
Setelah memastikan Sella kembali ke apartmen dengan selamat, Ozan buru-buru kembali masuk ke dalam mobil, ia tidak mau ada seorang pun yang curiga padanya. Duduk dibalik kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobil. Tanpa sengaja, ia melihat siluet wanita yang sepertinya tidak asing masuk ke apartmen.
Jemari Ozan mengetuk-ngetuk stir, mencoba mengingat siapa wanita yang memakai rok mini tersebut. Tidak lama kemudian wanita itu kembali bersama Sella menuju bangku taman.
"Sial!" geram Ozan mengingat wanita itu tidak lain mantan sekretaris Leon yang sempat mencoba berbuat curang dan merayu Mark. "Sejak kapan mereka saling kenal?" Ozan mematikan mesin mobil dan cepat-cepat mengendap-endap mengikuti Samantha dan Sella.
"Sebaiknya aku hubungi Tuan Mark saja!" Ya, Mark selalu berpesan untuk selalu menghubunginya jika ada sesuatu yang mencurigakan.
Masih di rumah sakit. Tapi, pikirannya ada di tempat lain. Mark sangat menyesal sudah membuat Sella takut padanya. Harusnya tidak begini, harusnya ia tetap mencoba percaya pada wanita itu, agar tetap bisa menjaga komunikasi mereka.
Katerine tidak main-main, menurut dokter ia memang sengaja menyayat nadinya. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan. Kini, wanita itu sudah tidur pulas di tempat tidur pasien.
Mulut Mark terasa kecut ia memutuskan keluar ruangan agar bisa menikmati sebatang rokok.
"Tuan mau pergi ke mana?" Salah satu pengawal Nico berusaha menghentikan Mark.
"Bukan urusanmu!" Mark tidak perduli, ia tetap melangkah panjang keluar dari gedung rumah sakit. Belum sempat menyulut api, dering ponsel menarik perhatiannya.
"Ada apa?" tanya Mark memulai percakapan mereka.
"Wanita itu di sini, Tuan! Dia ada di apartmen Nona Sella."
Mark mengernyitkan dahi kedua alisnya pun hampir menyatu. "Wanita yang mana?"
"Samantha--
"Awasi dia! Ikuti kemanapun dia pergi. Jangan sampai kehilangan jejak!" Mark memotong ucapan Ozan.
"Sepertinya wanita itu sedang berdebat dengan nona Sella. Ntah apa yang mereka bicarakan sampai nona menampar wanita itu, Tuan!"
"Mau apa dia?" Mark geram setengah mati, dalam keadaan seperti ini tiba-tiba teringat Leon dan segala tingkah lakunya. "Tetap awasi wanita itu, aku segera kesana!"
Perasaan Mark gelisah tidak menentu. Hingga akhirnya ia melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi.
Sementara Ozan, dari jarak cukup jauh ia mengikuti Samantha tanpa tahu kalau ada orang lain juga mengintai Sella.
***
__ADS_1
Keringat dingin sebesar biji jagung sudah memenuhi kening Sella. Wanita ini tetap berusaha melepaskan diri dari cengkraman Leon.
"Aku mohon jangan lakukan ini padaku!" pekik Sella, air matanya lolos begitu saja, ia berusaha menendang kaki dan perut Leon tapi, pria ini tidak terpengaruh malah semakin menyentuh sebagian tubuhnya yang lain.
"Percuma melawan, kau tidak akan bisa lepas dariku. Mulai malam ini kau akan resmi menjadi milikku seorang!"
Leon sudah mahir melakukan hal seperti ini, perlawanan Sella membuat na*sunya semakin menggelora, ia mendekatkan wajahnya di leher Sella, menghirup aroma wangi, mencium dan mencoba menghisap dan membuat tanda kemerahan di sana.
"No! Jangan lakukan itu, Leon!" Dengan sekuat tenaga ia menarik satu tangan hingga terlepas dari cengkraman Leon. Sella menjambak kuat rambut Leon sampai bibir pria ini menjauh dari lehernya.
Leon terkesiap dan melepaskan tangan Sella. Akhirnya dengan kecepatan kilat ia robek dres wanita cantik ini hingga menampakkan kain penutup dadanya yang sintal. Mata Leon semakin betah melihtnya.
"Menjauh dariku!" Sella mendorong dan menendang Leon. Hingga ia berhasil menjauhi pria ini. Sella berlari menuju pintu tapi rambutnya ditarik dari belakang.
"Jangan paksa aku untuk menyakutimu!" teriak Leon, ia menghempaskan Sella hingga kening wanita cantik ini terbentur lantai.
"Akhh!" Sella memegang kening yang sudah berdarah, ia kembali menghadap Leon. "Kenapa kau lakukan ini padaku?" Sella meringsuk mundur hingga dresnya tersingkap menampakkan pahanya yang mulus.
"Aku cuma mau kau menjadi milikku, percayalah aku tidak akan bermain dengan para ****** lagi jika kau bersedia menjadi milikku!" Leon memegang kaki Sella dan menindihnya. Jemari Leon bergerak cepat menyentuh permukan kulit Sella.
"Jangan! Aku mohon jangan!" Sella semakin ketakutan ketika Leon sudah bertelanjang dada. Pria ini mendekati wajah dan mencoba mencium bibirnya lagi. "Tolong! Mmmm!" Sella melipat bibir, sementara Leon meremas dadanya lagi. "No please, akhh!" Sella kesakitan sebab tangan Leon sangat menyakitinya.
Darah Mark mendidih melihat Leon menguasai tubuh Sella. Tangannya mengepal kuat tidak sabar untuk membunuh pria bajingan ini. Mark berjalan cepat dan menarik Leon.
"Brengsek! Beraninya kau sentuh dia!!" teraiakan Mark semakin membuat Sella menangis. Sementar Leon terkejut dibuatnya.
Bug! Bug! Bug!
Raut wajah Mark memerah, urat-urat halus sudah menghiasi wajahnya. Mark menghajar Leon membabi-buta.
Mata, wajah, perut menjadi sasaran Mark, kedua pria ini terlibat baku hantam. Leon memukul wajah Mark hingga ia tidak sengaja menoleh dan melihat darah di kening Sella.
Sella sudah meringkuk di dekat rak televisi, ia menangis dan memeluk lututnya sendiri.
Mark semakin marah, ia menarik kaki Leon dan menjatuhkannya hingga terbaring di lantai. Mark dengan cepat menindih dan menghajar Leon.
"Ini karena kau sudah berani menyentuhnya!"
__ADS_1
Bug!
"Ini karena kau membuatnya takut!"
Bug!
"Ini karena kau sudah membuatnya menangis!"
Bug!
"Ini untuk luka dan darah di keningnya!"
Bug! Bug! Bug!!!
Mark semakin kesetanan tidak perduli meskipun saat ini lawannya sudah terkapar dan tidak berdaya. Dua orang polisi baru tiba dan memisahkan mereka.
"Lepas! Biar aku habisi pria brengsek ini!" teriak Mark, napasnya menderu tidak menentu.
"Tenanglah, Tuan! Biarkan polisi membawanya!" Ozan beruntung kembali tepat waktu membawa polisi. Jika tidak sudah dipastikan jasad Leon yang akan keluar dari sini.
"Sial!" umpat Mark, ia kembali melihat Sella, seketika emosinya menjadi reda. "Bawa dia!"
Polisi membawa Leon untuk di introgasi di kantor pilisi. Ozan ikut mengawal kasusnya.
Sella masih menangis, merunduk dan gemetaran. Mark pun mendekatinya.
"Jangan sentuh aku!" Sella menepis tangan yang hampir menarik dagunya.
"Tenanglah, ini aku," jawab Mark, menghembuskan napas dalam seakan merasakan ketakutan yang dialami Sella.
Sella mengangkat kepala. "Kalian berdua sama saja...." Ntah mengapa Sella teringat kejadian beberapa tahun yang lalu dan itu semakin membuat tangisannya pecah.
Mark sekilas memejamkan mata, sudut matanya mulai basah melihat dres Sella rusak akibat ulah Leon.
"Maaf ... maafkan aku." Mark membuka jaket dan menutupi tubuh Sella yang terbuka. Tanpa permisi pria ini menarik bahu Sella dan memeluknya. "Tolong maafkan aku," lirih Mark lagi.
Sella semakin menagis, ia sudah sangat lelah dan lemah. "Aku takut ... aku takut."
__ADS_1
"Ssstttt ada aku di sini." Mark semakin mengeratkan pelukannya.