon jauh-jauh dari sono dan mengatakan jika Ia merindukannya dan ingin Ia ada disana aja itu sudah terdengar aneh.Eeh yang ada Ia malah salah Fokus.Yang dipikirkannya justru tawaran pergi ke Koreanya.hehehe
"Kamu tidak usah merasa gimana ya Mel,aku hanya menganggapmu Adik," ujarnya lagi Pria itu tiba dalam sebuah kesadaran takut Meila menghindarinya.Meila yang mendegar merasa lega. Terjawab sudah rasa penasaran yang kadang-kadang menghantuinya.Yach sekiranya Ia bisa lega.Ia bisa Fokus mengurus Derin yang masih dirumah sakit dan juga Lee.Memikirkan mereka berdua saja sudah membuatnya pusing karena sekarang keduanya menyandang status sebagai pacarnya.Kini Ia harus mencari alasan kepada Derin agar bisa meninggalkan Pria itu sebentar.Ngak lucu kan mengatakan beberapa hari lagi Ia ke Jakarta untuk bersenang-senang atau meskipun jika Ia mengatakan akan menemani seorang Wanita tua buat melancong.
Pembicaraan Meila dan Farrel akhirnya selesai.Farrel merasa kesal pada dirinya sendiri karena belum bisa menunjukkan perasaannya kepada Meila.Ia teringat juga akan Desi.Kekasihnya yang sudah bertahun-tahun menjadi pacarnya.Meski sudah hampir lima Tahun pacaran Ia belum pernah mengajak Desi ke Korea walaupun secinta apa dia selama ini pada Gadis itu.Sementara Meila baru beberpa waktu Ia kenal.Ia sudah berniat membawa Wanita itu melancong kesana. Ia merasa binggung akan perasaannya itu.Sekarang setelah Meila punya pacar Ia semakin paham apa yang Ia rasakan.Yach sepertinya Ia sangat cemburu.Selama ini Ia berpikir hubungan mereka berjalan alami saja seperti Ia mengangap Meila adalah gadis kecil yang lucu yang tanpa sengaja hadir dalam kehidupannya karena Ia adalah sahabat dari Mamanya.Rupanya sekarang Ia menyadari perasaan itu teryata Lebih.
__ADS_1
***
Beberapa hari menjelang keberangkatannya ke Jakarta Meila menemani Derin dirumah sakit.Pria itu sudah berangsur-angsur pulih.Ia sangat bahagia bila Meila datang menemuinya. Ia minta setiap pagi Meila dapat menyempatkan waktu menemaninya agar Ia bisa menghirup udara pagi ditaman Rumah sakit.Meila menyanggupinya.Mereka selalu berjalan-jalan bersama sambil Meila mendorong kursi roda rumah sakit yang diduduki Derin. Mereka tertawa-tawa saling bercanda.Semakin Meila berusaha untuk menghindarinya ternyata semakin erat hubungan diantara mereka.
"Mel, aku sangat dan sangat mencintaimu." Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulutnya.Meila yang lagi asik mengamati bunga-bunga sambil menyeruput kopi panas kemasan yang baru Ia beli dari Toserba sebelum menemui Derin hampir saja tersedak.Kopi tersebut hampir saja membakar tenggorokannya karena ia terkejut.Derin heran mengapa Meila begituterkejut.
"Sorry...sorry yank" ujarnya masih galau harus mengatakan panggilan sayang.hehehe.habis Derin tidak mau lagi dipanggil abang atau kakak atau apalah itu sejak mereka resmi pacaran.Ia mau Meila harus memanggilnya ayank atau honey lah (hahaha Meila merasa itu sangat berlebihan alias lebay).Namun apa boleh buat Pria itu tetap ngotot begitu.
"Kenapa Meila kayak kaget sih?" Derin binggung.bukankah mereka udah berpacaran jadi wajar kan Ia mengatakan seperti itu.Meila kembali memperbaiki suasana.Ia mengatakan hanya tadi kurang fokus dan agak memikirkan masalah kuliahnya.Derin merasa lega dan Ia kembali mengulangi kalimatnya jika Ia memang sangat dan sangat menyukai suasana seperti ini.Mereka bisa berjalan bersama setiap pagi sampai memiliki anak cucu kelak.Meila mencoba mencerna hayalan halu Derin.Bagaimana mungkin bisa menikmati pagi setiap hari sambil berjalan-jalan ditaman seperti itu.Memangnya kedepan mereka akan menjadi pengangguran (hahaha). Mendegar itu Meila protes.
"Ia juga yach." pikirnya.
"Kamu akan menjadi Dokter yang hebat yank.Yang akan melayani banyak Pasien.kamu akan sibuk dirumah sakit.Aku juga akan menjadi Wanita karir yang sibuk dengan pekerjaan atau proyek-proyekku" ujar Meila ikutan halu membayangkan kira-kira seperti apa masa depan mereka selepas dari mengenyam dunia pendidikan ini.Kali ini Derin juga mencernanya dan kali ini Ia juga protes.
__ADS_1
"Jadi kamu ntr sibuk dong ninggalin aku trus?" protesnya, "trus kapan kita ketemunya dan bisa bermesraan ditaman kayak gini?" ujarnya lagi dengan mimik cemberut membayangkan masa depan yang dipikirkan Meila. Mendegar itu Meila tertawa dan mereka pun terpingkal-pingkal, sama-sama tertawa menyadari kekonyolan mereka yang meributkan masa depan yang belum nyata.
Tak jauh dari mereka dari balik tiang penyangga teras rumah sakit Ibu Derin mengamati mereka.Ia masih bisa mendegar percakapan anaknya dengan gadis itu.Mereka sangat mesra, duduk berhadapan.Meila dikursi taman dan Derin dikursi rodanya.Ia memperhatikan terus jika tangan anaknya hampir terus mengenggam tangan gadis itu.Matanya berbinar-binar setiap menatap gadis tersebut.Ia menyadari jika anaknya benar-benar sangat mencintai gadis itu dan dari percakapan itu Ia bisa menarik kesimpulan jika anaknya ingin gadis itu bersamanya untuk waktu yang lebih panjang atau mungkin selamanya.Namun Ia menepis kegaduhan hatinya dengan berpikir itu hanyalah perasaan sesaat karena lagi kasmaran baru berpacaran. Nantinya Ia akan berupaya keras memisahkan mereka.Entah kenapa Ia tidak sudi kelak memiliki menantu gadis itu.Ia berharap anaknya bisa menemukan yang lain sekiranya seorang calon dokter.
Akhirnya Meila memiliki moment yang tepat untuk mengatakan jika Ia hendak ke Ibukota Jakarta.Namun Ia berbohong dengan mengatakan jika Ia akan mengadakan penelitian kesana.Mendegar itu suasana hati Derin yang tadinya baik berubah seketika.Ia sangat cemas.
"Berapa hari hon?" tanyanya khwatir jika sampai ditinggal lama-lama.Ia takut mati karena merindukan gadis itu.
"Cuma empat hari saja loh yank" jawabnya sambil mencubit gemes pipi Derin yang yang kini sudah berubah mimik tersebut. Mendegar empat hari saja Ia merasa udah kayak empat Tahun aja.(hehehe)Biasa lagi kasmaran.
"Oke ngk apa-apa" jawab Derin menyadari yach semua itu kan demi kuliah dan masa depan kekasihnya.Ia harus berjiwa besar.Masa ditinggal sebentar saja harus rewel. Ia merasa seperti suami yang bakal galau kala ditinggal istrinya untum Dinas keluar kota. Kira-kira begitulah bayangan halunya.hehehe
Meila lega Derin tidak banyak tanya maupun curiga.Dalam hati Ia heran juga mengapa setelah menyandang gelar pacar, Derin berubah menjadi manja dan mau menempel terus. "Huuh! berat juga menyandang status pacaran nech" keluhnya dalam hati.Namun Ia tidak bisa melakukan apa-apa,hanya itu yang bisa Ia lakukan agar Derin cepat pulih. Toh ia juga merasa bersalah dan ikut andil dalam penyebab kecelakan Pria tersebut.Jadi Ia terpaksa harus menjadi kekasihnya dan berharap ntar bisa putus secara alami.
__ADS_1
***