Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Ozan Dan Vlora


__ADS_3

Harap bijak menyikapi bacaan. Cerita ini setting tempat di luar negri jadi mengikuti pergaulan di luar📣📣


"Tugasmu sudah cukup, Ozan. Pergilah menikah!" Mark berseru ketika mereka duduk di sofa yang sengaja disusun sedemikian rupa di atas rooftof. Semenjak Mark dan Rosella menikah tempat ini menjadi tempat favorit keluarga.


Mark sengaja membangun rumah mewah seperti istana untuk Rosella dan Marsell anak mereka yang sudah menginjak usia 7 bulan. Kehadiran Rose dan Marsel merubah kehidupan Mark yang dulunya urakan, tidak tahu aturan, asal menjadi lebih baik lagi.


Ozan menjentitkan puntung rokok ke dalam asbak, ia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan atau perintah yang keluar dari bibir Mark yang ntah sudah keberapa kalinya.


"Apa kau mau jadi bujangan selamanya?" Mark melemparkan bantal kepangkuan Ozan. Pria itu lantas melemparnya ke sembarang arah.


"Sudahlah, Tuan. Aku masih mau menikmati kebebasanku. Dimana tidak ada omelan atau kekangan dari seorang istri yang cuma bisa menuntut!" Ozan tersenyum remeh.


Mark mengangkat sebelah alisnya. "Kau menyindir siapa? Aku masih mendapatkan kebebasanku!" Mark bersedekap dada melihat Ozan.


"Tapi aku sering mendengar nyonya rumah marah-marah, Mark letakkan sepatumu di tempatnya, Mark dasimu tidak rapi, Mark jangan lupa makan siang, kau selalu begini, kau begitu dan masih banyak lagi." Ozan mengejek dan menirukan suara Rosella.


Mark tertawa mengingat Rosella yang memang lebih teliti darinya. Tapi, Mark sangat menikmati moment itu.


"Itu bentuk perhatian dan cintanya, padaku Ozan. Kau sendiri tahu sudah terlalu lama kami tidak saling bicara. Rasanya aku ingin setiap hari mendengar omelannya! Meskipun terkadang mulutnya seperti bebek!"


Mata Ozan membola melihat Rosella berdiri berkacak pinggang tepat di belakang Mark.


"Memang, terkadang kepalaku mau pecah mendengar suaranya yang nyaring itu. Bukan aku saja, aku yakin kalau Marsel bisa bicara dia pasti akan protes pada mominya!"


Mark bicara seperti berbisik. "Jangan menikahi wanita yang cerewet, kalau kau mau aku punya banyak koleksi wanita. Atau kau mau aku mengatur pertemuanmu dengan mereka? Bila perlu aku ikut denganmu. Kita dekati mereka satu persatu. Mereka cantik-cantik aku yakin kau pasti suka."


Tenggorokan Ozan terasa kering, tubuhnya mendadak kaku melihat tangan Rosella sudah terangkat seperti ingin mencekik leher Mark.


"Sepertinya kita memang perlu menyegarkan otak dan pikiran, sudah lama kita tidak bersenang-senang, 'kan?" imbuh Mark lagi.


"Tu- Tuan li--

__ADS_1


Mark memungkas ucapan Ozan.


"Sudahlah kau jangan takut. Akan aku atur pertemuan kita nanti!" Mark mengibskan tangannya, lalu merogoh saku mengambil ponsel miliknya. "Wanita mana yang kau mau?"


Rose tidak bisa lagi menahan emosinya, ia menjewer telinga Mark sekuatnya.


"Jadi kau mau bersenang-senang dengan wanita lain karena bosan dengan mulut bebekku yang tidak bisa berhenti bicara?" Suara Rosella melengking di tengah malam.


Mark terjejut, telinga yang ditarik paksa itu pun membuatnya berdiri. "Tidak, Sayang. Ak-aku cuma bercanda saja," Mark meringis kesakitan.


Rosella menurunkan tangannya. "Bercanda? Katakan berapa banyak koleksi wanitamu, huh?" Rosella marah dan memukul lengan Mark.


"Bukan begitu, Ozan cepat jelaskan kalau istriku salah paham!" Untuk pertama kali Mark menakupkan tangan memohon bantuan Ozan.


"Aku tidak tahu apapun!" kilah Ozan.


Rosella menggulung lengan piyama sampai siku. "Marsell, kita apakan Dedymu ini? Aku sudah mendengar semuanya. Jadi kau mau mengelak apa lagi, suamiku?" Gemertak gigi Rosella mulai terdengar mengerikan.


Mark tidak menjawab, ia meraih cengkuk leher Rose dan mencium bibirnya. Cara ini paling ampuh menurunkan emosi istrinya.


Setelah yakin kalau Rosella sudah lebih tenang, barulah Mark melepaskannya.


"Aku cuma memancing Ozan supaya dia bergairah lagi. Aku sudah bosan melihat Ozan setiap hari. Kalau dia sudah menikah setidaknya dia punya istri yang harus diurusnya. Jadi tidak perlu mengurusi hidupku lagi!" Mark masih berusaha meluruskan kesalahpahaman ini.


Rosella bergantian melihat Mark dan Ozan.


"Kau Ozan, cepatlah nikahi wanita yang kau sembunyikan di Apartmenmu itu! Jangan terlalu lama hidup satu atap tanpa status!" seru Rosella. "Dan kau sayangku!" Rosella menangkup wajah Mark, mengecup sekilas bibirnya. "Aku yakin kau tidak mungkin macam-macam di belakangku!"


Ozan mendengus kesal.


Mark tersenyum senang, ia menggendong Rosella dan berucap. "Kau memang istri pengertian, ayo kita buat adik untuk Marsello!"

__ADS_1


Rosella tertawa. "Dasar!" Rose melingkarkan tangannya di leher Mark, ia pasrah dibawa suaminya kembali ke kamar.


Ozan menenggak minuman itu lagi, ucapan Rosella mengusik pikirannya. Memang selama ini Vlora masih tinggal di apartmennya. Bahkan, sudah berbulan-bulan lamanya mereka tinggal satu atap tanpa status apapun.


Vlora sudah seperti seorang istri yang menyiapkan semua kebutuhan Ozan. Mulai sarapan, pakaian dan makan malam. Tapi, bukan berarti mereka mengikuti pergaulan bebas seperti kebanyakan penduduk di Kanada. Vlora terkesan menjaga jarak darinya. Memikirkan itu membuat kepalanya semakin pusing. Ozan memutuskan pulang ke apartmen.


***


Pukul dua pagi Ozan sampai di unit miliknya, ia menduga jika Vlora sudah tidur lelap, ntah apa yang membuat Ozan melangkahkan kakinya ke kamar Vlora.


Ntah kebetulan atau kebiasaan, ternyata Vlora tidak mengunci pintu kamarnya, ruangan ini cukup gelap hanya diisi cahaya lampu kecil di atas nakas.


Ozan merasa semakin pusing, efek wine ditubuhnya mulai terasa, Ozan membuka kemejanya lalu menghempaskannya kesembarangan arah.


Kakinya melangkah pelan mendekati tempat tidur, dilihatnyabVlora tidur pulas tanpa memakai selimut. Ntah mengapa ia merasa tertarik dan penasaran dengan Vlora. Detik itu juga Ozan naik ke tempat tidur dan mencium bibir Vlora.


Sentuhan lembut yang datang tiba-tiba mengusik tidur Vlora, bibirnya terasa dingin tapi hidungnya mengendus aroma minuman keras. Vlora terkejut karena yakin jika tidak sedang bermimpi.


"Mmmppppphhh!!" Vlora membuka mata, ia tidak bisa bicara, sebab seseorang yang ntah siapa masih mencium dan mengunci kedua tangannya. Ciuman itu semakin dalam dan dirasa semakin menuntut, Vlora hampir terbuai olehnya.


"Mmmpp lepas!" Dada Vlora naik turun, matanya membola melihat wajah Ozan berada tepat di depannya, Vlora tidak menyangka kalau Ozan melakukan ini padanya.


Wajah Ozan terlihat sayu, matanya memancarkan kilatan na*su seakan ingin melakukan hal yang lebih padanya. Sebagai wanita yang pernah terjebak di gemerlap dunia malam tentu Vlora tahu kalau Ozan ingin melakulan hal yang lebih dari ini.


"Ozan, ap-apa yang kau lakukan?" tanya Vlora lirih.


"Aku menginginkanmu, Vlora."


Ozan mengecup kening Vlora, kelopak mata, kedua pipi, hidung dan menyatukan bibir mereka lagi.


Vlora berusaha membrontak tapi, Ozan tidak mau melepaskan tangannya, ia hanya bisa pasrah ketika Ozan semakin memerdalam tautan bibir mereka.

__ADS_1


***


🌹🌹🌹Ozan dan Vlora kebagian 10 bab hihii. Jangan lupa jempol digoyang. Makasih🌹🌹🌹


__ADS_2