Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Pelukan Hangat


__ADS_3

"Kau mau pergi ke mana?" Mama Mark meraih tangan Rosella, mencegah wanita itu agar tidak pergi dari rumahnya.


Mark hanya diam dan mengangkat bahu ketika Rosella melihatnya.


"Tuan dari mana saja sampai basah seperti ini." Ozan baru datang dan memapah Mark menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dua pria ini pun melangkah tanpa bicara sepatah katapun lagi.


Rosella mencolos melihat Mark pergi begitu saja. Bisa-bisanya pria itu meninggalkannya dalam keadaan canggung seperti ini. Rosella bingung bagaimana menghadapi Mama Mark. Apakah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan bugar ini akan mengusirnya secara tidak hormat?


"Sebentar lagi malam jadi aku harus pulang," jawab Rose takut.


"Kau mau pulang dalam keadaan basah seperti ini? Lagipula di luar masih hujan. Tunggulah sebentar lagi."


Mama Mark merangkul Rosella, wajahnya sudah tampak lebih ramah dihiasi senyuman kecil di sudut bibirnya.


Rosella melirik jemari lentik yang menempel di pundaknya. "Tapi Nyonya, semua orang sudah menungguku di rumah."


"Kenapa panggil Nyonya? Sudahlah serahkan saja padaku. Sekarang kau harus mengganti pakaianmu."


Rosella sudah tidak bisa mengelak lagi, ia pasrah ke mana wanita ini membawanya. Rumah ini terlihat seperti istana, ntah berapa pintu yang dilewatinya. Bahkan, sulit baginya menebak kamar Mark di sebelah mana.


"Masuklah!" Mama Mark membuka pintu kamar terluas di rumah itu. Dua pelayan muda pun mendekatinya.


Rosella semakin bingung dibuatnya. "Kenapa aku dibawa ke sini? Ehmm maksudku bukankah tidak sopan masuk ke kamar orang lain?" Rosella bicara sembari mendekap tubuhnya yang semakin kedinginan.


"Kamar ini bukan milik orang lain. Tapi, kaulah pemilik kamar ini?" jawab Mama Mark, ia memerintahkan pelayan untuk menemani dan mengurus segala keperluan Rosella.


"Milikku, Nyonya?" Rosella semakin tidak mengerti.


"Nanti kita bahas lagi, sebelum kau semakin kedinginan sebaiknya ganti pakainmu."

__ADS_1


Mama Mark pun kembali ke lantai dasar.


"Mari Nona biar kami bantu, mandilah dengan air hangat yang sudah kami siapkan untuk Nona." Pelayan itu mengajak Rosella masuk ke kemar.


Rosella sangat takjub melihat design interior kamar mewah ini. Segala furniturenya pun tampak sama dengan yang ada di hotel mewah pada umumnya. Bahkan, sebagian tampak lebih mewah dari yang pernah dilihatnya.


Para pelayan sudah menyiapakan gaun malam untuk Rosella lengkap dengan segala aksesoris seperti yang sudah diperintahkan Nyonya rumah. Rosella sedang menyelesaikan ritual mandinya, sementara dua pelayan ini setia menunggu di depan pintu kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, gaun hitam yang menjuntai sampai mata kaki sudah membalut tubuh rampingnya, Rosella terlihat lebih anggun dengan tatanan rambut yang disanggul lengkap dengan hiasan manik di atasnya. Sudah hampir satu jam ia di dalam kamar tapi, sampai sekarang Mark belum muncul juga.


***


"Kau sudah selesai?" Mama Mark menyambut Rosella ketika wanita muda itu baru menginjakkan kaki di lantai dasar. "Kau cantik sekali, tidak salah kalau Mark mencintai dan memilihmu." Ia mengajak Rosella duduk di ruang tamu.


Rosella tersenyum canggung apa lagi ketika pria yang ia yakini ayah Mark ternyata sudah ada di sana. Rosella duduk berdampingan dengan Mama Mark, berhadapan dengan Papa Mark.


Perasaan Rosella tidak bisa dijelaskan tapi, ia mulai lega karena ternyata kedua orang tua Mark menerima kehadirannya. Bahkan, sedari tadi tangannya masih digenggam erat.


"Kami minta maaf karena egoisian kamu sudah menyebabkan luka dihatimu dan juga putra kami," sambung Mama Mark.


"Tuan dan Nyonya tidak salah. Semua sudah menjadi bagian takdir yang harus kami lalui dan yang terpenting sekarang sudah tidak ada lagi kesalah pahaman diantara kami."


Papa Mark yang jarang tersenyum kini justru tersenyum bahkan menampakkan deretan giginya yang putih.


"Mark sangat beruntung memilikimu yang masih setia mencintai dan menunggu Mark padahal, beberapa bulan yang lalu kabar kematiannya sudah menyebar. Kami sengaja melakukan itu supaya orang-orang yang berniat buruk dan mengincar nyawa Mark tidak bisa melacak keberadaannya. Tapi, ya ... bukan itu saja. Ternyata Katerine pun tertipu hingga menjalin hubungan dengan beberapa pria disaat itu."


"Kami sudah membatalkan pertunangan mereka dan memutuskan hubungan apapun dengan Mark. Jadi, kami sangat berharap Mark bisa hidup lebih baik bersama wanita yang dicintainya. Kami yakin, kaulah orangnya."


Mama Mark menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya, ia sangat terharu mendengar suaminya bicara panjang lebar seperti itu. Padahal selama ini pria itu terkesan tegas dan irit bicara. Mama Mark bersyukur suaminya juga bisa menerima Rosella dengan baik di rumah ini.

__ADS_1


"Percayalah, Tuan. Aku pun sangat mencintai Mark. Mau seperti apa dia di masa lalu tidak akan memudarkan cintaku. Bagiku sekarang, bisa duduk dan berada diantara kalian berdua adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Apa lagi kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Malam ini untuk pertama kali setelah sekian lama aku merasakan kehangatan di dalam keluarga."


Mat Rosella sudah mulai berkaca-kaca, meskipun selama ini ia sudah hidup lebih baik tapi, tetap saja ia sangat merindukan pelukan seorang ibu.


"Sudahlah jangan menangis, mulai hari ini kau bisa menganggap kami sebagai keluarga. Panggil aku mama." Mama Mark menghapus air mata Sella lalu memeluk dan mengelus punggung Rosella layaknya seperti anak kandungnya sendiri.


Bukan berhenti menangis, air mata Rosella justru tumpah sampai membasahi baju Mama Mark. Selain bibi Jeny yang beberapa bulan lalu sudah meninggal, Mama Mark adalah wanita kedua yang memberinya pelukan hangat seorang Ibu.


***


"Bagaimana kabar wanita itu, Ozan?" Mark berdiri di ambang pintu kamar, menoleh kearah Ozan yang berdiri berdiri di belakangnya .


"Wanita itu baik-baik saja, Tuan. Dia sangat berterima kasih karena Tuan sudah membebaskannya dari tempat itu. Sehingga ia tidak jadi dilelang," jawab Ozan.


Mark tersenyum sinis. "Tidak ... bukan karena aku. Semua ini karenamu Ozan. Sampaikan pada wanita itu tidak perlu takut menghadapi apapun lagi. Para wanita malam itu sudah bisa melanjutkan hidup mereka. Aku harap mereka bisa hidup lebih baik dari sebelumnya." Mark tertatih dan memegang erat tongkat di tangannya.


Ozan menutup pintu kamar dan mengawal Mark yang tidak mau dituntun.


"Tuan," panggil Ozan ragu.


"Hmmm." Mark berdehem dan tetap melangkah.


"Wanita itu ingin bertemu dengan Tuan."


Langkah Mark terhenti. "Dia tau aku masih hidup?"


"Dia tidak sengaja mendengar percakapan kita di telepone beberapa hari yang lalu," jawab Ozan.


Mark menarik napas dalam. "Katakan padanya, kalau sebentar lagi aku akan menikah." Mark kembali menuruni anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2