
Suasana di luar Restoran sempat tidak kondusif aman, para pengunjung ikut berhamburan ketika pekerja malam dan pengawal Niko terlibat kejar-kejaran. Kejadian ini menarik perhatian para awak media yang langsung meliput lokasi kejadian. Malam itu beberapa mobil polisi dan ambulance pun siaga di tempat. Polisi sekitar langsung mengamankan lokasi agar tidak ada warga sipil yang menjadi korban.
Anak buah Niko banyak yang diringkus polisi. Tidak sedikit pula dilumpuhkan di tempat menggunakan senjata api hengga tewas bersimbah darah. Suasana malam itu kian mencekam, hujan lebat membuat darah bercampur air hingga bau anyir semakin tercium kuat.
"Raise your hands!"
"Raise your hands!"
Tidak ada satupun orang yang bisa lolos dari kejaran polisi. Mereka pasrah mengangkat tangan dan digiring ke kantor polisi. Hal yang paling mengejutkan adalah ternyata tempat ini sudah lama beroperasi.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan masih sahut menyahut, tidak terhitung berapa mayat yang berserak di sana.
Kejadian di luar belum seberapa dibandingkan kericuhan di dalam. Niko berdiri tidak jauh dari Rossella. Muncung pistol yang dipegang pria itu pun masih tertuju pada wanita itu.
Hanya satu kali menjentitkan jari, sudah dipastikan wanita itu akan merenggang nyawa di tempat.
Mark memberikan isyart lewat pergerakan jemari tangannya. Hingga saat itu juga Ozan menendang pistol yang tadi ia jatuhkan kearah pria tersebut. Hanya satu kali gerakan, Mark membungkuk dan mengambil pistol berisi amunisi terbaik yang pernah ada.
Dor!
Benar saja Niko melepaskan anak timah itu kearah Sella. Sella tidak bisa menghindar, sebab ia terhimpit dinding dan berdiri diantara para tawanan yang dibebaskan Mark.
Dor!
Disaat itu juga Mark berlari kearah Rossella dan menembak dada Niko hingga mengenai jantung pria itu, seketika tubuh Niko ambruk bersimbah darah. Niko tewas di tangan Mark.
"Akhhh!!!"
__ADS_1
Bruk!!!
Bukan cuma Niko yang merasakan timah panas itu. Demi menyelamatkan nyawa Rossella gadis yang sudah lama ia cintai. Mark rela menjadi tameng hingga timah panas itu berhasil melumpuhkannya.
"Mark!!!" Rossella histeris, ia melipat kaki dan meletakkan kepala Mark di atas pangkuannya. Bagaikan air sungai yang mengalir deras, air mata sudah membasahi wajah Sella. Wanita ini gemetaran melihat darah segar mengalir dari tubuh Mark.
"Mark! Bertahanlah! Buka matamu!" Sembari menangis ia mendekap dan memeluk tubuh Mark yang sudah terkulai lemas.
Mark masih sempat tersenyum melihat Rossella. Meskipun pandangannya terasa buram, pria ini tetap meraih tangan Rossella.
"Ak-aku i-ingiin mengakkhiri se-semua di pe-pangkuanmu," ucap Mark lirih, ia mencoba menahan sakit yang luar biasa.
"Tidak Mark, jangan akhiri semua ini. Bertahanlah, kita bisa mulai semua dari awal. Aku mohon maafkan aku. Aku mohon dengarkan aku, tetap buka matamu, Mark!!!!"
Sella semakin histeris, ia berharap semua ini hanya mimpi buruk. Rossella berharap dikehidupan nyata Tuhan akan menyatukan mereka namun, sentuhan Mark di pipinya membuat ia sadar jika apa yang terjadi memanglah nyata.
"Rossella ... ak-aku mencintaimu." Sudut mata Mark mengelurkan air mata hingga mata yang biasanya tajam itu terpejam bersamaan ia menjatuhkan tangannya dari wajah Sella.
"No! No please, buka matamu, Mark! Kumohon jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau jauh darimu, lagi! Buka matamu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!!!"
"Di sini!" Petugas polisi dan para medis membawa tandu dan mengefakuasi para korban termasuk Mark.
"Tidak! Dia masih hidup! Mark masih hidup!" Rossella memberontak, ia ditarik paksa sampai menjauh dari Mark.
"Anda bisa ikut ke rumah sakit, Nona!" seru salah seorang petugas medis dan mereka membawa tubuh bersimbah darah itu semakin menjauh dari Rossella.
Meskipun separuh nyawanya pergi tapi, Rossella tetap berlari keluar restoran mengejar Mark yang hampir dimasukkan ke dalam ambulance.
"Bertahanlah, Mark! Bertahanlah!" Rossella mencium seluruh wajah Mark yang sudah tidak bisa lagi merespon. Petugas medis tetap melakukan tugasnya dan membawa Mark ke rumah sakit.
Hujan semakin deras, Rossella terjatuh, terduduk, menyesal, histeris melihat ambulance semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Malam yang mencekam untuknya.
***
__ADS_1
Bukan cuma lokasi kejadian. Rumah sakit pun disterilkan dari para awak media yang meliput dan mencari informasi.
Masih memakai pakaian yang basah, Sella termenung, menangis tersedu dan duduk di koridor rumah sakit. Semua sudah terjadi.
"Ini salahku ... semua ini salahku." Rossella memukul dadanya yang terasa sesak, ia menjambak rambutnya dan sesekali membenturkan kepalanya di dinding.
"Andai aku percaya dan menurut padamu, semua tidak akan seperti ini. Tuhan ... selamatkan dia. Aku mohon jangan ambil Mark dariku. Biarkan kami bersatu atau ambil nyawaku juga... aku ingin bersamanya!"
Andaikan waktu bisa berputar kembali, ia tidak akan pernah pergi jauh dari pria itu. Rossella akan minta maaf dan mendengarkan apa yang akan dikatakan pria itu.
Tiga tahun ia memendam cintanya semasa SMA. Sembilan tahun lamanya ia pergi menjauhi pria itu dan kini, apakah mereka akan berpisah untuk selamanya? Rossella menangis hanya bisa menangis dan berdoa.
"Sella!"
Jessy dan Alexandre terkejut melihat berita yang disiarkan di televisi beberapa jam yang lalu, hingga memutuskan mencari Sella di semua tempat termasuk datang ke lokasi kejadian. Namun, mereka tidak menemukan Sella di sana, hingga akhirnya nekat datang ke rumah sakit.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Alexandre berusaha menenangkan Sella, ia ikut terpukul melihat kondisi Sella seperti ini.
Rossella tidak sanggup membuka mulut, bibirnya terasa keluh untuk berucap, ia hanya bisa menangis di pelukan Jessy.
Ozan menyaksikan semuanya dari jauh, bagaimana wanita itu histeris dan membenturkan kepalanya di dinding. Memang, Ozan tidak pernah mengenal Sella tapi, ia yakin kalau wanita itu pun mencintai Mark sama seperti Tuannya menyimpan cinta untuknya.
Ozan melangkah gontai mendekati Sella, membawa kotak yang baru diambil dari Villa milik Mark. Mungkin, ini waktu yang tepat menyampaikan pesan terakhir pria itu.
"Nona...." Tangan Ozan terulur memberikan kotak itu. Sella masih diam melihatnya. "Aku tidak tahu apa isinya. Tapi, aku tahu Tuan Mark sudah lama menyiapkan dan menyimpan ini untuk Nona. Bukalah...." ucap Ozan.
Sella berdiri dan menerima kotak yang masih tertutup rapat itu. Keningnya mengkerut memperhatikannya.
"Untuk apa dia menyiapkan ini? Kenapa baru sekarang? Kenapa bukan dia sendiri yang berikan padaku? Kenapa?" Suara Rossella nyaris tidak terdengar.
"Bukalah, Nona akan menemukan jawabannya." Ozan seperti tidak punya semangat lagi, ia duduk di lantai menatap pintu yang masih tertutup rapat.
***
__ADS_1
Besok kita buka kotaknya😌