Cinta Di Dalam Kebencian

Cinta Di Dalam Kebencian
Bulan Madu


__ADS_3

"Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh? Kenapa tidak bisa membedakan wanita yang masih bersegel dan tidak?"


Mark pun ikut pusing tujuh keliling, Ozan tiba-tiba datang meminta bantuan untuk mencari Vlora yang sudah ternoda olehnya.


"Aku berada di bawah pengaruh minuman keras. Jangan marahi aku lagi, Tuan! Sama siapa aku minta tolong kalau bukan sama Tuan?" Ozan semakin uring-urungan.


Terhitung sudah tiga bulan berlalu tapi ia belum bisa menemukan Vlora. Ozan bisa melakukan pekerjaan apapun, mencari dan memata-matai musuh sampai lobang semut sekalipun. Tapi, ia seperti anak bayi yang baru lahir jika menyangkut urusan Vlora. Benar-benar tidak tahu apapun.


"Masih tiga bulan. Aku bahkan tidak bisa menemukan Rosella sembilan tahun lamanya," cetus Mark santai sembari memakan buah aple merah kesukaan Marasello.


"Jangan buat aku semakin tidak bisa tidur, Tuan. Selama ini aku tidak pernah minta apapun pada, Tuan 'kan? Aku pikir ini saatnya Tuan balas budi padaku!"


"Sial! Kau mulai menuntut?" Mark melemparkan buah aple itu hingga mengenai dada Ozan. "Sudahlah lupakan wanita itu!"


"Tidak bisa, bayangannya selalu menghantui dan mengganggu tidurku! Vlora seperti masih ada di apartmen, menyiapkan pakaian kantor, menyiapkan sarapan, menyambutku pulang kerja dan masih banyak lagi!"


"Kau anggap wanita itu pembantumu!" Mark tidak menghiraukan rengekan Ozan, ia berpindah dari ruang makan ke ruang keluarga.


Ozan sepeti anak ayam mengikuti ke manapun induknya pergi. Dilihatnya Mark memeriksa beberapa koper yang baru diturunkan pelayan dari lantai dua.


"Pastikan tidak ada satupun barang-barang penting milik istri dan anakku yang ketinggalan!" titah Mark, kemudian ia duduk di sofa.


Beberapa pelayan sibuk memeriksa persiapan untuk liburan keluarga majikan mereka.


Ozan menarik napas keputus asaannya, kalau menyangkut masalah Rose dan Marsel, orang tua muda ini pasti tidak akan bisa fokus pada hal yang lain.


"Lalu bagaimana denganku, Tuan? Kapan kita bisa mencari Vlora?" Tangan Ozan memainkan tangkai koper milik Mark, ia masih belum bisa tenang.


"Bawalah salah satu dari mereka untuk menggantikan tugas Vlora di apartmenmu!" Mark menunjuk beberapa pekerja wanita di rumahnya.


"Tidak bisa begitu! Hanya Vlora yang aku mau, Tuan!"


Kening Mark mengkerut bahkan, kedua alisnya yang tebal hampir menyatu.


"Kau hanya menginginkan wanita itu?"


"Tentu, kalau tidak untuk apa aku mencarinya?" jawab Ozan.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau mencarinya?" Mark kembali bertanya, ia tertawa melihat Ozan terdiam seperti orang bod*h.


"Itu artinya kau mencintai wanita itu! Saat dia di depanmu, hatimu terasa bergetar, saat dia di sampingmu darahmu berdesir, saat dia bicara denganmu, jantungmu berdetak hebat, saat dia melihatmu kau pun terpesona, saat dia jauh dan hilang dari pandangnmu, kau pun gelisah tidak menentu!"


Semua orang di sana tercengang melihat Mark bicara sembari meletakkan telapak tangan di dada, semenjak ia menikah si Tuan pemarah ini lebih banyak tersenyum dan kadang tidak malu mengatakan cinta kepada istrinya di depan mereka.


"Jatuh cinta!" Mark menunjuk dadanya lagi.


"Kau jatuh cinta lagi, Mark?" Rossella datang mengendong Marsell.


"Aku jatuh cinta setip hari padamu." Mark berdiri mencium pipi Rose lalu mengambil Marsel dari istrinya. "Kita pergi sekarang!" ajaknya dengan satu tangan merangkul Rosella.


"Kupikir kau jatuh cinta dengan wanita lain," gumam Rosslla.


"Hanya kau satu-satunya wanita di hatiku! Benarkan, Marsell?"


Marsell hanya tertawa dan memsukkan jari ke dalam mulutnya.


"Dadymu semakin pintar bicara!" Rosella mencubit kecil pipi Mark, mereka tertawa dan berjalan beriringan menuju mobil.


Sementar Ozan, ia mengikuti dari belakang, ucapan Mark masih berdengung di telinganya.


***


Semilir angin menyambut kedatangan mereka, pemandangan indah dan asri begitu memanjakan mata, mereka melanjutkan perjalanan menggunkan kapal menuju pulau pribadi yang hanya terdapat tiga Villa mewah di sana.


Kapal yang mereka naiki semakin mendekati bibir pantai, Ozan mengmbil teropong dan mengarahkannya kesembarangan arah, ia terkejut melihat siluet wanita bermain pasir putih di tempat yang sunyi.


"Vlo?" Ozan membidik dan semakin yakin jika ia tidak salah mengenali orang, wanita itu terlihat semakin cantik memakai baju pantai warna putih, angin lautpun menyibakkan surai indahnya.


"Aku mendapatkanmu, Vlo!" Ozan tidak sabar ingin cepat-cepat sampai dan memeluk Vlora.


"Kau lihat apa?"


Teropong Ozan jatuh ketika Mark memukul punggungnya.


"Apa yang sudah Tuan lakukan?" Ozan frustasi melihat benda itu hilang dari matanya. Belum lagi wanita itu pun sudah pergi ntah ke mana.

__ADS_1


"Kenapa marah? Itukan punyaku!"


"Gara-gara Tuan aku kehilangan jejak Vlora. Tadi, aku melihatnya di sana!"


"Ah, kau berhalusinasi. Ayo turun! Nikmati liburanmu di sini!" ajak Mark.


Penginapan pribadi lengkap dengan fasilitas mewah menjadi tempat tinggal keluarga kecil Mark selama berada di pulau itu. Meskipun terbilang sunyi tapi, Rosella sangat menyukai pemandangan yang ada di sekitar, karena ia akan bebas bermain air dengan anaknya.


Terlebih lagi, tidak akan ada orang lain yang melihatnya berbikini. Penginapan Ozan dan para pengawal yang lain pun berada cukup jauh dari hunian mereka.


"Kau suka?" Mark melingkarkan tangannya di pinggang Rosella, memeluk istrinya dari belakang. "Hari-harimu akan menyenangkan di sini, kau akan bahagia menikmati liburan pertama kita."


Rosella bersandar di dada Mark, memandang lautan yang terbentang di depan mata. "Tidak perduli di mana temptanya, asalkan bersammu aku pasti bahagia."


"Kalau seperti ini, aku yakin kau pulang dalam keadaan berbadan dua." Mark terkekeh, ia suka menggoda dan melihat wajah Rosella memerah.


Rosella berbalik arah, mengecup sekilas bibir Mark kemudian berlari menjauhi Mark. "Kejar aku Tuan payah!" teriak Rosella.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sayang!" Mark berlari mengejar Rosslla yang sudah bermain air.


***


Ozan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, kehilangan Vlora membuat pikirannya semakin kacau, pria ini melihat pemandangan di luar kamarnya, kolam renang yang menghadap pantai membuatnya gerah. Ozan membuka pintu yang terbuat dari kaca dan berdiri di tepi kolam renang.


"Tempat ini sangat cocok untuk mereka yang sedang berbulan madu." Ozan menggeliat ke sembarangan arah, bermaksud merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Tapi, pemandangan di depan mata membuat sekujur tubuhnya semakin menegang.


"Vlo?" Ozan tidak berkedip melihat wanita cantik di dalam penginapan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Perempuan itu berada di dalam ruangan yang seluruhnya terbuat dari kaca, hingga Ozan bisa melihat dengan jelas raut wajah yang sudah tiga bulan dicarinya. Namun, kehadiran pria di belakng Vlora hampir membuat jantung Ozan keluar dari tempatnya.


"Siapa pria itu? Apa mereka sedang berbulan madu?" Ozan tidak sanggup membayangkan, ia menepis kemungkinan yang membuat hatinya terbakar.




Beginilah, kira-kira😅

__ADS_1


Jangan lupa jempol digoyang. Hayukkk!!!


__ADS_2